Minggu, 03 Juli 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (22)


Dua puluh dua


sebelumnya  di sini

Tak banyak yang berubah dari wajah Malik. Ia masih sama. Hanya kini tampak lebih dewasa. Tubuhnya bertambah tinggi, tapi secara porposional bentuk tubuhnya masih sama. Tidak kurus juga gemuk. Pas.

“Apa kabar Mirah?”

Mirah tersenyum kecut. Semalam matanya sama sekali tak terpejam. Ia tak habis pikir dengan isi kepala Malik yang tiba-tiba melamarnya. Rentang waktu yang terlampau lama serta jarak seharusnya sudah menjauhkan keduanya. Bahkan tak ada komunikasi sama sekali. Dan karena uwak Amrizal datang ke pernikahan saudaranya, maka dengan mudah laki-laki itu kembali mengingatnya.

Gila…

Kemana saja dia selama ini?

“Baik.” Jawab Mirah singkat.

“Lama sekali ya, Mir kita nggak ketemu.”

Mirah mengangguk perlahan. Sejujurnya ia tak menyukai keadaan ini, tapi mau bagaimana lagi? Tak mungkin kan mengusir tamu. Tidak sopan itu, salah-salah Emak mengamuk lagi.

“Kata Bi Ni, kau sekarang kerja di Jakarta?” tanya Malik lagi.

Mirah kembali mengangguk. “Iya, Bang.”

“Dimana?”

“Di sekolah,”

“Jadi guru kau?”

“Bukan, Bang.” Geleng Mirah. “Hanya bantu-bantu administrasi.”

Malik manggut-manggut. “Kupikir guru. Padahal kau kan bercita-cita jadi guru.”

Mirah tertegun sesaat. Malik mengingat impiannya. Impian yang tak pernah tercapai karena ketiadaan biaya. Dulu Ayahnya hanya mampu menyekolahkan sampai SMA, selepas itu Mirah bekerja. Tak lama bekerja ia menikah lalu memiliki Rania. Kesibukannya sebagai istri dan ibu membuatnya lupa dengan cita-citanya itu.

“Itu kan dulu, Bang.”

“Memang sekarang tidak lagi?”

Bahu Mirah terkedik. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Hidup baginya sekarang adalah Rania. Tak masalah jika cita-citanya tak terwujud, yang penting mimpi Rania tercapai. Sekuat tenaga ia akan berusaha menyekolahkan Rania setinggi mungkin. Mirah tak ingin Rania bernasib sama dengannya. Putrinya harus hidup lebih baik.

“Padahal sayang, Mir. Kau cocok sekali jadi guru.”

Mirah menggeleng. “Cocok belum tentu suratan nasib, Bang.”

Sesaat hening.

Jemari Mirah bertaut. Mulutnya terasa gatal untuk menanyakan perihal lamaran. Tapi pikirannya menolak. Ia ingin Malik sendiri yang memulai pembicaraan itu.

“Soal itu bisa berubah, Mir. Aku jamin kau bisa sekolah lagi setelah kita menikah.”

Deg.

Jantung Mirah berdegup sedemikian kencang. Ini yang sedari tadi ditunggunya. Tak lama ia pun kembali mengulas senyuman.

“Maaf, Bang. Kalau boleh Mirah tahu apa alasan Abang melamar Mirah? Abang kan tahu Mirah seorang janda beranak satu,”

“Status bukan masalah. Abang sama seperti laki-laki lainnya, ingin berkeluarga, Mir…,”

“Dan kenapa Mirah?” potong Mirah tiba-tiba.

“Karena kau perempuan baik, Mir. Abang sudah kenal kau sejak kecil, keluarga kita juga masih bersaudara jauh, jadi abang yakin kalau kau wanita tepat untuk jadi pendamping Abang.” Jelas Malik.

Mirah bungkam. Ia melengos lalu membuang muka. Dulu sekali ia ingin hal ini terjadi. Malik melamarnya dan menjadikan dirinya satu-satunya perempuan yang berada di samping laki-laki itu. Mirah bahkan sudah berjanji jika ia menjadi istri Malik, maka selamanya seberat apapun kehidupan yang akan dijalaninya, ia akan tetap berada di samping laki-laki itu.

Tapi itu dulu…

Sekarang? Bahkan senyum Malik tak mampu menggetarkan hatinya lagi.

“Ma—maaf, Bang.” Mirah menarik napas panjang. “Mi—rah nggak bisa.”

“kenapa?”

Mirah terdiam sejenak. Ditatapnya Malik lekat-lekat lalu ia menghembuskan napas perlahan. “Karena Mirah belum siap,” ujarnya lirih. Mirah sebenarnya kesulitan mencari alasan. Mustahil mengatakan jika dirinya kini istri orang bukan?

“Saat ini prioritas Mirah Cuma Rania. Jadi Mirah belum memikirkan soal menikah lagi.”

Ruangan kembai hening.

Mirah membiarkan Malik terdiam. Ia tahu laki-laki itu tengah berpikir masak-masak dengan perkataannya.

“Abang tahu mungkin ini terkesan terburu-buru. Tapi Mir, Abang serius!” kata Malik. “Abang tahu kau butuh waktu. Jadi kau bisa memikirkan kembali.”

“Ta—pi, Bang…,”

“Ibuuuuuuuu!”

Teriakan Rania menghentikan ucapan Mirah. Dilihatnya gadis kecilnya setengah berlari turun masuk ke dalam rumah. Rania memang sudah kembali ke sekolah. Tadi pagi, Mirah sendiri yang mengantar, namun karena ia kedatangan Malik maka Mirah tak bisa menjemput Rania pulang sekolah. Ia pun meminta tolong adiknya untuk menjemput.

“Eh, ada tamu.”

Rania nyengir. Mirah tersenyum lalu melambaikan tangannya. “Sini kenalan sama Om Malik dulu,”

Dengan takzim, Rania menyalami Malik. “Halo, Cantik. Jadi namanya Rania?”

Rania mengangguk cepat. “Iya, Om. Rania Dianti.”

“Udah sekolah?”

“Udah. O besar. Besok mau masuk SD.”

“Oh ya? Anak pintar!”

“Ran, udah sana masuk. Ganti baju. Sama Bi Vina dulu ya!”

Bersamaan itu Arvina masuk ke dalam rumah. Sesaat setelah menyalami Malik, ia pun membawa Rania masuk ke kamar. Mirah menarik napas panjang lalu kembali menatap Malik.

Malik tersenyum. “Rania sepertinya membutuhkanmu. Jadi lebih baik aku pulang.”

Mirah mengangguk. “Iya, Bang. Makasih.”

“Besok aku kemari lagi ya,”

Kening Mirah mengerut sesaat namun tak lama ia kembali menghela napas dalam-dalam. “Maaf, Bang. Besok Mirah akan kembali ke Jakarta.”

***



Pergi dalam kondisi dan situasi tak mendukung bukanlah sesuatu yang baik. Terkesan dipaksakan. Atau terlihat kabur.

Demikian yang Mirah rasakan. Ibunya marah. Benar- benar marah. Wanita yang telah melahirkannya itu menginginkan lamaran Malik diterima. Tapi sayang, harapannya tak dapat terkabul. Mirah justru memilih kembali ke ibukota.

“Apalagi sih Mir, yang kamu cari. Malik itu laki-laki baik. Dia terima kamu apa adanya,”

“Dimana coba nyari laki-laki seperti Malik.”

“Ah, bodoh sekali kamu ini, Mir!”

“Banyak yang menginginkan Malik, eh kamu malah nggak mau.”

“Ngapain sih kamu ke sana lagi. Kan lebih baik nikah saja dengan Malik dan hidup keluarga kita terjamin,”

Mirah memijit pelipisnya berulang kali. Ia masih teringat kemarahan Ibunya semalam. Dan pagi-pagi ketika ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta, ibunya sama sekali tak keluar kamar.

Ck, apa sih maunya Emak?

Kemarin-kemarin disuruh kerja ke Jakarta, sekarang…

Argh, Mirah mengerang frustasi. Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mirah menyadari itu. Apalagi kini ia pun telah menjadi seorang ibu. Jadi ia tahu, Emak berniat baik meski terkadang ia egois. Dulu demi permintaan beliau hingga kemudian beliau sakit, Mirah menerima konsekuensi menikah kontrak dengan laki-laki asing. Sekarang, tiba-tiba Emak memintanya menerima lamaran orang laih.

Hufft…

Jangan egois, Mir! Emak nggak tahu apa-apa,” peringat Mirah dalam hati.

“Mira!”

Mirah pun menoleh seketika. Dilihatnya Dae Ho berdiri tak jauh darinya. Ia pun terbelalak. Dae Ho mengatakan sesampai di bandara, tunggu saja akan ada orang yang menjemputnya. Siapa sangka justru Dae Ho sendiri yang meluangkan waktunya.

“Op—oppa,”

Dae Ho tersenyum dan mengangguk kecil. Sejurus kemudian ia berjalan menghampiri Mirah. “I miss you, Mira.”

Mirah tergagap. Bukan, bukan hanya Dae Ho yang rindu tapi juga dirinya. Ah, padahal hanya beberapa hari ia tak bertemu, tetapi kenapa rasanya sudah terlalu lama sekali.

“Ayo pulang!” ajak Dae Ho sembari menarik tangan Mirah dan menggenggamnya. Mirah pun menurut. Dianggukkan kepalanya. Dan tak lama kedua bergandengan tangan menuju pintu keluar.

Sesaat Mirah melirik tangannya yang digenggam oleh Dae Ho, detik selanjutnya sebuah senyum terbit di wajahnya.

Rasanya begitu hangat…

***

selanjutnya di sini

1 komentar: