Minggu, 10 Januari 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (1)


PROLOG 

“Kamu yakin, Mir?”

Mirah mengangguk cepat. “Saya yakin, Teh.”

“Ta-tapi, Mir ini…,”

Dengan cepat Mirah meraih tangan Nena yang duduk di hadapannya lalu menumpukan dengan kedua tangannya. “Teteh nggak usah khawatir. Saya akan baik- baik saja. Lagian ini nggak lama kan? Toh selama ini teteh baik- baik saja melakukannya kan?”

“Iya. Tapi kamu kan beda, Mir. Kalau teteh…,”

“Percaya sama Mirah, Teh! Mirah akan baik- baik saja.” Potong Mirah cepat membuat Nena menggelengkan kepalanya berulang kali. Tak lama wanita itu menghela nafas berat.

“Ya sudah kalau itu keputusan kamu. Teteh teh nggak bisa bilang apa- apa lagi.”

Mirah tersenyum tipis. “Makasih, Teh!”

Nena mengangguk lemah. “Kalau begitu besok kita langsung menemui Pak Bandi. Dia yang akan mengurus semuanya. Yang penting kamu siapin semua berkasnya.”

Mirah pun manggut- manggut. “Tapi ingat satu hal, Mir?” Lanjut Nena yang seketika membuat Mirah mengernyit heran.

“Sekalipun jangan pernah gunakan hatimu!”


Satu

Malam kian larut, suasana pun semakin sunyi. Orang- orang pun mulai terlelap, mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian beraktivitas. Tapi tidak semua, karena nyatanya kedua bola mata Mirah justru masih terjaga padahal sudah seharian ini wanita muda itu berjualan di pasar. Tubuhnya jelas didera kelelahan, tetapi kerjanya tak berirama dengan kinerja otak. Terlalu banyak yang dipikirkan hingga membuatnya sulit tidur.

“Mau sampai kapan kamu begini, Mir? Kamu nggak ingat anakmu sudah mau masuk sekolah?”

“Biaya sekolah itu gede, Mir! Itu adikmu juga mau masuk SMA! Belum hutang ayahmu yang harus terus dibayar. Duit dari mana semua itu, Mirah?”
Mirah menghela nafas berat. Ingatannya kembali terngiang kata- kata ibunya tadi sehabis makan malam. Sebenarnya bukan baru kali ini ia mendengar keluhan sang ibu, sudah berkali- kali. Dan berkali- kali pula ia dibuat pusing memikirkannya. Tanpa harus mendengar ibunya mengeluh pun, Mirah sudah tahu masa depan yang akan dihadapinya. Ia sudah sangat sering memikirkannya. Anaknya yang akan masuk sekolah berbarengan dengan adik bungsunya yang akan masuk sekolah menengah. Dan keduanya jelas membutuhkan jumlah uang yang tak sedikit.

Selama ini dirinyalah tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal setahun lalu. Ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ibu, adik dan seorang anak perempuan yang cantik. Mirah memang seorang ibu, tetapi ia telah bercerai dengan suami tiga tahun lalu. Dan sejak perpisahan, Mirah memang kembali ke rumah atas permintaan kedua orang tuanya.

“Kamu apa nggak minat kerja lagi di kota? Hasilnya kan lumayan, Mir. Itu anak kamu biar ibu yang urus.

Mirah tahu penghasilannya dari menjual lontong sayur di pasar memang tak seberapa. Selama ini hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari keluarganya. Dan beberapa bulan lagi Rania, gadis kecilnya akan masuk sekolah. Sudah menjadi rahasia umum, jika ingin pendidikan yang baik di negeri ini maka bersiaplah dengan angka nominal yang juga besar.

Tak ada yang benar- benar gratis.

Itu baru Rania, ditambah lagi dengan Kumala yang juga akan masuk SMA. Selama ini duduk di bangku SMA, Kumala mendapat bantuan dari Mang Aswin, adik ibunya. Tetapi mengingat makin besarnya biaya yang dibutuhkan, rasanya tak enak jika terus mengandalkan pamannya. Beliau juga punya keluarga.

Lagi- lagi Mirah menghembuskan nafas dengan berat. Apa iya, dia harus kembali ke kota? Kalau dia pergi bagaimana dengan anaknya? Bisakah dia terpisah dari putrinya?Selama ini Mirah tak pernah jauh dari Rania. Sejak hamil Rania, Mirah tak lagi bekerja. Faisal, mantan suaminya tak menginginkan terjadi sesuatu hal yang membahayakan kandungannya. Padahal dulu ia hanya bekerja sebagai karyawan di bagian pengecekan barang yang akan dikirim. Bukan pekerjaan yang berat sebenarnya, tapi tetap saja sebagai baktinya pada suami ia pun menurut. Hingga kemudian melahirkan Rania lalu membawanya kembali ke kampung halaman karena perceraian, Mirah benar- benar tak pernah terpisah dengan anak perempuannya.

Mirah menarik nafas panjang. Ia melirik jam di dinding. Sudah hampir pukul 12 malam dan matanya masih belum terpejam. Tidur, dia harus tidur, bisiknya dalam hati. Dini hari nanti dia harus bangun untuk membuat lontong sayur yang akan dijual. Kalau ia tak tidur malam ini bisa dipastikan dirinya akan bangun kesiangan dan tentu saja hal itu berakibat buruk pada penghasilannya.

Mirah menoleh, lalu tersenyum. Apapun Nak, apapun akan ibu lakukan untukmu? Gumamnya seraya menatap Rania yang sudah terlelap sedari tadi.

***

Wee, Mir makin ayu wae!” 

Mirah tersenyum. Karim, lelaki yang pernah menjadi temannya di sekolah tengah menghampirinya. Lelaki itu mengambil tempat di kursi panjang yang memang sengaja disiapkan untuk beberapa orang yang hendak makan di tempat.

“Makan, Rim?”

“Iyolah. Aku neng kene yo arep mangan.” Sahut Karim, “Sekalian lah ndelok gadis ayu.” 

“Aku udah nggak gadis lo, Rim. Duwe buntut siji.”
Karim tergelak, “Ra ketok, Mir! Jek koyo perawan ting-ting!”
Mirah hanya tertawa kecil menanggapi rayuan temannya. Ia sudah sangat biasa menanggapi laki- laki yang menggodanya.

“Woo, karim kau ini pagi- pagi sudah sibuk merayu Mirah.” Roni, pegawai di kecamatan muncul menyela obrolan keduanya. Lelaki berseragam itu mengambil tempat di samping Karim. Sembari memamerkan senyumnya di pagi hari, ia memesan seporsi lontong sayur pada Mirah.

“Minumnya teh manis ya, Mir.” Katanya lagi. Mirah mengangguk sekilas. Tangannya dengan sigap melayani permintaan pelanggan- pelanggannya.

“Kau ini tak ada kerjaan apa, pagi- pagi sudah kemari?”

Karim mencibir, “Lah abang jam segini belum ke kantor?”

“Aku kan mau sarapan dulu.” Jawab Roni mengeles membuat Karim terkekeh. Sudah bukan rahasia lagi, Mirah adalah kembang desa bagi kaum adam di kampungnya. Meskipun kini berstatus janda sekalipun, Mirah masih menjadi primadona. Apalagi sekarang wanita itu terlihat lebih matang dan dewasa hingga membuat banyak lelaki tak segan mendekatinya.

“Pagi, Mirah!”

Mirah mendongak, lalu bibirnya mengulas senyum saat mendapati Handoko ikut bergabung dengan dua lelaki sebelumnya. Lelaki yang berprofesi sebagai polisi itu juga selalu sarapan di tempatnya.

“Eh, Mas Han. Makan juga?”

Handoko mengangguk. “Iya, Mir. Seperti biasa ya!” Katanya seraya memamerkan senyum yang tak kalah manis hingga membuat Karim dan Roni mendengus di sela kunyahan. Dan wajah kedua lelaki itu bertekuk saat mendengar suara mobil berhenti tak jauh dari tenda jualan Mirah. Seorang laki- laki sedikit berumur dengan penampilan perlente tampak keluar dari mobil. Hardian, salah satu orang kaya di kampung mereka pun turut bergabung di tenda Mirah pagi ini.

“Selamat pagi, Mira Sayang!”

***

Lahir dari perpaduan suku lampung, semendo juga jawa memang membuat Mirah memiliki kecantikan yang khas. Tubuhnya yang putih dan mulus ditunjang dengan wajah yang manis membuat orang tak bosan menatapnya. Lesung pipi yang menghias di salah satu pipinya pun makin terlihat menggemaskan. Pribadinya yang santun serta ramah juga menambah banyak kekaguman orang padanya. Mirah kecil sudah disukai banyak orang- orang di kampungnya. Beranjak dewasa ia tumbuh menjadi gadis yang menawan hingga membuat banyak pemuda tertarik padanya. Tetapi sayang, angan pemuda sekampung harus kandas karena Mirah lebih memilih bekerja di kota setelah menyelesaikan SMA. Bahkan tak lama setelah itu harapan pemuda pun pupus sudah saat menerima fakta Mirah bersanding dengan Faisal, teman kerjanya di kota.

Namun siapa sangka takdir mengubah hidup Mirah. Perceraiannya dengan Faisal, membuat wanita itu kembali ke kampung. Tentu saja hal itu menjadi berita bahagia untuk banyak lelaki yang masih menyimpan rasa padanya. Buruk memang, tapi itulah pesona seorang Mirah di mata mereka. Wanita cantik sang kembang desa yang menjadi idola mereka.

***

=tbc=

Selanjutnya Dua


Catatan Makin ayu wae: Makin cantik saja 
Aku neng kene yo arep mangan : saya ke sini ya mau makan .
Sekalian lah ndelok gadis ayu : Sekalian lah lihat gadis cantik
Duwe buntut siji : Punya anak satu
Ra ketok! Jek koyo perawan ting-ting: Nggak kelihatan. Masih kayak perawan.

6 komentar: