Jumat, 27 November 2015

GENDIS (9)



Sembilan

Sebelumnya Gendis (8)



Kantin sudah ramai ketika Gendis tiba. Ia sedikit terlambat karena masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda karena kedatangan Marvin.

Ck, kenapa lelaki itu masih ngotot mendekatinya sih? Gendis menggerutu dalam hati.

Apa tadi katanya?

“Sebelum janur kuning melambai, tak ada halangan untukkku untuk mendekatimu.”
Yak, dia kira masalah pernikahan masalah main- main. Dasar sinting!

bodoh
!

“NDIS!”

Kepala Gendis terangkat. Ia menemukan Kinar berada di deretan tengah kantin. Tangan gadis itu melambai ke arahnya. Gendis mengangguk lalu melangkah mendekati sahabatnya.

“Udah gue pesenin.” Ucap Kinar sesaat setelah ia duduk di kursi yang berada di depan Kinar. “Daripada lama.”

Gendis mengernyit, “Segitu niatnya lo, sampai pesenin gue makan!”

Kinar nyengir. “Udah ah buruan cerita!” Buru Kinar tak sabar. Gendis terkekeh sekilas namun tak lama ia menceritakan tentang kejadian yang sebenarnya terjadi di lobby kemarin sore. Ada Marvin yang bermaksud mengantarnya pulang, kedatangan Elroy, 2 kalimat yang tak diduga hingga ditutup perjalanan mereka berakhir di nasi goreng kaki lima tanpa penjelasan lebih lanjut. Ceritanya cukup singkat, karena Gendis tak suka bertele- tele.

“Wohooo… cool amat El itu,” Gendis mendelik. Jadi dari tadi cerita, justru itu tanggapan Kinar pertama kali. Ck,

“Iya kul. Kulkas!” Sungutnya kesal. “Please deh Nar! Yang serius ngapa nanggepinnya. Pusing neh gue! Mana si Marvin juga berulah lagi.”

“Wow! Pak Marvin, Ndis.” Ralat Kinar, “Dia masih klien kantor kita loh!”

Gendis mengendikkan bahunya. “Tau ah!”

Obrolan mereka terputus karena seorang pelayan datang mengantarkan pesanan makanan. Gendis tersenyum tipis saat menyadari makanan yang dipesan Kinar untuknya. Semangkuk soto betawi dan segelas es teh manis, benar- benar menggugah selera.

“Gue tahu kalau makan di kantin lo paling doyan sama soto.” Ucapan Kinar menyadari perubahan mimik Gendis. “Ck, udah kayak nggak ada yang lain aja keleus!”

“Ish, berisik! Mending makan ah. Laper gue.”

Kinar terbahak. “Memang makan adalah obat stress terbaik.”

Gendis tertawa. Kepalanya manggut- manggut, namun ia tak membalas ucapan Kinar. Ia memilih menikmati makan siangnya. Mengabaikan sejenak permasalahan di hidupnya.

Selang beberapa menit, Kinar telah menyelesaikan makannya terlebih dulu. Ia menatap sahabatnya intens lalu menghembuskan nafas berulang kali. Gendis terlihat lelah, lingkaran hitam di bawah matanya. Kinar yakin semalam gadis itu tak bisa tidur nyenyak.

Seharusnya dia bahagia?
“Lo harusnya to the point langsung deh, Ndis sama El.”

“Hmm,” Gendis mendongak. Kinar mengangguk. “Kalau dia nggak ngejelasin lo yang nanya duluan. Nggak usah gengsi. Hak orang untuk berbicara kok! Apalagi ini sangkutannya sama masa depan lo. El nggak bisa asal ngeklaim gitu,”

Gendis mengerjap- ngerjapkan kedua matanya tak percaya. Sungguh dia mengenal karakter Kinar yang biasa konyol dan ngawur, tapi kali ini dia berbicara serius. Astaga!

“Aish, nggak usah gitu juga ekspresi lo!”

Gendis terkekeh. Ia meneguk minumannya dulu baru berkata, “Iye. Gue ngerti. ”

Kinar manggut- manggut, “Eh terus Marvin?”

“Buat lo aja. Ikhlas lahir batin gue.”Kelakar Gendis yang kontan membuat Kinar bergidik.

Player? Ogah ah! Mending tawarin sama Vania aja.”

Dahi Gendis mengerut. “Kok Vania?”

“Ai, lo nggak sadar ya pas kita lunch kemarin sama tingkah Vania ke Marvin. Apalagi waktu di mobil, pas lo pergi sama El itu. Haduh, pusing pala baby lihatnya.”

“Masa?”

Selanjutnya topic pembicaraan berganti dengan cepat. Sesaat keduanya lupa akan permasalahan utama. Tapi mungkin sebaiknya begitu, ada hal lain yang bisa membuat Gendis tak melulu memikirkan persoalannya. Hingga akhirnya jam istirahat berakhir, keduanya pun pergi meninggalkan kantin untuk melanjutkan pekerjaan kembali.

***

Gendis menghela nafas berat. Sejak pagi konsentrasinya sudah pecah. Meskipun tadi, saat makan siang ia sempat larut dalam obrolan dengan Kinar tetap saja ketika kembali ke mejanya, kepalanya dilanda pusing karena memikirkan banyak hal.

Gendis tak menyangka dalam kurun waktu beberapa hari hidupnya berubah menjadi tak tenang. Dulu ia tak seperti ini. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, menikmati tidurnya dengan nyenyak walaupun sesekali pikiran tentang Elroy melintas namun ia memilih melakukan kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Ia bisa membaca buku, mencoba resep, atau hang out bersama Kinar atau teman- temannya yang lain.

Tapi sekarang?

Kepalanya mendadak ingin pecah karena ulah Elroy dan Marvin.

Ngomong deh lo sama El, Ndis.

Tiba- tiba Gendis teringat saran Kinar. Sebenarnya solusi masalahnya mudah, berbicara langsung dengan lelaki itu. Kalau memang benar, seharusnya mereka mulai memikirkan rencana pernikahan dari mulai tanggal, busana, EO yang akan digunakan. Dan kalau ia sudah menikah bukankah Marvin akan mundur dalam hidupnya.

Good idea! Gendis tersenyum puas.

Ck, pede sekali! Gimana kalau nggak?

Eh?


Iya. Gimana kalau nggak? Gimana kalau itu cuma lelucon Elroy. Kebetulan saja lelaki itu hendak menolongnya lepas dari Marvin. Dan Demi Tuhan, mereka sudah berpisah sekian tahun masihkan perasaan itu ada…

Seharusnya itu pertanyaan untukmu sendiri, Ndis!
Gendis meringis. Ia melupakan fakta yang paling penting. Perasaannya. Soal hati. Tentang cinta itu sendiri.

Masihkah?
***

“Lo dimana?”

“Udah di depan kantor lo nih! Buruan turun, gue males parkir!”

“Iya iya. Gue juga udah keluar ruangan.”

Gendis melangkah buru- buru. Sesaat diputuskannya panggilan lalu bergerak cepat memasuki lift. Sore ini bagaimanapun caranya dia tak ingin berurusan baik Elroy maupun Marvin. Lagipula dia perlu berbicara dengan seseorang.

Seseorang yang paling mengerti dirinya juga Elroy.

Saat sudah berada di depan kantor, Gendis celingukan. Mencari sosok yang baru beberapa menit dihubunginya. Dan ia tersenyum lebar saat menemukan sedan hitam melaju lambat di depannya. Dari balik kaca ia sudah tahu siapa pengemudinya.

“Buruan masuk!” Pintu sisi penumpang terbuka. Gendis buru- buru masuk. Senyum tersungging di bibirnya.

Thanks ya, Ba..!”

“Hai, Ndis!”

Kepala Gendis memutar dan ia terbelalak saat mendapati penumpang di kursi belakang. “TAMA!” Pekik Gendis riang. “Udah lama banget ya nggak ketemu?”

Tama tertawa, kepalanya mengangguk. “Lo sih sibuk mulu.”

Gendis mengernyit, “Nggak kebalik?”

Kekehan terdengar dari mulut Tama. “Ya deh next time kita janjian ketemuan. Tapi Cuma berdua ya?”

“Hei, kenapa gue ngerasa itu ajakan kencan ya.”

“Ya itung- itung sebelum lo merit, Ndis!”

Hah! Apa Tama tau?
Gendis melongo. Tama terbahak. “Nggak sadar umur lo, Ndis? Kita- kita ini kan udah saatnya memikirkan rumah tangga. Masa iya lo ngejomblo terus.”

“Oh.” Mulut Gendis membulat. Ia manggut- manggut. Tama hanya asal berbicara, tidak mengarah ke persoalannya. Gendis pun memutar tubuhnya menghadap ke depan. Ia melirik Bastian, mulutnya gatal ingin berbicara tapi ada Tama di kursi belakang.

Gendis masih belum ingin semua orang tahu. Dirinya pun akhirnya memilih mengalihkan pembicaraan.

“Kenzi, Adit nggak ikut?”

“Kenzi lagi di luar kota. Adit balik lah.” Sahut Bastian di sebelahnya, “Eh lo tahu nggak Adit mau merit?”

“Ohya? Serius?”

Gendis dapat melihat anggukan kepala Bastian. “Dua bulan lagi. Eh tanggal berapa, Tam?”

“Tiga puluh.” Tama menjawab pendek.

“Wah nggak nyangka Adit duluan. Gue pikir lo, Tam?” Ujar Gendis seraya melihat Tama dari kaca yang berada di atas dashboard.

“Gue kan nungguin lo, Ndis kapan siapnya.” Canda Tama yang sontak membuat Gendis tergelak.

“Tama jago ngegombal nih sekarang.” Kata Gendis di sela tawanya, “Ck, nggak ingat waktu kuliah. CUPU!”

“Aish lo Ndis!” Gerutu Tama kemudian, “Masa lalu… biarlah masa lalu… Jangan kau ungkit jangan kau ingat lagi…”


Sontak tawa pecah. Tama mendendangkan sebuah lagu dangdut yang cukup populer untuk melengkapi kata- katanya. Bahkan Bastian pun ikut terbahak di balik kemudi.

“Ck, lo tuh ya masih aja bisa ngebanyol!”

“Ya kalau gitu nggak Tama namanya.” Ujar Tama bangga seraya meneruskan bernyanyi. Gendis menggeleng geli melihatnya. Tak lama Gendis merasa laju mobil melambat lalu berhenti tepat di sebuah rumah makan yang cukup dikenal.

“Yuk turun!” Ajak Bastian yang dibalas anggukan oleh Gendis. Dia baru saja keluar mobil Bastian saat sebuah suara menyapa.

“Hai, Ndis!”

Gendis terbelalak kaget. Belum sempat dia berucap, suara Bastian terdengar. “Baru juga dateng lo, El!”

Yak, apa-apaan ini!
“Pas tadi lo nelepon mau ngajakin ketemuan, ada Elroy di kantor gue. Dia juga yang inisiatif ngajak yang lain. Udah lama banget kita nggak ngumpul rame- rame. Walaupun sayang sih Kenzi sama Adit nggak ikut.”

Gendis terdiam. Dia mencoba mencerna ucapan Bastian. Argh, ini sih sama aja bohong. Mau menghindar yang ada dia menyodorkan diri sendiri.

Sial, Bastian!!


=tbc=

Selanjutnya Gendis (10)


Kamis, 26 November 2015

Yeouido Promise


Yeouido Festival

Dari sekian banyak bunga yang tumbuh menjelang musim semi, Sakuralah yang pertama- tama muncul sebagai penanda berakhirnya musim dingin. Jika bunga- bunga lain masih terlena dalam dekapan musim dingin, Sakura sudah bersiap untuk tampil. Cantik, indah dan mempesona saat sakura mekar, meskipun daunnya belum tumbuh tetapi seluruh ranting sudah akan dipenuhi bunga.


Sakura merupakan indigenous flora atau tanaman asli wilayah Asia Timur. Tak hanya tumbuh di negeri Jepang, Sakura juga tumbuh di negara Cina juga Korea, negeriku. Setiap tahun terdapat festival besar untuk menyambut musim semi. The Yeouido Spring Flower Festival.Festival yang dimulai sejak tahun 2004 memamerkan keelokan bunga yang tengah mekar di sepanjang jalanan Yeouido, Seoul. Ada sekitar 1400an pohon sakura yang melapisi jalan- jalan, membuat tontonan menarik bagi warga.


Nyaris sejak festival Yeouido dimulai, aku tak pernah melewatkannya. Selain karena terpesona keindahan sakura, ada kenangan indah yang membuatku untuk kembali dan kembali. Kenangan tentangnya. Tentang dia yang tak pernah bisa dilupakan.


너를 그리워요 (Neoreul geuriwoyo). Aku merindukanmu!


***


Tepuk tangan bergema sesaat setelah nyanyian Yong Hwa berakhir. Pemuda itu tersenyum lebar lalu berdiri. “Kurasa cukup sekian untuk malam ini. Terima kasih untuk kalian semua.” Katanya dengan tubuh sedikit membungkuk.


“Yaaaahhhhh!” Koor kompak kekecewaan pengunjung terdengar. Namun mereka tak bisa protes lagi, karena Yong Hwa memang sudah menambah durasi waktu tampilnya karena permintaan. Jadi kali ini memang benar- benar harus berakhir.


“Hei Yong Hwa!” Yong Hwa menoleh. Min Hyuk, sahabat yang juga waiter di café menghampirinya. “Ada yang mencarimu?”


Kening Yong Hwa mengerut. Matanya mengikuti arah pandang Min Hyuk ke sudut paling kanan. Tampak seorang gadis duduk sendiri sedang menatapnya. Gadis itu tersenyum tipis dengan kepala mengangguk.


“Siapa?”


“Kau tak mengenalnya?” Min Hyuk bertanya balik.


Yong Hwa menjawab dengan gelengan. Sesaat matanya kembali beralih ke gadis yang tengah menunggunya. Matanya menyipit, mencoba mengingat sosok gadis itu. Tetapi nihil, dia sama sekali tak mengingat gadis itu. Bahkan untuk sekedar nama.


“Lebih baik kau temui sana!”


“Tentu saja!” Yong Hwa menyeringai membuat Min Hyuk menggeleng gusar.


“Kurasa dia gadis baik- baik.”


Yong Hwa terkekeh. “Tak ada yang menjamin.”


“Yak kau!” Min Hyuk mendelik, “Kapan kau tobat sih!”


Yong Hwa mengendikkan kedua bahunya. “Selama mereka masih menyukaiku, kenapa harus tobat?”


“Ck!” Min Hyuk berdecak gusar. “Kuharap suatu saat karma menghampirimu.”


Yong Hwa hanya tertawa menanggapi ucapan sahabatnya. Setelah membereskan gitarnya, dia pun melangkah mendekati gadis yang sudah menunggunya.


Annyeonghaseyong.” Gadis itu berdiri saat Yong Hwa menghampirinya. Ia membungkuk sedikit. “Yong Hwa-ssi, Aku Seohyun dari Seoul Post.”


Kening Yong Hwa mengerut. Seoul Post? Wartawan.


“Wartawan?” Tanyanya sembari mempersilahkan Seohyun duduk kembali. Ia sendiri menarik kursi yang berseberangan dengan Seohyun.


Seohyun mengangguk. “Tepatnya masih magang. Ini tahun terakhirku sebagai mahasiswa.”


“Wah kau hebat dapat magang di koran sebesar Seoul Post.” Puji Yong Hwa.


“Terima kasih.” Seohyun tersenyum sekilas sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya, “Aku sedang mengangkat tentang anak- anak muda berprestasi dan seorang temanku merekomendasikan dirimu. Kau dengan suaramu yang indah telah banyak memenangkan berbagai kejuaraan lomba menyanyi.”


“Temanmu?”


Seohyun mengangguk. “Dia juga kuliah di Chung-Ang University sepertimu. Tapi kurasa kau takkan mengenalnya. Tapi namamu memang sangat dikenal.”


Yong Hwa tergelak. Gadis isi bicara blak- blakan dan apa adanya. Berbeda dengan gadis kebanyakan yang akan berbicara malu- malu atau menggoda di awal pertemuan, Seohyun tak tampak seperti demikian. Kata- katanya lugas, tak mendayu- dayu.


“Apa aku bisa mulai mewawancaraimu?”


“Tidak sekarang.”


Seohyun mengernyit bingung. “Aku bersedia diwawancarai asal kau mau menemaniku terlebih dahulu.”


Kerutan di dahi Seohyun bertambah. “Maksudmu?” Tanyanya curiga. Ia sempat mencari profil pemuda di hadapannya. Prestasi bermusik dan bernyanyinya memang luar biasa, tetapi karakternya wajib diwaspadai. Dia terkenal player. Mengencani banyak wanita.


“Ayolah!” Seohyun terbelalak saat tangannya diraih Yong Hwa. Ia belum sempat protes karena Yong Hwa terus menariknya untuk mengikuti langkah lelaki itu.


“Yak, apa- apaan kau!”


“Hei, lepaskan aku!”


“YAK! YONG HWA!”


Bibir Yong Hwa berkedut menahan tawa. Seohyun terus meronta dan berteriak. Gadis ini sebenarnya cukup kuat tapi dia juga lebih kuat. Jadi sia- sia jika Seohyun berusaha melepaskan gengaman tangannya.


“Kau diam atau aku akan menciummu di sini!”


Yong Hwa dapat merasakan ketegangan melingkupi Seohyun. Gadis itu terdiam seketika. Meski matanya nyalang menatapnya, namun tak urung dia tak lagi berteriak. Ini bagus, gumamnya dalam hati.


“Sh*t!”


“Your word, miss!” Meskipun mengumpat pelan, Yong Hwa masih bisa mendengarnya. “Tenang saja aku takkan berbuat buruk padamu. Aku hanya butuh…,” Sesaat dia terdiam.


“Teman.” Sambungnya yang membuat kening Seohyun mengerut.


Teman?


***


“Aku tidak bohong kan?”


“Hmm,”


“So, teman?” Ujar Jong Hwa seraya mengulurkan tangan kanannya. Senyum terulas dibibirnya.


Seohyun mengendikkan bahunya. “Jadi kapan aku bisa mewawancaraimu?”


“Ck, kau merusak suasana.” Yong Hwa menggerutu.


“Aku menemuimu karena memang hal itu.” Sahut Seohyun serius. Ia menghentikan langkahnya. Kepalanya mendongak menatap pohon sakura yang tengah bermekaran. Terlihat indah meski malam hari sekalipun. Pemerintah cukup kreatif telah memasang lampu mengelilingi sakura yang tengah mekar.


“Tapi kau menikmati semuanya kan?”


Seohyun tak menjawab. Matanya masih terpaku pada keindahan bunga sakura. Walaupun setiap tahun selalu menyempatkan mengunjungi festival Yeouido, ia tak pernah bosan. Keelokan sakura benar- benar memukaunya.


“Kau menikmati, huh!”


Seohyun menoleh lalu mendengus. “Kau kira aku baru pertama kali kemari?” Ia merengut. “Setiap tahun aku kemari…”


“Dan aku tak pernah bosan memandangnya lagi dan lagi.” Sambungnya lagi. Kali ini dengan senyum sembari kembali menatap pohon sakura di hadapannya.


Yong Hwa terkesiap. Pemandangan Seohyun yang tengah menatap sakura dengan senyum tersungging di bibirnya terasa mempesona. Apalagi didukung dengan gelapnya malam yang hanya mengandalkan penerangan tak seberapa, karena memang dibuat demikian. Seohyun makin terlihat bersinar.


Dan detik selanjutnya Yong Hwa merasa degup jantungnya tak lagi beraturan.


***


“Kau bisa bernyanyi?”


“Hah?”


Yong Hwa tersenyum. “Bernyanyilah. Aku akan mengiringimu.”


Wawancara akhirnya terlaksana keesokan harinya. Sesuai dengan kesepakatan semalam, wawancara akan dilakukan di studio. Seohyun tentu senang selain tugasnya akan usai, studio adalah tempat yang cocok untuk musisi seperti Yong Hwa. Dia dapat dengan mudah mendapatkan foto yang sesuai keinginannya. Dan benar lelaki itu bersikap professional, berbeda dengan sikap menyebalkannya semalam. Menolak diwawancarai tetapi menyeretnya ikut ke festival Yeouido. Beruntung festivalnya menarik jadi ia tak berlama- lama menekuk wajah gusar.


“Ayolah!”


Seohyun menggeleng cepat. “Aku tidak bisa.”


“Kau bohong!” Tukas Yong Hwa cepat, “Aku tadi mendengar kau bergumam. Dan suaramu bagus.” Pujian Yong Hwa tulus karena memang sebenarnya ia mendengar gumaman gadis itu sesaat ketika tengah menunggunya.


“Kau mendengarnya?”


Bahu Yong Hwa terangkat. Ia tak mengatakan apa- apa.


Seohyun mendesah. Ia menghela nafas panjang. “Boleh kupinjam gitarmu?”


Sontak Yong Hwa terbelalak. “Kau bisa bermain gitar?”


“Sedikit.”


Ck, dia benar- benar berbeda.


“Baiklah!” Yong Hwa berdiri sejenak lalu mengambil dua gitar yang berada di sudut ruang. Satu diberikan pada Seohyun lalu satu lagi ia pergunakan sendiri.


“Lucky, Jason Mraz?” Dua alis Yong Hwa bertaut ketika Seohyun mulai memetik gitar. Ia mencoba memastikan lagu yang akan dinyanyikan gadis itu. Seohyun hanya mengangguk lalu kembali fokus pada gitarnya.


Do you hear me,I'm talking to you

Across the water across the deep blue ocean

Under the open sky, oh my, baby I'm trying

Boy I hear you in my dreams

I feel your whisper across the seaI keep you with me in my heart

You make it easier when life gets hard


Keterkejutan tak dapat ditutupi dari wajah Yong Hwa. Suara Seohyun mengalun indah di telinganya. Ia tak percaya namun kenyataannya memang demikian. Seohyun memiliki suara yang bagus, ia juga mahir memetik gitar. Komposisi yang sempurna. Benar- benar menawan, pikirnya. Yong Hwa pun mulai memetik gitarnya, menyelaraskan nada yang sama.


I'm lucky I'm in love with my best friend

Lucky to have been where I have been

Lucky to be coming home again

Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh


Yong Hwa merasa kehangatan mengalir di tiap sudut tubuhnya. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Yong Hwa bukan orang bodoh. Ia tahu yang terjadi.


Fix, dia jatuh dalam pesona seorang Seohyun.


***


Yong Hwa mendesah kecewa. Untuk kesekian kalinya pesan LINEnya tak ditanggapi. Terbaca namun tak berbalas. Ia berdecak gusar, kenapa sulit sekali mendekatinya?


“Lagi!” Min Hyuk muncul di hadapannya lalu menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di depan Yong Hwa. “Gadis menarik.”


“Kau berisik sekali.” Gerutu Yong Hwa yang membuat Min Hyuk tergelak. Dia tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya. Kasihan sebenarnya namun sudut hatinya yang lain mengingatkan bahwa Yong Hwa sesekali perlu mengalami hal ini.


“Aku sudah pernah bilangkan kalau suatu saat—“


“Yak! Berhentilah berbicara!” Potong Yong Hwa cepat. Ia menghembuskan nafas kasar. “Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan.”


Min Hyuk terkekeh geli. Yong Hwa mendelik kesal. “Kau mencintainya, huh!”


Yong Hwa diam.


“Tetapi dia tak mencintaimu?” Min Hyuk menggeleng pilu, “Ayolah Yong Hwa, masih banyak gadis lain di sekitarmu. Kenapa kau terpaku hanya dengannya?”


Yong Hwa menghela nafas berat. Sesaat ia membuang muka. Memilih menatap pemandangan jalanan dari balik kaca café yang sedikit basah karena hujan mengguyur kota. Korea memang sudah berganti musim. Kini memasuki musim panas, namun akhir bulan Juni hingga pertengahan Juli hujan sering turun yang dikenal dengan istilah Jangma. Itu berarti sudah 3 bulan sejak pertemuan pertamanya dengan Seohyun. Harus ia akui jika Seohyun gadis yang berbeda dari gadis- gadis lain di sekitarnya. Seohyun cantik, cerdas dan mempesona dengan gayanya sendiri.


Hal yang membuatnya jatuh cinta dengan gadis itu.


Namun sayangnya cintanya sepihak. Seohyun tak pernah menanggapi. Gadis itu acuh setelah berhasil mewawancarainya. Meski ia sudah berkali- kali berusaha mendekati gadis itu mendatangi kampusnya bahkan hingga menyeret paksa gadis itu untuk pergi bersamanya tetap saja Seohyun tak peduli dengannya. Terang hal ini makin membuatnya frustasi.


Jadi apa yang harus kulakukan lagi?


“Kudengar dia akan pindah ke Amerika?”


APA!


Yong Hwa melotot seketika. Ucapan Min Hyuk benar- benar mengagetkannya. “Kemarin dia dan beberapa sahabatnya kemari. Dan aku tak sengaja mendengar ucapan salah seorang temannya.” Sambung Min Hyuk yang seketika membuat bahu Yong Hwa luruh. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga.


Tak adakah lagi kesempatan untukku?


***


“Kalau kau memang benar- benar mencintainya, katakanlah. Dia gadis yang berbeda, dia tak butuh semua rayuanmu.”


Yong Hwa menekan bel pada pintu apartemen Seohyun dengan tak sabar.Ia menekannya berulang- ulang hingga muncul sosok yang diharapkannya.


Seohyun merengut. Ia sudah cukup kesal karena bel pintu berbunyi terus menerus, dan kekesalannya jelas bertambah karena kedatangan Yong Hwa, lelaki yang terus gencar mendekatinya.


“Benarkah kau akan pergi?”


“Bisakah kau bersikap sopan?”


Yong Hwa menggeram frustasi. Bukannya menjawab pertanyaannya, Seohyun justru berbalik bertanya. Ia pun akhirnya memilih menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


“Aku minta maaf.” Katanya lirih.


Sehyun mengangguk sekilas. “Masuklah.” Kata gadis itu seraya membuka pintu apartemennya lebar- lebar. Yong Hwa pun menurut, ia masuk ke dalam apartemen Seohyun.


“Kau mau minum apa?” Tanya Seohyun sesaat setelah mempersilahkan Yong Hwa duduk di sofa panjang miliknya.


Gelengan kepala Yong Hwa menghentikan langkahnya. “Kita harus bicara.”


Seohyun terdiam. Namun tak lama ia menghempaskan tubuhnya di sofa yang sama, tepat bersebelahan dengan Yong Hwa. Terdapa sedikit jarak antara keduanya.


Yong Hwa menghela nafas berat sebelum memulai ucapannya, “Kau akan pergi?”


“Ya.”


“Kau benar- benar meninggalkanku?”


Seohyun tak menjawab.


“Aku pernah bilang kalau aku mencintaimu kan?”


“Ya.”


“Lalu kenapa pergi?”


Seohyun memutar bola matanya jengah. “Demi masa depanku.”


Yong Hwa berdecak gusar. Ia benar- benar tak bisa menerima alasan itu. Apalagi ditambah sikap dingin dari Seohyun, dia sangat frustasi.


“Kau tak mempercayaiku?”


“Aku percaya.”


“Kupikir kau tak percaya jika aku mencintaimu.”


Seohyun mendengus. “Bagaimana aku percaya jika selama ini kau dikenal seperti itu.”


“Aku sudah berapa kali mengatakan. Aku sudah berubah sejak mengenalmu. Tidak cukupkah selama beberapa bulan ini aku sudah berusaha menepati kata- kataku.” Tanya Yong Hwa dengan suara lirih.


Seohyun bungkam. Sesaat diliriknya Yong Hwa yang terpekur di sudut sofa. Sejujurnya Seohyun menyadari banyak perubahan yang dilakukan pemuda itu untuknya. Dia tak lagi menanggapi perempuan- perempuan yang memujanya, mengabaikan godaan- godaan gadis lain dan meninggalkan banyak kebiasaan buruk untuk membuktikan cinta untuk dirinya. Seohyun melihat semuanya, dan harus diakui sisi hatinya mulai terusik dengan keberadaan Yong Hwa di sekitarnya.


Dan kini ia harus pergi.


“Aku akan kembali.” Ucapnya dengan suara pelan.


“Tapi kau tetap akan pergi kan?” Tanya Yong Hwa tak mau kalah.


Seohyun mengangguk perlahan. “Sudah kubilang ini demi masa depanku. Ini cita- citaku.”


Tubuh Yong Hwa terasa lemas. Nafasnya sedikit tercekat. Sia- sia sudah, Seohyun tetap pergi. “Baiklah kalau begitu. Kuharap kau baik- baik disana.” Yong Hwa berdiri, ia berjalan melangkah menuju pintu. Tangannya baru saja hendak memegang handle pintu ketika suara Seohyun menghentikan langkahnya.


“Kubilang aku akan kembali. Festival Yeouido dua tahun lagi.”


***


Yong Hwa menarik rapat resleting jaket yang ia kenakan. Tudung kepala pada jaket ia naikkan ke atas kepala. Setelah memastikan maskernya terpasang sempurna, ia baru membuka kiri pintu mobilnya lalu melangkah keluar. Karir musiknya melejit, lagunya berkali- kali menempati tangga lagu populer, dan tahun ini ia mendapatkan penghargaan sebagai the best singer dalam Golden Disk Award. Sebuah penghargaan musik bergengsi di Korea Selatan. Namun keberhasilannya dari bermusik harus berbayar mahal. Ia semakin tenar namun juga kehidupan pribadinya makin sering diusik. Maka setiap pergi jika terkait urusan pribadi, dia harus menyembunyikan jati dirinya dari wartawan juga para fans yang akan mengerubunginya.


Seperti saat ini.


Dibalik masker Yong Hwa tersenyum tipis. Hari ini hari yang dijanjikan. Festival Yeouido. Tepat dua tahun setelah kepergian Seohyun.


Langkahnya terasa ringan saat memasuki kawasan festival. Sejenak ia terhenti. Festival sudah dipenuhi banyak orang. Ini hari pertama tentu saja orang- orang akan bersemangat kemari.


Bagaimana aku menemukannya? Yong Hwa menghela nafas pasrah. Ternyata perjuangan ini masih belum usai.


Yong Hwa kembali melangkah. Kepalanya tak henti menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok yang dicarinya dalam keramaian festival. Alih- alih menemukan yang ada ia merasa pusing.


Tiba- tiba Yong Hwa tersadar. Ingatannya kembali saat pertama kalinya ia bersama Seohyun kemari. Seohyun saat terpesona pada sakura yang mekar dengan sempurna. Gadis itu tampak cantik dan bersinar saat matanya menatap keelokan sakura. Itu berarti…


Sedikit bergegas Yong Hwa mempercepat jalannya. Dia pasti di sana, gumam Yong Hwa dalam hati. Ya di sana!


Langkah Yong Hwa pun terhenti tepat di depan pohon sakura yang tengah mekar sempurna. Letaknya sendiri agak di sudut sehingga tak seramai di jalanan Yeouido yang merupakan pusat kawasan festival. Yong Hwa celingukan, sosok Seohyun tak terlihat. Ia hanya mendapati beberapa pasangan tengah asyik berfoto dengan latar pohon sakura. Yong Hwa baru saja hendak berbalik ketika sebuah suara lembut menghampirinya.


“Kupikir kau tak datang, Oppa?”


-End-


Lampung, November 2015


Jangma: Hujan di musim panas.



Note : Ini kedua kalinya berusaha membuat FF dengan latar korea. Jung Yong Hwa merupakan vokalis CN BLUE sekaligus aktor yang cukup populer di negeri ginseng. Nggak kalah sama Lee Min Ho, hahahha…

Referensi saya ambil dari beberapa artikel yang bertebaran di dunia maya, jadi mohon maaf jika ada yang tak sesuai, karena sejujurnya saya bukan penikmat drakor. Hanya menyukai beberapa reality show asal negeri itu.

Dan untuk pemilihan pasangan, berdasar google sejauh Yong Hwa pernah digosipkan oleh dua wanita. Park Shin Hye lawan mainnya serta Seohyun yang merupakan member SNSD. Berhubung menurut Dispatch, Shin Hye sedang kencan dengan Lee Jong Suk jadi saya memilih Seohyun, si istri virtual Yong Hwa dalam reality show “We Got Married.”

Jadi buat fans Yong Hwa-Shin Hye jangan ngambek yaaaa…. Wkwkwk.

Taraengkyuuuuu….. J)))))

Selasa, 24 November 2015

GENDIS (8)

Delapan

Sebelumnya Gendis (7)


Debar di hati Gendis tak henti saat mendengar kata- kata yang diucapkan Elroy pada Marvin. Dia melongo bingung untuk beberapa saat. Otaknya mendadak blank, jantungnya berdegup tak beraturan. Bahkan sampai Elroy membawanya masuk kedalam mobil, ia sama sekali tak sadar. Dan ketika kesadarannya kembali, mobil sudah melaju meninggalkan pelataran kantornya.

Gendis menarik nafas dalam- dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sesekali matanya melirik ke samping, tepat dibelakang kemudi. Sesungguhnya ia tak sabar untuk bertanya maksud kalimat yang dikatakan Elroy tadi tapi harga diri menahannya.

Elroy lah yang harus menjelaskan, bukan dia yang merupakan pihak kedua.

Huh, makan tuh gengsi, Ndis! Gendis meringis mendengar perang dalam hatinya.

“Kamu nggak capek?”

“Hah!” Gendis menoleh bingung.

“Menghela nafas berkali- kali.”

Eh?

Dia memperhatikanku, gumam Gendis dalam hati. Entah mengapa tiba- tiba perasaan senang melingkupi dirinya. Elroy itu cuek jadi ketika sedikit saja ia memberi perhatian, efeknya luar biasa.

“Sekarang senyum- senyum? Kamu kenapa sih?”

Gendis terbeliak. Ck, cepat sekali matanya menangkap pergerakanku padahal sejak tadi El terlihat fokus dengan jalanan di depannya!

“Berisik ah!” sahut Gendis pendek. Dia bingung untuk memulai pembicaraan. Apalgi melihat sikap Elroy yang tetap datar seperti biasa. Seolah- olah ia tak pernah mengucapkan kalimat itu.

Ck, sinting!

Dikira dia main- main apa perkara begini, gerutu Gendis dalam hati.

Gendis meringis mengingat kejadian tadi. Masih di kantor bertepatan pula dengan jam pulang kerja. Ia masih bisa melihat beberapa rekan kerjanya berseliweran di sekitar lokasi dan Gendis berani bertaruh esok namanya akan menjadi gossip terhangat untuk beberapa hari ke depan.

Arghh, erangnya frustasi.

“Nggak usah bertingkah aneh- aneh deh, Ndis!”

Hah!

“Aneh?”

Gendis melihat kepala Elroy mengangguk sesaat. “Nggak sadar dari tadi sikap kamu bikin bingung. Tadi bengong, tiba- tiba senyum- senyum sendiri eh sekarang manyun.”

“Kamu baik- baik saja kan?”

Wajah Gendis merengut seketika. Mengapa Elroy masih bisa bersikap biasa saja sih? Menyebalkan.

“Gara- gara lo sih!” Ucap Gendis ketus. Kesabarannya terkikis sudah.

“Aku?”

“Iyalah siapa lagi. Tadi siapa yang bikin keributan di kantor gue.”

“Oh ya?”

Gendis melotot. Elroy tak serius. Ia tahu lelaki itu setengah bercanda menanggapinya. “Gue serius, El?”

“Loh siapa bilang bercanda?”

“ELROY!”

“Yup!”

Gendis mendengus. Ini takkan pernah selesai. Elroy takkan menjelaskan jika ia tak bertanya lebih dulu. Gendis pun menghela nafas berat lalu mengalihkan pandangan ke sisi kiri. Matanya menangkap aktivitas jalanan seperti biasa. Di pinggir- pinggir jalan tampak beberapa lapak pedagang kaki lima mulai dibuka, beberapa pejalan kaki yang bergegas ingin segera pulang, atau deretan orang yang tengah berjejer di halte. Ia tersenyum tipis, kalau tidak dijemput juga dirinya menjadi bagian dari mereka.

Tiba- tiba Gendis mengernyit. Ia tersadar akan sesuatu hal,

“Seingat gue ini bukan jalan ke rumah gue deh, El!”

“Hmm,”

“Mau kemana sih?”

“Makan.”

“Makan?”

“Iya. Aku lapar jadi harus makan kan?”

Gendis menghembuskan nafas kasar. Ia tadi sempat mengira makan yang dimaksud Elroy adalah ajakan makan malam romantis. Seperti yang sering dia lihat di romantic movie, sang lelaki memberi kejutan dinner special ditutup dengan pernyataan cinta atau lamaran bahagia. Ck, tapi mengingat jawaban Elroy tadi, Gendis tahu itu hanya mimpi. Apalagi mengingat penampilannya yang lecek dan kecel sepulang kerja, benar- benar khayalan. Makan ya makan biasa saja. Nothing special,“Kemana?” Tanya Gendis basa-basi.

“Nasi goreng Pak Nyoto. Udah lama banget kan aku nggak kesana.”

Tuh benerkan? Jangan mimpi akan ada dinner di restoran mewah ala film Hollywood. Yang ada lelaki disebelahnya ingin nostalgia dengan makanan favorit saat kuliah.

“Kamu masing sering mampir?”

“Kadang- kadang.” Jawab Gendis malas. Nasi goreng Pak Nyoto terletak di seberang gedung kampus mereka dulu.. Rasanya yang enak serta harga yang terjangkau menjadikannya favorit bagi banyak mahasiswa termasuk dirinya juga Elroy.

“Masih beliau yang megang?”

Gendis mengangguk perlahan. “Udah buka cabang sih, tapi kalau yang di dekat kampus masih beliau yang pegang.”

“Hmm, sudah lama ya?”

Itu sadar!

“So, bagaimana di Jerman?”

Elroy menoleh sejenak sebelum bertanya kembali, “Apanya?”

“Lo tahu maksud gue, El!” Tukas Gendis tak sabar.

Elroy mengendikkan bahunya membuat Gendis menggeram kesal. Ia baru saja hendak protes ketika menyadari laju mobil berhenti.

“Sudah sampai.” Elroy menoleh menatapnya. Sekilas Gendis dapat melihat lelaki itu mengulas senyum, “Yuk turun!” sambungnya seraya membuka pintu mobil. Gendis merutuk dalam hati.

Ish! Menyebalkan…

***

“Jadi?”

Gendis mendongak. Ia baru saja tiba di kantor. Kinar sudah berada di depan mejanya. Kedua alis gadis itu bertaut menatapnya. Menantinya menjelaskan hal yang tidak Kinar ketahui. Jelas sahabatnya itu sudah mendengar gossip tentang kejadian kemarin. Gendis berdecak sebal, kapan sih orang- orang tak mengurusi urusan orang lain.

“Apa?” Tanya Gendis santai. Seolah- olah tak tahu apapun. Ia melangkah menuju mejanya.

“Please ya, Ndis! Lo tahu maksud gue.” Ujar Kinar dengan tangan berkacak pinggang, “Sinting! Gue sahabat lo masak nggak tahu kalau lo mau kawin. Orang- orang nanyain lo, gue bengong. Bener- bener kayak orang bego tau nggak sih?”

“Nggak.” Gendis tergelak mendengar rentetan panjang kalimat Kinar. Kinar mungkin kesal atau marah pada dirinya, tapi ekspresi gadis itu malah memancing tawanya.

“Ndis! Gue serius!”

“Iya.” Sahut Gendis di sela kekehannya.

“Ish, kok lo masih ketawa?”

“Ya lucu makanya gue ketawa.”

“Ish lo ini!” Sungut Kinar manyun. Tak lama ia menarik kursi tepat berada di hadapan Gendis. “Sekarang certain sama gue semuanya. LENGKAP!”

Gendis mendesah. Tawanya sudah berhenti. Ia menatap intens Kinar sebelum akhirnya menarik nafas panjang. “Gue juga bingung, Nar!”

“Loh kok gitu?”

“Ya nggak tahu. Tahu- tahu El ngomong gitu…” Ucap Gendis lirih.

“Gue bingung.”

“Ya lo motong mulu dari tadi.” Sahut gendis ketus, Kinar nyengir. “Entar deh gue cerita. Jam makan siang. Kita ketemuan di kantin.”

“Ok!” Kinar mengangguk. Sebelah alisnya terangkat. “Tapi Ndis kalau beneran lo mau kawin mujarab dong air dari emak gue.”

Gendis mendelik. “Apaan sih lo! Cerita aja belum udah ngomongin nikah.”

Kinar terkikik geli. “Ya kali. abisnya gue penasaran.”

“Nggak. nggak! Nggak ada tuh yang begitu. Lo percaya aja.”

Kinar meringis. Ia menggaruk- garuk tengkuk belakangnya. Lalu berdiri, “Iya sih ya. Ya udah deh gue balik ke ruangan dulu. Nanti jam makan siang gue tunggu.”

Gendis hanya mengangguk. Ia mendesah lirih saat menatap punggung Kinar menjauh dan menghilang di balik pintu. Ck, sampai detik ini saja dia masih bingung dengan sikap Elroy, bagaimana bisa dia memastikan soal gossip itu pada Kinar.

Argh, erangnya frustasi. Kenapa hidupnya jadi penuh drama begini!

“Mbak!”

Gendis mendongak. Vania muncul dengan melongokkan kepalanya di balik pintu. “Apa?”

“Ada pak Marvin mau ketemu.”

Mata Gendis terbelalak. Ah, ini lagi satu!!!

Selanjutnya Gendis (9)





Lampung, November 2015



















Jumat, 20 November 2015

GENDIS (7)


Tujuh

Sebelumnya Gendis (6)


Banyak pertanyaan berkelebat di kepala Gendis tentang fakta yang baru diketahuinya. Tetapi dia sadar tak mungkin memaksa Elroy untuk berbicara sekarang. Sampai kapanpun lelaki itu takkan bicara. Tetapi menunggu dia berkata duluan juga sulit. Rasa penasaran akan terus menggelayutinya.

“Ck, gue pikir nggak balik lo?”

Gendis meringis. Ia baru saja kembali ke kantor. Elroy memang mengantarnya, namun selama perjalanan tak ada yang bicara. Gendis masih terlalu shock hingga tak tahu harus berkata apa. Dan ia tersadar ketika sudah berada di depan kantor.

“Gue nyaris nelepon polisi kalo lo nggak balik- balik.”

“Lebay!” Cibir Gendis. Ia masuk ke dalam ruangannya. Sempat berpapasan dengan Vania yang tersenyum lega karena kehadirannya.

“Mbak, dicari pak Bos tuh!” Gendis hanya mengangguk mendengar seruan Vania. Ia tahu alasan bos mencari dirinya, apalagi kalau bukan urusan berkas pelamar- pelamar baru ke kantornya. Bulan ini perusahaan tengah merekrut banyak karyawan yang akan ditempatkan di kantor cabang. Dan Gendis bertanggungjawab untuk hal itu.

“Jadi Ndis lo diapain aja sama si El?”

Gendis sontak melotot. Kinar masih mengikutinya ternyata. Padahal ia kira gadis itu kembali ke ruangannya. Tapi tunggu apa katanya? Diapain?

“Bahasa lo itu gagal paham gue, Nar?”

Kinar terkekeh, “Ish! Sok polos lo. Udah bertahun- tahun nggak ketemu masa iya Cuma diam- diaman aja. Nggak ada yang hot- hot gitu!”

Mata Gendis makin membulat. Ia menggeleng gusar. Hot- hot katanya? Ck, apa sih isi otak sahabatnya ini!

“Lo kira kompor, hot!”

“Yak, nggak lucu kalau kalian cuma diam- di….,” Sesaat Kinar mendelik, “Astaga jadi beneran kalian Cuma diam- diaman gitu. Ih, gue kira pertemuan sepasang kekasih yang tak lama jumpa itu bakalan lebih seru.”

Gendis bergidik mendengar kata seru yang dimaksud Kinar. Dihelanya nafas panjang lalu menatap Kinar intens, “Pertama gue sama El bukan sepasang kekasih. Jadi buang jauh- jauh itu hot- hot versi lo. Kedua, mending lo balik ke ruangan karena gue mesti ngadep bos dulu, jadi percuma mau nungguin gue cerita.”

“Yak nggak asik lo, Ndis!”

“Lah ketimbang gue dipecat!” Sahut Gendis sembari meraih beberapa berkas yang telah disiapkannya. “ Lagian gue kerja sama bos, bukan sama lo. Daaaah!” Lanjutnya dengan mengedipkan sebelah mata sesaat sebelum meninggalkan Kinar yang hanya bisa melongo menatap kepergiannya.

“Utang cerita lo, Ndis!”

Gendis terus melangkah meski Kinar berseru keras. Kepalanya menggeleng geli.

Ck, penasaran- penasaran deh lo, Nar!
***

Gendis mendengus gusar saat mendapat sosok Marvin yang berada di depan pintu ruangannya saat jam pulang kantor tiba. Ah, ngapain sih dia kemari? Bikin bete aja! Gerutunya dalam hati.

“Ayo kita pulang, Gendis!”

What? Kita? Gendis mengernyit tak suka.
“Duluan aja, Pak. Saya masih ada yang harus diberesin.” Tolak Gendis halus. Sejujurnya dirinya tak sebaik itu, tetapi mengingat terjalinnya hubungan professional antar perusahaan jadi mau tak mau sikap baik harus dipertahankan.

“Aku kesini sengaja buat jemput kamu.”

Nggak ada yang nyuruh!
“Aku udah tanya Rama, kamu nggak ada lembur loh.” Lanjut Marvin yang sontak membelalakkan mata Gendis.

Gila nih orang! Niat banget sih! Maki Gendis dalam hati.

“Ayolah, Ndis! Sekalian kita dinner bareng.”

Argh, Gendis mengerang frustasi dalam hati. Bagaimana bisa sih dia berurusan dengan lelaki perayu macam Marvin. Sungguh dia sudah pernah bersumpah takkan pernah dekat atau berhubungan dengan laki- laki player, playboy dan sejenisnya. Ujungnya bikin sakit hati karena perilaku tebar pesona dan tak setia mereka. Dia memang tak pernah mengalaminya, tetapi cukup kisah cinta kakak serta teman- temannya membuatnya berhai- hati dengan lelaki semacam itu.

“Maaf, Pak. Saya…,”

Sebuah dering ponsel membuat kalimat Gendis terhenti. Ia meraih ponsel lalu mengernyit bingung dengan deretan angka yang tertera di layar.

“Ya halo,”

Aku di bawah. Buruan turun!”

Hah! Gendis melongo bingung. Siapa sih? Pake nyuruh- nyuruh lagi!

“Sia..”

“El.”

Apa!

Gendis ternganga. El? Elroy?

“Lima menit, Ndis! Dan kamu sudah harus turun!”

What!

“APA-A…”

Klik.

Sambungan terputus. Gendis terbelalak. Sedetik kemudian ia menggeram kesal. Ini hari apa sih? Kenapa banyak sekali yang membuat emosinya meledak. Belum usai urusannya dengan Marvin, kini ada El. Ngapain juga dia jemput? Nggak ada yang nyuruh kan? Gendis merutuk dalam hati tanpa henti. Ia benar- benar sangat kesal.

“Ada apa, Ndis?” Gendis mendengus. Marvin masih di hadapannya. Arghhh….

“Are you okay?”
Gendis menghela nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan, “Bapak nggak perlu repot- repot antar saya. Kebetulan saya sudah dijemput dan…”

“No! No! No! Kan aku duluan yang datang.”

Mata Gendis melotot kaget. Ah, ini apa lagi sih?
“Maaf?”

“Iya. Kamu tetap pulang sama aku. Siapapun yang jemput kamu sekarang suruh pulang aja!”

Gerr… Kenapa dirinya seperti barang ya?
Gendis menggeleng kasar. “Maaf, Pak. Saya bisa pulang sendiri.” Sahutnya dengan tangan bergerak membereskan meja. Sesaat setelah mematikan computer, ia mengambil tas lalu melangkah keluar ruangan. Mengabaikan keberadaan Marvin di ruangannya.

Ck, Mengapa ia terjebak dalam situasi yang seperti ini sih. Marvin. Elroy. Lelaki- lelaki yang hanya bisa menguras emosi dan energinya saja.

“Terlambat tiga menit, Ndis!”

Gendis memutar bola mata jengah. Elroy ternyata benar sudah berada di lobby kantor. Dan apa katanya? Terlambat?

“Nggak ada yang nyuruh lo jemput gue, El!”

Sebelah alis Elroy terangkat. Gendis melengos. Ia memilih terus melangkah, mengabaikan Elroy juga Marvin yang terus mengikutinya. Argh…

“Mau kemana?” Elroy menahan lengan kanannya membuat Gendis mau tak mau berhenti melangkah.

“Eits! Lepaskan tangan anda, Bung!”

Sebuah helaan nafas kasar terdengar. Gendis mencibir. Sepertinya akan ada tontonan konyol di depannya. Drama, huh!

“Gendis akan pulang dengan saya. Jadi anda tidak bisa memaksanya.”

Gendis terbeliak. Marvin benar- benar tak mengerti juga. Dia sudah bilang tidak. Tetap saja memaksa. Dan El, ah Gendis lupa kalau lelaki itu selalu bertindak semena- mena.

“Maaf, Pak! Saya tadi sudah bilang saya bisa pulang sendiri.” Ujar Gendis tegas. Ia menatap intens Elroy, “Dan El, lo tenang aja selama ini juga gue balik sendiri kok. Jadi kepulangan lo nggak akan mengubah hal itu.” Tambahnya sembari melepaskan pegangan tangan Elroy di lengannya. Ia kembali meneruskan langkah. Tak peduli keberadaan Marvin juga Elroy di belakangnya.

Ah, hari ini benar- benar hari yang menyebalkan!

“Itu kan mau lo, bukan mau gue!”

Gendis ternganga. Elroy sudah berada di sampingnya. Bahkan entah kapan tangan kanannya sudah berada di genggaman lelaki itu. Baru saja Gendis hendak protes, sebuah kalimat yang diucapkan Elroy membuat tubuhnya membeku seketika.

“Dan anda, tolong jangan ganggu calon istri saya lagi! Terima kasih.”

=tbc=

Selanjutnya Gendis (8)



Lampung, November 2015

Selasa, 17 November 2015

GENDIS (6)



Enam

Sebelumnya Gendis (5)

Gendis duduk dengah gelisah. Hampir dua puluh menit berlalu, ia dan manusia di hadapannya masih bergeming. Diam, tak bersuara membuat Gendis menggeram kesal. Sungguh ini membuang- buang waktu. Padahal pekerjaan di kantor masing menunggu untuk diselesaikan. Gendis bisa membayangkan bagaimana orang- orang kantor kelabakan mencarinya.

Orang kantor?
Sial, Gendis mengumpat dalam hati. Ia belum menghubungi siapapun, termasuk Kinar. Dia yakin sahabatnya menanti kabar darinya. Sesaat Gendis menghela nafas berat, sebenarnya buat apa dirinya mengiyakan ajakan Elroy pergi kalau akhirnya seperti ini. Tak ada percakapan. Hening.

Lebih baik kembali ke kantor saja!

“Mau kemana?”

Gendis yang baru saja bangkit dari kursi menoleh. Elroy menatapnya tajam. “Balik ke kantor.” Jawab Gendis pendek. Ia memang menampilkan sikap tenang dan santai, padahal jauh di dalam hatinya ia gugup. Sangat gugup. Bahkan ia merasa jantungnya seakan mau meloncat dari tempatnya.

“Duduk!”

Eh!

“Duduk Ndis, atau kamu mau aku pangku.”

Mata Gendis melebar seketika. Rona merah tak dapat ditutupi dari wajahnya. Ia malu dan marah secara bersamaan. Apa- apaan dia?

“Ya terus ngapain gue di sini kalau cuma jadi patung.” Balas Gendis ketus. “Mending gue kerja. Dapet duit jelas.”

“Lo tuh masih sama ya. GALAK!”

Wajah Gendis bertekuk. Dia tak suka disebut galak. Terkesan seperti ibu tiri Cinderella. Lebih baik disebut tegas daripada galak.

“Udah ah gue balik. “ Ucapnya sembari membalikkan tubuh. Ia berencana pergi secepatnya dari hadapan Elroy namun sayangnya geraknya tertahan karena cekalan tangan Elroy.

“Duduk, Ndis! Duduk!” Gerutu Elroy seraya mendudukkan Gendis di tempatnya semula. “Susah amat sih dibilangin. Atau emang mau kamu duduk di pangku…,”

Refleks Gendis menutup mulut Elroy. Mereka kini berada di sebuah café yang cukup ramai pengunjung. Gendis tentu tak ingin kalimat yang diucapkan Elroy mengundang perhatian banyak orang.

“Ya udah buruah ah mau ngomong apa!” gendis menglah. Ia kembali ke kursinya. Detak jantungnya makin berirama tak menentu membuatnya berulang kali menghela nafas panjang.

“Kamu nggak kangen aku?”

Hah!

Gendis melongo. Pertanyaan macam apa itu?

“NGGAK.” Bohong! Gendis mencibir dalam hati. Mulutnya jelas tidak sinkron dengan apa yang sebenarnya dirasakan. Jelas dia kangen. Rindu setengah hidup. Tetapi mengingat tujuh tahun tak ada kabar berita mendadak emosinya meluap.

Gue nggak peduli!

“Kamu bohong?”

Gendis mendelik. Sekilas ia menemukan binar geli di mata Elroy. Ck, seberapa tahu sih dia tentang diriku?

“Ada yang mau lo jelasin ke gue?” Gendis tak sabar. Bila Elroy tak bercerita lebih baik dia sendiri yang menanyai.

“Tentang?”

“Tujuh tahun yang telah lewat.” Sahut Gendis dingin. Ia harus mengingatkan Elroy sudah bertahun- tahun lamanya terlewati dari janji yang dulu terucap.

“Ada yang pernah janji sama gue nggak bakal ngelupain gue meski dia pergi jauh.” Lanjut Gendis lagi.

Elroy menggeleng, “Ck, nggak ada yang berubah dari kamu. Masih menyebalkan.”

Gendis melotot. Nggak kebalik? Bukannya dia yang nyebelin! Dan apa maksudnya? Pertanyaan apa dijawab apa, gerutu Gendis.

“Ck, yang nyebelin dari dulu itu lo, El!”

“Akhirnya..,”

Sebuah kerutan tercetak di dahi Gendis. “Akhirnya apa?” Tanyanya bingung.

“Akhirnya kamu sebut juga namaku. Kamu sadar nggak sih dari tadi kita duduk, kamu sama sekali nggak panggil namaku. Cuma lo lo aja! Kukira kamu lupa namaku.”

Gendis ternganga. Di satu sisi dia tak menyangka hanya karena sebuah sebutan, Elroy begitu memperhatikan dan di sisi lain ia juga takjub, dulu lelaki dihadapannya dikenal datar, dingin dan irit bicara. Dan tadi kalimat yang diucapkannya cukup panjang bahkan terdengar merajuk.

Ck, bukan El banget!

“Ndis!”

“Heh,” Gendis terkesiap.

“Kenapa?”

“Nggak.”Ia menggeleng, “Nggak papa.”

Sesaat hening. Gendis bingung mau berbicara apa, sedangkan Elroy masih berdebat dalam hati akankah ia mengatakan semuanya sekarang.

“El!”

“Ndis!”

Sejenak keduanya berpandangan. Namun tak lama tawa mengalir dari bibir masing- masing. Tawa yang memecah kekakuan diantara keduanya.

“Lomau ngomong apa?”

Elroy melirik jam di pergelangan tangannya. “Lo mau balik ke kantor nggak?”

HAH!

“Gue anter!”

Apa! Ck, Pertanyaanku…

“Ayo, Ndis! Atau lo lebih senang diomelin bos lo!”

Gendis membuang nafas gusar. Ia tahu tak mudah bertanya dengan seorang Elroy Adelard. Bertahun- tahun lalu ia pernah mengalaminya. Elroy cukup pandai untuk menutupi semuanya sendiri. Seperti tak pernah ada yang terjadi. Padahal kenyataanya belum tentu seperti itu. Dihelanya nafas panjang, mungkin belum sekarang.

“Yaudah yuk!” Gendis meraih tasnya lalu bangkit ikut menyusul langkah Elroy. Sesaat ia tersadar.

“Jadi tante Astrid apa kabar?

“Baik. Teramat baik malah.”

“Syukurlah.” Ucap Gendis dengan senyum lebar terulas di bibirnya. Ingatannya kembali pada sosok Astrid, mami Elroy. Wanita itu masih cantik bahkan diusianya yang sudah tidak muda. Kira- kira bagaimana dia sekarang ya?, bisiknya dalam hati.

“Tante Astrid ikut pulang kan?”

“Nggak.” Elroy menggeleng perlahan. “Selamanya dia nggak akan pulang ke sini. Beliau sudah sangat tenang di sana.”

Perlu beberapa detik untuk Gendis mencerna kata- kata yang diucapka Elroy. “Ma..maksud e..elo?”

“Mama sudah meninggal, Ndis.”

Dan tubuh Gendis membeku mendengarnya.



=tbc=

Selanjutnya Gendis (6)


Lampung, November 2015

Jumat, 13 November 2015

BBM



BBM

“Udah siap, Dar?”

Aku mengernyit bingung. “Untuk?”

“Ulangan Biologi hari ini.”

Kerutan di dahiku semakin bertambah. “Biologi? Ulangan?” Tanyaku meyakinkan lagi.

Kamila, gadis yang nyaris sebulan ini menjadi teman sebangkuku mengangguk. “Iya. Pak Damrin kan ngadain ulangan hari ini.”

What?

Mataku terbeliak seketika. Ulangan. Hari ini? Astaga, semalam terang aku nggak belajar untuk mempersiapkan ulangan. Ah, Pak Damrin kenapa sih harus mengadakan ulangan mendadak. Bisa kali diberitahukan sebelumnya, jadi kan setiap dari kami bisa belajar untuk meraih nilai baik. Coba kalau sampai nilai- nilai ulangan rendah, yang kesal kan pasti bapak juga.

Eh tapi ngomong- ngomong sepertinya tidak mendadak. Ini buktinya Kamila tahu!

“Kok lo tahu kalau mau ada ulangan?”

“Loh semalam kan Andi ngeBC anak anak sekelas. Bilang kalau kemarin dia dipanggil Pak Damrin katanya beliau hari mau ngadain ulangan.”

BC?

“Ups, sorry Dar gue lupa ngasih tahu lo. Lagian lo sih hari gini nggak punya BBM.”

Gerrrr….

Aku tertunduk lesu. Harusnya aku tahu itu akan dijadikan alasan. Aku bukan orang bodoh yang nggak tahu arti BC. Broadcast message yang ada di aplikasi BBM. Layanan yang memudahkan mengirim pesan ke banyak orang. Dan Andi, ketua kelas kami pasti melakukan hal itu. Tapi memang tidak bisa ya dia mengabariku via SMS. Kan dia tahu aku tidak mempunyai Blackberry atau smartphone canggih seperti teman sekelas yang lain. Atau Kamila sendiri? Semahal apa sih mengirim SMS. Paling cuma beberapa ratus rupiah.

Tapi sudahlah, memang aku yang kuno. Seperti kata Kamila tadi, hari gini nggak punya BBM. Argh, sebegitu pentingnyakah setiap orang harus punya BBM. Mungkin penting atau memang sangat penting. Buktinya ulangan hari ini saja aku ketinggalan berita. Tak ada pilihan, HP ku harus berganti. Harus.

***

“Yah,” Aku berkata sehalus mungkin. Ayah yang tengah asyik menonton TV menoleh sesaat lalu kembali menatap layar kaca tersebut.

“Dara ganti HP dong,”

“Memang kenapa HP kamu?” Alih- alih mengiyakan rengekanku, ayah justru bertanya balik kepadaku.

“Ya nggak papa.”

“Lalu kenapa minta ganti HP?”

“Dara mau HP yang bisa BBMan.”

Kali ini ayah menoleh lalu mengernyit menatapku heran. “Memang BBM itu penting?”

Ck, decakku dalam hati. Resiko punya orang tua nggak gaul. Nasib. Ayah mana tahu kalau zaman sekarang BBM itu sudah jadi layanan instant messaging yang pokok dan wajib dimiliki. Dimana- mana orang lebih suka meminta PIN daripada meminta nomor handphone yang bersangkutan.

“Yah penting dong, Yah.” Kataku jengkel. “Semua teman- temanku kalau kirim pesan lewat BBM. Bahkan ngasih tahu soal ulangan. Ayah nggak tahu kan kalau hari ini aku nggak tahu info ulangan Biologi karena nggak punya BBM.”

“Kenapa nggak lewat SMS?”

Bibirku mengerucut kesal. Ah, ayah kenapa sih sulit banget bilang iya. Lagian kata teman- teman harga smartphone juga nggak mahal kok. Kalau nggak sanggup beli merk terkenal beli yang produk- produk Cina itu juga nggak masalah. Yang penting nanti bisa install BBM.

“SMS itu udah jadul, Yah. Sekarang zamannya BBM.”

“Jadul?”

Kutepuk jidat perlahan. Benar- benar ngenes punya orang tua nggak gaul.

“Ya udah ayah mau beliin nggak?” Tanyaku ketus. Mengingat ayah yang sedari tadi hanya menginterogasi, tidak mengiyakan membuatku semakin kesal.

Ayah menghela nafas berat lalu kepalanya menggeleng. Kontan tubuhku terasa lemas. “Selama HP kamu yang sekarang masih bisa digunakan itu berarti kamu belum butuh HP baru.” Ujar beliau tegas.

Fix. gagal.

***

“Kenapa?”

Aku mendongak. Tante Angie, adik bungsu ayah yang ikut tinggal bersama kami muncul di balik pintu kamarnya. Wanita muda itu kini bahkan telah melangkah masuk ke dalam kamarku dan menghempaskan tubuhnya di ranjang tidurku.

“Ayah nyebelin, Tan!” Sungutku kemudian. Aku benar- benar kesal dengan ayah. Beliau benar- benar tak bisa digoyahkan. Aku merajuk sekalipun, beliau tak bergeming. Dia masih ngotot agar aku tetap menggunakan handphone yang lama.

Handphone jadul itu.

“Tante tadi denger sekilas. Emangnya kamu pengen banget ya?” Kuanggukkan kepala dengan cepat. Siapa sih yang tidak mau HP baru, apalagi itu memang tujuanku semula.

“Gaptek aku, Tan sekarang.”

Tante Angie terbahak. “Oke deh Tante beliin tapi…,”

Seketika mataku melotot lebar. Tante Angie mau beliin? Aku nggak salah denger kan? Yes! Akhirnya aku dapat HP baru juga. HP keren yang ada BBMnya.

“Ada tapinya loh, Dar!” Aku terdiam seketika. Mataku menyipit menatapnya curiga.

“Tapi aku harus nyembunyiin dari ayah?” Tanyaku tak sabar.

Tante Angie menggeleng. “Nggak perlu! Ayah kamu sih nggak bakal protes kalau tante yang beli. Kan pake uang tante sendiri.”

Aku nyengir. Tante Angie memang sudah bekerja tetapi karena overprotectivenya ayah terhadap adik satu- satunya jadi mau tak mau tante Angie ikut tinggal bersama kami. Dan kurasa tante Angie kini pahlawanku.

“Asal apa, Tan?”

Tante Angie tersenyum. “Hemat.” Sahutnya pendek.

“Nggak minta- minta tambah uang saku. Kelola pulsa sebaik mungkin.” Lanjutnya yang dengan cepat kuiyakan. Bukan masalah, toh selama ini aku juga tak pernah bermasalah dengan uang saku. Jatah yang ayah berikan selalu pas. Tak pernah aku meminta lebih.

“Dan pastikan nilaimu harus tetap yang terbaik di sekolah.”

Ah, kecil itu mah! Gumamku dalam hati. Alih- alih menyuarakan isi hati aku lebih memilih menganggukkan kepala.

“Selesai kalau gitu!” Tante Angie beringsut dari ranjang lalu berdiri tegak melangkah menuju pintu. “Besok HP sudah ada di kamarmu!”

“Makasih tante cantik.” Kataku sesaat sebelum ia benar- benar menghilang di pintu kamarku.

***


“Bagi PIN dong, Mil?”

Kamila sedikit terkejut namun sedetik kemudian wajahnya berbinar. “Ciye, HP baru ya?” Aku tersenyum lalu mengangguk. Tak lama Kamila sudah menyebutkan deretan angka juga huruf yang harus kumasukkan ke dalam kontak BBM.

Yah, akhirnya aku punya HP Baru. Oh tepatnya smartphone baru. Tante Angie benar- benar menepati janjinya. Dan memang sesuai dugaannya, ayah tidak protes. Beliau hanya menggeleng lalu mengomel sebentar saat tante Angie memberikan benda berbentuk segiempat itu kepadaku. Aku melonjak girang karenanya.

“Jangan cuma BBM aja, Dar! Pakai LINE juga.”

Aku mengangguk singkat. Sedikit banyak aku memang paham jika layanan instant messaging tak hanya BBM, meski ya BBM lebih popular.

“Pakai kakao talk juga dong, Dar.” Kali ini Sintia, gadis yang duduk tepat dihadapanku ikut bergabung dalam obrolan kami. Kebetulan sedang jam istirahat, jadi kumanfaatkan untuk bertukar PIN dengan teman- teman sekelas.

Lagi- lagi kepalaku mengangguk mengiyakan ucapan Sintia. Apapun layanan itu aku gunakan deh, biar dibilang tidak ketinggalan zaman. Toh tak ada salahnya juga kan, justru akan semakin mengakrabkan diri dengan teman- temankan?

***

PING

Aku tersenyum lebar. Ara, teman SDku yang baru kudapat PIN BBMnya menghubungiku. Tadi siang aku memang tanpa sengaja bertemu dengannya di toko buku dan karena dia sedang terburu- buru maka kami tak dapat mengobrol lami. Namun beruntung karena kami sempat bertukar PIN.

Lg apa, Dar? Sorry ya tadi gw buru2.

Dengan cepat aku mengetik balasan.

It’s Ok, Ra. Next time kan bisa kita ketemuan lg.

Iya. Uh jd kngen kalian deh! Reunian yuk! Ajkn yg lain. Pesan Ara kembali masuk.

Boleh2! Kpn?

Kita rencanain dulu dong, Dar. Kita kmplin tmn2.

Ok! Gw gak sabar jdnya.

Sip!

Btw lo ingat Arya?

Aku terdiam sejenak. Berpikir sebelum membalas pesan Ara.

Arya yg bdnnya kecil itu ya? Yg jahilnya gak ketulungan.

Huss, dia gak kcl lagi, Dar. Aku mengernyit bingung.

Skrg keren tau dia. Kece mampus pokokny.

Emngnya lo ktmu dimn? Ketikku penasaran.

Kmrn dia k skul gw. Trnyt dia masuk tim basket loh, Dar.

Keren bgt deh. Aplg pas main, bkn klepek2.

Kerutan di dahiku bertambah. Sampe segitunya?

Iya. Tmn2 kita emng bnyk yg berubah.

Oh ya?

Iya. Tempo hari gw jg ktmu Ridho?

Ridho yg cengeng itu.

Kalo ktmu dy gak bkl bisa hina lo! Dia jangkung skrg, keren lgi!

Pada akhirnya aku larut dalam obrolan bersama dengan Ara. Bahkan tanpa kusadari malam sudah semakin larut dan ketika Ara menutup obrolan aku terbelalak tak percaya saat mendapati jam di ponselku menunjukkan pukul 23.05 WIB.

Astaga! PRku….

***

“Ada apa denganmu akhir- akhir ini, Dara?”

Aku menunduk lesu. Bu Rahmi, wali kelasku hari ini secara khusus memanggilku untuk menghadapnya. Aku tahu ada yang salah di sini. Dan kesalahan itu berasal dari diriku. Semua tidak lain tidak bukan karena nilai pelajaranku yang semakin menurun.

“Nilai kamu semakin hari semakin menurun, Dara.”

Tuh kan! Prediksiku tepat.

“Kamu ada masalah?”

Kugelengkan kepala perlahan. “Ti…dak, Bu.”

“Lalu?”

Kepalaku semakin tertunduk. Tak mungkin kukatakan jika semua gara- gara smartphone sialan itu. Tanpa kusadari aku kecanduan. Setiap hari bahkan setiap detik jemariku tak bisa lepas dari benda segiempat tersebut. Tak hanya BBM, tapi juga layanan media social lainnya. Ada saja yang kukerjakan dengan smartphone itu. Mengobrol tak jelas di BBM, berkomentar di status teman atau bolak balik mengupdate foto yang kuambil setiap saat.

Benar- benar tak penting!

Sebenarnya aku sedikit sadar dengan perilaku anehku sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya ada yang janggal jika sehari aku tak memegang benda tersebut. Dan ketika ponsel sudah berada di tangan, maka dapat dipastikan berbagai kegiatan tak penting akan kulakukan. Oke dibagian mana yang penting jika setiap waktu ketika tak ada yang mengajak mengobrol aku hanya berganti- ganti DP atau PM, benar- benar hal sia- sia kan?

Bukan hanya Bu Rahmi saja sebenarnya yang mulai complain tetapi juga keluargaku terutama ibu dan ayah yang semakin mengeluh karena perilakuku yang kelewat batas. Bagaimana tidak kelewat batas, gara- gara BBMan aku sering melewatkan waktu makan atau ketika sedang berkumpul bersama aku justru sibuk dengan ponsel. Awalnya terang aku tak peduli omelan ibu juga gelengan kepala ayah tapi lama- kelamaan aku merasa tersingkir. Ada beberapa info keluarga yang tak kuketahui, yah apalagi kalau bukan karena kesibukanku.

“Baiklah,” Aku mendongak. Bu Rahmi mendesah pasrah. Dia tak berhasil membuatku buka suara. “Apapun masalah kamu, ibu harap segera selesai. Sejujurnya ibu banyak berharap denganmu. Jika nilaimu semakin turun, beasiswamu bisa dicabut.”

Aku terbeliak. Astaga! Bagaimana aku bisa lupa beasiswa sekolahku. Aku harus memperoleh nilai terbaik untuk mendapatkannya dan kini gara- gara ponsel atau tepatnya BBM tak jelas, beasiswaku terancam.

Oh! Tidak.




-***

Lampung, Agustus 2015

GENDIS (5)


Lima

Sebelumnya Gendis (4)

“GENDIS!”

Gendis tergagap. Panggilan namanya yang kedua kali menyadarkannya. “Eh, Ta..tama!”

“Pas gue ke toilet gue lihat lo sekilas. Awalnya sih sangsi, makanya gue pastiin kemari.” Gendis tersenyum kikuk. “Ternyata beneran lo!”

“I..iya!” Tarik nafas Gendis! Bersikap seolah- olah kamu tidak tahu, bisik Gendis dalam hati.

“Ndis!” Kinar menyikutnya. Membuat Gendis tersadar, masih ada tiga pasang mata yang memperhatikan interaksinya dengan Tama.

“Eh Tam, kenalin temen- temen kantor gue. Ini Kinar, Vania dan Pak Marvin.” Ucapnya mengenalkan satu persatu, “Dan ini Tama.”

“Siapa kamu, Beb?” Dan Gendis rasanya ingin menggetok kepala Pak Marvin atau melempar kepala lelaki itu dengan vas bunga yang ada di atas meja. Apa- apaan Beb? Siapa dia sih?

Ck, lelaki sableng! “Gue sahabat lama Gendis.” Gendis dapat menangkap aura penuh tanya di wajah Tama. Tetapi lelaki itu tetap bersikap tenang saat bersalaman dengan Marvin, Kinar juga Vania. Gendis yakin setelah ini Tama akan mencecarnya.

“Ehm sorry, ini kalian udah selesai?” Tanya Tama yang sontak membuat jantung Gendis berdetak cepat. Jangan- jangan sampai Tama mengajaknya ke bilik itu dan kemudian ia harus bertemu dengan…

“Iya Tam dan gue…,”

“Kita harus cepat kembali ke kantor!” Mata Gendis membulat. Marvin memotong ucapannya. Melihat gesture tubuh lelaki itu, Gendis yakin Marvin tak suka dengan kehadiran Tama. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu. Tapi sudahlah peduli amat dengan yang dikatakan Marvin, yang harus Gendis lakukan adalah segera pergi dari tempat ini.

“Eh tapi Ndis, di dalam ada..,”

Next time ya Tam, gue buru- buru nih!” Pamit Gendis cepat. “Yuk ah, gue duluan ya!” lanjutnya lagi sambil berbalik meninggalkan Tama yang terbengong karena sikapnya. Kinar yang berada di sebelah Gendis mengerut bingung. Sejak tadi ia memang memilih diam. Awalnya ia paham Gendis tak suka dengan kedatangan Marvin yang mengajaknya makan siang, tapi sepertinya semua baik- baik karena keikutsertaannya dan Vania yang tiba- tiba. Tetapi entah mengapa sikap Gendis menjadi aneh lagi.

“Lo nggak papa kan, Ndis?” Kinar berbisik pelan. Gendis menggeleng.

Are you okay, Gendis?” Gendis mendengus. Marvin sudah ada di sisi kanannya. Berkata pelan terlihat sangat khawatir. Padahal dia juga salah satu pemicu pusing yang menggelayut kepala Gendis saat ini. Ck konspirasi apa sih yang terjadi hari ini?

“Saya nggak papa kok, Pak!” Walaupun dirinya teramat jengkel dengan sikap Marvin tapi Gendis masih tahu etika untuk bersopan santun dengan orang lain. “Lebih baik bapak kembali ke kantor bapak aja. Kami bisa naik taksi kok.”

No! No! No! Saya yang jemput kalian ya saya juga harus antarkan kembali.”

“Nggak, nggak perlu Pak kami bisa sendiri kok.” Gendis melirik Kinar. Meminta bantuan sahabatnya.

“Eh iya Pak, biar kami naik taksi saja!” Timpal Kinar kemudian.

“Yah kalau naik taksi kan berarti ngongkos, Mbak. Gue ngga…, Aw!” Gendis mecubit lengan Vania. Menatap gadis itu tajam. Diam dan ikutin, begitulah kira- kira arti tatapannya. Vania sepertinya dengan cepat menyadari bahwa mood seniornya sedang tidak baik.

“Eh iya- iya Pak, biar kami naik taksi aja! Bapak juga jadi nggak repot bolak- balik.”

“Nggak papa. Saya justru dengan senang hati mengantar wanita- wanita cantik ini.” Gendis mencibir. Playboy satu ini memang penuh bualan!

“Ayolah! Saya tak keberatan kok.” Gendis terdiam. Ditatapnya Kinar yang hanya bisa mengendikkan kedua bahunya dan Vania, ah lupakan gadis itu justru senang hati jika diantar oleh Marvin. Sudahlah, tak ada pilihan. Lelaki ini pun akan tetep kekeuh dengan kemauannya.

“Ya sudah kalau gitu.” Katanya menyerah. Ia pun akhirnya melangkah mengikuti Marvin ke arah parkiran. Tetapi baru beberapa langkah, Gendis merasa lengannya ditarik. Refleks dia berbalik dan seketika tubuhnya membeku.

Long time no see Gendis Amelia!”

“E….L…”

***



Kinar gelisah. Sejak tadi ia tak henti menatap layar ponselnya. Mengecek apa ada panggilan atau pesan yang masuk yang dikirim Gendis. Tetapi nihil. Sudah hampir dua jam berlalu sejak kepulangan mereka pasca makan siang, Gendis sama sekali tak menghubunginya. Ya pada akhirnya Gendis tak kembali ke kantor. Sahabatnya itu ikut pergi bersama lelaki yang mereka temui di parkiran. Kinar tahu siapa dia. Gendis pernah beberapa kali bercerita tentang lelaki itu. Lelaki yang pernah dekat dengan Gendis namun pindah ke luar negeri karena sesuatu hal.

Selama ini Kinar berpikir Elroy hanya bagian dari masa lalu seorang Gendis. Ia mengira Gendis sudah tak memiliki perasaan apapun terhadap lelaki itu. Sudah tujuh tahun berlalu tetapi nyatanya Gendis masih menyimpan perasaan yang sama. Kinar baru menyadari tadi saat melihat binar yang lain di mata sahabatnya ketika beradu pandang dengan lelaki itu. Bahkan Gendis yang tak pernah sekalipun meninggalkan pekerjaan, rela bolos untuk mengikuti lelaki itu.

Argh cinta!

Kinar melirik botol air mineral yang berada di atas mejanya. Ingatannya melambung pada botol mineral yang berisi air yang telah didoakan secara khusus oleh seorang kyai atas permintaan mamanya beberapa waktu lalu. Tak hanya untuk dirinya tetapi mamanya juga menyiapkan sebotol lagi untuk Gendis.

Air itu...

Beberapa hari ini Gendis selalu menerima kiriman bunga dari Marvin, lelaki yang dikenal saat pesta ulang tahun perusahaan. Sudah jelas lelaki itu berusaha mendekati sahabatnya. Bahkan tak ragu untuk mengajak makan siang. Dan tadi Elroy, lelaki yang juga dari masa lalu Gendis kembali. Ck, dua laki- laki dalam satu hari?

Apakah benar- benar karena air itu?

Ck, mikir apa sih Kinar? Gerutu Kinar dalam hati. Mengapa ia jadi mengaitkan air dan lelaki. Memang sudah takdirnya Gendis saja hari ini akan bertemu dua laki- laki itu. Lagian belum tentu juga kan salah satu dari kedua lelaki itu jodohnya Gendis? Jodohkan misteri!

“Mbak!”

“ASTAGA!” Kinar nyaris terlonjak dari kursinya. Ia menggeram kesal saat menemukan cengiran wajah Vania di depan pintu ruangannya. Ck, gadis ini!

“Ngagetin aja sih lo! Ketok dulu kan bisa.”

“Ups sorry, Mbak!”

“Ya udah mau ngapain lo kemari lagi?”

“Si bos nanyain Mbak Gendis nih! Gue harus bilang apa, Mbak? Dia nggak balik- balik ke kantor. Di teleponin juga nggak diangkat.”

Ya Tuhan, Gendis! Kinar berdecak frustasi. Gendis tadi hanya mengatakan akan segera kembali sebelum pergi. Sekarang siapa yang tahu dia dimana.

Ck, benar- benar merepotkan!

“Lo bilang ada urusan keluarga, apa mendadak sakit kek. Terserah lo aja! Gimana yang ada di otak lo aja lah.”

“Ya Mbak nggak berani bohong entar salah- salah akunya dimarahin!”

Kinar mendengus. “Ya udahlah entar gue yang ngomong sama si bos. Gitu aja repot!”

“Bener ya, Mbak?”

“Iyaaa.” Pekik Kinar gemas, “Udah sana urusin kerjaan lo!

Thanks ya, Mbak!”

Kinar hanya mengangguk. Vania pun memilih cepat- cepat pergi. Sesaat setelah sepeninggal Vania, Kinar meraih ponselnya. Segera dan secepatnya ia harus menghubungi Gendis. Tetapi sayangnya beberapa kali ia mencoba menelepon Gendis, gagal. Panggilan tak dijawab. Kinar mendesah.

Dimana sih lo, Ndis?

=tbc=

Selanjutnya Gendis (6)



Lampung, November 2015









Selasa, 10 November 2015

GENDIS (4)


 Empat

Sebelumnya Gendis (3)

Lunch?”

Gendis mendesah. “Kalau saya menolak juga bapak pasti tetep maksa kan?”

“Marvin. Not Bapak. Berasa tua sekali saya.”

Gendis mendengus gusar. Setelah beberapa hari ini kiriman bunga datang tak henti di setiap pagi, lalu telepon ajakan makan siang yang selalu ditolaknya, maka hari ini ia tak bisa menghindar karena pelaku telah berada di depan ruangannya. Melangkah masuk tanpa beban sama sekali.

“Kenapa sih bapak ngotot banget ngajakin makan siang?”

Marvin terkekeh, “Sejak kapan ada larangan lelaki single tak boleh mendekati wanita single.”

Gendis mendelik. Ck, sepertinya lelaki ini sudah terlalu banyak tahu tentang dirinya. Niat sekali!

“Bapak kepoin saya?”

“Hanya memastikan jika saya mendekati wanita yang bukan milik orang lain.”

Cih! Apalagi sih ini! Gendis manyun. Ia sungguh tak menyukai kehadiran Marvin. Tapi ia juga tak kuasa menolak. Marvin sahabat Pak Rama, atasannya juga salah satu partner perusahaannya, jadi sebisa mungkin ia tak ingin berkata terlalu frontal.

“Ndis! Ayo ma..,” Gendis mendongak. Kinar muncul dari kejauhan. Seperti biasa ia sudah berbicara meski belum berada di tempat tujuan. Namun kata- katanya terhenti karena menyadari keberadaan orang lain di ruang sahabatnya.

“Ups, sorry!” Kinar nyengir. Namun sedetik kemudian keterkejutan tak dapat ditutupi di wajah gadis itu saat menyadari siapa yang berada di ruang Gendis. “Pa..pak Marvin!”

“Oh, Hai..,”

“Kinar! Saya Kinar, Pak!” Gendis memutar bola mata jengah saat mendapati kegugupan di wajah Kinar. Dia berani bertaruh Kinar terpesona dengan penampilan Marvin. Tampan dan kaya, kombinasi yang tepat untuk dijadikan calon potensial seorang suami, menurut Kinar.

“Eh sorry kalau gang…,”

“Nggak!” Cepat- cepat Gendis menggeleng. Tiba- tiba terlintas sebuah ide di kepalanya. “Pak Marvin mau traktir gue makan siang. Lo belum makan kan, Nar? Yuk bareng aja! Nggak papa kan Pak kalau Kinar ikut?” Tanyanya dengan senyum yang dibuat- buat. Sekilas matanya melirik Kinar yang tengah mengulum senyum. Gadis itu paham jika ia butuh bantuan. Sedikit banyak Kinar memang tahu cerita tentang Marvin yang tengah mengusiknya beberapa hari ini.

“Eh, eng..nggak papa!” Gendis nyaris terbahak melihat Marvin yang sedikit gelagapan menjawab pertanyaannya.

Yes!

“Tapi apa Kinar nggak ada janji dengan yang lain?”

Ck, apa- apaan ini! Gendis menatap tajam Kinar. Awas lo nggak bantu gue! Lagian makan gratis masa lo tolak.

“Nggak! Saya nggak ada janji kok, Pak!” Gendis tersenyum, “Lagian temen makan siang saya ya Gendis, jadi kalau bapak ajak Gendis saya juga harus diajak.”

Love you so much, Kinar! Senyum di wajah Gendis pun semakin melebar.

“Yuk kalau gitu nunggu apalagi!” Gendis berdiri. Ia melangkah sesaat setelah meraih tasnya yang tergeletak di atas meja. Saat tubuhnya berpapasan dengan Kinar yang masih berdiri depan pintu, matanya mengedip sebelah. Thank you, Kinar!

***

Pada akhirnya Gendis tertawa dalam hati. Makan siang tak hanya berakhir dengan bertiga saja. Saat di lobby, Gendis bertemu dengan Vania yang bermaksud pergi ke kantin kantor. Tanpa menunggu persetujuan Marvin, Gendis pun mengajak gadis itu yang tentu takkan ditolak.

Yup! Semakin rame semakin bagus.

“Wah, Pak sering- sering aja traktir kita kayak gini. Lumayan ngirit pengeluaran.” Kata Vania. Mereka kini menunggu pesanan datang, “Saya kan anak kost, Pak. Jadi harus hemat.” Lanjut Vania yang disambut gelengan kepala Gendis.

“Ck, anak kost bukan nggak emang dasar lo aja doyan gratisan!”

“Ih Mbak Kinar jangan gitu, Mbak Kinar juga doyan kan kalau ditraktir.”

“Hust, kalian ini ribut aja!” Tegur Gendis. “Bilang makasih udah belom?”

“Oh iya, makasih ya Pak Marvin.” Ujar Vania seraya memamerkan senyumannya.

“Thanks lo Pak udah ajak kita makan di tempat enak begini.” Timpal Kinar lagi dengan senyum tak kalah manis.

“Eh iya- iya!” Gendis tersenyum simpul. Marvin mungkin tak menyangka jika hari ini rencananya makan siang hanya berdua dengannya gagal total dengan kehadiran dua wanita lain.

“Santai saja! Yang penting kalian suka.”

Gendis mencibir. Playboy mah playboy aja! Tetep tebar pesona…

“Wah Pak Marvin memang baik. Nanti kalau gitu nanti saya nambah boleh dong ya!”

Gendis nyaris terbahak saat mendengar ucapan Vania. Gadis ini benar- benar ceplas- ceplos. Mengutarakan keinginannya dengan gamblang. Ah biarkan saja Marvin menghadapi gadis itu. Bukan urusannya. Justru lebih baik jika Marvin memutar haluan berurusan dengan Vania ketimbang dirinya.

He isn’t my type.

Gendis membuang muka. Ia lebih memilih menelusuri seluruh sudut restoran daripada ikut larut dalam celoteh Vania, Marvin juga Kinar. Berbasa- basi jelas bukan karakternya. Lagipula ia memang menghindari banyak berbicara dengan Marvin.

Mata Gendis masih asyik menjelajah keseluruhan interior ruangan yang bernuansa Eropa saat beberapa laki- laki masuk ke dalam restoran. Ia tak memperhatikan kedatangan mereka hingga Vania yang duduk di depannya menyenggolnya.

“Mbak, Mbak itu kan cowok yang pernah nyamperin mbak di kantor kan?”

Gendis mengernyit sesaat. Tubuhnya pun berbalik. Matanya menyipit saat menemukan keberadaan Bastian diantara beberapa lelaki yang tengah berjalan santai mengikuti seorang pelayan laki- laki. Mereka berjalan sambil mengobrol hingga tak menyadari keberadaannya. Apalagi tadi mereka memilik duduk di dekat sudut di samping jendela. Sehingga sedikit tak terlihat bila tidak di dekati.

Tapi tunggu itu kan…

Satu.

Dua.

Tiga.

Gendis masih ingat empat lelaki yang bersama Bastian. Tama, Kenzi dan Adit!

Ck, ngapain mereka disini? Tanya Gendis dalam hati. Ah, mungkin saja memang mereka biasa makan siang bersama. Mereka kan memang sahabat sejak lama.

Mata Gendis masih mengikuti gerak keempat hingga tiba- tiba berhenti di sebuah sudut ruangan. Pelayan menggeser pintu dan mempersilahkan keempatnya masuk.

Deg.

Meski sekilas mata Gendis masih menangkap keberadaan sosok laki- laki yang berada di dalam ruang tersebut. Tak terlalu jelas memang tapi Gendis berani bertaruh jika ia tahu betul siapa dia.

Argh! Dia sudah di sini? Bukankah masih beberapa hari lagi…

Tunggu! Tunggu! Bagaimana kalau nanti mereka bertemu? Apa yang akan dikatakannya.

Hai oh halo! Long time no see!

Kamu apa kabar?

Kapan nyampe? Kok nggak ngasih tahu aku?

Kemana aja menghilang selama ini?

Bukan- bukan itu, Gendis! Ngapain sih ketemu, bukannya lebih baik nggak. Dia udah menghilang cukup lama itu berarti dia pergi. Nggak mau lagi bertemu denganmu! Buktinya dia sudah tiba di Indonesia tapi tak mengajakmu bertemu.

“Ndis, lo kenapa?” Gendis menoleh. Kinar menatapnya bingung. Ia juga menyadari Marvin dan Vania juga tengah menatapnya.

“Eh, nggak! Gue nggak papa.”

“Serius, Mbak?”

Gendis mengangguk cepat. Ia menghela nafas dalam- dalam lalu menghembuskannya perlahan. Tadi ia memang sedikit panik, tapi sudahlah mungkin belum saatnya mereka bertemu. Setidaknya Gendis boleh bernafas lega, kelimanya berada di bilik khusus. VIP mungkin sehingga kemungkinan bertemu dengannya sangat kecil. Kalau begini lebih cepat makan terus kembali ke kantor, bisik Gendis dalam hati.

Ya ya ya! Seperi ini lebih baik.

Ck, kenapa sih aku! gerutu Gendis dalam hati.

“Udah semua kan?” Gendis memandang satu per satu, memastikan ketiga orang di hadapannya telah menyelesaikan makan siangnya. Diliriknya piring- piring yang tingga terisi sisa makanan. “Yuk balik keburu jam makan siang abis.” Ajaknya lagi. Dia benar- benar ingin cepat pergi.

“Santai dong, Beib! Nggak usah buru- buru.” Gendis melotot. Bab beb bab beb gundulmu! Enak saja siapa dia?

“Iya Mbak, masih lama juga kok.” Kini giliran Vania yang bersuara. Gendis mendengus. Diliriknya Kinar yang justru asyik dengan ponselnya.

“Nar, lo mau bareng gue apa masih mau tinggal?”

Kinar mendongak. “Eh kenapa?”

“Loh kok gitu?”Protes Marvin cepat, “Kan berangkatnya bareng masa pulang sendiri- sendiri?”

Gendis acuh. Diabaikannya Marvin. Ia dengan cepat beranjak dari kursinya. Terserah mereka mau pulang kapan, yang penting gue duluan! Gumamnya dalam hati.

“Eh, eh Ndis! Tunggu gue!” Spontan Kinar berdiri. “Gue bareng lo deh!”

“Yah kalau Mbak Kinar juga balik gue juga ngikut dong!”

Gendis berdecak gusar. Mau pulang aja ribet!

“Ya udah ayo!” Ujar Gendis. Sesaat ia menatap Marvin seraya mengulas senyum tipis. Senyum yang terpaksa. “Thanks ya Pak buat makan sia…,”

“GENDIS!”

Refleks Gendis menoleh. Detik selanjutnya ia ternganga.

Sh*t! kenapa ketemu juga sih? umpatnya dalam hati.

Selanjutnya Gendis (5)

=tbc=










Minggu, 08 November 2015

Taksi No. 27



*gambar diambil dari http://www.dphotographer.co.uk


Aku terbahak tepat setelah Tasya menyelesaikan ceritanya. Sontak lima kepala menatapku bingung. Tawaku makin menggema saat menyadari ekspresi wajah dari kelimanya. Takut bercampur heran.

“Kok lo ketawa sih?” Tasya tak sabar untuk bertanya. “Emang ada yang lucu dari cerita gue?”

Dari kata- katanya jelas dia merasa tersinggung, tapi aku tak peduli. Toh tertawa juga bukan sebuah kesalahan. Mulut juga mulutku sendiri.

“Lucu! Lucu banget, Sya!” Jawabku santai, “Dan semakin lucu karena kalian semua ketakutan karena cerita itu.” Imbuhku seraya melirik Kiara, Melodi, Anggun dan Rasti.

Aku tersenyum mengejek saat keempatnya mendengus gusar karena kalimatku. “Hari gini kalian percaya sama begituan. Astaga! Helloww guys, ini era modern loh!” Sindirku lagi.


Tasya baru saja menceritakan tentang taksi berhantu. Taksi yang bernomor 27 itu harus kita hindari, katanya. Karena nantinya taksi itu akan membawa kita ke dimensi lain. Aku hanya mencibir saat dia menceritakan itu. Astaga! Era modern seperti ini masih saja percaya dengan mitos, dongeng tak jelas seperti itu.


“Yaudah sih Nat kalau lo nggak percaya tapi juga nggak usah ketawa juga kali.” Aku mencibir. Tasya jelas merasa tersinggung. Sikap judesnya muncul. Tapi sekali lagi kubilang, aku tak peduli. Tak akan pernah. Buat apa peduli pada orang lain, toh mereka juga nyatanya tak peduli pada kita. Kuberitahu satu hal orang lain peduli dengan kita sejujurnya karena dia memang ingin tahu hidup kita lalu selanjutnya menjatuhkan kita baik secara terang- terangan atau diam- diam.


Manusia itu makhluk egois, kawan?

“Udahlah, Sya. Lo kayak nggak tahu Natasha aja!”


See! Kata- kata Melodi juga menghakimiku kan? Oh, aku lupa kalau dia cukup akrab dengan Tasya. Sebelas dua belas sih ya.


“Kalau nggak sombong bukan Natasha namanya!” Keningku mengerut saat mendengar kalimat Kiara. Sombong? Aku? Whatever you say, emang gue pikirin.


“Gue sumpahin lo beneran ketemu sama tuh taksi!” Alisku bertaut. Tasya menyumpahiku. “Biar lo nggak bisa sombong lagi. Lo sadar nggak sih Nat, makin hari gue makin muak kali sama tingkah lo. Ck, sombongnya!”


“Sya!” Kulirik Anggun menyentuh Tasya. Sepertinya untuk menahan kemarahan Tasya kepadaku. Aku berdecak melihat, sok peduli!


“Biarin aja, Nggun. Biar cewek sombong ini tahu kalau sebenarnya kita semua udah sebal lihat tingkah soknya itu. Berasa paling hebat!” Mata Tasya nyalang menatapku. Dia benar- benar terlihat emosi.


Aku menyeringai, “Emang gue hebat kan? Oh ayolah, Guys! Kalian harus akui itu!”


“Lo itu bener- bener sombong ya, Nat?”


Aku menoleh. Melodi memandangku tajam, “Oh bukan itu aja, nyebelin dan merasa paling berkuasa. Ck, ck, ck dan begonya kita guys mau berteman sama dia.”


Seketika aku menggeram kesal, “Kapan gue nggak pernah minta kalian jadi teman gue?”


“Ya Tuhan Nat, lo bener- bener ya!” Kiara bangkit dari kursinya. “Buat apa kita temanan sama orang kayak gini, Guys. Mending cabut aja!”


“Lo benar, Ra. Buat apa temenan sama orang kayak gini!” Melodi pun ikut beranjak menyusul Kiara. Kutarik bibir kebawah. Selanjutnya siapa lagi?


“Gue kasih tahu. Hidup sendiri itu nggak bakal enak, Nat.” Kini giliran Tasya yang berdiri. “Yuk Ras, Nggun! Kita pergi aja!”


Rasti yang dasarnya pendiam dan penurut pun ikut segera berdiri. Berbeda dengan Anggun yang terlihat ragu menyusul keempat temannya. Sesaat ia menatapku lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


“Lo harus tahu, Nat! Kalau selama ini kita berteman sama lo itu tulus. Kita nggak berniat apa- apa. Selama ini kita bersabar dengan sikap nyebelin lo, tapi lama kelamaan kita juga nggak tahan. Gue minta maaf kalau gue ada salah sama lo!” Anggun pun beringsut dari kursinya.


“Pergi! Pergi sana kalian semua. Gue nggak butuh!” Kataku angkuh saat keempatnya bergerak meninggalkanku.


“Ck, udah sendirian masih aja lo sombong, Nat!” Tasya masih berdiri di tempatnya, padahal yang lain sudah menuju pintu café. “Asal lo tahu cerita gue tadi beneran kisah nyata bukan omong kosong!”


Aku mendelik, “Dan asal lo tahu gue nggak peduli!”


“Baiklah kalau begitu!” Tasya tersenyum miring. Entah mengapa tiba- tiba aku merasa aura berbeda pada dirinya. Misterius dan sedikit menyeramkan. “Sampaikan salamku pada pengemudi taksi nomor dua puluh tujuh.”


***


Aku merengut. Nyaris membanting ponsel karena sejak tadi nomor Pak Harun, sopirku sulit dihubungi. Tidak aktif? Cih, kemana laki- laki tua itu! Awas saja akan kulaporkan pada papi supaya dia segera dipecat.


Papiku merupakan seorang pengusaha sukses. Apapun yang kuminta selalu diberikan. Apapun! Tetapi sayangnya kesibukan beliau membuatnya tak peduli dengan aku, anaknya. Tak hanya papi, mami pun sama sibuknya. Membuatku berpikir buat apa aku lahir ke dunia jika hanya untuk diabaikan. Tapi pada akhirnya aku berpikir jika mereka tak peduli, buat apa akupun bersusah- susah untuk peduli pada orang lain.


Hidup itu ya diriku.


Sebuah cahaya menyorot dari ujung jalan. Sesaat mataku menyipit memastikan jika itu adalah taksi yang bisa membawaku pulang. Kuangkat tangan kananku untuk menghentikannya.


Seraut wajah menyeruak di balik kaca yang diturunkan. Seorang laki- laki dewasa yang kutaksir berumur 30an berada di balik kemudi.


“Jalan Merbabu.” Ia mengangguk dan tak menunggu lama bagiku untuk segera membuka pintu belakang lalu menghempaskan tubuhku di kursi.


Dalam sesaat saja, taksipun melaju meninggalkan café. Sesaat kusandarkan tubuhku ke belakang. Aku berdecih mengingat kejadian sebelumnya. Malam ini malam minggu, seperti biasa aku dan kelima temanku akan menghabiskan waktu untuk nongkrong di café. Sekedar mengobrol, tertawa- tawa atau flirting cowok- cowok yang kami anggap keren. Kegiatan yang tak ada gunanya sebenarnya, tapi biarlah daripada bengong di rumah juga.


Ngomong- ngomong soal teman? Cih! Aku lupa kalau mereka sekarang bukan temanku. Hei, mereka loh yang meninggalkan diriku. Jadi peduli setan, hal itu tentu saja takkan berpengaruh denganku. Lihat saja besok di sekolah, aku takkan kesepian. Masih banyak yang akan mendekatiku.


Tiba- tiba aku merasakan aura dingin menerpa kulitku. Aku pun memajukan sedikit tubuhku. “Pak, matiin aja ACnya dingin!”


Sopir taksi di depanku hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama tangannya bergerak menuruti perintahku.


Aneh! Kenapa masih terasa dingin?


“Kok masih dingin sih, Pak?”


Sembari bertanya aku menoleh ke sisi kanan dan kiriku bergantian. Sesaat aku membeku.


Keramaian jalanan tak tampak di mataku. Sepanjang aku melihat hanya keremangan tak jelas. Entah apa.


Ada yang salah! Janggal!

Ini jelas bukan arah rumahku!!

“PAK!” Aku menjerit. Takut jelas! “INI MAU KEMANA? INI BUKAN ARAH RUMAHKU!”


Bau anyir darah mendadak merambati indera penciumanku. Entah dari mana. Aku makin takut.


“PAK IN…!”


Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, lelaki pengemudi taksi itu pun menoleh. Seketika aku menjerit kencang saat tatapannya yang kosong dan wajah yang pucat memutih.


“Selamat datang di duniaku.” Katanya lalu kembali mengarahkan pandangan ke depan.


Refleks aku mundur. Isak tangis sudah tak dapat kubendung. Rasa takut, sedih dan bingung berbaur di kepalaku. Aku mau pulang! Pulang! Pulang!


Aku sudah akan berteriak minta tolong namun seketika terhenti. Pantulan angka 027 yang berada di kaca belakang terbaca olehku. Seketika kesadaranku menyeruak.


Asal lo tahu cerita gue tadi beneran kisah nyata bukan omong kosong!


Sampaikan salamku pada pengemudi taksi nomor dua puluh tujuh.

Tubuhku melemas. Aku terperangkap. Detik kemudian aku merasa menyesal. Sangat menyesal.


-end-

Lampung, September 2015





























Sabtu, 07 November 2015

GENDIS (3)


Tiga

Sebelumnya Gendis (2)

Malam sudah semakin larut, namun mata Gendis masih belum terpejam. Pikirannya sibuk mengelana ke sosok yang hampir bertahun- tahun tidak ditemuinya. Kabar yang disampaikan Bastian benar- benar merusak konsentrasi serta pola tidurnya.

Ck, tidur Ndis! Tidur! Teriak Gendis dalam hati. Ia berusaha menutup matanya rapat- rapat. Ingat besok kerja!

Lagian kenapa pula sih kamu masih mikirin dia?

Dia kan sudah melupakanmu. Omong kosong semua janji- janjinya sebelum berangkat.

Jadi buat apa pula kamu repot memikirkannya.

Senin, 02 November 2015

GENDIS (2)


Dua

Sebelumnya Gendis (1)

“Bas…Bastian!”

Gendis mengerjap- ngerjapkan kedua matanya. Memastikan penglihatannya tak salah objek. Dan memang benar lelaki yang tengah berbincang dengan Angie, si resepsionis kantor adalah orang yang sama yang pernah dikenalnya bertahun- tahun lalu. Seseorang yang juga pernah mengisi dalam salah satu part kehidupannya di masa lalu.

“Itu Mbak Gendis!”