Minggu, 04 Oktober 2015

ELROY (24)


Bab XXIV

Sebelumnya Disini


Mencintai tapi saling menyakiti.

Cih! Itukah cinta?

Mami sangat mencintai papi.

“Cinta?” Kening Elroy mengernyit. Cinta bukan kata yang asing tetapi mengapa mendengar kata itu meluncur dari bibir ibunya menjadi terasa janggal. Aneh.


Astrid mengangguk perlahan. Pipinya sudah basah dengan air mata. “Kalau cinta kenapa mami dan papi selalu bertengkar. Saling menyakiti. Tidak hanya kalian berdua tetapi juga kami.”

Anya muncul dari balik pintu kamarnya. Elroy menoleh sekilas lalu menghela nafas berat. Yang Anya katakan memang benar. Definisi cinta yang dia tahu adalah perasaan sayang yang tulus, rela berkorban serta memberi yang terbaik untuk tercipta sebuah kebahagiaan. Cinta itu anugerah yang Tuhan berikan untuk masing- masing makhluk di dunia. Tetapi manusia saja yang egois, mendeskripsikan cinta semau- maunya.

Seperti mami contohnya.

“Mami yang salah.” Elroy menatap ibunya. Tubuh Astrid terlihat bergetar. Jemarinya mengepal erat. Berkali- kali wanita itu menghela nafas berat. “Mami terlalu acuh hingga papi memilih wanita lain.”

“Acuh?” Anya menyela tiba- tiba, “Maksud mami?”

Astrid menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata- katanya. “Pernikahan bukan hanya tentang cinta, Anya. Menikah juga harus ada kejujuran, kepercayaan, serta rasa saling memberi. Sayangnya kami melupakan hal itu. Sehingga saat badai datang, papi lebih memilih mencari kapal baru dibanding bertahan.”

“Kalau begitu kenapa papi nggak menceraikan mami?” Tanya Elroy frontal. Meski sedikit bingung, Elroy paham. Kalau memang sudah dari dulu pernikahan tak bisa diharapkan lagi kenapa masih bersama?

Astrid menggeleng, “Sampai kapanpun papi tak bisa menceraikan mami.”

Kedua alis Elroy bertaut, dahinya mengerut bingung. Ia melirik Anya yang diyakini sama tak mengertinya. Bahkan kakaknya sempat ternganga tak percaya.

“Maksud mami?”

“Perjanjian pra nikah yang dibuat oleh kakek kalian untuk melindungi keluarganya. Dalam keluarga Adelard pantang untuk bercerai. Cerai itu suatu aib. Jika pun ada perpisahan maka pihak kedua lah yang melakukan. Bukan mereka. “Ujar Astrid yang membuat kedua anaknya terkejut. Fakta baru. “Dan…”

Sesaat hening. Astrid menatap wajah Elroy dan Anya bergantian.

“Jika pihak pertama memaksakan perceraian maka seluruh asset keluarga termasuk perusahaan menjadi milik pihak kedua.”

Sh*t!

Jadi ada soal harta pula di sini.

Ck! Baj*ngan tua itu!

“Mami memanfaatkan hal itu. Mami pikir dengan bertahan papi akan melihat mami lagi. Tapi mami salah. Papi tak pernah berminat untuk berbalik bahkan sekedar menoleh.”

“Jelas sudah! Laki- laki itu baj*ngan!”

“EL!” tegur Astrid keras, “Kamu nggak boleh ngomong begitu, Nak. Biar bagaimanapun keluarga papimu bekerja keras untuk menjadi seperti sekarang. Dan papimu tentu tidak mungkin menyerahkan semuanya dengan mudah.”

“KALAU BEGITU MENGAPA MELAKUKANNYA? MENGAPA BERMAIN API JIKA TAKUT!” Elroy hilang kendali, “CIH! PECUNDANG SEPERTI ITU MASIH MAMI CINTAI!”

“EL!” Kali ini teriakan Anya. Kepalanya menggeleng. “Lo kalo ngomong nggak usah pake teriak bisa kan? Ini mami, El. Orang tua kita.”

“ORANG TUA!” Elroy berjengit kasar, “ORANG TUA MANA YANG TEGA MENGUSIR ANAKNYA SENDIRI? BAHKAN SAMA SEKALI TAK PEDULI. MEMBIARKAN ANAKNYA HANCUR BERTAHUN- TAHUN…”

Elroy menghelan nafas dalam- dalam lalu menghembuskan nafas dengan kasar. “ Asal mami tahu aja, mami itu egois. Mami cuma memikirkan diri sendiri. Mami lupa kalau setiap hari kami harus menyaksikan pertengkaran kalian…,”Elroy terdiam sejenak, benaknya menerawang kembali ke kilasan masa lalu, “Dan jangan mami lupa bagaimana mata ini melihat kalian bercumbu dengan orang lain. Itu sakit, Mam. Sakit!”

“Mam..ma..mi ma..af…”

Sesaat mata Elroy terpejam. Bayangan masa lalu melintas di benaknya. Kebahagiaan saat kecil, keluarga sempurna hingga pengkhianatan papi. Tidak, semua belum cukup! Pertengkaran tiap hari yang nyaris memecahkan seluruh isi rumah sampai ia menemukan fakta mami bersama lelaki lain.

Semua benar- benar menyakitkan!

Sebuah sentuhan lembut di lengannya membuka mata Elroy. Anya tersenyum tipis lalu mengusap- usap lembut bahunya seakan berkata semua akan baik- baik saja, El. Trust me!

“Ma..afkan mami, Nak!”

Sontak Elroy melotot tak percaya. Anya disebelahnya ikut terlonjak. Mami tiba- tiba merendahkan tubuhnya di lantai. Wanita baya itu berlutut sembari menggenggam erat jemari Elroy.

“MAMI APA- APAAN SIH!”

“MAMI BERDIRI!”

“Mam…mami…!” Elroy tak sabar. Ia dengan cepat menyentakkan genggaman ibunya lalu menarik Astrid berdiri. “MAMI DENGER YA!” Katanya dengan wajah menegang, “AKU MEMANG KESAL DENGAN MAMI. AKU BENCI DENGAN SEMUANYA TAPI AKU JUGA NGGAK MAU DIBILANG ANAK DURHAKA LAGI! JADI HENTIKAN SIKAP ITU!”

Tubuh Astri berguncang hebat. Elroy terkesiap saat menyadarinya. Keadaan mami benar- benar memprihatinkan. Kesedihan menyelusup hati Elroy. Biar bagaimanapun wanita ini yang paling dicintainya. Wanita idolanya. Malaikat kesayangannya saat kecil.

Seberapa besar pun kesalahan yang dibuat mami, ia tetap anak wanita itu. Anak seorang Astrid Kumala. Tak ada yang merubah itu. Dan kini melihat keadaan ibunya, hati Elroy tergores perih.

Dan semua terluka. Tersakiti. Tak ada menang kan?

“Mam…,”

“Ma..mi yang salah. Ma..afkan…!”

Elroy membungkukkan tubuhnya sedikit, ia menatap Astrid intens. Kedua lengannya berada di kedua sisi bahu Astrid. “Berjanjilah Mam! Berjanjilah mami harus bahagia. Tinggalkan semua omong kosong ini. Mami harus baha…,”

Mata Elroy terpejam sesaat. Mami memeluknya sebelum ia menyelesaikan kata- katanya. “Maaf…maafkan mami, El!”

“Mam…,”

“Mami bersalah padamu.” Lanjut Astrid lagi. Elroy pun akhirnya memilih diam. “Ma..mi jahat sekali. Meng..mengabaikan ka..lian anak- anak mami. Hiks… Mami gagal. Ma…mi bukan ibu yang baik.” Imbuhnya di sela- sela isakan.

“Mam…,” Anya berdiri. Elroy menoleh, Astrid mendongak.

“Lepaskan semuanya, Mam. Mami harus melanjutkan hidup.” Astrid mengangguk lemah. “Mami masih punya kami. Anya janji Anya nggak akan pernah ninggalin mami.”

Isak tangis Astrid semakin kencang. Perasaan bersalah memenuhi dadanya. Selama ini dia benar- benar wanita bodoh. Mengabaikan keberadaan harta yang justru paling berharga di dalam hidup. Tapi sebagian hatinya menghangat. Kesempatan itu masih ada.

Kali ini takkan pernah disia- siakan.

***

“Namanya Selena Angela Adelard. Dua bulan lagi usianya genap 3 tahun.”

Elroy mendengus. Ck, bahkan dia pun menyandang nama Adelard. Nama keluarga besarnya. Benar- benar hebat papi!

“Gue pikir seumur hidup cuma punya adik bernama Elroy Adelard tapi ternyata gue juga punya adik perempuan yang benar- benar manis.”

Elroy hanya tersenyum miring mendengar celoteh Anya. Tertawa dalam hati. Hidup terkadang memang sebuah lelucon.

Sekilas diliriknya Anya yang masih menatap lurus ke depan. Mengamati tingkah menggemaskan seorang balita perempuan yang tengah bermain dengan pengasuhnya di depan sebuah rumah mewah dari balik kaca mobil.

Anya mendesah kecewa. “Keluarga kita ribet ya, El?” Suara Anya pelan. Sangat pelan hingga nyaris tak terdengar. Elroy menghela nafas berat. Ia tahu Anya perasaan Anya saat ini. Kecewa, sedih bercampur luka. Sama seperti dirinya. Percakapan dengan mami pagi tadi membuka tabir sumber kekisruhan keluarganya.

“Dia kemari.”

Hah. Elroy mengernyit namun sedetik kemudian sudut bibirnya melengkung ke bawah. It’s show time!

“Memang inikan tujuan kita.” Ujarnya lagi. Tepat sebelum kaca pintu mobil diketuk, Elroy sudah membukanya.

“Kenapa tidak masuk? Mau sampai kapan kalian di sini?” Tanya sosok wanita yang baru saja menghampiri keduanya.

Elroy melengos, Anya tersenyum miring. “Iya, tante!” Ucapnya sembari membuka sisi sebelah kiri. Elroy menggeleng sesaat sebelum akhirnya ikut keluar dar mobil untuk mengikuti langkah wanita itu menuju rumahnya.

“Kalian mau minum apa?” Tanya wanita itu sesaat setelah ketiganya berada di dalam rumah.

“Nggak perlu. Kita nggak lama.“

Anya mendelik. Elroy terlalu ketus. Biar bagaimanapun wanita di depan mereka lebih tua , tetapi sudahlah ketika didapati Elroy hanya mengendikkan bahu tak peduli Anya tahu sikapnya sia- sia. Pada akhirnya dia pun memilih kembali memfokuskan diri terhadap wanita yang kini telah duduk berseberangan dengan dirinya.

“Kita kesini mau minta maaf.”

Rona terkejut tak dapat ditutupi dari Karina. Ya wanita itu sempat kaget dengan keberadaan Anya dan Elroy di depan rumahnya. Dan kekagetannya bertambah dengan kata- kata Anya. “Ka..kalian mi..minta maaf?”

“Kalau nggak karena mami kami juga…,”

“EL!” Anya memotong dengan cepat kata- kata adiknya. Kali ini ia menatap jengkel Elroy. Lo diam, biar gue yang ngomong!

Setelah merasa adiknya akan bersikap manis, Anya kembali meneruskan kalimatnya. “Semuanya harus diakhiri, Tante. Mami sudah mengatakan semuanya pada kami. Kami minta maaf jika selama ini bersikap tak baik pada tante. Bagaimanapun juga tante lah wanita yang dicintai papi.”

Ck, berbesar hati! Cibir Elroy dalam hati. Anya itu jago akting. Elroy berani bertaruh, hati kakaknya hancur. Sama sepertinya juga mami. Tapi seperti yang mami katakan, semua harus berakhir dengan damai. Tanpa dendam.

“Datanglah kalian ke sana!”

“MAMI!” Elroy menatap horror ibunya.

“Semua harus berakhir, El. Tapi mami mau kita berdamai dengan semuanya. Nggak ada dendam. Mami juga belajar untuk memaafkan.”

“Waktu itu dia ke rumah sakit. Kami berbicara banyak.” Elroy mengernyit. Sepertinya dia kecolongan. Kapan itu? Bukankah ia sudah mengusirnya.”Sekali ini lakukan untuk mami, El. Mami juga ingin kamu dan Anya bisa melihat adik kalian. Anak itu tak berdosa. Dia tetap bagian dari keluarga kita.”

“Seharusnya tante yang meminta maaf pada kalian berdua, juga ibu Astrid. Tante hanya orang ketiga yang masuk lalu menggoncang rumah tangga orang tua kalian. Tan..te…,”

“Sudahlah, Tante. Hanya itu yang ingin kami katakan.” Giliran Anya yang berkata dengan cepat lalu berdiri dengan menarik tangan Elroy. “Sekali lagi kami minta maaf. Kami permisi!”

Elroy mencibir sinis dalam hati. Bertemu dengan wanita yang secara tak langsung menyakiti ibunya itu bukan hal mudah. Sarat emosi.

“Tu..tunggu!” Karina menghela nafas berat. “Kalian juga harus tahu…,”

“Tan…te sudah memutuskan akan berpisah dengan ayah kalian.”

Elroy tercengang. Pegangan tangan kakaknya mengencang. Jelas Anya sama terkejutnya. Tapi sedetik kemudian ia bisa melihat kakaknya kembali bersikap normal.

“Itu bukan urusan kami, Tante. Permisi!”

Cih! Ternyata Anya lebih dingin darinya!

-tbc-

Selanjutnya Disini




Lampung, Oktober 2015



1 komentar: