Jumat, 30 September 2016

[Cerpen] Sumpah Samsir




Cerita diikutkan pada event horor dan misteri yang diadakan Fiksiana Community Kompasiana


Dia mati.
Lelaki itu pasti mati.
Ck, ini gila!
 “Gu—gue mua…,”

Kamis, 29 September 2016

Sayembara Askar (6)



6. Yang Dulu Itu
sebelumnya di sini


“Rumahnya di mana, Mbak?”
Eh,
Agni meringis. Sial! Kenapa ia jadi memikirkan ucapan wanita itu. Terserah apapun hubungannya dengan Askar, siapa peduli?

Sabtu, 24 September 2016

Sayembara Askar (5)




5. Tak Juga Berubah

 sebelumnya di sini


Dalam hati, Agni mengumpat. Ia merutuki kesialan yang terjadi hari ini. Lama menunggu, pertemuan batal, telepon penting dan sekarang…
Sial! Kenapa mesti bertemu sih?
“Agni Sayang, apa kabar?”
Cih! Playboy hutan

Sabtu, 17 September 2016

Sayembara Askar (4)




4. Pertemuan
 sebelumnya di sini

“TANTRA!”
Tantra baru saja menyelesaikan larinya ketika mendengar namanya dipanggil. Ia pun menoleh lalu tersenyum karena menemukan Salsa tengah berjalan menghampirinya sambil melambaikan tangannya.

[Cerpen] Hujan di Sekolah

gambar diambil dari www.pixabay.com



“Ya ampun kapan berhenti sih nih hujan?”

Saski mendesah sembari menatap ke luar jendela. Sudah setengah jam berlalu dan hujan masih belum menunjukkan akan reda. Kalau gini gimana gue pulangnya?

“Loh, masih ada orang toh di sini?”

Saski menoleh dan menemukan Pak Adi, sang pejaga sekolah berjalan masuk ke kelasnya. Saski pun berdiri seketika. “Udah mau dikunci ya, Pak?”

Pak Adi mengangguk. “Iya, Mbak. “ jawabnya. “Kok Mbaknya masih belum pulang?”

“Hujan geh, Pak. Gimana mau pulang juga,”

“Ndak bawa payung toh?”

Saski menggeleng. “Besok-besok bawa payung ya, Mbak. Ini September. Musim penghujan.”

Mendengar ucapan Pak Adi, Saski hanya mengangguk. Dalam hati menggerutu, cuma ngomong, huh bukannya bantu!

“Kalau gitu ada pay…,”

“Gimana Mbak, udah siang ini. Saya harus kunci kelasnya.”

Saski mendengus. “Ya udah lah, Pak. Kunci aja! Saya tunggu di depan kalau gitu,” katanya lagi. Tak lama Saski pun melangkah meninggalkan kelas. Namun baru sampai depan pintu, sebuah teriakan berulang terdengar. Langkahnya pun terhenti.

“PAK ADI! PAK! PAK ADI!”

“Eh, Mas Ardian! Ada apa toh Mas panggil-panggil Bapak?”

Saski mengenali sosok pemuda yang berteriak-teriak memanggil Pak Adi. Ardian Basupati, ketua osis yang belum lama ini terpilih. Laki-laki yang nyaris diidolakan seluruh kaum hawa di sekolahnya. Pintar, tajir dan berprestasi. Benar-benar profil sempurna!

“Ini Pak saya mau pinjam payung. Ada?”

“Oh ada, Mas. Ada! Yuk saya ambilkan.”

Tanpa sadar bibir Saski mengerucut. Orang kaya selalu mendapat perlakuan berbeda, huh!

Tadi saja ia diusir-usir, giliran Ardian mendapat perlakuan begitu dihormati. Ah, memang nasib. Siapa dirinya juga. Kalau berbanding dengan Ardian ya ibarat langit dan bumi.

“Kenapa dengan lo? Bete?”

Hah?

“Ada yang salah sama gue?”

Sial! Umpat Saski dalam hati. Ia kira tadi Ardian ikut pergi bersama Pak Adi.

“Nggak, nggak papa.” Jawa Saski sembari melanjutkan berjalan. Diabaikannya tatapan penasaran Ardian. Bodo lah, nggak kenal ini!

Saski memang mengenali sosok Ardian, tapi hubungan keduanya tak akrab. Jangankan akrab, Ardian tahu dirinya saja Saski sangsi. Meskipun satu angkatan, Saski bukanlah pribadi yang dikenal banyak orang. Sifatnya cenderung tertutup dan pendiam. Ia lebih memilih mengurung diri di perpustakaan daripada bercengkerama dengan teman-temannya.

“Nggak ada apa-apa gimana? Orang gue lihat muka lo kesel gitu?”

Saski berdecak dalam hati. Ardian menyejajari langkahnya. Buat apa sih orang ini mengikutinya, gerutu Saski dalam hati.

“Kok lo diam aja sih?”

Cerewet!

“Gue lagi nanya loh!”

Berisik!

“Nama lo siapa sih?”

Tuh kan benar! Mana mungkin Ardian mengetahui dirinya.

“Lo nggak bisu kan?”

Saski menarik napas panjang. Langkahnya kembali berhenti. “Lo ngapain sih ngikutin gue?” tanyanya kesal.

“Penasaran. “ Ardian nyengir.

“Penasaran kenapa juga sih?”

“Sikap bete lo.”

Saski mendesis. “Nggak ada urusan juga sama lo.”

“Ada lah. Orang kelihatan betenya. Kan tadi ada gue di sana.”

Saski mendelik. Laki-laki ini ternyata aslinya menyebalkan!

“Oke! Gue kesel karena diperlakuin beda. Lo orang kaya pasti nggak pernah ngerasain apa yang gue rasa. Ngerti?”

Ardian diam seketika. Saski melengos lalu kembali melangkah. Untung sekolah sepi. Tak bisa dibayangkan jika banyak orang melihat. Bisa-bisa ia dibully fans Ardian.

“Mas! Mas ini payungnya!”

Pak Adi muncul tergopoh-gopoh. Lagi-lagi Saski mencibir. Ardian itu anak seorang pengusaha sukses yang kabarnya banyak memberi bantuan pada sekolah. Jadi bisa dimaklumi jika perlakuannya memang sedikit istimewa.

Sudahlah, lupakan! Gumam Saski dalam hati. Ia menengadahkan kepala. Hujan masih juga turun. Belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Ah, bagaimana ini?

Apa memaksakan diri saja ya? Tapi bisa basah kuyup dong!

Tidak ada jalur angkutan menuju rumah Saski. Ia pun tak memiliki kendaraan pribadi. Perlu waktu sekitar 30 menit mencapai sekolah dengan berjalan kaki.

“Rumah lo dimana? Gue anter!”

Saski bengong. Ardian sudah kembali ada di sampingnya.

“Apa…,”

“Gue suka lo,”

“Hah?”

Ardian tersenyum simpul. “Iya. Suka.” Kepala Ardian mengangguk. “Jarang-jarang ada cewek ngomong blak-blakan kayak lo. Selama ini semua kan palsu. Baik depan gue ada maunya aja.”

Ck, ngomong apa sih dia?

“Gimana?”

“Apaan sih?”

“Ck, lo ini disukain cowok cakep malah bingung.”

Saski melongo untuk beberapa saat sebelum kemudian tawanya meledak. Sepertinya Ardian tidak begitu menyebalkan!

***

Lampung, September 2016

Diikutkan pada Event RTC di Kompasiana


Kamis, 08 September 2016

[Cerpen] Rindu Kinara



Rindu Kinara



“Berjanjilah,Nak. Berjanjilah untuk tak lagi merindukannya.”

***

Kinara menarik napas panjang, sesaat setelah tiba di depan pintu rumahnya. Wajah yang sebelumnya bertekuk diubahnya menjadi lebih ceria dan bersinar. Tak lama ia pun mengucap salam sebelum kemudian membuka pintu.

“Kinara, kamukah itu, Nak?” Sebuah suara lembut dari arah belakang terdengar.

“Iya, Bu. Ini Kinara.” Jawab Kinara. Tak lama ia pun menghampiri ibunya. Wanita itu tampak tengah disibukkan dengan adonan kue di atas meja.“Kok siang-siang bikin kue, Bu?”

“Iya, nih. Pesenan dadakan Bu RT. Nanti malam di rumahnya mau kedatangan saudara dari luar kota.” Jelas Ibu. “Cepat sekali belajar kelompoknya? Sudah selesai memangnya?”

Eh?

“I—iya, Bu. Ke—kelompokku pintar-pintar sih. Jadi cepat selesainya.”

“Oh,” Ibu manggut-manggut. “Ya udah sana ganti baju terus makan! Nanti kalau kuenya sudah selesai, kamu bisa antar kan?”

“Iya, Bu.” Jawab Kinara pendek sambil bernafas lega.

“Bagus.” Ibu mengangguk dan tersenyum. “Makasih ya,”

Kepala Kinara mengangguk lemah. Tak lama ia pun membalik badannya untuk kemudian masuk ke dalam kamar. Sedetik setelah pintu kamar tertutup, Kinara menghela napas dalam-dalam.

Rasanya sulit. Mengapa aku begitu merindukannya?

***

“Ada apa?”

Kinara mendongak. Ditatapnya sang Ibu dengan dahinya berkerut.

“Beberapa hari ini kamu selalu pulang terlambat?” tanya Ibu kemudian. “Memangnya belajar kelompok setiap hari?”

Eh?

“Ada yang kamu sembunyikan, Kinara?”

Tubuh Kinara menegang seketika. Bibirnya kelu. Ibu tahu?

“Kamu sudah tak lagi mempercayai Ibu?”

Kepala Kinara tertunduk. Bukan! Bukan masalah percaya, tapi…

Ah, Ibu pasti marah jika tahu alasannya. Masih terpatri jelas di benak Kinara ucapan Ibu untuk tak lagi melihatnya.

“Kinara…”

Kinara menghela napas dalam-dalam. Kepalanya terangkat. Tak lama menggeleng. Eng—nggak. Nggak ada apa-apa, Bu.”

Sesaat hening. Kinara bergeming di tempatnya. Sungguh, tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.

“Kamu ke sana?”

Wajah Kinara memucat seketika. Habis sudah! Ibu jelas-jelas tahu.

“Benar kan? Ya Tuhan, Kinara sudah berapa kali Ibu bilang untuk tak lagi menemuinya,” Suara Ibu terdengar frustasi membuat dada Kinara terasa sesak.

Maaf, Bu!

“Jangan, Nak. Jangan menyakiti dirimu.” Sambung Ibu dengan lirih. “Mengertilah, dia sudah tak lagi peduli pada kita. Dia memilih meninggalkan kita, Kinara…,”

Sebutir air mata lolos membasahi pipi Kinara. Ibu benar. Pada akhirnya ia memang menjadi pihak yang tersakiti. Ah, bodohnya kamu, Kinara!

“Kamu bertemu dengannya?”

Pertanyaan Ibu dijawab gelengan oleh Kinara. “Eng—enggak, Bu.” Jawabnya terbata. “Ta—tapi aku bertemu dengan perempuan itu.”

Sejurus kemudian Kinara mendengar Ibu berdecih. “Cih, wanita culas itu!” makinya gusar.

Kinara bungkam. Ia tak menyalahkan jika Ibunya berkata kasar. Toh memang demikian adanya. Keluarganya hancur karena ayahnya yang terpesona dan jatuh cinta pada wanita itu. Wanita yang jauh lebih muda dan menarik. Kinara membenci wanita itu, tetapi lebih dari itu ia merindukan ayahnya.

Biar bagaimanapun ia tetap seorang anak. Anak yang dulu begitu dekat dengan sang ayah sebelum lelaki itu memilih pergi meninggalkan keluarganya.

Ah, ayah…

Mengapa kau tega pada kami, bisik Kinara dalam hati.

“Kinara…,”

Kinara mendongak dan menatap Ibunya. “Kenapa kamu ke sana?” tanya Ibu.

“A—aku, A—ku kangen Ayah, Bu!”

Sesaat kemudian ruangan terasa senyap. Tak ada yang berbicara. Hingga kemudian Kinara merasakan usapan lembut di kepalanya.

“Berjanjilan satu hal pada Ibu, Kinara!”

Kinara mengernyit. Ia memilih diam menunggu Ibunya melanjutkan perkataan.

“Berjanjilah,Nak. Berjanjilah untuk tak lagi merindukannya.”

***

Lampung, September 2016
Diikutkan pada event bolang di Kompasiana

Rabu, 07 September 2016

Sayembara Askar (3)



3. Sekilas masa lalu

“Kamu cantik,”
“Hah?”
“Gue Askar.”
“A--agni.”
Mengingat nama Askar Adinata, ingatan Agni berputar pada kejadian dua tahun silam. Saat dimana sosok Askar Adinata pertama kali dikenalnya. Ia baru saja kembali dari luar negeri pasca menyelesaikan pendidikan ketika Arga memintanya turut bergabung di bisnis keluarga. Agni ingat, ada sebuah proyek yang melibatkan dirinya. Dan proyek tersebut bekerjasama dengan perusahaan yang Askar pimpin. Intensitas pertemuan keduanya yang terlalu sering nyatanya menumbuhkan benih-benih perasaan yang lain di hati Agni.

Minggu, 04 September 2016

Sayembara Askar (2)





2. Kisruh hati

sebelumnya Sayembara Askar 1

Papa nggak berhak ngatur hidup gue.


Dengan langkah panjang dan terburu-buru, Askar memasuki rumah orang tuanya. Ia tahu ayahnya sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Hanya sesekali ke kantor. Tadi Tantra mungkin sempat dipanggil, tapi Askar tahu selepas berbicara dengan asistennya, Ayahnya pasti memutuskan segera pulang.



“ASKAR!”


Askar tersenyum saat mendapati Gayatri, ibunya berseru karena kedatangannya. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu pun bergegas menuruni tangga lalu segera memeluk putra semata wayangnya.


“Hai, Mam,”


“Hmm, angin apa yang membawamu pulang?”


Askar tergelak. Ibunya adalah wanita lembut yang tak suka berbasa-basi. Wanita itu tahu persis jika kedatangannya kemari ada maksud dan tujuan.


“Kok gitu sih, Mam. Nggak kangen sama Askar?”


Gayatri mencibir sejenak. “Pasti ada sesuatu. Kamu mana ingat berkunjung kemari kalau tidak Mama atau Papa telepon.”


Mendengar ucapan Ibunya, Askar meringis. Ibunya memang benar. Sejak memutuskan tinggal di apartemen, Askar memang jarang pulang. Kesibukanlah yang membuatnya seperti itu. Sibuk bekerja sekaligus sibuk menghabiskan waktu dengan wanita-wanitanya.


“Papa mana Mam?”


“Kalau mau ngomongin kerjaan, mending kamu pulang aja sana!”


Askar melongo. Kali ini diusir?


Gayatri memang tak menyukai topic pembicaraan tentang pekerjaan di rumah. Tetapi biasanya ia hanya berdecak kesal atau menggerutu tak henti jika mendapati anak dan suaminya berbicara hal itu. Tapi sepertinya kali ini berbeda…


“Mama apaan sih?”


“Kamu yang apaan? Bosan ah Mama kamu kalau pulang ngomongin kerjaan mulu sama Papa. Ngomongin calon mantu kapan?”


Askar terbeliak. Nah ini makasud kedatangannya yang sebenarnya.


“Mam, Askar masih muda lo. Kenapa ribut disuruh kawi… aw!”


Askar mengaduh saat merasa telinganya dijewer Gayatri. Hanya sesaat namun tetap mampu memerahkan daun telinganya. “Mama apaan sih? Udah gede masih main jewer anaknya sendiri!” gerutu Askar seraya mengusap-usap telinganya.


“Lah kamu kan yang bilang masih muda. Jadi kan udah biasa, kalau masih muda dijewer gitu sama Mama,”


Mata Askar membulat. Bibirnya mengerucut. Beradu kata dengan Mama itu takkan menang. Beliau selalu punya banyak stok kalimat untuk membalas ucapan lawan bicara.


“Mama, ini ngeselin.”


“Kamu lebih nyebelin,” cibir Gayatri lagi.


Astaga! Askar geleng-geleng geli. Jika bersama Mama, tanpa sadar sikapnya menjadi kekanakan. Konyol!


“Sudah ya, Mam! Malas ribut sama Mama. Askar lebih baik cari Pa…”


“Ngapain nyari Papa?”


Panjang umur!


Askar menoleh dan menemukan Ayahnya baru saja keluar dari kamar. Sekilas ia dapat melihat bibir lelaki baya itu berkedut. Askar yakin pasti jika Ayahnya tahu maksud kedatangannya. Ah, apalagi kalau bukan sayembara sialan itu!



“Rencana Papa gila!” todong Askar seketika. Bukan hanya Ibunya yang tak suka basa-basi, Askar pun begitu. Ia tak suka mengulur waktu.


“Apa? Papa gila?”


Berbeda dengan Gayatri yang jauh lebih serius, Bram justru suka bersikap konyol. Makanya diawal Askar mengira rencana sayembara mencari istri itu hanyalah ide konyol. Meskipun sempat kaget, tetap saja ia berharap Ayahnya tengah bercanda. Bukan serius. Tapi sayangnya telepon Aksa, kakak sepupunya yang merupakan pimpinan sebuah televisi swasta menyadarkannya. Bram Adinata tak main-main kali ini.


“Udah nggak usah pura-pura! Mas Aksa tadi telepon aku.” ucap Askar gusar.


Bram terkekeh. Alih-alih menjawab pertanyaan Askar, ia memilih mendudukan dirinya di sofa yang berada di depan layar televisi. Sesaat dihelanya napas panjang sebelum kemudian menyandarkan tubuhnya di punggung sofa dengan mata terpejam.


“Ck, Papa…!” Askar menggeram. Keki rasanya mendapati lawan bicara menghiraukannya. Segera ia pun memilih bergabung di sofa.


“Papa memang ngapain sih?” Gayatri tak urung penasaran dengan sikap suami dan anaknya. Apalagi dilihatnya wajah frustasi milik Askar serta mimik santai sang suami. Pasti ada sesuatu, pikirnya kemudian.


“Pa,” panggil Gayatri pada suaminya. Ia duduk tepat di sebelah Bram.


“Hmm,”


“Ada apaan sih?”


Mata Bram terbuka. Tak lama ia tersenyum. “Mama pengen punya mantu kan?”


Spontan Gayatri mengangguk antusias. “Tentu saja.”


“Nah doakan! Dalam proses.”


“Maksudnya?”


“Papa berencana bikin sayembara calon istri buatku, Ma.” Askar menyahut jawaban yang seharusnya diberikan Ayahnya pada Ibunya.


“Rese’ nggak sih, Ma? Udah kayak aku nggak laku aja.”


“Emang kamu nggak laku kan?”


Askar mendengus. “Mama lagi ikut-ikutan.”


“Ide bagus tuh, Pa!” Askar mendelik mendengar ucapan Ibunya yang bernada mendukung. Sial! Padahal dirinya berharap dukungan sang Ibu untuk membatalkan rencana, yang ada harapannya sia-sia.


“Kan bisa cara lain sih, Pa.” tawar Askar kemudian.


“Cara apa?” Cibir Gayatri. “Kamu kabur terus dari perjodohan yang kami rencanakan.”


Askar menarik napas jengah. “Ma, Askar harus ngomong berapa kali kalo Askar belum mau nikah,”


“Dan Mama harus ngomong berapa kali, Mama pengen punya cucu.”


Ya Tuhan, Askar mengerang frustasi. Kenapa sih orang tuanya selalu ribut punya cucu. Memang mendapatkan cucu itu ajang balapan? Askar bukan tak tahu kalau Ibunya sudah iri melihat banyak teman-teman seusianya menimang atau memamerkan cucunya.


“Ma, adopsi bayi gih kalau pengen pamer.” Gerutu Askar menyuarakan isi hatinya.


Gayatri melotot. “Kamu ini!”


“Lah emang iya kan? Mama iri sama teman-teman Mama soal cucu kan?”


Gayatri terdiam. Bram di sebelahnya tertawa kecil. “Akui sajalah, Ma. “


“Papa, uh!” sungut Gayatri. “Okeh, Mama akuin Mama iri tapi alasan lainnya juga ada. Mama pikir kamu sudah saatnya berumah tangga, Askar. Nggak selamanya seseorang bisa hidup sendiri. Percaya sama Mama, nggak enak hidup sendiri kelak di masa depan.”


“Lagipula memang kamu mau terus-terusan hidup hura-hura nggak ada tujuan? Nggak bosan apa?”


Askar tercekat. Bosan? Nggak ada tujuan?


“Mamamu benar, Nak. Sebenarnya kami bukan orang tua kolot yang memaksamu menikah cepat-cepat. Tapi toleransi kami sudah cukup. Ingat tahun depan usiamu sudah 35 tahun.” suara Bram terdengar bijak.


“Lagipula secara financial kamu sudah cukup untuk berumah tangga. Jadi apa lagi alasannya,” sambung Bram kemudian.


“Pa…,”


“Kamu nggak nunggu jadi kakek-kakek baru nikah kan?”


***


“Baru pulang, Tra?”


Tantra yang baru saja memarkir motornya pun mendongak. Dilihatnya Salsa baru tiba di depan rumahnya. Rumah yang tepat bersebelahan dengan rumah yang ditinggali Tantra.


“Eh—iya,” Tantra sedikit gugup. “Kamu juga baru pulang?”


“Iya nih,” Salsa tersenyum. Seketika Tantra merasa detak jantungnya berdetak begitu kencang.


“Sama siapa? Kok jalan kaki?” tanya Tantra menyadari bahwa gadis itu tak mengendarai motor matic kesayangannya.


“Tadi nebeng teman. Diturunin di depan kompleks doang.”


“Oh,” Mulut Tantra membulat. Senyumnya mengembang. Menemukan Salsa di sore hari sepulang jam kerja itu amat jarang. Baik dirinya dan Salsa sama-sama pekerja sibuk. Tapi mungkin lebih sibuk dirinya, mengingat Askar bisa sewaktu-waktu memaksanya lembur.


“Gerry mana? Kok sepi?” tanya Salsa celingukan dari balik dinding. Dinding pemisah dengan rumah sebelah memang cukup rendah. Hanya sebatas dada orang dewasa. Jadi memang memungkinkan untuk Salsa bisa melihat ke arah rumah.


“Belum balik lah, Sa! Kayak nggak tahu dia aja.”


Salsa tergelak. “Iya juga sih. Playboy cap ikan asin.”


Gerry adalah sahabat Tantra. Tantra bertemu pemuda asal Surabaya itu saat menempuh pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Sesaat setelah lulus, keduanya sepakat untuk bekerja di ibukota dan memutuskan untuk menyewa sebuah rumah untuk ditinggali bersama.


Meski begitu, perilaku keduanya jauh berbeda. Tantra jauh lebih pendiam dan sederhana. Ia tak suka menghabiskan waktu dengan bersenang-senang serta hura-hura. Gajinya lebih baik dikirimkan untuk membantu ekonomi keluarganya di kampung. Jauh berbeda dengan Gerry yang sangat menikmati kehidupan metropolitan. Maklum, ia terlahir dalam keluarga berada. Tapi walaupun sikap dan perilaku yang berbeda nyaris 1800, hubungan persahabatan keduanya malah cukup erat. Mereka saling menghargai privacy masing-masing.


“Kok bengong, Tra?”


Eh?


“Nggak. Nggak bengong.”


Salsa mencibir sekilas. “Eh, malam ini ada acara nggak?”


“Acara?” Kepala Tantra menggeleng. “Nggak. Aku nggak kemana-mana,”


“Baguslah. Pergi ke pasar malam yuk!”


Sedetik kemudian Tantra ternganga. Salsa mengajaknya pergi berdua.


Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam?


Tantra menyukai Salsa. Sejak awal mereka berkenalan, Tantra menyadari jika ia sudah jatuh dalam pesona Salsa, gadis cantik nan manis yang belum lama ini membeli rumah di sebelah bersama keluarganya. Sayangnya karena terlalu sibuk, Tantra kesulitan menemukan waktu yang pas untuk mengajak Salsa pergi bersama. Sungguh, ini kesempatan yang langka.



“Gimana, Tra?”


“Tentu saja kita akan pergi.”


Senyum Salsa merekah. Hati Tantra meleleh seketika. Ada lonjakan bahagia yang begitu besar membuncah di dadanya. Ck, ini rasanya jika menyukai seseorang.


“Gue jemput jam 7 ya,” kata Tantra yang dijawab cepat oleh Salsa.


“Oke.”


“Ehm, Sa ngomong-ngomong nggak masalah kan kalau aku anggap ini kencan?”


Salsa hanya tertawa sebelum kemudian melengang masuk rumah. Yess, kencan!


***

Sayembara mencari calon istri?


Ck, kekonyolan apa lagi itu, bisik Agni dalam hati. Akal sehatnya memang masih belum mencerna apa yang dikatakan Lintang. Sebegitu kurang beruntungkah Askar dalam hubungan asmaranya?



Tiba-tiba Agni tersenyum tipis. Ia yakin jika rencana itu murni pikiran seorang Bram Adinata. Entah apa yang mendasari Om Bram melakukan itu, namun Agni bisa memastikan satu hal. Askar tentu akan menolak mati-matian. Lelaki itu akan berupaya sekeras mungkin agar rencana tak terlaksana.


Harga diri!


“Ngelamun, Ni?”



“Eh, nggak…iya…,”


Sontak terdengar tawa pecah. Agni tersenyum kecut. Sial! Terlalu banyak melamun dia.


“Mikirin apaan sih?”


“Nggak mikir apa-apa kok, Mbak.”


“Bohong!”


Agni mendengus. “Ih, Mbak Aina kepo!”


“Ya abisnya dari tadi diperhatiin ngelamun aja.”


“Oh ya?”


Aina, kakak iparnya mengangguk. “Kamu mikirin soal Mama yang masih nggak setuju jadi kerjaan kamu yang sekarang ya?”


Loh?


“Kata Masmu, lakuin aja apa yang harus kamu lakuin. Urusan Mama biar jadi urusan dia.”


“Serius Mas Arga bilang begitu?”


Tawa Aina berderai sedetik kemudian. “Jangan kamu, Mbak aja dengarnya melongo. Takjub antara percaya dan nggak percaya.”


Mendengar ucapan Aina, tawa Agni menyusul kemudian. Siapapun tahu bahwa Arga, kakak Agni tak suka berkata manis. Lelaki itu memang begitu peduli dan perhatian pada keluarga, tapi tetap saja karakternya cenderung dingin dan acuh. Jadi wajarlah jika kemudian Agni meragukan Arga bisa berkata demikian.


“Hmm, pernikahan banyak merubah Mas Arga sepertinya.”


Aina tersenyum geli. “Itu terdengar seperti kode,”


Dahi Agni berkerut sejenak sebelum kemudian tawanya kembali terdengar. “Aelah Mbak, siapa kali nggak mau kewong. Pengen juga aku punya anak ngegemesin macam Adli dan Adara.” Ujarnya dengan menyebut kedua nama keponakan kecilnya.


“Ya ya ya,” Kepala Aina manggut-manggut. “Cuma masalahnya calonnya udeh ada apa belum dah?”


Wajah Agni pun merengut seketika. “Kumat deh Mbak Ai, ngeledek bisanya!”


Kali ini tawa yang mengalun dari bibir Aina lebih keras. Puas memang rasanya menggoda si adik ipar. Bertahun-tahun dulu, ia pun pernah merasakan hal yang sama. Digoda karena tak kunjung menikah disaat banyak teman sekolahnya sudah membangun rumah tangga dengan pasangan masing-masing.


Ah, wanita single pasti selalu mengalaminya. Apalagi jika usia sudah mulai bertambah. Sudah bukan godaan sepertinya. Bully.


“Mbak,”


“Hmm,”


“Konyol nggak sih kalau ada sayembara cari calon istri?”


“Sayembara?” Kedua alis Aina menyatu. “Maksud kamu macam zaman putri-putri kerajaan dulu.”


Agni mengangguk cepat. “Emang ada?” tanya Aina penasaran.


Bahu Agni mengedik. “Nggak tahu. Aku cuma nanya.”


“Siapa?”


Argh…


Agni melupakan fakta jika kakak iparnya cukup cerdas dan sensitif. Dalam hati, ia hanya bisa merutuki diri sendiri yang memberi pertanyaan konyol pada Aina. Ck, siapa tidak curiga dengan pertanyaan seperti itu kan?


“Siapa, Agni?”


Agni nyengir. Tak lama ia pun berkata. “Tapi awas lo jangan bocor, Mbak. Masalahnya kata orang kantorku sebenarnya program ini juga belum fix.”


Aina pun mengangguk tanpa suara.


“Hmm, itu ada keluarga kaya yang berniat bikin sayembara pencarian istri untuk anaknya. Nah sayembaranya bakal diumumin di TV. Malah rencananya mau dibuat program acara.”


“Keluarga siapa?” Aina mulai tak sabar. Penasaran.


“Ehmm…,” Agni menarik napas dalam-dalam. “A—adinata?”


“Adinata?” Lipatan di dahi Aina terlihat. Tak lama ia terbeliak tak percaya. “Jangan bilang maksud kamu calon istri buat Askar?”


Keluarga Adinata memang cukup dikenal oleh Agni sekeluarga. Meskipun hubungan kedua keluarga tidak terlalu dekat, tetap saja mereka saling mengetahui. Sama-sama berada pada lingkaran keluarga pembisnis di Indonesia.


“Lah emang siapa lagi, Mbak anaknya Om Bram selain Askar.”


“Iya sih ya,”


Sesaat hening. Tak ada yang berbicara diantara keduanya, hingga kemudian suara Aina terdengar.


“Ni, kamu masih mencintainya ya?”


***

Lampung, Agustus 2016