Jumat, 22 April 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (13)





Tiga belas

Sebelumnya di sini

Ah, siapa wanita itu?

Ceweknya cantik banget, Mir. Kayak model. Tinggi, putih. Mereka selalu mampir buat makan siang bersama…,”


Kalimat yang diucapkan Liana terngiang selalu di telinga Mirah. Bayangan beberapa sosok artis yang sering wara-wiri di televisi, berkelebat di benaknya. Dulu dia juga pernah melihat peragaan busana di sebuah mall di Jakarta. Model- model dengan tinggi menjulang membuatnya takjub dan ternganga. Sungguh mereka cantik- cantik.

Mungkinkah wanita yang bersama Dae Ho Oppa seperti itu? “Hei,”

Mirah terhenyak. Dae Ho berdiri di depan pintu apartemen. Dahinya berkerut saat memandang Mirah.

“Kamu baru pulang?”

“Eh, i—iya,” Mirah gelagapan. Dia tidak sadar kalau langkah sudah membawanya kemari.

“Dari mana?” tanya Dae Ho lagi.

“Ja- jalan- jalan. Tam- taman,” terang Mirah dengan terbata. Dia masih belum bisa menguasai keadaannya sendiri.

“Taman di depan?”

Mirah mengangguk. Dae Ho manggut- manggut lalu kembali membuka pintu apartemen.

“Ayo masuk!” ajak Dae Ho yang dituruti Mirah. Ia mengekor di belakang Dae Ho.

“Kamu sering melakukannya?”

“Eh?”

Dae Ho berbalik dan tersenyum. “Kamu itu, sering ke taman?”

Mirah mengangguk kembali. “Setiap hari?” Dae Ho kembali bertanya.

“Hanya senin sore,”

Dae Ho manggut- manggut. Ia berjalan menuju sofa dan menghempaskannya tubuhnya. Mirah hanya memperhatikan sekilas, ia menuju pantry untuk menyiapkan makanan untuk Dae Ho.

Tapi ngomong- ngomong kenapa lelaki ini pulang cepat?

“Oppa pulang cepat?”

“Iya. Besok pagi aku harus ke Bali. Ada pekerjaan di sana.”

“Oh.”

Ada sebersit gundah menyelimuti Mirah. Ia benar- benar tak suka mendengar Dae Ho akan pergi.

“Seminggu atau dua minggu aku pergi.”

Mungkin kalau dirinya seorang istri yang sesungguhnya, Mirah tentu akan protes. Seminggu, dua minggu bukan waktu yang sebentar. Tapi mengingat statusnya yang hanya istri kontrak, Mirah harus menerima.

“Mira, tolong siapkan semua pakaianku.”

Mirah hanya mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya. Sungguh, rasanya ia ingin menangis. Sedih. Entah apa yang membuatnya begini. Tak lama ia pun menghirup napas dalam- dalam, logika memperingatkan tak seharusnya dia seperti ini. Dia harus kuat.

Toh, kamu cuma istri kontrak, Mir.

Selesai kontrak, kamu akan mudah dilupakan.
Mirah kembali menghela napas panjang. Ah, kenapa dada ini terasa menyesakkan?

***

Mirah uring- uringan. Empat hari dia tak melakukan apapun. Pekerjaannya cuma tidur atau nonton. Makan pun hanya di saat dia benar- benar kelaparan. Keluar rumah pun tak pernah. Hanya sekali saat persediaan makanannya habis. Selanjutnya dia mengurung diri di rumah.

Mirah seakan kehilangan gairah hidup.

Dan semua karena kepergiaan Dae Ho. Lelaki itu teramat sibuk, hingga sangat jarang menghubungi Mirah. Hanya sekali saat dia memberitahu telah tiba di Bali. Selanjutnya tak pernah ada kabar dari laki- laki itu, membuat Mirah gusar tak terkira.

Ah, kenapa dia ini?

Dering ponsel menyadarkan Mirah dari tidur siangnya. Dengan enggan diraihnya ponsel yang tergeletak di atas nakas.

“Ya, hallo….,”

“Mira!”

Mirah terkejut. Matanya terbuka seketika. Dae Ho meneleponnya?

Cepat- cepat Mirah menegakkan tubuhnya. “Oppa!” serunya tanpa sadar.

“Kamu baik?”

Mirah mengangguk cepat. Namun detik selanjutnya ia refleks memukul kepalanya. Bodoh, tentu saja Dae Ho tak melihatnya.

“Iya. Aku baik. Oppa gimana kabarnya?”

“Aku baik- baik saja, Mira.”

Senyum Mirah melebar. Hatinya terasa hangat. Ia juga merasa jantungnya berdetak makin kencang karena suara Dae Ho di seberang. Dia benar- benar merindukan ‘suaminya’.

“Kamu siap- siap, Mira!”

“Siap- siap?” kening Mirah berlipat.

“Nanti malam akan ada yang menjemput dan mengantarmu ke bandara.”

“Ba—andara?”

“Iya, Mira. Aku membutuhkanmu di sini. Kamu harus ke Bali malam ini.”

“APA? Bali?” Mirah tak dapat menutupi keterkejutannya. Dia benar- benar kaget. Dae Ho menyuruhnya menyusul ke Bali?

Astaga…

Mirah bingung sekaligus bahagia. Itu berarti dia akan bertemu suami yang dirindukannya.

“Ta—tapi…”

“Bersiaplah, Mira.”

Dan Mirah tak bisa membantah. Segera setelah Dae Ho menutup sambungan, Mirah bergegas menyiapkan pakaiannya.

Ngomong- ngomong dia di sana untuk berapa hari?

***

Manusia memang tidak pernah tahu rencana yang Tuhan siapkan. Selalu ada kejutan- kejutan yang tak diduga terjadi. Seperti Mirah. Saat tayangan televisi banyak menampilkan keindahan pulau Dewata, Mirah hanya bisa menggeleng sedih. Ongkos yang tak murah tentu menjadi halangannya. Lebih baik menggunakan uang untuk kebutuhan hidup daripada mewujudkan mimpinya.

Tetapi sekarang?

Tuhan memang selalu punya kejutan.

“Miss Mirah?”

Seorang lelaki paruh baya menghampiri Mirah saat keluar dari bandara Ngurah Rai. Mirah tak pernah tahu pekerjaan Dae Ho. Teh Nena mengatakan Dae Ho bekerja di sebuah perusahaan asing yang cukup ternama. Apapun itu, yang pasti Dae Ho orang kaya. Buktinya sejak keberangkatan di Jakarta, ada orang- orang yang dipercayakan Dae Ho untuk mengurus dirinya.

“Pak Made?” tanya Mirah ragu. Dae Ho memang memberitahunya akan ada seorang menjemputnya setiba di Bali.

Lelaki itu mengangguk. Ia tersenyum tipis. “Iya. Saya diminta Mr. Dae Ho membawa anda ke tempatnya.”

Mirah mengangguk. “Terima kasih.” Tak lama dia pun mengikuti langkah Pak Made keluar pintu bandara. Sejenak ia menghela napas.

Akhirnya Bali bukan hanya mimpi baginya.

Setengah jam kemudian, Mirah pun tiba di tempat tujuan. Sebuah bangunan mewah yang ditata sangat apik dengan nuansa kultur budaya Bali yang cukup kental. Material kayu mendominasi keseluruhan ruangan. Tradisional sekaligus eksotis.Meskipun waktu mulai berganti malam, tak mengurangi keindahan bangunan.

“Mari Miss,”

Pak Made bermaksud membukakan pintu utama, namun tertahan karena pintu terbuka dari dalam. Dan Mirah tak dapat menahan gejolak bahagia memenuhi rongga dadanya.

Dae Ho Oppa berdiri tegak di depan pintu dengan senyum tersungging di bibirnya.

“Oppa,” pekiknya tanpa sadar.

Senyum Dae Ho makin melebar. Ia menganggukkan kepalanya lalu menghampiri Mirah.

Welcome to Bali, Mira.” ucapnya. Sejenak ia menoleh pada Pak Made. “Thank you, Bli.” Pak Made tersenyum dan mengangguk sekilas. Tak lama dia berpamitan pulang. Tugasnya usai sudah.

“Ayo masuk!” ajak Dae Ho menyadarkan Mirah dari pandangannya mengamati Pak Made pergi.

Mirah tersenyum lebar. Ia mengangguk lalu mengikuti Dae Ho yang lebih dahulu masuk ke dalam bangunan yang Mirah belum ketahui namanya.

“Ini milik Oppa?” tanya Mirah penasaran.

Dahi Dae Ho berkerut. “Maksudmu resort ini?”

Oh namanya resort…

Bukan. Ini milik teman.”

Mirah manggut- manggut. Dae Ho cukup kaya, dalam pandangannya. Maka tak salah jika tadi ia mengira bahwa bangunan mewah ini milik suaminya.

Memasuki bagian dalam resort, Mirah dibuat takjub dengan kemewahan yang ditawarkan. Di sisi kanan terlihat kolam renang dengan cahaya yang cukup temaram. Mirah tergoda melihatnya, namun DaeHo membawanya masuk ke dalam kamar.

Mungkin besok ia bisa berenang.

“Mandilah. Setelah ini kita akan makan malam.” ujar Dae Ho tegas. Mirah hanya menganggukkan kepalanya lalu melangkah semakin ke dalam ruangan. Tetapi tiba- tiba langkahnya terhenti, Dae Ho menahan tangannya. Ia menoleh dan menatap Dae Ho. Lelaki itu pun tengah memandangnya lekat- lekat. Tatapan yang sulit diartikan Mirah.

“I miss u.”

Mirah merasakan bibir Dae Ho mendarat tepat di bibirnya. Lelaki itu menciumnya dengan lembut, membuat Mirah terhanyut ke dalamnya.

Sungguh, dia sangat merindukan lelaki ini.

Mereka berhenti tak lama kemudian. Dae Ho tersenyum kecil. “Kita lanjutkan nanti, Mira. Sekarang kamu butuh makan.”

Mirah tersipu. Ia mengangguk malu. Tepat setelah Dae Ho keluar kamar dan menutupnya dari luar, tubuhnya luruh ke lantai. Dia pernah merasakan perasaan seperti ini. Gelisah karena rindu, bahagia sat bertemu serta gairah yang meledak- ledak. Semua pernah dirasakannya untuk seseorang. Seseorang yang sudah lama menghilang dalam hidupnya.

Faisal.

Mantan suaminya.

Dulu memang masa lalu. Tapi sekarang? Perasaan ini kembali hadir. Bolehkah jika dia berharap lelaki ini takkan meninggalkannya seperti Faisal.

Ah, mustahil itu Mir. ***

Mirah tak dapat menyembunyikan senyumnya selama makan malam berlangsung. Perlakuan Dae Ho membuatnya merasa sangat istimewa. Dae Ho mengajaknya makan malam di sebuah restoran di pinggir pantai. Pemandangan alam pantai yang indah berpadu dengan cerahnya langit malam serta semilir angin yang menerpa membuat suasana malam terasa romantis.

Semua bukan lagi hanya sebuah tayangan di televisi.

“Kamu suka?”

Mirah mengangguk- angguk. Tentu saja! hanya wanita bodoh yang tidak menyukai semua perlakuan yang ditawarkan Dae Ho.

“Pekerjaan saya selesai. Tapi kita masih di sini untuk dua hari ke depan. Liburan.”

Mirah diam mencerna kalimat yang diucapkan Dae Ho. Setelah memahaminya, ia pun kembali mengangguk.

Liburan yang menyenangkan, bisik Mirah dalam hati.

“Kamu pernah ke sini?” tanya Dae Ho.

“Belum.” geleng Mirah.

“Benarkah? Bukankah ini ada di negaramu?”

Mirah membuang napas pendek. Bali memang ada di negaranya, tapi kehidupan cukup sulit membuatnya untuk mengunjungi pulau ini. Ah, tak hanya Bali, berbagai tempat lain pun ia tak pernah datangi. Dia hanya tahu sebatas Pulau Panggung, tanah kelahirannya juga Jakarta, tempatnya mengadu nasib.

“Aku tak punya cukup uang, Oppa untuk ke sini. Mahal.”

Dae Ho menghentikan suapannya. Ia mendesah menatap Mirah. “Maaf.”

Mirah kembali menggeleng. “Apa yang harus dimaafkan, Oppa? Memang seperti itu hidupku.” katanya sembari tersenyum getir.

Ya hidup yang memprihatinkan.

Sesaat keheningan merayapi keduanya. Mirah kembali meneruskan makan, mengabaikan tatapan intens Dae Ho ke arahnya.

“Aku berjanji untukmu,”

Mirah mendongak. Sedikit bingung dengan maksud ucapan Dae Ho. Keningnya mengerut.

“Besok kamu akan bersenang- senang di sini. Aku akan mengajakmu mengelilingi banyak tempat menarik di sini.” lanjut Dae Ho yang membuat Mirah berbinar.

“Benarkah?” Mirah bertanya ragu.

“Tentu saja! aku sudah berjanji.”

Mirah pun tak sabar menanti hari esok.

selanjutnya di sini

***
Lampung, April 2016













Kamis, 21 April 2016

[Cerpen] Sambal Goreng Hati



Sambal goreng hati


Aku mencintai. Teramat mencintainya. Takkan kubiarkan siapapun mencintai dan memilikinya di dunia ini. Hanya aku. Hanya aku yang boleh melakukannya.

***
Mataku nyalang menatap sosok tak bernyawa di hadapanku. Akhirnya mampus juga lelaki ini. Hanya dengan mencampurkan racun yang kudapat dari apoteker langgananku, ia pun merenggang nyawa beberapa menit lalu. Ah, rasanya menyenangkan melihatnya meronta- ronta dari kesakitan. Berkali- kali dia memelas menatapku, memohon pertolongan dengan tangan tergapai. Namun kuabaikan. Aku lebih suka melihatnya seperti itu.

Tontonan yang menarik.

Perlahan aku bangkit. Tujuanku belum tercapai. Dia memang sudah mati, tapi itu belum cukup. Masih ada yang harus kulakukan. Sesuatu hal yang teramat kurindukan.

Sangat kurindu, gumamku sembari menyeringai misterius.

***

“Hmm, wangi banget!” Denada masuk ke dalam apartemennya dengan wajah sumringah. Ia melihat Tiara, sahabatnya tengah berkutat di dapur sembari bersenandung riang.

“Hai, De!” senyum Tiara saat melihat kedatangan Denada. Mereka bersahabat dekat beberapa tahun terakhir ini. Saking dekatnya, keduanya memutuskan menyewa apartemen bersama.

“Woo! Tiara masak?” Denada mengerutkan kening. “Terjadi sesuatu kah?”

Bibir Tiara mencebik. “Harus ya ada sesuatu kalau gue masak?”

“Nggak juga sih,” Denada tersenyum geli. “Tapi ngomong- ngomong enak banget? Wanginya aja sedap gini. Masak apaan?”

“Sambal goreng hati.”

Mata Denada melebar seketika. “Makanan favorit gueeee…,” pekiknya riang.

Tiara mengangguk tanpa kata.

“Udah matang belum?” tanya Denada antusias. “Lapar nih gue,”

“Bentar lagi,”

“Ya udah gue ganti baju dulu ya!” sahut Denada seraya berbalik menuju kamarnya. Dia benar- benar tak sabar.

Sepuluh menit kemudian, dia keluar dan menemukan makanan sudah tersaji di meja. Denada pun segera menempatkan dirinya di salah satu kursi, membuat Tiara mendengus geli.

“Buru- buru amat, De.” Tegurnya, “Tenang aja, itu special gue bikin buat lo kok,”

Denada tergelak. “Lo kayak nggak tahu kalau gue aja.”

Sambal goreng hati adalah makanan favorit Denada. Gadis itu sangan menyukai bagian jeroan sapi yang diolah bersama sambal merah yang menggoda selera. Dimanapun bila menemukan makanan ini, Denada akan melupakan segalanya. Termasuk diet ketat yang tengah dijalaninya.

“Hmm, enak banget. Ra.” Puji Denada sembari mengunyah. Ibu jarinya terangkat ke atas. Jago deh lo!”

Tiara mendekat dan menyodorkan segelas air putih. “Enaknya banget ya, De?”

Denada mengangguk antusias. “Banget. Banget. Banget!” senyumnya melebar. “Sering- sering lo bikin kayak gini yang ada gue gagal diet.”

“Emang lo mau gue masakin ini tiap hari?” tanya Tiara datar.

“Mau lah!”

“Diet lo?”

“Lupakan saja!” cetus Denada santai.

Tiara menggeleng sejenak. “Ngomongnya sekarang gitu, besok juga lo pasti diet lagi,” cibirnya.

Denada tergelak. “Tapi kalau masakan seenak ini, mana bisa gue tolak, Ra.”

Tiara diam. Ia memperhatikan Denada yang makan dengan lahap. Sahabatnya itu benar- benar menyukai masakannya.

“By the way, Radit apa kabar?”

Denada mendongak lalu bahunya mengendik. “Mana gue tahu lah, Ra.”

Mata Tiara menyipit. “Bukannya kalian lagi dekat. Semalam Radit ngajakin lo dinner kan?”

Denada mengangguk sekilas. “Iya. Dia bawa gue ke tempat yang mewah banget, Ra. Hemm, orang banyak duit itu emang enak ya.”

“Terus gimana?”

“Dia nembak gue untuk jadi pacarnya,”

“Lo terima kan?” tebak Tiara kemudian.

“Kata siapa?”

Kening Tiara mengernyit saat mendengar jawaban Denada.

“Gue nggak nerima dia, Ra.” Lanjut Denada yang membuat Tiara terbelalak tak percaya.

“L—lo to—lak?”

Denada mengangguk. “Iya.”

“Ke—kenapa?”

“Gue nggak suka. Well dia emang tajir, baik dan perhatian tapi ternyata nggak cukup buat menyentuh hati gue. Intinya gue nggak cinta lah,” jelas Denada.

“Gue pikir lo terima,” gumam Tiara pelan namun masih bisa didengar Denada.

“Cinta buat gue nggak melulu soal materi, Tiara sayang.” ungkap Denada. “Udah ah, malah bahas Radit. Mending bahas masakan lo yang enak banget ini. Ajarin gue dong!”

“Masakan lo beneran enak, Ra. Bumbunya pas, hatinya juga nggak keras. Enak dikunyah. Lo benar- benar top deh!” sambung Denada kembali.

“Beneran enak?”

“Ck, kan gue udah bilang berkali- kali. Sambal goreng hati bikinan lo emang aseli enak. Ahh, nggak nolak gue suruh ngabisin sepiring ini,”

“Abisin aja!”

Denada melongo sesaat. “Serius boleh gue abisin?”

Tiara mengangguk dan Denada bersorak kemudian. Jelas dia girang bukan main.

“Lo nggak penasaran kenapa seenak itu, De?” tanya Tiara tiba- tiba.

“Kan lo jago masak. Ngapain gue penasaran.” balas Denada acuh. Ia kembali mengunyah makanan.

“Itu hatinya special lo, De!”

“Oh ya,” kedua alis Denada bertaut. “Mahal pastinya ya? Beli dimana emangnya? Gue beliin sini. Tapi lo yang masak ya?”

“Itu hati pria yang kau tolak semalam.”

Denada menghentikan suapannya. Ia mengernyit menatap Tiara. Wajah gadis itu terlihat datar dan dingin. “Maksud lo?”

“Itu hati milik Radit.”

***

Lampung, 20 april 2016

[ISL]



Note. Imajinasi melebar dari fiksi mini milik mbak Putri Apriani. Hahahaa… satu utang terselesaikan yo, Mbak. Kurang lebihnya mohon maaf…




[Cerpen] Kejutan Menjelang Hari Pernikahan

gambar diambil dari www.flosetflowers.com

 
Kejutan Menjelang Hari Pernikahan


Ketika hatimu dipertaruhkan untuk hal yang kamu benci bahkan tak masuk akal, apa yang akan kamu lakukan? Bertahan demi orang tercinta? Atau sebaliknya?
“Gila kamu ya!”

“Apaa-apaan sih kelakuan kamu, May? Malu-maluin keluarga aja!”

“Nggak bisa apa kamu lebih sabar?”

“Ya Tuhan, Maya! Apa sih kurangnya dari Vito. Dia itu lelaki baik dan mapan. Kurang apalagi coba?

“Kamu nggak sadar sama umur, mau kapan lagi nikah?”

“Pikirkan lagi May. Keputusan kamu jelas aib di keluarga kita. Kamu membuat malu Ayah dan Ibu.”

Maya menghela napas dalam-dalam. Telinganya berdenging mendapat serbuan penolakan dari keluarganya. Digigitnya bibir bagian bawahnya, ragu. Sungguh dia dilema, apakah keputusan ini terbaik untuk dijalaninya.

Keputusan yang jelas berpengaruh bagi hidupnya.

Alvito Adnan. Lelaki yang sudah kurang dari seminggu lagi akan menikahinya. Laki-laki yang telah dipilihnya untuk menjadi imam. Laki- laki yang tentunya sangat dicintainya.

Tapi itu dulu.

Sekarang?

Fakta kemarin mengubah segalanya. Menjalin kasih selama setahun ternyata belum cukup bagi Maya untuk mengetahui sikap serta karakter Vito sesungguhnya. Entah dirinya yang buta karena cinta atau Vito yang sedemikian rapi menutupi kekurangannya. Benar kata pepatah, sebaik-baiknya bangkai tersimpan pada akhirnya tercium juga.

Vito bukan laki-laki normal. Dia pecinta sesama jenis. Dia gay dan dia tak pernah mencintai dirinya.

Hari itu Maya datang ke rumah Vito untuk mengantar sarapan. Tanpa pemberitahuan. Dia memang melakukan dengan sengaja. Sebuah kejutan, pikirnya. Namun sayangnya alih-alih membuat kekasihnya terkejut bahagia, yang ada dia merasa jantungnya mau lepas. Pemandangan di dalam kamar membuatnya memekik histeris tak percaya. Bubar sudah rencana yang telah disusunnya hari itu.

“MAYA!” Vito bangkit dari ranjang. dia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Maya berpaling seketika, hatinya terasa mencelos. Jungkir balik.

“I—ini bisa aku jelasin,” sambung lelaki itu sembari berjalan mendekatinya.

“Pakai baju kamu. Kita bicara di luar!” cetus Maya menguatkan diri. Ia berbalik setelah sebelumnya melemparkan pandangan sinis pada sosok laki-laki lain yang masih tak beranjak dari kasur.

Ya Tuhan, betapa menyakitkannya semua ini.

Dan sepuluh menit kemudian, Vito mengakui semuanya. Dia memang tak punya kesempatan mengelak. Semua sudah cukup jelas dan terbukti.

“Jadi pernikahan ini kedok?” tanya Maya gusar. Sungguh hatinya terasa teriris sembilu. Perih. Sakit. Dirinya begitu mencintai Vito dan percaya lelaki itu pun mencintainya. Tapi nyatanya….

Vito tak menjawab. Lelaki itu bergeming di tempatnya. Namun semua sudah cukup menjadi jawaban bagi Maya.

“Kamu nggak mungkin kan membatalkan pernikahan ini?”

“Apa?”

“Nama baik keluarga kita akan hancur. Ini aib yang memalukan. “

Maya menggeram. Lelaki ini dengan mudah mengatakan aib, padahal siapa yang bersalah di sini. Tapi Maya tak menampik. Pernikahan akan diadakan seminggu lagi, jika sampai dibatalkan tentu akan mencoreng nama baik keluarganya.

Tapi bertahan juga tidak mungkin…

“Pernikahan ini harus diteruskan.”

Maya terbelalak dengan ucapan Vito. “Kita bertahan selama setahun baru kamu bisa minta pisah dariku.” lanjut Vito kemudian. “Selama pernikahan kamu bebas ngapain aja, pun dengan aku.”

“Ka—kamu,” Nirmala melotot tak percaya. Kesepakatan yang jelas merugikannya. Dia dijadikan tameng untuk menutupi kekurangan Vito.

“Aku sangat mencintainya. Aku juga tak ingin berpisah darinya.”

“SINTING!” umpat Maya. “Laki-laki sialan! Kamu hanya memikirkan diri sendiri ternyata, hah! Egois!”

“MAYA!”

Maya tersadar seketika. Ia mengerjap. Seluruh keluarga tengah memandanginya. Menunggu dirinya mengubah keputusan. Semua berharap pernikahan akan tetap berjalan. Terlalu banyak kerugian materiil serta malu yang akan ditanggung. Apalagi hidup di daerah dengan masyarakat yang masih memiliki hubungan kekerabatan serta kedekatan yang masih erat. Dia harus siap digunjing dan dijadikan topik pembicaraan selama berbulan- bulan atau bahkan bertahun- tahun setelahnya.

“Pikirkan lagi, May. Siapa tahu dia bisa berubah.”

Maya menelan ludah. Siapa tahu? Tak ada jaminan. Lagipula Vito sudah mengakuinya, bahkan lelaki itu dengan mantap mengatakan sangat mencintai kekasihnya dan tak ingin dia mereka berpisah.

Lalu untuk apa diteruskan?

“Umurmu, May.” Maya menoleh dan melihat ibunya menggeleng sedih. “Ibu memikirkan usiamu yang semakin bertambah. Kamu apa nggak malu dengan omongan tetangga.”

“Menikah saja dulu lalu nanti bercerai,”

Maya terbelalak. Salah satu kakaknya mengatakan hal yang mustahil. Tak berpikirkah mereka jika pada akhirnya dia hanya akan menanggung kesakitan. Toh ujungnya dia akan menyandang status janda.

“Lakukan apa yang membuatmu bahagia, May!”

Maya menoleh. Ayah yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. Dan perkataannya cukup melegakan Maya, meski berujung protes saudaranya yang lain.

“Jangan pikirkan orang lain. Pikirkan dirimu, Nak. Kamu harus hidup bahagia.”

Maya tersenyum getir. Nama baik keluarganya memang dipertaruhkan, namun kehidupannya jauh lebih panjang. Apapun yang terjadi keputusannya tak dapat diubah. Dia harus lebih kuat, tegar dan mandiri. Dia tak boleh menjadi perempuan yang rapuh. Berani dan tangguh dalam hidup, itulah perempuan yang sesungguhnya.



Aku tersesat sendiri

Dalam sebuah lorong sunyi

Lari! Aku ingin segera pergi

Berhenti! Ada tangan-tangan yang menghalangi



Biarkan, biarkan kucari bahagiaku sendiri

Aku wanita, yang punya harga diri

Jangan paksa aku tuk buka hati

Demi kamu, yang bukan lelaki sejati



Akulah Kartini

Pejuang wanita masa kini

Menerima takdir, bukan untuk diratapi

Buat hidup jadi lebih berarti

Karena nestapa bukan untuk dimiliki

Dan bahagia tak perlu dicari

Ia ada di dekatmu, di dalam hati

Karya Kolaborasi Imas Siti Liawati (Cerita) dan Putri Apriani (Puisi). Selamat Hari Kartini para perempuan Indonesia, tetaplah menjadi lilin yang mampu bersinar dalam kegelapan :)


#Fiksimini :

KEJUTAN MENJELANG PERNIKAHAN. “Aku sangat mencintainya.” Ucap calon suamiku pada pria berkumis itu.

posted Kompasiana

[Cermin] Hari Pertama

gambar diambil dari dark.pozadia.org


HARI PERTAMA

Dia di sana. Berdiri tegak menjulang di sebuah halte bis kosong yang berada di seberang jalan. Wajahnya terlihat pucat, tapi tidak lemah. Dia justru terlihat kuat.

Berkali- kali ia menghembuskan napasnya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Terlihat gugup memang, tapi dia juga berusaha untuk bersikap tenang.

Tiba- tiba tubuhnya terlihat menegang. Tiga orang lelaki terlihat mendekatinya. Ketiganya bersiul, sembari melontarkan kata- kata menggoda. Salah satu diantaranya bahkan berani menyentuh tubuhnya membuat darahku menggelegak.

Lelaki itu cari mati!

Tapi sekuat tenaga aku menahan diri. Aku yakin dia mampu menghadapinya.

Mereka bergerak meninggalkan halte. Dia terlihat menggiring ketiganya menjauh. Wajahnya yang semula tegang, terlihat lebih santai. Bahkan sesekali ia melemparkan senyum menggoda pada ketiga pemuda itu.

Aku mengumpat. Awas saja dia!

Kuikuti terus geraknya. Ternyata ia membawa ketiganya ke belakang deretan ruko yang berada tak jauh dari jalan. Tempatnya memang sepi. Takkan ada yang orang yang lewat di sana. Benar- benar tempat yang ‘baik’.

Seorang dari ketiganya terlihat tak sabar mendekat. Lelaki itu bahkan berani merangsek maju untuk menciumnya, namun dia lebih sigap untuk menghindar.

“Sabar, sayang!” ujarnya yang disambut kekehan lelaki tersebut. Dua laki- laki lainnya pun tertawa mengikuti. Wajah keduanya pun sama tak sabarnya dengan lelaki sebelumnya.

“Well, siapa duluan?” senyumnya menggoda. “Satu- satu atau langsung bertiga?”

Aku berdecak. Tawarannya menggoda. Wajah jika ketiga laki- laki terbelalak menatapnya. Gairah ketiga sudah tidak dapat ditutupi.

“Kau sanggup dengan kami bertiga, cantik?” tanya salah satu dari laki- laki.

Dia tersenyum lebar, “Tentu saja!”

Dan tak menunggu lama bagi ketiga laki- laki itu untuk menerjang dirinya. Seorang diantaranya berhasil mendekat wajahnya dan bersiap untuk mencium bibir merah muda miliknya. Satu diantara yang lain bahkan tak sabar untuk melucuti pakaiannya. Semuanya terlihat seperti seharusnya. Satu gadis akan menghadapi gairah tiga laki- laki.

Namun sepersekian detik keadaan berubah. Ketiga lelaki menjadi terkapar tak berdaya di tanah. Masing- masing merintih kesakitan dengan memegangi lehernya yag terluka. Dia, gadis itu berdiri tegak menunduk diantara ketiga laki- lakinya yang mengerang kesakitan. Erangan ketiganya terdengar memilukan membuatku tersenyum puas.

Sedetik kemudian aku memunculkan diri di hadapannya. ““Gimana? Enak jadi Vampir apa manusia?” tanyaku padanya.

Dia mendongak. Matanya nyalang dan memerah. Leleran darah segar masih terlihat di bibir bawahnya. Tak lama ia menyeringai memperlihatkan dua taring diantara deretan gigi putihnya.

“Rasanya manis,” katanya yang membuatku terbahak. Gadisku memang menakjubkan. Baru kemarin aku mengubahnya dan hari ini dia berhasil mendapatkan tiga darah segar.

“Hari ini kamu luar biasa, cantik!”

Lampung, April 2016



Cerita dibuat dari fiksi mini

HARI PERTAMA.“Gimana? Enak jadi Vampir apa manusia? –Putri Apriani-




Minggu, 17 April 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (12)



Dua Belas
 sebelumnya di sini

Mirah terpekur. Ia menghela napas jengah. Sebulan sudah dirinya berusaha mencari pekerjaan, tapi tak juga membuahkan hasil. Ijazahnya memang sangat sulit digunakan, mengingat kini semua orang telah menyandang gelar sarjana. Sebenarnya ada beberapa lamarannya yang lolos namun terbentur masalah jadwal. Mirah mencari pekerjaan hanya di siang hari, tidak dengan sistem shift karena tak mungkin baginya bekerja di malam hari.

Dae Ho mau bagaimana?

Mirah sadar diri dan sadar akan statusnya.

“Kenapa?”

“Eh?” Mirah mendongak. Dae Ho menggeleng sesaat lalu menghempaskan tubuhnya di sofa tepat di sebelah Mirah, membuat Mirah sedikit menggeser tubuhnya untuk memberi ruang pada suaminya.

“Ada masalah?” tanya Dae Ho lagi.

Kepala Mirah menggeleng pelan, “Nggak.”

“Hmm,” Dae Ho menghembuskan napas pendek. Sesaat diraihnya remote televisi, namun gerak tangannya terhenti saat menyadari program yang sedang ditayangkan di televisi.

“Kamu suka menonton seperti ini?” Sebelah alis Dae Ho terangkat kembali menatap Mirah.

Mirah mengernyit. Dia pun mengarahkan pandangan ke layar televisi lalu saat tersadar maksud Dae Ho, bahunya mengendik.

“Nggak,” jawab Mirah pendek.

Dae Ho menatapnya dengan alis terangkat. “Bukankah kalian para wanita Indonesia menyukai drama- drama dari negeriku?”

Mirah mengangkat bahunya. Kepalanya menggeleng. “Tidak semua, Oppa.”

“Oh ya?” Dae Ho masih terlihat penasaran, “Bukankah mereka tampan- tampan?”

“Tampan?” Dahi Mirah berkerut.

Dae Ho mengangguk. “Saya sering mendengar kalian memuji laki- laki bangsa kami. Romantik, hem?”

Senyum terkembang di bibir Mirah. “Romantis, Oppa.”

“Ya ya ya. Romantis.” Dae Ho manggut- manggut. Ia menyandarkan di punggung sofa. “Kalian terlalu membanggakan drama. Padahal tidak juga semua laki- laki bangsa kami seperti itu.”

Mirah diam. Ia memilih mendengarkan Dae Ho berbicara. Selama satu bulan hidup bersama, Mirah mengamati Dae Ho cukup irit berbicara. Lelaki itu selalu berkata langsung ke intinya. Tak suka basa basi. Maka sebenarnya dia sedikit bingung ketika Dae Ho berbicara banyak malam ini.

“Saya dan mereka, tampan siapa?”

Hah?

Mirah bengong sekaligus gugup. Meski sudah berkali- kali berhubungan suami istri, tetap saja berdekatan dengan Dae Ho masih menimbulkan kecanggungan tersendiri bagi Mirah.

Dan tunggu, pertanyaan apa pula yang ditanyakan Dae Ho itu.

“Mira,”

“Tam—tampan…,” bibir Mirah terasa kelu. Wajah Dae Ho makin mendekat membuat kondisinya semakin terjepit.

“Siapa? Saya atau mereka?” tanya Dae Ho tak sabar. Kini wajah mereka nyaris tak berjarak. Bahkan Mirah merasakan dahinya bertaut dengan dahi milik Dae Ho. Aroma parfum yang biasa digunakan Dae Ho menyeruak memenuhi indera penciumannya.

“Saya penasaran. Banyak bertemu wanita bangsamu yang suka menggoda. Mereka bilang saya tampan.”

Eh? Mirah terbelalak.

“Jadi siapa?”

Mirah gelagapan. “O—oppa…,” jawabnya terbata. Dia tak mengerti mereka yang dimaksud mereka oleh Dae Ho. Aktor- aktor itu sungguh tak dikenalnya. Dia hanya sesekali mendengar teman- temannya bercerita tentang kegemaran mereka menonton drama asal negeri gingseng. Tapi tidak dengan Mirah. Hidup terlalu berat dia jalani. Waktu senggang sebisa mungkin ia gunakan untuk beristirahat. Jadi satu- satunya lelaki asal korea yang dikenalnya ya hanya Dae Ho.

“Good job!” Dae Ho menyeringai. Ia pun kembali menegakkan tubuhnya, menjauhi diri dari Mirah. Dengan santai tangannya bergerak meraih remote televisi lalu mengganti tayangan drama menjadi berita. Sikapnya benar- benar santai dan datar. Tak sadar jika di sampingnya, Mirah perlu menarik napas berkali- kali untuk emnormalkan debar jantungnya yang mendadak berdegup sangat kencang. Saking kencangnya Mirah bahkan merasa jantungnya serasa ingin melompat keluar.

Ya Tuhan, kenapa aku?

***

Di setiap senin sore, Mirah terbiasa untuk berjalan- jalan di taman yang berada tak jauh dari apartemennya. Ia sengaja memilih waktu senin, karena pada hari itulah Dae Ho pulang lebih telat, sehingga dia tak buru- buru harus menyiapkan makan malam.

Dan hari ini seperti biasa, sesaat setelah tiba mengelilingi satu putaran taman, Mirah pun menghempaskan tubuhnya di bangku panjang yang berada di sisi paling kiri. Tak lama tangannya merogoh ponsel yang dia letakkan di saku celana lalu meletakkannya di telinga kanan.

“Hmm, seperti biasa. Sore di suatu taman ya, Yuk!” terdengar suara lembut di seberang sesaat setelah Mirah menekan sebuah nama di kontak ponselnya.

Ia tertawa. “Kamu ini! Bukannya jawab salam dulu,”

Kumala diseberang terkekeh. “Ya maaf,” katanya seraya menjawab salam Mirah.

“Gimana di sana?” tanya Mirah kemudian.

Alhamdulillah baik semua. Emak makin sehat. Rania juga makin gede. Makin cerewet, Yuk. Sekarang kalau Mala pulang telat, banyak banget nanyanya.”

Sesaat Mirah merasa hatinya terasa nyeri saat Kumala menyebut nama Rania. Sungguh dia merindukan gadis kecilnya. Entah sudah berapa bulan ia lewati tanpa melihat anaknya tumbuh.

Ah, dia merindukan malam- malam sebelum mereka tidur. Rania pasti akan banyak bercoleteh tentang harinya…

“Yuk!” Mirah tersadar seketika. “Ayuk dengerin aku ngomong nggak sih? Perasaan nggak ada suaranya dari tadi” lanjut Kumala menggerutu.

“De—denger, denger!”

“Oh, Kira….,

Kata- kata Kumala terputus dengan sebuah teriakan yang melengking cukup tinggi. Teriakan yang sangat dia kenali.

“Ibuuuu…,”

“Rania! Nggak teriak- teriak dong! Bikcik kan lagi ngomong,”

“Ya, Rania mau ngomong sama Ibu, Cik.”

“Iya, tapi nggak teriak- teriak.”
Mirah tersenyum tipis mendengar percakapan adik dan anaknya. Benaknya membayangkan keduanya tengah bersitegang di ruang tamu rumahnya. Seperti biasanya.

“Yuk! Nih si bawel mau ngomong,”

Mirah tersenyum lebar, “Iy…,”

“Ibu, kapan pulang? Rania kangen?”

Deg.

Mirah meringis. Pertanyaan ini selalu ditanyakan Rania setiap mereka tersambung via telepon. Meskipun sudah terbiasa tetap saja Mirah merasa terluka setiap Rania menanyakannya.

Ibu, bahkan nggak tahu kapan Ibu bisa pulang, Ran…

“I—ibu…,” Mirah menelan ludah susah payah. Ia menarik napas panjang untuk mengusir sesak yang dia rasakan. “Sabar ya, Ran. Ibu kan lagi nyari uang buat sekolah Rania. Rania bentar lagi mau masuk SD kan?”

“Iya dong! Rania harus masuk SD, Bu. Oh ya Bu sekarang bacanya udah makin lancar. Terus ngajinya udah iqro enam. Rania juga…,”

Selanjutnya Mirah hanya tersenyum mendengar celoteh tak henti dari suara Rania. Walaupun mereka kini tinggal berjauhan, kebiasaan Rania untuk bercerita apapun padanya belum pudar. Mirah pun tak ingin kebiasaan tersebut hilang. Walaupun dia jauh, perkembangan dan pertumbuhan anaknya masih dapat terpantau dengan baik.

Sabar ya, Nak. Bisiknya dalam hati.

Setelah semuanya selesai, kita akan bersama lagi.

***

“Mir! Mirah kan?”

Mirah yang baru saja berjalan meninggalkan taman untuk kembali ke apartemen mengernyit. Sesaat matanya menyipit melihat sosok wanita berdiri di hadapannya. Detik selanjutnya ia ternganga.

“Li—liana?”

Wanita itu tersenyum dan mengangguk. “Wah, gue pikir lu ngelupain gue.”

Mirah tertawa kecil lalu mendekati Liana. Sesaat mereka bersalaman lalu mencium pipi kanan dan kiri, “Ya nggaklah. Aku masih ingat kok.” sahut Mirah.

“Ya kali, Mir udah lama kagak ketemu kita.” tukas Liana. “Ada kali ya sebulan lu keluar kerja.”

Mirah nyengir. “Ya sekitar itulah.”

“Terus lu gawe dimana sekarang?”

Mirah mengendikkan bahunya. “Belum. Masih nyari nih.”

“Ah, lu sih sok-sokan keluar kerja dulu.” ujar Liana sembari mengibaskan tangan kanannya. “Si bos galak mah biarin aja. Cuekin.”

Sejenak Mirah bengong. Ia bingung dengan maksud Liana. Hingga tak lama dia sadar jika Liana mengira ia keluar karena perlakuan kasar atasan padanya.

Padahal kan bukan karena itu…

“Eh, tapi gue ada kerjaan mau nggak?”

“Hah?”

“Ah lu banyakan bengong. Mau nggak?” tanya Liana tak sabar.

“Kerja apaan?”

“Jadi cleaning service tapi di bar gitu.” Liana membalikkan tubuhnya, “Tuh sekolahnya ada di ujung jalan. Teman gue sebenarnya yang kerja di sono. Cuma dia mau balik kampung.”

“Pake shift ya?” tanya Mirah ragu.

“Ya iyalah, Mir. Emang kenapa? Lu nggak mau kerja dijadwal- jadwal gitu ya? Ya elah Mir, sadar diri aja. Kalau mau model kerja kantoran gitu kita musti punya ijazah sarjana baru deh bisa duduk nyaman di ruang berAC.”

Mirah mengangguk perlahan. Jauh di sudut hatinya mengiyakan kata- kata Liana. Berbekal ijazah sekolah menengah selama ini, dia memang tak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

“Ya dah ah. Gue mau balik udah sore.” Liana berpamitan. Mirah lagi- lagi mengangguk.

“Hati- hati ya, Li. Makasih.”

Liana tertawa. “Makasih apa lagi lu ini. Udah ah balik gue,” katanya sembari celingukan mencari angkutan yang lewat. Namun tiba- tiba pandangannya terhenti. Keningnya mengernyit membuat Mirah heran sendiri.

“Kenapa Li?”

“Eh, Mir lu masih ingat nggak dulu gue pernah bilang ada cowok ganteng yang mirip kayak pemain The Heirs?”

“The Heirs?”

“Astaga gue lupa lo kan nggak tahu drakor,” ujar Liana sambil menggelengkan kepalanya. “Ya itu cowok yang pernah tabrakan sama lu di café.”

“Oh, itu!” Mirah masih mengingat jelas kejadian saat itu. Beruntung lelaki itu berbaik hati tak memarahinya, kalau tidak malu sudah dirinya. Ceroboh sekali.

“Ingat?”

Mirah mengangguk.

“Nah tuh cowok beberapa kali mampir lagi ke café. Sumpah ganteng banget ternyata. Eh siapa sangka sekarang gue tahu ternyata dia tinggal di apartemen itu.” tunjuk Liana pada gedung tinggi yang Mirah kenali.

Mirah terbelalak. “Serius?”

“Iya.” Liana mengangguk cepat. “Bentar dong! Tadi gue lihat dia masuk ke dalam mini market itu. Bentar lagi paling keluar. Lu penasaran kagak? Keknya waktu itu karena ketakutan lu sampai nggak lihat mukanya.”

Mirah hanya diam. Benar yang dikatakan Liana. Dia memang penasaran. Apalagi ternyata mereka tinggal satu apartemen. Ya Tuhan, lelaki baik hati itu…

“Nah, nah tuh dia, Mir orangnya!”

Mirah mengalihkan pandangan. Matanya menyipit sesaat. Detik selanjutnya ia ternganga tak percaya.

Dae Ho Oppa! “Ganteng kan? Makanya lu sayang tahu, Mir udah nggak kerja. Padahal dia sering banget ke café. Tapi sayang dia udah punya pacar,”

“Maksud kamu?” tanya Mirah berpaling cepat. Ia memang kaget karena laki- laki yang dimaksud Liana ada suaminya. Tapi fakta yang barusan diungkap Liana lebih mengejutkannya lagi.

“Ceweknya cantik banget, Mir. Kayak model. Tinggi, putih. Mereka selalu mampir buat makan siang bersama. Ya ampun, Mir kalau…”

Mirah tak lagi mendengar apa yang diucapkan Liana. Yang dia tahu, tiba- tiba dadanya terasa sesak. Nafasnya tercekat membuat dirinya kesulitan bernafas. Ada perasaan tidak terima mendengar semua yang dikatakan Liana.

Ah, siapa wanita itu?

selanjutnya di sini 
 
 ***

Lampung, April 2016



Sabtu, 09 April 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (11)




Sebelas


sebelumnya di sini

Mirah menjalani pagi dengan sedikit enggan. Tubuhnya luar biasa letih. Mirah masih ingin bergelung di tempat tidur,namun mengingat statusnya seorang istri sekarang mau tak mau bangun. Sudah menjadi kewajiban mutlak bagi seorang istri untuk melayani suami termasuk menyiapkan sarapan pagi untuk Dae Ho.

“Selamat pagi,” Mirah mendongak. Dae Ho muncul di dapur hanya dengan menggunakan celana pendek selutut. Tanpa atasan. Topless.

Minggu, 03 April 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (10)




Sepuluh

Sebelumnya di sini

Mirah terpekur di tempatnya. Dia ingat jika kemarin statusnya sudah berganti. Dae Ho Oppa menikahinya. Kini dia bukan lagi seorang janda yang hidup sendiri di ibukota. Saat ini gelar wanita bersuami tersemat di dirinya.
Suami?