Sabtu, 11 Maret 2017

Sayembara Askar (19)





Sebelumnya di sini
19.
“TUNGGU APALAGI! KERJAIN SANA!”
Bergegas Tantra membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan  Askar. Sejenak kepalanya menggeleng perlahan, karena sikap Askar yang sangat menyebalkan sejak pagi.
Salah!
Memang kapan Askar tak bersikap menyebalkan?
“Kenapa, Mas?”
Beberapa langkah setelah keluar ruangan, Tantra mendapati Pak Kardi tengah menatap ke arahnya. Sekilas matanya menangkap lelaki tua itu baru saja meletakkan beberapa map di atas mejanya.
“ Titipan darimana, Pak?”
“Dari bagian keuangan, Mas.”
“Oh,” mulut Tantra membulat dan kepalanya mengangguk-angguk. Tak lama ia mendaratkan tubuhnya di kursi meja. Sesaat matanya terpejam, namun hanya beberapa detik karena ia tersadar sesuatu.
“Ada urusan lagi, Pak?”
Pak Kardi yang memang belum beranjak pergi menggelengkan kepala. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu berkata pelan pada Tantra.
“Bos ngamuk ya, Mas.” Ujarnya lirih seraya bolak-balik menengok ke pintu ruangan Askar.
Tantra mengedik. Tak menjawab sama sekali.
“Ya, Mas Tantra ini ditanya juga.”
“Nggak perlu ditanya Bapak juga udah tau kan jawabannya,” senyum tipis Tantra terulas.
Pak Kardi mengangguk. Dihelanya napas pendek seraya menatap Tantra dalam-dalam. Dalam hati, ia merasa iba pada Tantra. Pak Kardi tahu bagaimana cakap dan rajinnya Tantra dalam bekerja, namun Askar tetaplah Askar. Putra tunggal Adinata yang selalu menginginkan hasil sempurna. Dan jika tak sesuai keinginan, lelaki itu lebih senang mengeluarkan emosi daripada berpikir tenang.
“Mas Tantra mau dibeliin makan siang apa?” kata Pak Kardi kemudian. Dirinya yakin Tantra pasti mendapat banyak pekerjaan dari si bos. Sungguh, ia ingin membantu. Tapi bisa apa?
Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah memastikan Tantra tak melewatkan makan siangnya.
“Memangnnya udah jam makan siang ya, Pak?”
“Sebentar lagi, Mas.” Jawab Pak Kardi seraya menunjuk jam dinding yang berada di salah satu sudut ruang.
Tantra pun tersenyum. Kepalanya mengangguk kemudian. “Seperti biasa aja, Pak.” Ujarnya seraya mengeluarkan beberapa nominal uang untuk kemudian diserahkan pada Pak Kardi.
“Terima kasih, Pak.”
***
Kesibukan bandara tak pernah sepi. Apalagi siang hari. Keramaian terlihat di berbagai penjuru. Setiap orang disibukkan dengan kegiatannya masing-masing termasuk Agni yang kini tengah duduk di salah satu bangku tunggu. Dengan novel di tangan, Agni asyik membaca. Tak peduli dengan keadaan sekitar. Entah berapa lama waktu berlalu, hingga Agni merasakan kegiatannya terusik. Novelnya terangkat dan seketika berrpindah tangan.
“Ini sih namanya yang dijemput nyari sendiri penjemputnya.”
Agni nyengir ketika mendapati siapa yang berdiri di depannya. Orang yang sama yang telah mengambil novelnya. “Eh, udah mendarat ya pesawat lo, Va?” ujarnya santai.
Sava, lelaki muda mendengus lalu menggeleng. “Ini ni malesnya dijemput lo. Acuh aja nggak peduli,” gerutunya. “Gue yang dijemput gue yang kelabakan nyari penjemputnya. Mana HP ditelponin nggak diangkat-angkat lagi.”
“Tau gitu mending ngiyain kata dijemput supir Mas Arga.” Lanjut Sava kesal.
“Eh, emang lo nelpon gu...,” Seketika tangan Agni mencari keberadaan ponsel di tasnya, sedetik kemudian dia meringis. “Sorry, silent! Lupa gue!”
Sava mendelik. “Kebiasaan!” katanya sembari berbalik meninggalkan Agni yang hanya tersenyum menanggapi kekesalan Sava. Udah biasa!
“Va! Tungguin gue dong!”
Segera Agni menyusul langkah pemuda itu. Sesaat setelah bersisian, tanpa canggung Agni melingkarkan tangan kanannya pada pergelangan tangan kanan Sava. Beberapa pasang mata tampak melirik ke arah mereka, tapi Agni tak peduli. Sava pun sama cueknya. Wajahnya yang tadi berteuk telah berganti dengan bersikap biasa.
“Langsung ke rumah ya?”
“Emang ada apa di rumah?” Sava menoleh sekilas.
Bibir Agni mencibir. “Ck, sok nggak ingat. Dimana-mana ya kalau pangeran Sava datang, Nyonya besar pasti bakal masak enak.”
Sava tergelak. “Kayak sendirinya pulang nggak disambut Tante aja.”
“Iya ya,” Agni nyengir. “Buruan yuk! Lapar gue udahan. Lagian momen ngumpul kayak gini jarang-jarang.”
“Ngumpul? Maksudnya?” tanya Sava dengan sebelah alis terangkat.
“Lo nggak lupa kan sama Mas Arga sekeluarga. Mereka pasti udah di rumah sekarang.”
Seketika senyum Sava pun mengembang. Agni yang memperhatikan mengerutkan kening.
“Kenapa lo?”
“Hah? Kenapa apa?”
Agni berdecak. “Senyum-senyum gitu,”
“Oh,” mulut Sava membulat. “Nggak. Lagi bayangin ramenya di rumah.”
“Ya namanya aja lagi ngumpul. Pasti rame lah.”
“Iya tau!” sahut Sava. “Tapi bukan itu juga yang gue pikirin.”
“Terus apaan?” Agni penasaran.
”Berdasar curhat lo semalam. Kemungkinan keramaian di rumah akan bertambah.”
Agni terdiam beberapa saat, mengingat hal yang dikatakannya semalam pada Sava via telepon. Namun belum sepenuhnya ingatannya terkumpul, Sava sudah kembali berbicara.
“Dua laki. Askar, Tantra. Jadi mana yang lo pilih?”
***
Jam di pergelangan tangan telah menunjukkan pukul 9 malam, ketika Tantra melirik benda tersebut. Seketika ia pun menghentikan pekerjaannya. Direnggangkannya sejenak tubuhnya yang kaku karena sedari tadi mengerjakan banyak pekerjaan. Tak lama ia pun beranjak dari kursi dan melangkah menuju jendela kaca.
Jakarta masih ramai. Meski hari telah berganti malam, jalanan masih tak juga sepi. Beruntung tak lagi semacet sore hari di saat banyak orang pulang kerja.
Tantra menghela napas dalam-dalam. Pandangannya memang terarah ke depan, tetapi tidak dengan pikirannya. Kejadian beberapa hari lalu di cafe membuatnya sadar, jika ia tak bisa selamanya menggantungkan diri bekerja pada Askar. Apalagi beberapa hari ini sikap Askar yang semakin mempersulit dirinya dengan pekerjaan. Tantra bukan tak tahu, namun ia masih memilih bungkam.
Aku harus putuskan segera,
Tantra menarik napas kembali. Perlahan diraihnya ponsel. Tak lama terdengar nada sambung di seberang. Tantra menghitung dalam hati. Meski waktu sudah malam, Tantra yakin jika orang yang tengah dihubunginya belum tidur. Tepat di hitungan ke sepuluh, sebuah suara menjawab,
“Halo, assalamua’laikum...,”
***
“Aku sayang sama kamu, Ni!”
Agni melotot. Entah mimpi apa dia semalam, tiba-tiba Askar menyatakan perasaannya. Padahal sudah tiga hari pasca pertemuan di cafe, mereka tidak bertemu dan sekarang tiba-tiba Askar menjemputnya lalu membawanya ke sebuah restoran.
Dan, menyatakan cinta?
Lelaki sinting!
Tapi...
“Aku tahu mungkin menurut kamu ini terlalu mendadak, tapi aku serius aku sayang sama kamu.” Ujar Askar lagi.
Agni ternganga. Otaknya blank. Masih bingung mencerna apa yang tengah terjadi. Padahal, tiga hari ini ia merasa kehidupan jauh lebih normal.
“Aku nggak minta kamu jawab sekarang. Kamu punya banyak waktu. Tapi asal kamu tahu, bersamaku kamu nggak akan pernah sekalipun sedih. Aku selamanya akan bikin kamu bahagia.”
Perkataan Askar spontan membuat Agni menggaruk-garuk kepalanya. Dulu sekali ia pernah mengharapkan hal ini terjadi. Dan, di saat itu terjadi pastilah hatinya bahagia berbunga-bunga. Askar lelaki yang tengah disukainya memiliki perasaan yang sama? Ah, setiap wanita siapa tak bahagia.
Tapi sekarang?
Kosong.
Tak ada rasa apapun yang bergetar di hati Agni karena pernyataan Askar. Alih-alih bahagia, yang ada ia justru kesal luar biasa. Orang ini seenaknya menarik dirinya untuk kemudian dibawa ke restoran, lalu mengatakan cinta dengan begitu mudahnya.
Hmm, apa begini caranya menyatakan cinta pada wanita-wanita yang dikencaninya?
Dan, tunggu....
Sayembara itu?
Refleks Agni mengerutkan dahi menatap Askar dengan tatapan yang begitu dalam. Laki-laki ini sepertinya tidak tahu jika Agni mengetahui hal yang sebenarnya. Sesaat Agni pun menghela napas panjang.
“Kenapa? Kenapa lo suka gue?”
Askar tersenyum tipis. “Nggak ada yang bisa tahu kapan datangnya cinta, Ni.”
“Kalau gitu sejak kapan lo suka gue?”
Askar terdiam sejenak, tetapi tak lama senyumnya mengembang. “Sejak kita ketemu lagi di kantor Mas Aksa. Kamu begitu berbeda.”
“Berbeda?”
Askar mengangguk. “Dewasa, smart dan tentu saja cantik.”
Sial nih orang!
Jadi, aku dulu secara tak langsung dinilai dia masih bocah, bodoh dan jelek.
“Bagaimana dengan pernikahan?”
Kening Askar mengerut dengan perkataan Agni, “Maksudmu? Kita menikah.”
“Memangnya kemana arah hubungan dua orang dewasa beda jenis kelamin?”
“Oh,” Askar manggut-manggut. “Kupikir sebaiknya kita jalani hubungan ini dulu. Selanjutnya biarlah waktu yang menentukan.”
Agni tersenyum miring. “Gue asumsikan lo masih males nikah...,”
“Nggak ada yang tahu masa depan, Ni.” Potong Askar sembari mengulas senyuman. “Siapa tahu kita ditakdirkan berjodoh. Ah, sudahlah, sebaiknya kita makan dulu. Yang pasti kamu punya banyak waktu untuk berpikir.”
Agni menggeleng. “Gue nggak butuh waktu untuk berpikir lama, Kar,” ujarnya. “Gue pikir gue nggak mau jadi salah satu koleksi lo.”
“Koleksi?”
Bahu Agni terangkat acuh. “Sepertinya yang sudah-sudah,”
Tak lama Agni merasakan tangannya digenggam lembut oleh Askar. “Kamu salah, Ni. Aku nggak pernah mengoleksi wanita. Mereka saja yang terus mendekatiku. Dan, tentu saja kamu berbeda dengan mereka.”
“Oh, ya?” Kedua alis Agni bertaut.
“Tentu saja. Kamu istimewa, Ni.”
Agni terbahak dalam hati. Jadi gini playboy bermulut manis.
“Aku janji kalau kita bersama, nggak akan ada lagi wanita lain di sampingku. Cuma kamu, Ni. Cuma kamu satu-satunya yang ada dihatiku.”

selanjutnya di sini

2 komentar:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    BalasHapus