Sabtu, 24 September 2016

Sayembara Askar (5)




5. Tak Juga Berubah

 sebelumnya di sini


Dalam hati, Agni mengumpat. Ia merutuki kesialan yang terjadi hari ini. Lama menunggu, pertemuan batal, telepon penting dan sekarang…
Sial! Kenapa mesti bertemu sih?
“Agni Sayang, apa kabar?”
Cih! Playboy hutan
“Lama sekali kita nggak ketemu ya,” Ujar Askar kembali seraya menghampiri Agni. Agni pun mencoba tersenyum, senyum yang terpaksa dilakukan. Etika!
“Hmm, kamu makin cantik saja ya,”
Agni berdecak dalam hati. Ck, masih saja tak berubah!
“Tentu saja, semua orang berubah menjadi lebih baik kan?” jawab Agni kemudian.
Askar tergelak. Kepalanya manggut-manggut. “Ya ya ya, kamu benar.” Senyumnya lebar. “Ngomong-ngomong ngapain kamu di sini? Dan kalian saling mengenal?” tanyanya sambil memandang Agni dan Tantra bergantian.
“Nggak.” Agni menggeleng. “Gue nggak kenal. Cuma kebetulan ketemu di lift.”
“Oh,” Mulut Askar membulat. Ditatapnya Tantra yang tengah menganggukkan kepalanya.
“Iya, Mas.”
“Terus ada urusan apa kamu kemari, Ni?”
Kening Agni berkerut untuk beberapa saat. Sepertinya Askar tak tahu jika kini ia bekerja di stasiun TV. Tapi kalau pun tahu, untuk apa? Askar kan selama ini tak pernah peduli pada dirinya.
“Bukan apa-apa. Hanya urus…,”
“Mbak Agni, udah datang?”
Spontan ketiga kepala mengalihkan pandangan. Tampak sosok wanita cantik keluar dari ruangan CEO.  Agni pun seketika mengangguk. Wanita itu pun tersenyum.
“Langsung masuk aja, Mbak. Di dalam udah ada Mas Bima sama Mbak Lintang kok.”
“Hmm,” gumam Agni. “Ada apaan sih emangnya, Cit?”
Citra, wanita itu mengangkat bahunya. “Nggak tahu, Mbak. Aku cuma disuruh mas Aksa nelepon Mbak aja.”
“Penasaran deh ada apa jadinya,”
“Ya udah gih masuk! Biar rasa penasaran terobati.” Kekeh Citra yang bersambut tawa Agni.
“Ya udah ya, gue masuk. Thanks loh!” Ucap Agni sebelum kemudian kembali melangkah. Tak lama kemudian ia terlihat mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan CEO.
Semua gerakan Agni tak lepas dari pandangan Askar dan Tantra. Sesaat setelah Agni menghilang, dahi Askar berkerut. Tadi dirinya diusir Aksa untuk sementara dari ruangan karena kedatangan dua orang pegawai. Aksa berkata ia harus berbicara pekerjaan dengan keduanya. Jadi kalau benar soal pekerjaan, kenapa Agni ada di da…
“Agni kerja di sini?” tanya Askar ragu pada Citra, wanita yang diketahuinya merupakan sekertaris Aksa.
Citra mengangguk. “Iya, Pak. Mbak Agni memang bekerja di sini.”
Sebelah alis Askar terangkat. Agni kerja di sini?
“Sejak kapan? Sudah lama?”
“Enam sampai tujuh bulan ini mungkin, Pak.”
“Oh!” Kepala Askar mengangguk. Tak lama ia kembali menatap pintu ruangan CEO yang tertutup. Sejenak ia menarik napas  sebelum kemudian menggumam.
Apa alasannya?
***
“Gimana? Ngerti kan lo?”
Tantra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung dengan penjelasan Askar barusan. Sungguh, nalarnya sulit mencerna yang diperintahkan sang atasan.
Ck, ini kah orang kaya?
Selalu bersikap aneh!
“Gue nanya dijawab, TANTRA!” dengus Askar. “Malah bengong lagi.”
“Ya abisnya aneh Mas Askar ini,” Tantra menggeleng gusar.
“Ya udah sih, lo tinggal lakuin! Jalanin!”
“Terus kalau Bapak marah gimana?” tandas Tantra tak mau kalah. Masalahnya bertambah. Pilihannya mengikuti bos besar atau Askar. Dua-duanya jelas atasannya. Meski secara fakta Askar yang mempekerjakan dirinya, tetap saja Bram masih memiliki kuasa.
“Urusan Papa gue yang ngomong. Lo tinggal lakuin bagian lo.”
Tantra menggeleng. “Tapi saya harus tahu, Mas.”
Askar mendelik, “Maksud lo nguping omongan ayah dan anak?”
“Ya nggak gitu juga, Mas.” Tukas Tantra. “Cuma butuh Pak Bram bilang sama saya, rencana dibatalkan.”
“Penting?”
Tantra mengangguk cepat. “Penting, Mas. Kan kemaren Bapak yang nyuruh saya bantu Pak Indra. Jadi Bapak juga yang harus bilang ke saya.”
Askar berdecak. “Ck, lo itu karyawan nggak sopan ya? Nyuruh-nyuruh bos lagi.”
Tantra terdiam seketika. Ia menunduk. Yang dilakukannya spontan. Biar bagaimana pun ia harus melindungi dirinya dari amukan bos besar.
“Maaf, Mas.” Ujarnya lirih. “Saya cuma nggak mau ada masalah di kemudian hari.”
Askar mendengus. Ia memang tak bisa marah lama-lama dengan Tantra. Meskipun terkadang laki-laki itu bertingkah menyebalkan, tetap saja hanya Tantra yang mampu mengimbangi ritme kerjanya. Ia bisa dapat diandalkan di semua urusan.
“Sudahlah!” Askar mengibaskan tangan kanannya. “Nanti gue bilang ke Papa untuk bilang ke lo.”
Tantra pun mengangguk. “Maaf ya, Mas.” Katanya lagi.
“Bosen gue denger lo minta maaf,” cibir Askar. “Besok-besok juga ngulang lagi!” sambungnya kemudian.
“Lo kan emang hobi ngedebat gue.”
Tantra meringis. Sudah berulang kali sikap spontannya menimbulkan kekesalan Askar. Namun ia juga mengerti sekesal apapun Askar padanya, lelaki itu takkan mungkin lama memarahinya.  
“Jadi saya harus cari wanita yang pas nih buat calon istri, Mas Askar!”
Askar mengangguk. “Calon istri,” ujarnya. “Ingat ya calon istri. Bukan istri.”
“Kenapa nggak cari istri aja sih, Mas?” tanya Tantra menyuarakan pikirannya. Benar kan? Kenapa tidak sekalian saja!
Askar mendesah. “Gue belum mau married.”
Tantra tersenyum kecut. Kalau sudah begini, tak ada alasan lagi! Mau tidak mau, ia harus melakukannya.
***
Agni sumringah. Rona kebahagiaan tak dapat ditutupi dari wajahnya. Sejak keluar ruangan CEO, senyum tak lekang dari wajah cantiknya.
“Eciye senangnya!”
Agni tergelak. Ia menoleh lalu mengerucutkan bibir ke Lintang. “Aish, Mbak Lintang ini nggak bisa lihat orang bahagia dikit,”
“Ya abisnya lucu gue lihat lo dari tadi senyum-senyum sendiri.” kekeh Lintang.
“Badut kali lucu,”
“Udah jangan senyum-senyum, entar dikira gue jalan sama orang stress.”
“Ck, nggak asik ah Mbak Lintang hari ini.”
Tawa Lintang pecah. “Udah ah, jangan ngambek-ngambek! Nggak seru. Mending makan.” ujar Lintang. “Eh, udah makan belum lo?”
Agni menggeleng. “Gue tadi mau makan siang bareng ama teman-teman gue. Eh, mendadak kan dapat telepon suruh ke kantor. Jadi belum sempat.”
“Ya ampun, kasihannya. Yuk makan bareng gue!”
“Loh emang Mbak Lintang belum makan?”
“Tadi kerjaan numpuk. Ya udah yuk ah!” katanya seraya menyeret tangan Agni untuk mengikutinya menuju kantin.
“Eh, Ni! Itu kan si putera mahkota,”
Perkataan Lintang sontak mengerutkan dahi Agni. “Putera mahkota ap…,” ucapan Agni terhenti tepat saat matanya menemukan keberadaan Askar di kantin. Seketika ia mendengus,
Ck, masih di sini rupanya lelaki itu!
“Benar kan dia putera mahkota?” bisik Lintang kemudian.
Bahu Agni mengedik. Ia bersikap tak peduli. Langkahnya dilanjutkan untuk menempati kursi kosong yang berada di sudut paling kanan. Cukup jauh dari meja Askar dan laki-laki muda yang sempat menabraknya.
“Lo sebenarnya kenal nggak sih, Ni?” tanya Lintang penasaran.
Bola mata Agni berputar. Ia tak suka ditanyai tentang Askar. Tapi Lintang memang tak tahu apapun.
“Tau tapi nggak kenal banget.” Jawab Agni cepat.
“Oh ya? Eh, tapi ngomong-ngomong dia keren ya?” Mata Lintang mengerjap. Agni mendesis dalam hati.
Keren dari hongkong!
“Eh, Mbak Agni Mbak Lintang mau makan apa nih?” sosok perempuan muda berpenampilan sederhana menghampiri keduanya.
Agni tersenyum. “Pesen kaya biasa ya, Din.”  Katanya kemudian.
“Gue juga ya, Din.”
“Ok! Ok!” senyum wanita muda itu lalu berlalu setelah sebelumnya mencatat pesanan Agni dan Lintang.
“Semok juga ya tuh anak!”
“Hah?”
“Kok hah sih, Ni?”
Agni mengerut. “Mbak Lintang ngomongin siapa emangnya,”
“Hmm, ngelamun nih bocah!” cibir Lintang. “Maksud gue si Dini. Makin kesini gue perhatiin badannya makin berisi. Terus gue dengar dari anak-anak, udah mulai centil dia.”
“Namanya remaja, Mbak.” sahut Agni malas. Ia memang tak suka bergosip. “Proses pertumbuhan.”
“Iya sih. Tapi emang ya anak-anak remaja sekarang harus hat… yak! yak! flirting dia! ck, emang player parah nih orang!”
Penasaran dengan ucapan Lintang, Agni pun memutar tubuhnya. Seketika ia menggeleng gusar. Askar memang player nomor wahid!
“Udah ah, Mbak! Abaikan!” ujar Agni seraya kembali memutar tubuhnya menghadap Lintang.
“Itu bener ya, si Dini juga kecentilan nanggepinnya.”
Agni mendengus. Lintang begitu serius. Hmm, apa menariknya sih memperhatikan interaksi playboy cap curut dengan salah satu pelayan kantin?
 Ah, sudahlah! Toh bukan urusanku.
***

“Mbak yang tadi kan?”
Agni mengangkat kepalanya. Keningnya mengernyit beberapa saat sebelum kemudian berkata, “Iya. Dan kamu laki-laki yang tadi menabrak saya.”
Tantra tersenyum kecut. Sudah diduga beginilah reaksi Agni saat ia menyapanya. Sungguh, ia tak bermaksud apapun. Hanya saja melihat wanita itu berjalan tak jauh di depannya, Tantra tergerak untuk menegur.
“Maaf, Mbak…” Tantra terdiam sejenak. Ia ragu menyebut nama Agni. Mereka belum berkenalan, tapi sejujurnya Tantra ingat nama yang sempat disebut atasannya.
“Agni. Gue Agni.”
Tantra mengangguk. “Iya. Saya mau minta maaf sama Mbak Agni so…,”
“Minta maaf mulu sih lo,” decak Agni. “Kan gue udah bilang it’s Ok. Gue nggak papa.”
“Tapi...,” kenapa judes banget?
“Tapi apa?”
Tantra tersadar. Ia menggeleng. “Bukan! Bukan apa-apa, Mbak. Eh, Mbaknya mau pulang? Saya antar aja.” Tawar Tantra. “Ya hitung-hitung permintaan maaf saya soal kejadian tadi siang.”
Agni terdiam. Dipandanginya Tantra lekat-lekat. Ia ingat jika tadi laki-laki di depannya ini bersama Askar untuk waktu yang cukup lama. Siapa?
“Tenang, Mbak. Saya bukan orang jahat kok.” Tukas Tantra seakan tahu apa yang dipikirkan Agni. “Mbak kenal Mas Askar kan? Beliau atasan saya.”
Refleks bibir Agni mencebik. Beliau? Ck, begitu terhormat dia!
“Kenapa, Mbak?”
Agni menggeleng. “Jadi lo karyawan Askar?”
Tantra mengangguk. “Iya, Mbak. Saya karyawan Mas Askar.”
“Asisten?”
Tantra kembali mengangguk. Kepala Agni manggut-manggut. Orang baru, gumamnya dalam hati. Dulu seingatnya bukan laki-laki yang menjadi asisten Askar.
“Gimana, Mbak?”
“Hmm, boleh deh!” jawab Agni. Hari ini Pak Min tak menjemput dan ia baru saja berencana mencari taksi. Tapi sepertinya nasib baik berpihak padanya.
“Ya udah yuk kalau gitu.”
“TANTRA!”
Baru berjalan beberapa langkah, Tantra mendengar namanya disebut. Refleks ia pun berhenti, membuat Agni ikut berhenti.
Menoleh, Tantra menemukan sosok wanita tinggi bertubuh langsing berjalan ke arahnya. Seketika ia pun mendesah panjang.
“Mana Askar?” tanya wanita itu sesaat setelah berdiri di depan Tantra. “Lo kalau pergi pasti sama dia kan?” lanjutnya lagi seraya celingukan.
“Mana? Mana dia?”
Tantra menarik napas. Ia ingat wanita ini. Flora, artis yang pernah menjadi salah satu pacar Askar. Namun hubungan keduanya hanya bertahan dua bulan. Askar mengeluhkan Flora yang terlalu sering mengumbar kemesraan mereka di media sosial.
“Ehm, Mas Askar udah pulang, Mbak.”
“Bohong!”
Tantra meringis. Dia tak bohong. Askar memang pergi lebih dulu. Ia pergi bersama Aksa sesaat setelah mereka makan siang di kantin.
“Benar, Mbak. Mas Askar udah pergi dari tadi.”
“Kemana?”
Bahu Tantra terangkat. “Nggak tahu, Mbak.” jawabnya jujur.
“Lo kan asistennya, harusnya tau dong kemana dia pergi.”
“Ada urusan keluarga, Mbak.” ujarnya singkat. Kali ini Askar berbohong. Ia tak tahu urusan apa yang akan dikerjakan Askar. Lelaki itu hanya mengatakan akan pergi dengan Aksa dan menyuruhnya pulang. Tapi mengatakan terus terang pada Flora juga tak mungkin dilakukan.
“Awas lo bohong sama gue!”
Tantra diam tak menjawab. “Ya udah kalau gitu, gue mau syuting.” Sambung Flora. “Oh ya, bilangin sama Askar kalau lo ketemu gue ya.”
Tantra hanya menganggukkan kepalanya. “Bilang juga sama dia, ranjang gue kangen sama dia.”
Shit!
 Agni mengumpat dalam hati. Sedari tadi ia memilih bersikap acuh. Tapi siapa sangka ucapan wanita yang diketahui merupakan salah satu artis mampu memerahkan telinganya.
Sial! Askar memang player sejati.
***

selanjutnya di sini
*Baru kelar ngetik, sorry kalau typo J
  Lampung, September 2016

2 komentar: