Minggu, 13 September 2015

ELROY (18)


Bab XVIII

Sebelumnya Disini



“Tidak perlu khawatir, El. Astrid sudah tidak apa- apa. Dia hanya kelelahan.”


Elroy menghela nafas lega. Ia memang cukup panic dengan keadaan mami yang tak sadarkan diri. Sungguh, dia teramat takut jika terjadi hal yang buruk pada wanita yang sangat dicintainya tersebut. Bahkan dia bersumpah takkan memaafkan diri sendiri. Semua karena dirinya yang memaksa pergi dari apartemen, mengabaikan permohonan wanita itu untuk berbicara.


“Mamimu terlalu banyak pikiran, El. Dia stress hingga kondisi fisiknya menurun. Om perhatikan dia juga jarang cek kesehatan beberapa bulan ini. Kamu ingat kan mamimu punya masalah pada pencernaan.”


Dokter Faisal, dokter keluarga sekaligus sahabat mami. Beruntung di tengah kepanikan Elroy masih sempat menghubunginya. Dan Om Faisal, demikian ia memanggilnya meminta Elroy segera membawa mami ke rumah sakit dimana ia praktek. Kebetulan letak rumah sakitnya pun tak jauh dari apartemen mami.


“Om sudah minta perawat memindahkannya ke kamar inap.” Dokter Faisal menghela nafas berat, “Apapun yang telah terjadi, kamu harus tahu kalau Astrid sangat menyayangimu, El! Cintanya terhadapmu dan Anya melebihi apapun di dunia ini.” Tambahnya sesaat sebelum pergi meninggalkan Elroy.


Elroy hanya terpekur di tempatnya hingga beberapa menit kepergian dokter Faisal. Ia mencoba menormalkan detak jantungnya yang sebelumnya seperti mau meledak. Dia benar- benar ketakutan setengah mati. Meski mami pernah menyakitinya, meneriakinya sebagai anak liar, memakinya tak henti tetapi tetap saja jauh di lubuk hatinya tak pernah ada kata benci untuk wanita itu. Sebesar apapun kesalahan mami, dia tetap anak mami. Tak ada yang dapat merubah itu.


“EL!” Elroy mendongak. Anya muncul dengan nafas terengah- engah.


“Mami! Mami kenapa? Mami nggak papakan?”


Elroy mengernyit heran. Seingatnya belum satu orang pun dia kabarin soal pingsannya mami, termasuk Anya. Ia cukup tegang dan panic hingga tak ingat untuk mengabari siapapun.


“Mami nggak papa. Cuma kecapekan kata Om Faisal.” Anya menghembuskan nafas lega. Elroy dapat merasakan wajah kakaknya tak sepucat tadi, “Lo tahu darimana?”


“Wartawan.”


WHAT!!


Elroy melotot. Media sudah mengetahuinya. Bagaimana bisa? Seingatnya tadi dia hanya dibantu satpam penjaga apartemen mami ketika…

Argh! Shit!

Sekilas saat tiba di rumah sakit ia melihat kerumunan di depan pintu. Beberapa orang diantaranya tengah menenteng kamera. Ya Tuhan, ternyata dia baru sadar kalau mereka wartawan.

“Ada siaran langsung artis melahirkan, El. Jadi gue rasa mereka nggak sengaja lihat mami.”


Double shit!


Sejak kecil Elroy tahu dunia ibunya berbeda dari dunia kebanyakan orang. Mami mencintai dunia akting dan peran. Kiprahnya dalam perfilman tanah air memang tak dapat diragukan. Tetapi ada harga yang harus dibayar dari kesuksesannya. Kehidupan pribadi yang harus menjadi konsumsi public. Termasuk anak- anaknya, dia dan Anya. Hal yang sejujurnya sangat menganggu Elroy, tetapi ia juga tahu sebisa mungkin mami menjaga privacy. Tetapi ya namanya wartawan.

Mereka kan kerja cari uang untuk keluarganya, El! Ucap mami setiap ia mengeluhkan keberadaan mereka dan Elroy kecil hanya bisa mengangguk pasrah.

“Berarti di luar banyak wartawan?”


Anya mengangguk, “Lumayan. Artis yang ngelahirin kan cukup terkenal. Dan sekarang ada kabar tentang mami, bisa lo bayangin.” Anya tersenyum kecut.


“Ck, kurang kerjaan!”


Anya mengendikkan bahu. Ia paham maksud Elroy tapi juga tak ingin membahas. “Lo kenapa nggak ngabarin gue.”


“Gue panik, Nya. Untung aja gue masih ingat hubungin Om Faisal.”


Anya mengangguk. Ia tahu ia juga tak bisa menyalahkan adiknya. Kehidupan keluarganya jelas sedang tak baik, apalagi pasca makan malam kemarin. “Sekarang mami?”


“Lagi dipindah ke kamar. Nanti kita bisa nyusul.”


Anya mengangguk kembali. Sejujurnya ia ingin bertanya soal keberadaan Elroy bersama mami. Seingatnya kemarin Elroy pergi dari rumah dalam keadaan marah dan ia pun tak lama ikut pergi meninggalkan rumah itu. Tadi seorang kenalannya yang seorang wartawan mengabarkan melihat ibunya berada di rumah sakit. Dan tak menunggu lama bagi dirinya melesat menuju rumah sakit.


Anya melirik sekilas Elroy. Sepertinya ia tak bisa bertanya. Kondisi Elroy terlihat berantakan. Entah mengapa? Untuk saat ini mami lah yang harus menjadi fokus utama dirinya.


Mami, cepatlah sembuh. We love you!


***


“Ma..af! Mam...”


Astrid tersadar setelah nyaris seharian matanya terpejam. Hal yang tentunya menimbulkan kelegaan Anya maupun Elroy. Keduanya memang kompak menunggui ibunya.


“Mam,” Anya memotong cepat. Ia meraih tangan Astrid kemudian menggenggamnya lembut. “Mami nggak usah mikirin apa- apa dulu. Yang penting buat kita mami cepat sembuh. Sehat lagi.” Lanjutnya sambil melirik Elroy yang berada di sebelahnya.


“Tapi…”


“Kata om Faisal mami butuh banyak istirahat.” Astrid terdiam. Sesaat ia menghela nafas panjang. Elroy berkata pendek dan lugas. Namun jelas tersirat tak ada bantahan.


“Yaudah, sekarang mami makan dulu ya!” Anya mencoba menengahi. Gadis itu mengambil makanan yang belum lama diantarkan petugas, “Sini Anya suapin ya, Mam!”


Astrid hanya mengangguk pelan. Elroy bergerak membantu menaikkan ranjang hingga posisi ibunya menjadi lebih baik. Ia melakukannya dengan hati- hati. Membuat Astrid tersenyum diam- diam. Dibalik sikap dingin, nyatanya Elroy masih memperdulikannya.


“Nya, gue keluar dulu!”


“Loh mau kemana, El?”


“Cari angin!” Anya mendesah. Ia melirik ibunya yang tengah memandangi Elroy yang bergerak menuju pintu. Terlihat jelas sorot kecewa di mata Astrid. Tetapi ia juga bisa apa?


Keluarganya benar- benar berantakan.


“BUAT APA LO KEMARI, HAH! NGGAK PUAS LO UDAH NYAKITIN KITA SEMUA!”


Anya terhenyak kaget. Elroy masih di depan pintu. Tubuhnya bergetar hebat, ia tampak tengah marah pada seseorang. Sejenak Anya berpandangan dengan ibunya lalu segera beranjak menghampiri Elroy.


Demi Tuhan, ini rumah sakit.


“El, kamu ngapai… PAPI!” Mata Anya terbelalak saat menemukan sosok laki- laki yang dikenalnya dari balik bahu Elroy. Posisi Elroy yang berada tepat di depan pintu memang sedikit menghalangi. Tetapi ia juga sama jangkungnya dengan adiknya, jadi dengan mudah ia bisa mengenali sosok lain dari balik bahu Elroy.


Sesaat Elroy berbalik lalu kembali menatap tajam sosok di hadapannya. Ia mendengus gusar. “Masuk, Nya! Dia urusan gue.”


Anya terdiam. Elroy marah. Teramat marah. Bahkan Anya dapat melihat sorot kebencian di wajah pemuda itu.


“PERGI SANA LO! KITA NGGAK BUTUH LO ADA DI SINI!”


“EL!” Mata Anya melebar. El cukup tega ngusir papi?


“Masuk, Nya! Gue udah bilang ini urusan gue.” Katanya tanpa mengalihkan pandangan.


“Tapi lo nggak bisa gitu juga. Papi juga orang tua kita. Suami mami.”


“Dulu, Nya! Dulu! Sebelum dia memilih selingkuh dengan sekertarisnya.”


“El!”


“APA! Emang itu kan kenyataannya.”


“El!” Elroy terhenyak. Sontak ia membalikan tubuhnya. Matanya menemukan Astrid yang tengah menatapnya sendu. Wanita itu tersenyum tipis.


“Biarkan dia masuk,”


“Tapi, Mam…!”


Gelengan kepala Astrid menghentikan protes Elroy. “Mami baik- baik saja.” Elroy pun mengangguk. Ia menghela nafas berat lalu mundur perlahan, membiarkan Hector melangkah masuk kamar rawat ibunya. Tepat setelah lelaki itu berjalan melewatinya untuk mendekati ranjang ibunya, Elroy memilih keluar. Sungguh, ia tak tahan untuk tidak memukul atau memaki laki- laki baya itu.


Semua kesakitan ini gara- gara dirinya!


-tbc-


Lampung, September 2015



1 komentar: