Kamis, 20 Agustus 2015

ELROY (12)


Bab XII

Sebelumnya Disini


Pemuda itu berjalan cepat memasuki sebuah gedung apartemen. Pikirannya sedikit kalut, memikirkan nasib ibunya yang sudah tiga hari tak pulang ke rumah. Apalagi malam sebelumnya ia sempat bertengkar, tetapi keesokan hari ibunya sudah tak ada di rumah. Sempat pula ia menghubungi asisten sang ibu menanyakan kemungkinan ibunya berada di luar kota tetapi tidak, justru si asisten mengatakan ibunya kini jarang menerima tawaran pekerjaan.

“Mam!” Ucap pemuda itu saat membuka pintu. Beruntungnya kode password apartemen tak berubah, jadi dengan mudah ia masuk.

“Mami,” Panggilnya lagi. Matanya menelusuri seluruh ruangan tetapi tak ditemukan tanda- tanda keberadaan orang.

Mami kemana sih!


Kaki pemuda itu melangkah menuju salah satu pintu kamar yang tertutup. “Mami, ma…!”

Mulutnya terhenti seketika. Rahangnya mengeras menyaksikan hal yang ditemuinya setelah membuka pintu kamar.

APA-APAAN INI!

“MAMIIIII!” Ia berteriak keras. Sangat keras hingga membuat dua orang yang terbaring di ranjang terbangun dari tidurnya. Dan keduanya hanya bisa ternganga melihat kehadiran dirinya di depan pintu kamar.

BUG

Pemuda itu menerjang sosok lelaki yang berada di atas ranjang. “MAMPUS LO!” Umpatnya lagi dengan tangan tak henti memukul lelaki itu. Dia sudah kehilangan akal sehatnya dan memutuskan meliarkan dirinya untuk menghabisi laki- laki itu. Ia benar- benar tak peduli.

“SIALAN! LO SENTUH MAMI GUE! GUE BUNUH LO! MAMPUS LO!”ancamnya dengan emosi menggelegak.

“El! El! Apa- apaan kamu?” Pemuda itu mengabaikan sosok lain yang masih diatas ranjang. Sosok yang awalnya dicarinya.

Urusan sama mami nanti sekarang gue mau bunuh nih orang dulu!

“ELROY! BERHENTI!”

PLAK

Ibunya menamparnya dengan keras. Pemuda itu, Elroy terhenti seketika. Ia menatap nanar wanita yang sangat dihormati sekaligus dicintainya itu. Wanita yang kini hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Elroy menelan ludahnya pahit, siapun tahu apa yang dilakukan dua orang dewasa yang berbeda jenis dalam sebuah kamar. Dan matanya memang dengan jelas melihat sosok ibunya yang tertidur dalam pelukan laki- laki lain.

Cih! Mereka sama saja!

“ANAK LIAR!” Pekik wanita itu. Elroy terbelalak dengan sebutan itu. “JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN MAMI! PAHAM KAMU!”

“MAMI! MAMI LEBIH BELA BAJIN*AN INI DARIPADA EL! MAMI MABUK!”
 

“NGGAK! MAMI NGGAK MABOK. KAMU YANG MABOK! DATANG- DATANG MUKULIN ORANG. MAU JADI APA KAMU, ELROY. MAU JADI PREMAN. ATAU MAU JADI LAKI- LAKI BANG*AT KAYAK PAPI KAMU!”

Mata Elroy makin melebar. Tak pernah ia sangka ibunya bisa berkata demikian.

“PERGI KAMU! PERGI JAUH- JAUH! MAMI NGGAK BUTUH ANAK KAYAK KAMU. KAMU BISANYA CUMA NYUSAHIN! PERGI! PERGIIIIII KAMUUUUUUUUUU!!!”

Elroy ternganga. Ibu yang selama ini diam- diam masih dipercayainya sekarang mengusirnya hanya untuk lelaki yang bahkan bukan suaminya. Elroy ingin tak percaya, tetapi kenyataan berkata sebaliknya. Ibunya bahkan mengulurkan tangan untuk mengusap wajah babak belur lelaki itu.

Sakit. Perih.

Elroy pun bangkit. “Kalau mami ingin El pergi, El bakal pergi.” Katanya sesaat sebelum berbalik menuju pintu.

“PERGI SANA! PERGI YANG JAUH!”

Ck, kenapa rasanya sesakit ini!
***

“Cantik juga cewek lo!”

Elroy mendengus. Sudah ia duga setelah keluar dari taman rekreasi tadi ia merasa motornya ada yang mengikuti. Tepatnya sebuah sedan hitam. Namun mengingat keberadaan Gendis ia masih menahan diri maka sesaat setelah memastikan gadis itu tiba di rumahnya dengan selamat, Elroy mendatangi mobil itu. Tepat sesuai dugaannya, sosok di belakang supir adalah sosok yang ia kenali.

“Setelah ngilang sekarang buntutin gue! Ck, nggak ada kerjaan apa lo!”

Anya tersenyum miring. Ia membuka pintu mobil, “Masuk!”

Elroy menghela nafas berat. Meski sedikit aneh dengan kedatangan Anya, namun tak urung ia bisa lega melihat kakaknya baik- baik saja. Ia pun memilih mengikuti kemauan wanita itu.

“Jalan, Pak!”

Elroy tersentak. “ANYA! Mau dibawa kemana gue?” Protesnya saat menyadari perintah Anya kepada sang sopir.

“Apa- apaan sih! Motor gue gimana?”

“Tenang aja nggak akan kemana- mana! Nanti sampai rumah lo bisa lihat motor butut lo itu terparkir manis.”

“Rumah?” Sebelah alis Elroy terangkat.

“Iya, rumah.” Anya tersenyum, “Kita pulang, El!”

“Nggak! Gue nggak mau! Turunin gue!” Protes El saat menyadari perkataan Anya.

Anya menggeleng, “Nggak, El! Kamu harus pulang. Sudah saatnya keluarga kita bersatu.”

“Siapa yang nyuruh lo ngelakuin ini? Mami? Papi?”

“Dua- duanya sudah nunggu kita di rumah, El.”

Elroy terbelalak. Dua- duanya. Mami dan papi tengah menunggunya. Menunggu kedatangan dirinya.

“Kita bakal dinner sekeluarga.” Lanjut Anya riang tetapi semakin menambah kerutan di dahi Elroy.

Dinner? What's going on?
-tbc-

Selanjutnya Disini




Lampung, Agustus 2015

0 komentar:

Posting Komentar