Jumat, 29 Januari 2016

[CERPEN] Penghuni Bangku Kosong



Penghuni Bangku Kosong

Kinara termangu. Dua hari sudah tahun ajaran baru dimulai tapi dia masih saja duduk sendiri. Bangku di sebelahnya belum juga berpenghuni. Padahal nyaris seluruh kelas sudah mendapatkan pasangan duduknya masing- masing.

Tapi dia?


Kamis, 28 Januari 2016

[Cerpen] MODEL



-Cantik, manis dan menawan. Aku harus mendapatkannya.- 

*** 
Krisna terpana menatap layar dihadapannya. Tak henti- henti bibirnya berdecak dan mengeluarkan kata pujian. 


Rabu, 27 Januari 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (3)


Tiga

Sebelumnya di sini


 “Itu si Eli pulang, Mir.”

Mirah yang tengah menghitung uang hasil dagangannya hari ini mendongak. Darmini menghampirinya lalu mengambil tempat di kursi yang berseberangan dengannya.

“Dia kan sukses, Mir. Kamu bisa ikut dia aja. Minta cariin kerja apa gimana, ibu juga udah ngomong sama Eli. Kata dia nggak papa kalau kamu mau ikut dia ke kota.”


Sabtu, 23 Januari 2016

Aman dan Tenang dengan Acer Liquid Z320


Kini eranya canggih. Apapun serba digital, termasuk untuk urusan berkomunikasi. Jika dulu ponsel memegang peranan untuk menelepon dan berkirim SMS, sekarang tidak lagi. Ponsel masa kini telah bertransformasi menjadi smartphone. Si ponsel pintar.

Smartphone memang didesain khusus dengan berbagai kemampuan di dalamnya untuk memudahkan manusia. Dulu mengirim pesan hanya bisa menggunakan SMS yang dibatasi jumlah katanya, tetapi sekarang ada banyak aplikasi instant messaging membuat kita lebih leluasa menuliskan pesan sepanjang apapun. Tak hanya itu, berkomunikasi dengan orang yang jaraknya bermil- mil pun tak hanya mengandalkan via suara tetapi kini ada aplikasi video call yang memungkinkan untuk saling bertatap muka meski berjarak ratusan atau ribuan mil. Keunggulan lain yang dimiliki smartphone adalah layanan internet yang memudahkan untuk bertukar informasi serta menggunakan media sosial yang sedang populer di masyarakat.

Sebegitu canggih dan pentingnya peranan smartphone, maka tak heran jika siapapun tak terbatas profesi dan status sosial untuk memilikinya. Tak hanya orang dewasa, anak- anak pun tak ketinggalan ingin mempunyai ponsel pintar ini. Bahkan tak jarang kita menemukan pemandangan para balita sedang asyik memegang smartphone, entah meminjam milik ayah atau ibunya atau miliknya sendiri (orang tua sengaja membelikan).

Ini yang sebenarnya menjadi perhatian serius. Perkembangan teknologi yang semakin maju ibarat dua sisi mata pisau. Di satu sisi kita manusia memerlukannya untuk kerja yang lebih efektif serta efisien namun di sisi lain ada harga mahal yang harus terbayar. Mudahnya akses internet di smartphone tentu berbenturan dengan tumbuh kembang anak. Di dunia maya itu beredar luas tontonan, bacaan dan konten- konten bebas, vulgar serta berbau pornografi. Hal ini yang tentu saja berbahaya bagi perkembangan anak- anak selanjutnya.

Sebagai solusi dari permasalahan tersebut, Acer melalui salah satu produknya yakni Acer Liquid Z320 membantu para orang tua untuk menyediakan smartphone yang ramah dan peduli pada anak- anak. Melarang anak menggunakan smartphone tentunya bukan langkah cerdas, karena sekarang memang eranya digital. Anak pun harus ikut belajar dan tahu bagaimana majunya teknologi saat ini. Yang penting adalah peranan orang tua sendiri, salah satunya adalah dengan selektif memilih smartphone.

Fitur Kids Center


Satu keunggulan dari smartphone Acer Liquid Z320 adalah adanya fitur Kids Center guna membantu para orang tua dalam mengawasi penggunaan smartphone oleh anak- anak.Fitur ini memang dirancang khusus untuk membatasi aplikasi, konten serta akses data yang tidak sesuai dengan usia anak. Kids center juga dilengkapi dengan parental control yang digunakan untuk memantau aktivitas anak, mengatur situs web apa saja yang boleh dikunjungi dan berapa lama waktu yang dimiliki si anak untuk bermain dengan smartphone. Selain itu fitur ini juga dapat mengatur keamanan penggunaan smartphone dan mencegah anak mengunduh konten atau membeli aplikasi tanpa seizin orang tua.

Dan itu masih belum cukup!

Fitur yang sudah pre-install di dalam smartphone ini juga menyediakan aplikasi untuk menggambar, mewarnai dan kamera khusus anak yang dilengkapi berbagai macam pilihan latar belakang dan stiker. Tampilannya pun lucu dan menarik.

Jadi ayah, bunda! tak perlu khawatir jika anak meminjam smartphone kita atau mau membelikannya sendiri.



Desain dan Layar yang Mumpuni 

Acer Liquid Z320 menawarkan desain curve yang dinamis dan stylish. Dengan dimensi 136 x 66.5 mm, ketebalan 9,6 mm, serta memiliki berat body 142 gram, smartphone ini sangat nyaman di genggam bahkan dengan satu tangan sekalipun. Di bagian belakangnya sendiri, Acer Liquid Z320 menggunakan desain hairline brush yang memberikan kesan visual kokoh dan elegan.

Smartphone Acer Liquid Z320 dibekali layar 4,5 inchi yang dilengkapi dengan Acer BlueLight Shield. Teknologi ini membuat mata kita tidak akan cepat lelah saat memandangi layar smartphone dalam waktu yang cukup lama. Selain itu penggunaan jenis layar IPS (In-Plane Switching) dengan resolusi 854×480 pixel menjadikan tampilan layar smartphone dapat terlihat jelas meski di bawah terpaan terik sinar matahari.

Prosessor Canggih serta Performa Multi Tasking

Menjalankan beberapa fungsi atau aplikasi secara bersamaan (multi tasking) tentu bukan hal yang sulit jika kita memiliki Acer Liquid Z320. Dibekali dengan prosesor quad-core berkecepatan 1.1GHz dari Qualcomm membuat daya baterai lebih hemat.

Kecepatan internet yang dimiliki Acer Liquid Z320 memang belum didukung 4G LTE namun dengan koneksi data HSDPA hingga 42Mbps sudah dapat mencukupi kebutuhan kita untuk chatting, browsing juga bermedia sosial. Apalagi dengan RAM sebesar 1 GB dan kapasitas memori internal 8 GB, tentu saja semua sudah dapat membantu aktivitas sehari- hari. Kita dapat menyimpan banyak file baik dokumen, foto, video dan lainnya dengan leluasa. Jika masih kurang, kita bisa memasukkan microSD ke dalam card slot yang tersedia di dalam Acer Liquid Z320. Selain itu smartphone ini juga menyediakan baterai Lithium-Polymer berkapasitas 2.000 mAh yang cukup memasok daya untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk pemakaian normal bisa bertahan 9-10 jam loh!

Dual Kamera

Untuk mengabadikan banyak moment yang terjadi dalam kehidupan sehari- hari kita, Acer Liquid Z320 menyediakan kamera utama 5MP yang dilengkapi dengan autofocus plus LED flash yang bisa digunakan untuk berfoto dalam keadaan kurang cahaya.

Mau selfie?

Tenang saja, Acer Liquid Z320 juga memiliki kamera depan 2MP yang sudah dilengkapi fixed focus dan didukung voice Camera Control sehingga mengambil foto selfie cukup dengan perintah suara.


Selain itu untuk yang doyan memfoto makanan ada fitur Gourmet Mode pada yang dibenamkan pada Acer Liquid Z320. Fitur ini bisa memungkinkan kita untuk mendapatkan foto makanan yang terbaik sebelum akhirnya kita bagikan di media sosial ataupun blog.

Audio Terbaik


Keunggulan lain yang dimiliki Acer Liquid Z320 adalah dukungan DTS Studio Sound pada pemutar musik. Kualitas suara yang dihasilkan sangat jernih, lantang serta kencang. Selain itu fitur DTS Studio Sound juga memberikan pilihan preset equalizer untuk mengatur sendiri fitur musikalitas sehingga pas dan dinamis untuk didengar. Tak ketinggalan smartphone ini juga menyelipkan radio FM menjadi salah satu fitur hiburan yang bisa digunakan untuk mengusir kebosanan.

Harga Terjangkau

Dengan seabrek kelebihan, mungkin kita akan mengira akan merogoh kantong dalam- dalam untuk memiliki smartphone Acer Liquid Z320. Tentu saja tidak, karena dengan harga 1 jutaan, kita sudah dapat memperoleh smartphone yang memiliki pilihan warna hitam dan putih ini.

Berikut Spesifikasi lengkap Acer Liquid Z320 

Kesimpulan 

Harga terjangkau dengan fitur lengkap serta ramah pada anak! Sudah paket lengkap kan untuk memiliki smartphone ini Apalagi untuk para orang tua, khususnya para ibu yang sering was- was jika smartphonenya dipinjam anak.
So, tunggu apalagi? Dapatkan Acer Liquid Z320 di Acer store atau toko handphone terdekat ya!!!

 
Tulisan diikut sertakan pada Blog Competition Acer Liquid Z320


Lampung, Januari 2016

Jumat, 22 Januari 2016

Menambang Tanpa Merusak, Mungkinkah?







Mendengar kata tambang, yang terlintas di benak masyarakat awam seperti saya tentu saja stigma negatif. Tayangan media serta gambar- gambar lingkungan sekitar penambangan yang bertebaran di dunia maya memang menjelaskan bagaimana rusaknya lingkungan akibat adanya kegiatan penambangan. Belum lagi ditambah kampanye aktif para pencinta serta aktivis lingkungan. Hal ini tentu saja membuat saya yang benar- benar tak pernah bersentuhan dengan dunia tambang berpikir apapun itu, jika terkait penambangan maka selalu yang tersisa adalah kerusakan lingkungan.

Jadi benarkah selamanya begitu?

Indonesia merupakan negeri yang dianugerahkan Tuhan dengan bentang alam yang memikat serta kandungan sumber daya alam yang melimpah. Termasuk di dalamnya berbagai jenis bahan tambang. Baik logam non logam, batuan bahan konstruksi dan industri, batu bara, panas bumi maupun minyak dan juga gas bumi. Maka seyogyanya sumber daya alam ini dapat dimanfaatkan secara optimal demi kepentingan kepentingan dan kemakmuran rakyat, seperti yang tertuang dalam amanat UUD 1945 Pasal 33.

Nyatanya dalam perekonomian kita sektor pertambangan memegang peranan signifikan. Adanya kegiatan penambangan memang mampu meningkatkan roda perekonomian yang berarti berpengaruh pada devisa, menambah penghasilan negara maupun daerah dalam bentuk pajak, retribusi ataupun royalty serta memperluas lapangan kerja. Hal ini tentu saja menjadikan taraf hidup masyarakat kita menjadi lebih baik.

Namun kembali lagi, dibalik sisi positif tentu saja selalu ada sisi negatif. Penambangan jelas- jelas mengubah bentuk bentang alam, mengusik habitat serta ekosistem di sekitar, hilangnya daerah resapan air di sekitar perbukitan, pelumpuran di dalam sungai, efek rumah kaca, terbentuknya cekungan- cekungan besar yang mempengaruhi aliran air dan bentuk tanah serta polusi udara yang timbul akibat adanya kegiatan penambangan. Untuk itu perlu adanya pengelolaan yang jelas dan berwawasan lingkungan sehingga dapat memperkecil atau menghilangkan kerusakan yang terjadi.

Pemerintah melalui UU No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) sebenarnya sudah berperan serta dalam melestarikan lingkungan. Larangan serta sanksi- sanksi tegas tercantum jelas dalam pasal- pasal yang terdapat di dalam undang- undang. Hanya saja dalam praktek di lapangan ada saja oknum- oknum yang lalai menjalankan tugasnya hingga kerusakan pun tetap terjadi.

Pengelolaan pertambangan sering hanya dilakukan pada saat penambangan saja. Padahal seharusnya pengelolaan pertambangan dilakukan sejak awal hingga akhir tahapan. Sebelum bahan tambang ditambang, perlu pengkajian akan kelayakan bahan tersebut. Pengkajian dan perencanaan yang matang serta menyeluruh, tak hanya lokasi, namun juga sistem manajemen lingkungan, standar kualitas, mutu, keselamatan dan banyak hal yang akan diterapkan pada kegiatan penambangan termasuk reklamasi pasca berakhirnya kegiatan.

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian dalam mempertimbangkan lokasi, diantaranya:

1. Letak lokasi sedapat mungkin menghindari resapan air hingga tidak mempengaruhi aliran air . Demikian pula jika penambangan di sekitar sungai. Efek buruk yang bisa ditimbulkan adalah pendangkalan sungai yang selanjutnya mengakibatkan banjir.

2. Letak lokasi tidak dekat dengan pemukiman penduduk. Suara bising, keluar masuk kendaraan besar, debu, polusi inilah yang menganggu aktivitas penduduk. Maka sebisa mungkin lokasi penambangan jauh dari perumahan warga.

Terkait standar lingkungan, perusahaan seharusnya mengacu pada ISO 14001. ISO 14001 adalah Sistem manajemen lingkungan yang berisi tentang spesifikasi persyaratan dan panduan untuk penggunaannya. Penerapan ISO 14001 tentu saja memiliki manfaat bagi perusahaan itu sendiri, diantara menurunkan potensi dampak terhadap lingkungan dan pertanggungjawaban lingkungan, menghemat keuangan dengan melakukan konservasi material dan energy juga mendapat citra positif dari public atas tanggungjawabnya pada kelestarian lingkungan

Sustainable Mining Bootcamp merupakan program edukasi dari PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) bagi masyarakat umum untuk melihat langsung proses penambangan dan aktivitas masyarakat di sekitar area tambang Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Melalui program yang disampaikan secara transparan ini, peserta akan mengikuti dengan lengkap praktek-praktek penambangan terbaik dan bertanggung jawab yang kami lakukan, dari sejak batuan ditambang, diproses, pemantauan terhadap lingkungan, hingga persiapan penutupan tambang. Peserta juga akan tinggal dan merasakan langsung kehidupan masyarakat di desa-desa sekitar area tambang, serta mengunjungi daerah-daerah wisata di Kabupaten Sumbawa Barat.



Info tentang adanya sustainable mining bootcamp sebenarnya saya dapatkan beberapa hari lalu. PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) merupakan perusahaan patungan yang sahamnya dimiliki oleh Nusa Tenggara Partnership B.V, PT Multi Daerah Bersaing (PTMDB), PT Pukuafu Indah dan PT Indonesia Masbaga Investama. Newmont dan Sumitomo bertindak sebagai operator PTNNT yang melakukan penambangan di Batu Hijau. Tambang Batu Hijau merupakan tambang tembaga dengan mineral ikutan emas dan terletak di sebelah barat daya pulau Sumbawa, di Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi NTB, Indonesia.

Program ini tentu saja menarik, karena masyarakat dapat melihat langsung kegiatan penambangan yang terjadi. Dari website saya dapatkan tentang informasi bagaimana PT Newmont Nusa Tenggara dapat bersinergi dengan masyarakat sekitar. Kegiatan penambangan tak selamanya merusak dan bertentangan dengan warga karena PTNNT melalui program- programnya justru dapat menyatu dengan masyarakat.

Disebutkan pula saat ini PTNNT telah menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan (SML) ISO 14001. Salah satu komponen penting yang menjadi pusat dari penerapan SML adalah Kebijakan Lingkungan. Kebijakan Lingkungan yang ditandatangani Senior Vice President dan General Manager Operations adalah merupakan komitment terhadap setiap operasi dan fasilitas tambang Newmont Asia Pasifik (APAC) untuk:

  1. Mematuhi semua ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku yang menjadi kewajiban kita sebagai standar minimum
  2. Menerapkan dan menjalankan Sistem Manajemen Terpadu (IMS) APAC dan Standar Spesifik Disiplin guna meminimalkan risiko bahaya terhadap masyarakat dan lingkungan. IMS menyediakan kerangka kerja untuk menetapkan dan mengkaji tujuan dan sasaran guna memastikan peningkatan yang berkelanjutan
  3. Mengidentifikasi dan menilai risiko dan peluang peningkatan serta mengembangkan dan menerapkan rencana peningkatan berkelanjutan guna mengelola risiko yang signifikan, termasuk pertimbangan strategi untuk penanganan:
    1. Air, meminimalkan penipisan persediaan serta penurunan kualitas sumber air melalui maksimalisasi daur ulang air serta efisiensi penggunaan dan pencegahan pencemaran air
    2. Energi dan Efek Rumah Kaca meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi melalui identifikasi, penilaian dan penerapan proyek efisiensi energi guna mengurangi emisi gas rumah kaca serta biaya operasi
    3. Penutupan Tambang, memastikan agar kegiatan penutupan tambang terencana dengan baik dan dilakukan sebanyak mungkin selama tahap operasi dan proses ini dikomunikasikan dengan seluruh pemangku kepentingan terkait guna memastikan pendekatan terpadu terhadap rencana akhir penggunaan tanah
    4. Pengelolaan Tailing, merancang, mengoperasikan dan menonaktifkan fasilitas penyimpanan tailing guna meminimalkan risiko terhadap lingkungan dan pemangku kepentingan
    5. Batuan Sisa, mengelola batuan sisa guna memastikan agar potensi permasalahan yang berkenaan dengan drainase dapat diidentifikasi dan dikelola, dan strategi rehabilitasi dapat mendukung struktur yang stabil dan aman
  4. Memadukan, pertimbangan lingkungan ke dalam semua aspek keputusan bisnis dan kegiatan perusahaan, guna meminimalkan dampak terhadap lingkungan, mencegah pencemaran, meminimalkan kewajiban finansial jangka panjang dan meningkatkan manfaat di bidang sosial
  5. Menyeleksi, personel yang kompeten, berkualifikasi dan tepat, serta memberikan pelatihan dan menetapkan standar yang memungkinkan karyawan, kontraktor dan pemasok dapat mengenali potensi dan dampak sosial aktual atas kegiatan mereka sehingga mereka dapat berupaya untuk memenuhi ketentuan dalam Kebijakan ini
  6. Melaksanakan program inspeksi, audit dan penilaian rutin serta menindaklanjuti rekomendasi untuk peningkatan dengan segera mengambil keputusan dan langkah tindak lanjut
  7. Melibatkan, para pemangku kepentingan atas perhatian, aspirasi dan nilai mereka yang berkaitan dengan aspek pengembangan, operasional dan penutupan tambang, dan mengakui adanya kaitan yang erat antara masalah lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya
  8. Mengkomunikasikan, kinerja kita secara terbuka, akurat, transparan dan tepat waktu
Jika memang demikian yang terjadi di PT Newmont Nusa Tenggara, berarti inilah kesempatan saya untuk mengubah pola pikir.

Lampung, Januari 2016

*Tulisan diikutsertakan pada Sustainable Mining Bootcamp PT Newmont Nusa Tenggara

 

Museum Affandi, Melihat Langsung Karya Sang Maestro


“Mau kemana, Mbak?”


“Museum Affandi.”


“Affandi?”


“Iya.”


“Affandi itu siapa, Mbak?”

“????”

Menghabiskan hari terakhir liburan di kota Yogya, museum Affandi menjadi pilihan saya. Selain memang letaknya yang masih bisa dijangkau dengan bis Trans Jogja, saya sendiri juga pengagum karya sang maestro. Jadi sayang rasanya jika tak menyempatkan melihat langsung karya- karyanya.



Di dalam bis saya sempat mengobrol dengan beberapa orang wisatawan asal luar kota juga. Saling bertanya tujuan, dan yang sedikit membuat saya takjub adalah pertanyaannya tentang siapa Affandi? Heheh, ternyata ada juga yang tak mengenal sang pelukis hebat ini ya…


Rasa lelah yang saya rasakan karena kemacetan luar biasa sehingga memperlama waktu tempuh terbayar lunas saat menyaksikan karya- karya Affandi . Ini pertama kalinya melihat karya beliau secara langsung dan sejujurnya saya tak henti berdecak kagum. KEREN BANGET!!


Museum Affandi sendiri terletak di Jl. Laksda Adisucipto No. 167. Dulunya juga tempat tinggal sang pelukis. Letaknya masih di kota jadi cukup mudah ditempuh. Kalau seperti saya yang mengandalkan bis Trans Jogja juga gampang, hanya kita perlu berjalan sedikit jauh dari halte terdekat. Tapi nggak masalah sih, kalau emang niat kayak saya. He…


Berbekal tiket masuk seharga Rp. 20.000, kita bisa puas mengelilingi galeri- galeri yang berada dalam kompleks museum. Saya memulainya dari galeri I yang menampilkan lukisan Affandi dari tahun awal- awal hingga terakhir masa hidupnya. Ada seorang anak SMK yang tengah magang yang menemani saya. Sedikit banyak ia menjelaskan tentang maksud dari lukisan- lukisan tersebut. Sekilas saya bisa merasakan bagaimana seorang Affandi sangat mencintai istrinya, menyayangi anaknya serta menghormati sang bunda. Modelnya memang banyak keluarga karena ketidakmampuannya membayar model saat itu.


Selain lukisan, terdapat dua buah patung yang satu potret dirinya sedangkan yang lain potretnya bersama sang putri, kartika. Ada pula sebuah mobil Colt Gallant yang telah dimodifikasi berbentuk ikan di tengah galeri. Konon, mobil kesayangan itu diubah karena kecintaan Affandi dengan binatang air tersebut. Tak hanya itu di sebuah lemari kaca juga tampak penghargaan- penghargaan yang diraih Affandi serta beberapa benda yang sering digunakan beliau.


Berpindah ke galeri II yang dibangun tahun 1987 atas bantuan presiden Soeharto. Selain lukisan di galeri ini menampilkan sketsa kasar dari Affandi. Beberapa diantaranya terlihat dari kertas singkong. Duh, sketsa kasarnya aja juga bikin takjub loh.


Kalau di galeri I dan II, banyak karya Affandi maka di galeri III hasil karya anak serta cucunya juga ditampilkan. Saya membaca nama Kartika Affandi juga Juki Affandi di beberapa karya. Keduanya adalah anak dari sang maestro (Keterangan dari anak SMK yang nemenin saya loh). Tapi ya pepatah yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya memang terbukti, hasil lukisan mereka juga keren- keren kok. Hadeu, sedikit aja maulah saya kebagian gen pelukis hebat. Hehehe…Satu lagi bangunan yang saya masuki adalah galeri studio yang juga banyak memajang hasil lukisan. Kalau disini, lukisannya kebanyakan dijual sih.


Diantara galeri I dan galeri II terdapat dua buah makam. Makam tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir Affandi dan istrinya, Maryati. Beliau wafat tanggal 23 Mei 1990. Beliau ini benar- benar seniman sejati ya, hingga akhir hidupnya ia memilih berada diantara ratusan koleksinya.


Setelah puas berkeliling dan sebelum pulang saya menyempatkan istirahat sejenak di kafe loteng. Semilir angin serta pohon- pohon yang tumbuh lebat di sekitar kompleks museum membuat nyaman. Yah itung- itung buat energy sebelum berjibaku dengan kemacetan lagi. Hehehe…


Well, ini tempat beneran keren pokoknya (buat saya!). (ISL)



Lampung, Januari 2016

Nb. Mau dipost di Kompasiana tapi pas itu lagi error jadilah mangkrak di laptop aja. Baru ini dipost lagi :)))








[Cerpen] SASLANG



Senyum tak henti  terkulum dari bibir tipisnya. Sedari tadi. Sejak sebaris kalimat dikirimkan dari handphonenya. Sungguh ia tak sabar bertemu si
penerima. Akhirnya saat ini tiba juga, gumamnya dalam hati.
***

Rabu, 20 Januari 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (2)


Dua


Sebelumnya Satu


“Cari kerja teh sekarang susah, Mir!”

Mirah tersenyum getir. Ia menelepon Tina, rekan kerjanya dulu. Satu- satunya teman yang dia miliki saat kerja di kota. Dulu keduanya tinggal di kost yang sama hingga akhirnya Mirah menikah terlebih dahulu.

“Lagian saya udah nggak di Jakarta, Mir. Jadi nggak bisa bantu.”

“Iya.” Mira menyahut pendek. Tadi diawal percakapan, ia memang sudah menanyakan dimana temannya sekarang tinggal. Sejak ia kembali ke kampung, intensitas hubungannya dengan Tinah memang berkurang. Saling bertukar sapa via telepon pun semakin jarang. Terakhir yang Mirah ingat, keduanya berkomunikasi sekitar tiga atau empat bulan yang lalu saat Tinah bercerita tengah berhubungan serius dengan seorang laki- laki.

“Jadi kapan nikahnya?” Tanya Mirah lagi. Tinah memang sudah tidak di Jakarta karena akan menikah. Gadis itu kembali ke kampungnya di Cianjur.

“Akhir bulan. Doain ya!”

“Selalu.” Mirah tersenyum tipis. “Tapi maaf aku nggak bisa datang.”

“Nggak papa, Mir. Jauh pisan. Yang penting doanya ya!” Mira manggut- manggut.” Eh tapi beneran kamu teh mau kembali ke Jakarta? Kasihan atuh anak kamu ditinggal.”

Mirah menghela nafas berat. “Sebenarnya nggak tega ninggalin Rania. Tapi mau gimana lagi, Tin! Kebutuhan semakin banyak.”

“Ck, gara- gara Faisal tea kamu hidup sengsara sekarang!” Umpat Tina dari seberang. “Tau kitu teh saya dulu nggak akan ngerestuin dia deketin kamu.”

“Ya udahlah, Tin. Masa lalu itu. Nggak usah dibahas. Yang pasti kami sudah bercerai.”

“Iya bagus itu! Eh tapi saya punya teteh di sana. Kalau kamu mau nanti saya coba hubungi dia. Siapa tahu dia bisa bantu kamu.”

“Teteh?”

“Iya. Teh Nena namanya. Saudara tapi jauh sih. Belum lama kamu kembali ke kampung, dia pindah ke Jakarta. Katanya sih sebelumnya dia tinggal di Bandung. Saya juga  ketemu dia waktu udah di Jakarta.”

“Oh,” Mulut Mirah membulat. Sesungguhnya dia benar- benar tak kenal dengan nama Nena. “Tapi apa nggak ngerepotin?”

Suara kekehan terdengar, “Ish kamu kayak apa aja. Udah tenang aja. Besok nikahan juga dia datang. Nanti biar saya ngomong ya!”

“Nggak papa nih?”

“Nggak papa. Udah santai aja, Mir. Nanti coba saya tanya- tanya sama dia ya.”

Mira mengangguk namun sedetik kemudian ia tersadar jika Tina tak melihat anggukannya. “Makasih ya, Tin.”

“Iya sama- sama. Ya udah kalau gitu ya. Saya masih harus nganterin emak nih. Besok- besok kita sambung ya.”

“Oh iya- iya. Sekali lagi makasih ya, Tin.” Ujar Mirah menutup percakapan. Ia pun segera memutus sambungan sesaat setelah mengucap salam.

Dihelanya nafas dalam- dalam. Sudah berhari- hari ini ia mencoba memikirkan tentang hidupnya juga anaknya. Perkataan ibunya terus bergema di telinganya. Tak ada salahnya mungkin jika ia kembali ke ibukota. Toh semua juga demi Rania? Gadis kecilnya butuh biaya yang cukup besar untuk sekolah. Dan sekolah tak hanya setahun dua tahun. Jenjangnya cukup lama.

“Ibuuuuuuuu!”

Mirah terkesiap seketika. Rania muncul setelah berteriak cukup kencang. Dengan terengah- engah gadis kecil itu menghampiri ibunya. Ia tampak manis dalam balutan busana muslim yang melekat pas di tubuhnya.

“Pulang ngaji kok teriak- teriak sih, Nak. Harusnya masuk rumah bilang apa?”

Assalamualaikum.” Jawab Rania nyengir.

Mirah tersenyum lalu mengusap lembut puncak kepala anaknya, “Walaikumsalam.”

“Hehehe, Lupa, Bu!” ujar Rania masih dengan cengiran khasnya yang membuat Mirah hanya bisa menggelengkan kepala berulang kali.

“Namanya salam nggak boleh lupa. Itukan doa juga.”

“Iya, siap!” Rania tersenyum dan mengangguk cepat. Mirah tersenyum tipis. Entah apa yang akan terjadi jika ia berjauhan dengan Rania. Selama ini ia bisa bangkit dari ketepurukan dan masalah yang membelitnya karena keberadaan Rania di sampingnya. Kini jika ia harus berpisah….

Dia benar- benar tak bisa membayangkan…

“Ran!” Rania mendongak. “Ganti baju terus makan yuk! Ibu tadi beli sate di Mang Karim.”

“Sate!” Binar bahagia terlihat jelas di kedua bola mata Rania. Mirah tertawa melihatnya. Dia tahu betul jika Rania sangat menyukai sate ayam.

“Yee! Makan sate!” Teriak gadis itu girang. “Rania ganti baju dulu ya, Bu!” Ucapnya lagi seraya ngeloyor masuk ke dalam kamar. Sepeninggal Rania, Mirah pun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

Bisakah aku?

***

Darmini mendengus gusar sembari menutup buku yang ada di atas meja dengan kasar. Perempuan baya itu tak habis pikir kenapa catatan hutangnya tak pernah juga berkurang. Yang ada justru semakin bertambah hingga memusingkan kepalanya di setiap saat.

Darmini menghela nafas berat. Entah sampai kapan kemiskinan mendera keluarganya. Hutang tak kunjung lunas, kebutuhan semakin banyak ditambah harga- harga bahan pokok yang makin mahal. Keluarganya benar- benar miskin. Penghasilan Mirah, anaknya pun masih jauh dari kurang. Padahal dia sudah berkerja lebih keras, tetapi tetap saja kian hari keadaan semakin sulit.

Angan Darmini melayang jauh ke belakang. Ia kembali mengenang kehidupannya di masa lalu. Keluarganya tidak kaya raya tapi juga tidak semiskin sekarang. Yang pasti semua kebutuhan tercukupi. Tak ada kekurangan. Tetapi semenjak Amrin, suaminya sakit kehidupan keluarga merosot hingga titik terendah. Banyaknya biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan telah menghabiskan seluruh harta yang mereka miliki. Bahkan akhirnya ia terjebak hutang dengan rentenir kampung. Alih- alih bisa terbayar dengan mencicil, yang ada justru bunga yang semakin tinggi hingga terasa mencekik.

Namun, satu hal yang diam- diam disyukurinya adalah keberadaan Mirah. Anak sulungnya itulah yang mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga. Mirah bekerja keras untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga serta mencicil hutang yang ditinggalkan suaminya. Entah apa jadinya bila tak ada Mirah, karena dia sendiri juga tak mampu berbuat banyak. Kondisi fisiknya jelas tak sekuat dulu, apalagi penyakit asma yang diidapnya juga melarangnya bekerja terlalu keras.

Tetapi walaupun Mirah telah berusaha keras tetap saja penghasilan yang didapatnya masih kurang untuk menutupi pengeluaran selama ini. Bahkan terkadang hutang tak dapat terbayar, yang berarti akan menambah kembali bunga di bulan selanjutnya. Entah kapan lunasnya kalau seperti ini, gumamnya dalam hati. Apalagi tahun ini Rania, cucunya serta Kumala, anak bungsunya sama- sama membutuhkan biaya untuk masuk sekolah. Dan tentu saja biaya yang tidak sedikit.

Argh, Darmini mengerang frustasi. Sejenak dipijitnya pelipis dengan kedua tangan. Hanya memikirkan saja kepalanya bertambah pusing. Entah apa jadinya nasib keluarganya nanti? Darmini tak bisa bayangkan.

Dia benar- benar ketakutan. Ya Tuhan, bagaimana ini?
***

=tbc=

Selanjutnya  di sini

Lampung, Januari 2015

Minggu, 10 Januari 2016

Menguak Keindahan Kota Yang Pernah Hancur Diterjang Bom Atom



Hingga saat ini, Jepang masih menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan di seluruh dunia. Keelokan alam yang masih asri, budaya lokal yang tetap terjaga serta kesantunan penduduknya menjadi daya tarik dari negeri dengan julukan matahari terbit ini. Maka tak heran jika Jepang selalu kebanjiran turis di setiap tahunnya.

Menyebut Jepang, mungkin Tokyo yang akan pertama kali terlintas di benak kita. Sebagai kota pusat pemerintahan dan metropolitan, Tokyo memang menawarkan banyak tempat wisata menarik yang bisa dikunjungi. Sebut saja Tokyo Tower, Harajuku, Tokyo Dome, Shibuya, dan masih banyak lagi tempat- tempat lain yang cukup terkenal. Namun Jepang tak selamanya Tokyo, masih banyak kota lain yang tak kalah mempesona. Salah satunya adalah Hiroshima.

Mendengar kata Hiroshima, mungkin kita akan berpikir kota ini tak secantik kota- kota lain yang berada di negeri Jepang. Mengingat sejarah kelam yang pernah terjadi di sini. Bahkan kota ini pernah diramalkan dalam 70 tahun tidak akan ada tumbuh-tumbuhan yang bisa tumbuh pasca serangan bom. Ya, sejarah dunia mencatat Hiroshima adalah kota yang pertama kali dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat saat perang dunia II meletus. Tepat di tanggal 6 Agustus 1945, Hiroshima luluh lantak tak bersisa diterjang bom seberat 4000kg. Ribuan nyawa melayang, ratusan orang hilang, entah berapa tepatnya jumlah korban serangan itu namun yang pasti Hiroshima tak lagi sama. Hanya tersisa puing- puing reruntuhan bangunan, duka yang mendalam serta efek radiasi nuklir yang berbahaya untuk waktu yang cukup lama.

Mengingat kejadian itu, mungkin orang takkan mengira kota Hiroshima kini tampil jauh berbeda. Pesatnya pembangunan dilakukan pemerintah dan warga membuat Hiroshima tampil memikat dan dikenal sebagai destinasi wisata sejarah di Jepang.

Terletak di di tepi Laut Pedalaman Seto dan merupakan ibukota Prefektur Hiroshima, kota Hiroshima sekarang dikenal dunia dengan sebutan Kota Perdamaian. Sebutan yang awalnya diproklamirkan parlemen Jepang atas inisiatif wali kota Shinzo Hamai di tahun 1949. Belajar pada sejarah, mereka tidak lagi ingin ada kejadian serupa terulang di negara manapun.

Ada banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi saat berada di kota Hiroshima, beberapa diantaranya adalah:

1. Monumen Perdamaian Hiroshima/Genbaku Dome (原爆ドーム?) (Atomic Bomb Dome)

Untuk mengenang peristiwa yang terjadi di kota Hiroshima, maka didirikanlah monumen yang diharapkan menjadi simbol harapan umat manusia untuk perdamaian dan pemusnahan senjata nuklir. Monumen yang terletak di pusat kota Hiroshima ini berupa sebagian gedung yang tersisa akibat ledakan bom atom kini merupakan salah satu situs warisan dunia UNESCO sejak tahun 1996. Dan tiap tahunnya monumen ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.

2. Taman Peringatan Perdamaian

Monumen Perdamaian Hiroshima terletak di dalam Taman Monumen Perdamaian Hiroshima yang terletak di sisi jembatan Aioi yang membentuk huruf T. Taman yang berada di pusat kota ini dipenuhi dengan pepohonan dan rerumputan yang hijau menyegarkan. Sebelum dibom bagian taman merupakan bangunan pemerintahan, politik dan komersial yang ada di tengah kota. Pasca bom terjadi, pemerintah sepakat tidak lagi mendirikan bangunan di lokasi ini, namun dijadikan sebagai taman untuk mengenang kejadian yang meluluhlantakkan kota tersebut.

3. Taman Shukkeien


Taman Shukkeien yang didirikan pada tahun 1620, letaknya tak jauh dari taman monumen perdamaian. Di dalam taman Shukkeien terdapat Hiroshima Prefectural Art Museum. Taman ini awalnya milik keluarga Asano. Asano Nagaakira, seorang tuan tanah di zaman Edo yang memerintah Hiroshima sengaja mendatangkan ahli khusus untuk membangun taman tersebut. Namun sejak tahun 1940, keturunan Asano telah menyerahkan kepemilikan taman kepada negara secara sukarela.

4. Kastil Hiroshima


Tempat lain yang menyimpan sejarah adalah Kastil Hiroshima. Kastil yang dibangun pada tahun 1589 juga turut menjadi saksi bagaimana dahsyatnya serangan bom. Beberapa bagian dari kastil megah ini juga runtuh akibat serangan bom yang dinamakan little boy. Namun selain menyimpan kenangan sejarah, kastil ini banyak dikunjungi wisatawan karena pemandangannya yang indah. Desain bangunan yang menjulang tinggi dengan tanaman yang tumbuh di sekitarnya, menciptakan panorama yang luar biasa cantik. Kastil dengan lima atap ini sangat rapi serta elegan hingga membuat siapapun tak bosan menatapnya.

5. Tomonoura

Terletak di sebelah selatan Hiroshima, Tomonoura menghadirkan wisata pantai yang menawan. Tempat ini tak hanya menyajikan cantiknya pemandangan Laut Pedalaman Seto saja, tapi kota nelayan dengan kehidupan tradisionalnya.

6. Kuil Itsukushima

Si kuil mengapung di lautan?

Tak mungkin rasanya, namun demikianlah sebutan untuk kuil Itsukushima yang terletak di Miyajima, perfektur Hiroshima. Gerbang kuil atau yang disebut torii Itsukushima memang terlihat seolah- olah melayang di atas laut. Padahal sejatinya kuil yang dibangun tahun 1168 ini dibangun dengan penyangga di bawahnya, sehingga saat ombak Laut Pedalaman Seto naik, kuil akan tertutup oleh air laut sehingga menampakkan pemandangan seperti mengapung di laut. Selain itu kita juga dapat melihat isi kuil lebih dekat dengan berjalan kaki di area jalan kayu yang dibuat di antara bangunan-bangunan yang mengapung. Penyangga jalan kayu ini cukup kokoh untuk dilewati jadi tak perlu khawatir tenggelam ke laut. Bila malam menjelang, kuil makin mempesona karena cahaya yang ditampilkan.



7. Miyajima

Miyajima adalah pulau kecil yang indah dan romantis. Ditempuh dalam waktu satu jam dari Hiroshima. Di Miyajima inilah letak kuil Itsukushima berada. Nama resmi pulau Miyajima sebenarnya adalah Itsukushima, tetapi penduduk setempat lebih akrab dengan nama Miyajima, sesuai dengan artinya yaitu pulau kuil. Selain kuil Itsukushima, Miyajima juga menawarkan destinasi lain seperti kuil Daisho-in, Senjokaku, Museum Sejarah, dan Miyajima Aquarium.


Setelah berkeliling Hiroshima, tak lengkap jika kita tak mencicipi jajanan khasnya. Terdapat tiga makanan yang wajib dicoba di Hiroshima.

1. Okonomiyaki

Okonomiyaki merupakan kebanggaan Hiroshima. Makanan ini berupa campuran mie goreng , dengan banyak sayuran , makanan laut dan terjepit diantara dua telur goreng serta drizzled dengan saus okonomiyaki khusus. Saus ini dibuat dari ramuan kecap Jepang dengan saus tiram dan bumbu lain, serta mayones. Makanan ini amat populer di kalangan wisatawan, bahkan belum lengkap mengunjungi Hiroshima jika tak mencoba penganan ini.



2. Kaki ryouri
Hiroshima sejak dulu dikenal sebagai pusat perkembangbiakan tiram dan Kaki Ryouri adalah makanan khas Hiroshima yang berbahan dasar tiram laut.








3. Momiji Manju

Satu lagi yang khas dari Hiroshima adalah penganan berupa kue yang berbentuk daun yang disebut Momiji Manju. Kue ini memang dicetak dengan bentuk menyerupai daun momiji, yaitu sejenis daun maple Jepang. Secara tradisional, kue yang terbuat dari tepung beras dan tepung lainnya itu berisi anko atau kacang merah dan gula yang digiling halus. Namun saat ini, isi momiji sudah beraneka, mulai dari cokelat hingga keju, serta berbagai selai buah. Selain ketiga makanan, Hiroshima juga terkenal sebagai perfektur penghasil sake terbaik. Jadi bagi yang berminat, tak ada salahnya mencicipi sake lokal khas Hiroshima.


Selain menyajikan panorama yang indah serta makanan yang lezat, di setiap tahunnya Hiroshima juga menggelar Hiroshima Flower Festival. Acara ini hanya ada di bulan mei dan diawali pada tanggal 3 Mei dengan parade bunga. Sepanjang sungai akan dihias bunga- bunga yang menarik lalu kelompok marching band, penari serta kelompok warga lokal akan berjalan di sepanjang Peace Boulevar, tempat dimana panggung parade utama diadakan. Selanjutnya akan ada pertunjukan dari beberapa bintang tamu yang diundang.



Hiroshima Flower Festival selalu menarik banyak wisatawan. Salah satunya karena adanya tempat stand makanan Internasional. Selain itu ada pula Flower candle massage, acara yang menghadirkan ratusan lilin yang dihias dengan pesan damai. Pemandangan pada saat lilin-lilin dinyalakan merupakan pemandangan yang sangat indah pada waktu malam hari.

Tak hanya itu setiap tanggal 6 Agustus, kota Hiroshima akan memperingati kejadian saat mereka di bom atom. Setiap tahun di tanggal tersebut, walikota .para keluarga korban, juga warga sekitar akan mengadakan upacara peringatan tersebut dengan melakukan doa selama 1 menit untuk para korban tepat pada pukul 8.15 pagi. Dan saat senja menjelang , lentera-lentera akan diterbangkan ke langit. Acara ini tentunya mengingatkan kita bahwa perang selamanya hanya menyisakan kesedihan dan duka yang tak kunjung usai.

Well, mau belajar sejarah dengan panorama memikat dan makanan nikmat? Hiroshima bisa jadi pilihannya kan.

Untuk mengunjungi Hiroshima sendiri tak sulit. Ada dua transportasi yang bisa dipilih. Bila menggunakan shinkansen dari Tokyo kita akan menghabiskan waktu tempuh selama 4 jam. Namun waktu tempuh menjadi lebih singkat jika menggunakan pesawat terbang. Bandara Hiroshima sendiri terletak 50 KM ke arah Timur dari pusat kota Hiroshima. Bandara ini tak hanya melayani penerbangan lokal namun juga beberapa penerbangan internasional dari Seoul, Dalian, beijing, Shanghai, Taipei, dan Guam.

Masih bingung mau kesana?

H.I.S menyediakan layanan baik individual atau grup tour dengan tujuan perjalanan domestik maupun Internasional. Dan kini H.I.S telah berkolaborasi dengan ANA (All Nippon Airways) yang merupakan layanan khusus yang dirancang untuk wisatawan asing yang datang ke Jepang. HAnavi, kolaborasi antar keduanya menyediakan paket tiket penerbangan domestik + hotel dengan harga MURAH MERIAH. Untuk lebih jelas kita bisa mendapatkan informasinya di Facebook H.I.S

So, tunggu apalagi? Yuk, nabung buat jalan- jalan ke negeri sakura!!!

Ikuti Present Campaign HIS Winter Tour Blogging Competition

Sumber:

Wikipedia.com
Jalan2kejepang.com
Jepang.panduanwisata.com
Merdeka.com



Kembang Desa Pulau Panggung (1)


PROLOG 

“Kamu yakin, Mir?”

Mirah mengangguk cepat. “Saya yakin, Teh.”

“Ta-tapi, Mir ini…,”

Dengan cepat Mirah meraih tangan Nena yang duduk di hadapannya lalu menumpukan dengan kedua tangannya. “Teteh nggak usah khawatir. Saya akan baik- baik saja. Lagian ini nggak lama kan? Toh selama ini teteh baik- baik saja melakukannya kan?”

“Iya. Tapi kamu kan beda, Mir. Kalau teteh…,”

“Percaya sama Mirah, Teh! Mirah akan baik- baik saja.” Potong Mirah cepat membuat Nena menggelengkan kepalanya berulang kali. Tak lama wanita itu menghela nafas berat.

“Ya sudah kalau itu keputusan kamu. Teteh teh nggak bisa bilang apa- apa lagi.”

Mirah tersenyum tipis. “Makasih, Teh!”

Nena mengangguk lemah. “Kalau begitu besok kita langsung menemui Pak Bandi. Dia yang akan mengurus semuanya. Yang penting kamu siapin semua berkasnya.”

Mirah pun manggut- manggut. “Tapi ingat satu hal, Mir?” Lanjut Nena yang seketika membuat Mirah mengernyit heran.

“Sekalipun jangan pernah gunakan hatimu!”


Satu

Malam kian larut, suasana pun semakin sunyi. Orang- orang pun mulai terlelap, mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian beraktivitas. Tapi tidak semua, karena nyatanya kedua bola mata Mirah justru masih terjaga padahal sudah seharian ini wanita muda itu berjualan di pasar. Tubuhnya jelas didera kelelahan, tetapi kerjanya tak berirama dengan kinerja otak. Terlalu banyak yang dipikirkan hingga membuatnya sulit tidur.

“Mau sampai kapan kamu begini, Mir? Kamu nggak ingat anakmu sudah mau masuk sekolah?”

“Biaya sekolah itu gede, Mir! Itu adikmu juga mau masuk SMA! Belum hutang ayahmu yang harus terus dibayar. Duit dari mana semua itu, Mirah?”
Mirah menghela nafas berat. Ingatannya kembali terngiang kata- kata ibunya tadi sehabis makan malam. Sebenarnya bukan baru kali ini ia mendengar keluhan sang ibu, sudah berkali- kali. Dan berkali- kali pula ia dibuat pusing memikirkannya. Tanpa harus mendengar ibunya mengeluh pun, Mirah sudah tahu masa depan yang akan dihadapinya. Ia sudah sangat sering memikirkannya. Anaknya yang akan masuk sekolah berbarengan dengan adik bungsunya yang akan masuk sekolah menengah. Dan keduanya jelas membutuhkan jumlah uang yang tak sedikit.

Selama ini dirinyalah tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal setahun lalu. Ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ibu, adik dan seorang anak perempuan yang cantik. Mirah memang seorang ibu, tetapi ia telah bercerai dengan suami tiga tahun lalu. Dan sejak perpisahan, Mirah memang kembali ke rumah atas permintaan kedua orang tuanya.

“Kamu apa nggak minat kerja lagi di kota? Hasilnya kan lumayan, Mir. Itu anak kamu biar ibu yang urus.

Mirah tahu penghasilannya dari menjual lontong sayur di pasar memang tak seberapa. Selama ini hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari keluarganya. Dan beberapa bulan lagi Rania, gadis kecilnya akan masuk sekolah. Sudah menjadi rahasia umum, jika ingin pendidikan yang baik di negeri ini maka bersiaplah dengan angka nominal yang juga besar.

Tak ada yang benar- benar gratis.

Itu baru Rania, ditambah lagi dengan Kumala yang juga akan masuk SMA. Selama ini duduk di bangku SMA, Kumala mendapat bantuan dari Mang Aswin, adik ibunya. Tetapi mengingat makin besarnya biaya yang dibutuhkan, rasanya tak enak jika terus mengandalkan pamannya. Beliau juga punya keluarga.

Lagi- lagi Mirah menghembuskan nafas dengan berat. Apa iya, dia harus kembali ke kota? Kalau dia pergi bagaimana dengan anaknya? Bisakah dia terpisah dari putrinya?Selama ini Mirah tak pernah jauh dari Rania. Sejak hamil Rania, Mirah tak lagi bekerja. Faisal, mantan suaminya tak menginginkan terjadi sesuatu hal yang membahayakan kandungannya. Padahal dulu ia hanya bekerja sebagai karyawan di bagian pengecekan barang yang akan dikirim. Bukan pekerjaan yang berat sebenarnya, tapi tetap saja sebagai baktinya pada suami ia pun menurut. Hingga kemudian melahirkan Rania lalu membawanya kembali ke kampung halaman karena perceraian, Mirah benar- benar tak pernah terpisah dengan anak perempuannya.

Mirah menarik nafas panjang. Ia melirik jam di dinding. Sudah hampir pukul 12 malam dan matanya masih belum terpejam. Tidur, dia harus tidur, bisiknya dalam hati. Dini hari nanti dia harus bangun untuk membuat lontong sayur yang akan dijual. Kalau ia tak tidur malam ini bisa dipastikan dirinya akan bangun kesiangan dan tentu saja hal itu berakibat buruk pada penghasilannya.

Mirah menoleh, lalu tersenyum. Apapun Nak, apapun akan ibu lakukan untukmu? Gumamnya seraya menatap Rania yang sudah terlelap sedari tadi.

***

Wee, Mir makin ayu wae!” 

Mirah tersenyum. Karim, lelaki yang pernah menjadi temannya di sekolah tengah menghampirinya. Lelaki itu mengambil tempat di kursi panjang yang memang sengaja disiapkan untuk beberapa orang yang hendak makan di tempat.

“Makan, Rim?”

“Iyolah. Aku neng kene yo arep mangan.” Sahut Karim, “Sekalian lah ndelok gadis ayu.” 

“Aku udah nggak gadis lo, Rim. Duwe buntut siji.”
Karim tergelak, “Ra ketok, Mir! Jek koyo perawan ting-ting!”
Mirah hanya tertawa kecil menanggapi rayuan temannya. Ia sudah sangat biasa menanggapi laki- laki yang menggodanya.

“Woo, karim kau ini pagi- pagi sudah sibuk merayu Mirah.” Roni, pegawai di kecamatan muncul menyela obrolan keduanya. Lelaki berseragam itu mengambil tempat di samping Karim. Sembari memamerkan senyumnya di pagi hari, ia memesan seporsi lontong sayur pada Mirah.

“Minumnya teh manis ya, Mir.” Katanya lagi. Mirah mengangguk sekilas. Tangannya dengan sigap melayani permintaan pelanggan- pelanggannya.

“Kau ini tak ada kerjaan apa, pagi- pagi sudah kemari?”

Karim mencibir, “Lah abang jam segini belum ke kantor?”

“Aku kan mau sarapan dulu.” Jawab Roni mengeles membuat Karim terkekeh. Sudah bukan rahasia lagi, Mirah adalah kembang desa bagi kaum adam di kampungnya. Meskipun kini berstatus janda sekalipun, Mirah masih menjadi primadona. Apalagi sekarang wanita itu terlihat lebih matang dan dewasa hingga membuat banyak lelaki tak segan mendekatinya.

“Pagi, Mirah!”

Mirah mendongak, lalu bibirnya mengulas senyum saat mendapati Handoko ikut bergabung dengan dua lelaki sebelumnya. Lelaki yang berprofesi sebagai polisi itu juga selalu sarapan di tempatnya.

“Eh, Mas Han. Makan juga?”

Handoko mengangguk. “Iya, Mir. Seperti biasa ya!” Katanya seraya memamerkan senyum yang tak kalah manis hingga membuat Karim dan Roni mendengus di sela kunyahan. Dan wajah kedua lelaki itu bertekuk saat mendengar suara mobil berhenti tak jauh dari tenda jualan Mirah. Seorang laki- laki sedikit berumur dengan penampilan perlente tampak keluar dari mobil. Hardian, salah satu orang kaya di kampung mereka pun turut bergabung di tenda Mirah pagi ini.

“Selamat pagi, Mira Sayang!”

***

Lahir dari perpaduan suku lampung, semendo juga jawa memang membuat Mirah memiliki kecantikan yang khas. Tubuhnya yang putih dan mulus ditunjang dengan wajah yang manis membuat orang tak bosan menatapnya. Lesung pipi yang menghias di salah satu pipinya pun makin terlihat menggemaskan. Pribadinya yang santun serta ramah juga menambah banyak kekaguman orang padanya. Mirah kecil sudah disukai banyak orang- orang di kampungnya. Beranjak dewasa ia tumbuh menjadi gadis yang menawan hingga membuat banyak pemuda tertarik padanya. Tetapi sayang, angan pemuda sekampung harus kandas karena Mirah lebih memilih bekerja di kota setelah menyelesaikan SMA. Bahkan tak lama setelah itu harapan pemuda pun pupus sudah saat menerima fakta Mirah bersanding dengan Faisal, teman kerjanya di kota.

Namun siapa sangka takdir mengubah hidup Mirah. Perceraiannya dengan Faisal, membuat wanita itu kembali ke kampung. Tentu saja hal itu menjadi berita bahagia untuk banyak lelaki yang masih menyimpan rasa padanya. Buruk memang, tapi itulah pesona seorang Mirah di mata mereka. Wanita cantik sang kembang desa yang menjadi idola mereka.

***

=tbc=

Selanjutnya Dua


Catatan Makin ayu wae: Makin cantik saja 
Aku neng kene yo arep mangan : saya ke sini ya mau makan .
Sekalian lah ndelok gadis ayu : Sekalian lah lihat gadis cantik
Duwe buntut siji : Punya anak satu
Ra ketok! Jek koyo perawan ting-ting: Nggak kelihatan. Masih kayak perawan.

Jumat, 08 Januari 2016

[Cerpen] Pulang Kampung



 gambar diambil dari inspiringwallpaper.net



Pulang Kampung

Gadis itu menatap nanar pada pandangan di depannya. Sungguh ia merindukan tempat ini. Tanah kelahirannya. Desa kecil yang memiliki sejuta pesona keindahan. Bukti kuasa Tuhan di bumi. Disini ia dilahirkan dan dibesarkan. Tumbuh bersama ketiga adik- adiknya, menapaki masa kecil dengan hati riang bersama teman- teman sebayanya. Is menarik nafas perlahan dan menghembuskannya kembali. Ah, sudah Lima tahun berlalu, banyakkah yang berubah? Tanyanya dalam hati. Gapura ucapan selamat datang berdiri tegak di depannya. Tampak lebih megah dibanding lima tahun lalu yang hanya terbuat dari bambu.


Selasa, 05 Januari 2016

[Cerpen] DEADLINE NIKAH

gambar diambil dari manten.wordpress.com



Deadline Nikah


"Doni,"

Aku menggeleng,

"Raskal,"

Aku menggelengkan kepala kembali,

"Satya,"

"Ogah! Anak mama gitu!" Cibirku

"Wahyu,"

Seketika aku membelalakan mata, "Ngawur! Pacar orang tuh!"

"Loh kan masih pacar bukan suami," elak Dinda sambil tertawa kecil yang membuatku semakin gusar.

"Ya nggak separah itu juga kali, Din. Sampai harus rebut pacar orang!" Kataku membela diri.

Dinda tertawa lepas, "Lagian pusing juga gue, dari kemarin calon yang gue ajuin nggak ada yang elo mau,"

Aku menghela nafas kasar, "Calon elo nggak ada yang beres geh,"

Dinda semakin tertawa, "Lah masalahnya elo sih nikah pakai dideadline, pusing kali gue juga nyari stoknya,"

"Stok? Elo kata barang,"

"Lagian kenapa sih pakai diburu nikah, kalau memang jodoh juga saatnya elo nikah ya nikah juga,"

Aku mendengus sebal, "Itu juga yang gue bilang ke nyokap, tapi nyatanya mentah semua. Tetap akhir bulan depan gue wajib nikah!"

"Ini semua gara- gara Nindy sih!" Lanjutku sambil menyebutkan nama seorang sepupuku yang akan menikah di akhir tahun ini,

"Lah Nindy yang nikah kenapa nyokap elo yang repot?"

"Nindy itukan anaknya tante Risa yang dalam silsilah keluarga adalah adik kandung nyokap gue, So nyokap gue nggak terima kalau gue harus dilangkahi," jelasku

Dinda tergelak, "Nyokap elo ada- ada aja!"

"Dan gue yang terzhalimi disini,"

"Hush, gitu- gitu juga orang tua elo. Mungkin nyokap elo juga nggak mau elo jadi bullyan para saudara,"

Aku mengedikkan bahu, "Entah ah, pusing gue!"

"By the way kenapa nggak nyokap elo yang nyariin calonnya sih?"

Aku mendelik, "Nggak ah, calon nyokap gue itu om- om semua. Ogah gue!" Aku bergidik mengingat beberapa hari lalu dikenalkan mama dengan seorang pria lajang nyaris berkepala empat. Duh, bukan masalah wajahnya tetapi penampilannya saja sudah membuatku tak nyaman, apalagi parfumnya membuat perutku mual.

"Elo yakin nikah karena nggak cinta?"

Aku menatap Dinda yang juga sedang menatapku, "Gue nggak tahu, Din. Elo tahukan perjuangan nyokap buat gue, dan gue nggak mau bikin beliau sedih," Ujarku pelan. Sejak papa dan mama berpisah, papa menghilang entah tak ada berita. Hanya mama lah yang berjuang membesarkan dan menyekolahkanku. Aku sangat mengerti seberapa keras mama berjuang untuk hidupku. Maka saat ia memintaku segera menikah, sebelum pernikahan Nindy digelar aku pun tak kuasa menolak. Apalah arti pengorbananku jika dibanding pengorbanan beliau.

Dinda membuang muka, "Ya udah, tetapi calon gue beneran nggak ada yang bikin elo sreg gitu,"

Aku menggeleng pasti, "Nggak!" Bagaimana mau sreg kalau semua calon yang ditawarkan Dinda juga masih teman- teman akrabku juga, yang sudah aku tahu luar dalam mereka, Oh no...

"Terus gi...,"

Aku mengernyitkan dahi sejenak karena Dinda menghentikan perkataannya, "Kena..."

"Sin, sin cowok itu Reno kan!" Belum sempat kuselesaikan pertanyaanku, Dinda sudah berbicara.

Aku mengernyitkan dahi, "Reno?"

"Mantan elo!"

Deg,

Reno Rahardian?

Mungkinkah?

Aku menoleh dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru cafe, "Mana?"

"Itu yang berdiri nggak jauh dari meja kasir,"

Aku menyipitkan mata, mencoba fokus pada arah yang ditunjuk Dinda. Seorang lelaki dengan kemeja putih yang dibalut jas hitam sedang mengarahkan pandangan ke penjuru cafe, sepertinya mencari tempat kosong.

Dia,

"Ren, Reno! Sini!"

Seketika aku terbelalak saat menyadari suara didepanku memanggil lelaki tersebut, Dinda sialan, umpatku.

"Apaan sih, Din!" Protesku sambil mendelik padanya,

Dinda tersenyum, "Kalau yang ini elo nggak bakal nolak kan?"

"Hahh, maks...,"

"Dinda," Suara berat laki- laki terdengar di belakangku.

Deg,

Entah mengapa kurasakan jantungku berdetak lebih cepat dan perut mendadak terasa mulas. Jangan bilang,

"Hai Ren, apa kabar?" Dinda menjawab dengan nada riang sedangkan aku membeku tanpa berani bergerak untuk menyapa,

"Sama siapa?"

Dinda tersenyum simpul seraya mengerling padaku. Mau tak mau aku memutar tubuhku,"Hai Ren," Aku menyapanya terlebih dahulu,

"Sin...Sintia," Dapat kulihat keterkejutan di matanya. Hanya sejenak lalu kembali normal, "Hai, long time no see!"

Aku tersenyum kecut dan mengangguk, "Iya,"

"Gabung aja, Ren!" Ajakan Dinda tentu saja membuatku terbelalak. Yang benar saja, lelaki yang paling kuhindari seumur hidup justru diajaknya duduk bersama.

"Eng... Nggak papa?" Katanya sambil sesekali melirikku,

"Its Ok lah," Jawab Dinda santai, "Iya nggak Sin?"

Aku menelan ludah, mau bagaimana lagi. Akhirnya anggukan pasrah sebagai jawabanku. Dan sialnya ia mengambil tempat disampingku,

"Reno ternyata selama ini di Aussie, Sin. Gue ketemu dia minggu lalu,"

Aku mengernyitkan dahi, sepertinya Dinda belum menceritakan padaku, "Oh!"

"Sudah berapa lama kita nggak ketemu ya, Sin?"

Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Reno, aku justru memfokuskan diri pada makanan pesananku sambil menormalkan detak jantung yang tidak keruan. Ya Tuhan, lima tahun berlalu sejak perpisahan kami ternyata namanya masih tersimpan di relung hatiku.

Kulirik ia sesekali, ternyata masih sama. Tak ada yang berubah dari dirinya. Wajah tampannya mengingatkanku pada si pemeran Jacob pada serial Twilight, alis mata hitam sempurna, tatapan mata yang tajam dan senyum misterius namun memikat.

Sejenak aku mengingat hubungan yang pernah terjalin diantara kami. Reno adalah lelaki idamanku selama ini. Ia yang mampu membuatku jatuh cinta tanpa pernah lelah. Arghh...

"Ren, minggu lalu ketemu kata elo mau nyari istri kan?"

Uhuk,

Aku tersedak mendengar pertanyaan tanpa basa- basi yang dilontarkan Dinda pada Reno.

"Kamu nggak papa, Sin?" ujar Reno sedikit panik.

Aku menggeleng, Dinda sialan. Cari mati dia,

"Beneran?" Reno memicingkan mata menatapku, membuatku mengangguk sekali lagi. Tapi tunggu tadi dia bilang apa? Kamu?

"Gue ada calon buat elo,"

Kali ini aku benar- benar melotot pada Dinda, ini anak...

Dahi Reno berkerut, "Maksudmu?"

"Teman gue ada yang cari suami dan elo pernah bilang minta cariin istri, so klopkan!"

Aku menghela nafas panjang, Ya Tuhan Dinda benar- benar gila. Eh, tapi nanti menjadi istri Reno? Inikn mimpiku lima tahun lalu.

Aku tahu bagaimana seorang Reno Rahardian sangat mencintai keluarganya. Ia akan selalu memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Bisa dibayangkan jika nanti ia akan menjadi suami dan ayah yang sangat baik.

Reno tampan, baik serta mapan. Apalagi yang dicari? Aku tersenyum geli dalam hati. Thanks, Din.

"Yah telat, Din!"

Tunggu apa dia bilang tadi, telat? Maksudnya?

"Baru kemarin gue terima perjodohan,"

Bug,

Aku merasa terhempas ke dalam jurang. Sakit tak terperi. Ada rasa perih teriris di hati ini.

"Ko...kok bisa?"

Reno tersenyum menanggapi pertanyaan Dinda, "Bisalah, Din. Nggak nyangka sih gue ternyata anaknya asyik. Makanya gue iyain deh perjodohan dari orang tua. Baru kemarin juga, dan pernikahan akan dilakukan akhir bulan depan!"

Aku terkesiap, baru kemarin dan nikahnya akhir bulan depan? Astaga, kenapa nggak kemarin saja kami bertemu dan Ya Tuhan, akhir bulan depan kan deadline mama. Ah, desahku dalam hati. Double sial.

Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Memang bukan jodoh ternyata, "Selamat ya!" Ucapku seraya mengumpulkan hati yang patah.

"Terima kasih, Sin. Jangan lupa datang ya!"

Aku tersenyum kecut, bagaimana bisa?

Mama, deadlinemu masih lama kan!



Bandung, 26 Juni 2014