Sabtu, 30 Juli 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (31)



Tiga Puluh satu

sebelumnya di sini

Mirah melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari dua jam ia menjadi foto model dadakan. Mirah memang tak bisa menolak permintaan tolong Kanaya. Selain sedikit segan, dia juga tak punya alasan kabur. Kanaya cerdik, karena sudah membawanya ke hotel dimana kegiatan berlangsung.

“Maaf ya, Mir.” Kanaya datang dengan sebotol air mineral yang diulurkan ke Mirah.

Mirah tersenyum kecut menerimanya. Kepalanya mengangguk lemah. “Iya, Mbak. Nggak papa.”

“Kata Rino udah selesai bagian kamu?”

“Udah, Mbak.” Angguk Mirah. “Ini aku mau ganti baju.”

“Langsung pulang?”

Mirah kembali mengangguk. “Iya, Mbak.”

“Ya udah aku antar ya?”

“Makasih, Mbak. Tapi aku bisa pulang sendiri. Mbak Nay kan masih harus di sini. Itu ada beberapa model lagi yang belum difoto kan?”

“Iya sih, tapi…,” Kanaya celingukan sesaat. Tak lama bibirnya merekah. “Aku suruh orang aja ya antar kamu. Abisnya muka kamu pucat gitu, Mir. Aku jadi nggak enak.”

Mirah menggeleng. “Nggak papa, Mbak. Ini cuma efek kepanasan aja,”

“Yakin kamu?”

Mirah menelan ludah pahit. Sebenarnya sejak tadi ia merasa pusing mendera kepalanya. Perutnya pun bergejolak. Mual. Mirah menduga ia terserang maag. Mengingat tadi pagi tak sempat sarapan. Dan semua bertambah lengkap dengan cuaca panas selama pemotretan.

“Ya udah ganti baju dulu. Nanti pokoknya diantar pulang. Hitung-hitung menebus kesalahanku memaksa kamu jadi foto model, Mir.”

Mirah kembali tersenyum. “Ya udah kalau gitu aku ganti baju dulu ya, Mbak.”

Baru beberapa langkah meninggalkan Kanaya, Mirah merasa kepalanya bertambah berat. Kali ini pandangannya mulai mengabur. Mata Mirah terpejam sesaat sebelum kemudian menghela napas dalam-dalam.

Jangan pingsan di sini, Ya Tuhan… Tapi sepertinya doa Mirah tak terkabul, karena detik selanjutnya ia tak bisa melihat apa-apa. Gelap. Sesaat sebelum kegelapan merenggutnya Mirah masih mendengar pekikan Kanaya.

***

Mirah terbangun. Matanya mengerjap untuk beberapa saat. Dominasi ruangan berwarna putih tertangkap indera penglihatannya. Tak lama kemudian hidungnya merasakan aroma obat di sekelilingnya dan selang infuse mengantung di atas kepalanya.

Rumah sakit.

Mata Mirah terpejam sejenak. Ia pasti pingsan tadi. Kepalanya terasa sangat pusing, dan tubuhnya memang sudah tak bisa bertahan.

Tapi kenapa harus dibawa ke rumah sakit?

“Mirah! Kamu sudah bangun?”

Pintu terbuka. Muncul Kanaya dengan raut wajah cemas. Alih-alih masuk ke kamar, wanita itu berbalik. “Tunggu bentar! Aku panggil dokter.”

Selang beberapa menit kemudian, seorang dokter dan perawat masuk untuk kemudian memeriksa Mirah.

“Saya kenapa, Dok?” tanya Mirah penasaran. “Ada penyakit serius yang saya derita?”

Mirah memang sedikit paranoid dengan rumah sakit, mengingat Ayahnya dulu sakit kemudian meninggal di rumah sakit.

“Nggak papa, Bu. Ibu hanya kelelahan.”

“Tapi kenapa harus diinfus.”

“Ibu banyak kekurangan cairan. Besok pagi kalau kondisi Ibu membaik sudah boleh pulang kok,”

Mirah menggigit bibir bawahnya. Menginap di rumah sakit?

“Tapi ingat ya, Bu. Jangan kelelahan! Harus jaga kondisi tubuh. Kasihan bayinya.”

Dahi Mirah berkerut. “Bayi?”

Giliran kening dokter yang mengeryit. “Loh ibu nggak tahu kalau sedang hamil,”

“HAMIL?”

“Iya, Bu.” Angguk dokter. “Saya kurang jelas berapa usianya, mungkin sekitar 8 minggu.”

Mirah terbelalak. Selama itu dan dia tidak tahu?

Astaga…

“Ya sudah kalau gitu Ibu istirahat dulu. Nanti saya akan minta dokter kandungan memeriksa Ibu kembali.”

Mirah hanya mengangguk perlahan. Ia tak berkata apapun dan membiarkan dokter serta perawat menghilang dari pandangannya.

Hamil, bisiknya dalam hati. Ya Tuhan, bagaimana ini?

Gimana bisa terjadi? Selama ini aman-aman sa… Mirah mendesah panjang. Ia abai dia waktu-waktu terakhir menjelang kepergian Dae Ho. Benar-benar kecolongan.

“Maafin aku ya, Mir. Aku nggak tahu kalau kamu lagi hamil.”

Eh?

Mirah mendongak. Kanaya mengambil tempat di kursi yang berada di samping ranjang. “Kalau tahu hamil, aku nggak akan nyuruh kamu jadi model tadi.”

Kalau nggak jadi model Mbak Nay, aku juga belum tentu mengetahui kehamilan ini, ucap Mirah dalam hati.

“Jantungku mau copot lihat kamu pingsan di depan mataku,” lanjut Kanaya lirih.

Mirah mencoba tersenyum. Ia tak tega juga jika Kanaya merasa bersalah. Toh, dirinya pun sama tak tahunya soal kehamilan.

“Udah, Mbak. Nggak papa! Aku baik-baik aja kok. Kan kata dokter besok udah pulang,”

“Iya. Aku bener-bener minta maaf ya, Mir.”

“Iya, Mbak. Udah dibilang nggak papa kok aku.”

Mendadak Mirah teringat sesuatu. Ia pun menatap Kanaya. “Ehm, Mbak soal aku masuk rumah sakit, Mbak ngabarin ke siapa?” tanyanya cemas. Bisa bahaya kalau Kanaya menghubungi Faisal.

“Nena.” Jawab Kanaya. “Maaf ya, Mir. Aku nggak tahu nomor suami kamu. Ponsel kamu juga mati.”

“Eh,” Mirah tergagap. “Eng—nggak papa, Mbak. Teh Nena cukup kok.”

“Atau kamu mau aku telponin suami kamu?”

Mirah menggeleng cepat-cepat. “Nggak—nggak perlu, Mbak.”

“Kenapa?” Kernyit Kanaya. “Dia lagi nggak di rumah ya?”

Mirah menelan ludah pahit dan mengangguk. Lagi-lagi sepertinya ia harus berbohong. Memang benar, akan ada kebohongan-kebohongan setelah kebohongan pertama dilakukan. Dirinya bahkan lupa sudah berapa banyak mengatakan kebohongan.

Tapi jujur akan keadaannya juga sesuatu yang terlarang dilakukan.

“Oh. Lagi ada kerjaan di luar kota ya?” tanya Kanaya lagi.

“I—iya, M…,”

“Mirah!”

Pintu ruangan terbuka dan menampakkan sosok Nena. Raut cemas terlihat di wajahnya. “Kamu nggak papa? Apa kata dokter?”

Mirah baru saja mau menjawab ketika Kanaya menyahut lebih dulu. “Sorry, Nen! Semua gara-gara gue.”

Nena menoleh dan mengernyit. “Maksudnya?”

“Satu model gue mendadak absen jadi gue minta Mirah gantiin. Dia kan cantik. Tapi gue nggak tahu kalau dia hamil. Makanya dia pingsan karena kecapekan.”

“Ha—mil?” Pandangan Nena beralih cepat. Mirah meringis dan mengangguk perlahan. Mata Nena pun terpejam sesaat.

Ya Tuhan, berita ini....

“Sorry! Sorry banget. Gue minta maaf kare…,”

“Udah, Mbak.” Potong Mirah. “Kan aku udah bilang aku nggak papa. Aku juga nggak tahu soal ini.”

“Terus apa kata dokter? Kamu harus di sini atau boleh pulang?” tanya Nena mengalihkan pembicaraan. Sejujurnya ia merasa kesal sekaligus penasaran ingin bertanya. Tetapi mengingat masih ada Kanaya, Nena paham. Sebisa mungkin ia harus menahan diri.

“Semalam di sini dulu.” Sahut Mirah.

“Oh yaudah kalau gitu Teteh temani.”

Mirah mengangguk. “Makasih ya, Teh.”senyumnya kecut. Ia yakin malam ini akan terasa sangat panjang.

***
tbc

selanjutnya di sini

4 komentar: