Kamis, 03 September 2015

ELROY (15)


Bab XV
Sebelumnya Disini


Malam semakin larut. Namun kedua bola mata Gendis belum sedikitpun terpejam. Gadis itu teramat sulit untuk tidur mala mini. Tubuhnya berulang kali balik kanan atau kiri. Gusar. Sesekali Gendis mendengus kesal lalu tubuhnya ditegakkan dengan mulut mencebik manyun.

Ck, kenapa sih gue! Decaknya dalam hati sembari kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.

“Tidur, Ndis! Tidur!” Gerutunya dengan tangan kanan meraih guling yang berada di sebelahnya. Lagi ia mencoba memejamkan matanya kembali. Berusaha mengistirahatkan tubuhnya.

Semenit.

Dua menit.

“Arrggghhhhh!” Gendis mengerang frustasi. Matanya terbuka seketika. Bagaimana mau bisa tidur, kalau sedari tadi otaknya tak henti berpikir.

Gara- gara Elroy, ah! Gendis menggeleng sejenak lalu tersenyum tipis. Bagaimana ia sekarang bisa menjadi dekat dengan orang yang justru tak disukainya. Tidak, Gendis tak bilang benci. Dia tidak pernah ingin membenci orang, karena ayahnya selalu menekankan janganlah terlalu membenci orang karena siapa tahu orang yang kamu benci sewaktu- waktu adalah malaikat penolongmu. Sikap dingin dan tak peduli Elroy lah yang membuat Gendis tak menyukainya. Apalagi mengingat kejadian saat keduanya bertabrakan dan alih- alih minta maaf justru Elroy tak peduli, membuat Gendis yang tahu tata krama naik pitam.

Benar- benar laki- laki tak sopan! Gendis sendiri sedikit banyak tahu tentang Elroy, lelaki dingin yang justru banyak digilai teman sekelasnya. Gedung perkuliahannya memang bersebelah dengan gedung Tekhnik, jurusan Elroy. Kecerdasan Elroy juga sering didengarnya. Tetapi karena Gendis tak mengenal secara pribadi dengan laki- laki itu, ia bersikap cuek dan tak peduli. Apalagi tak lama setelah itu ia terbang ke amerika untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa selama tiga bulan.

Dan kedekatan itu bermula dari ucapan pemuda itu sendiri.

Gendis ingat saat itu Elroy mengatakan soal taruhan yang dibuat Bastian dan teman- temannya. Terang Gendis terkejut, shock. Bastian masih mengejarnya. Padahal jelas- jelas ia tak menyukai player macam dia. Maka terbersitlah ide untuk mendekati Elroy. Gendis berpikir hanya Elroy satu- satunya lelaki yang takkan tersentuh Bastian. Keduanya yang Gendis tahu bersahabat, dan Gendis berani bertaruh saat bersama Elroy, Bastian takkan berani mengusiknya.

Tetapi siapa sangka kedekatan ngawurnya justru menguak sisi kehidupan pemuda dingin itu. Pertama Gendis baru tahu jika Elroy adalah anak dari seorang artis populer di Indonesia. Siapa yang tidak mengenal seorang Astrid Kumala, bintang film era 1980an yang memang memiliki bakat luar biasa. Film yang dibintanginya selalu meledak di pasaran. Bahkan hingga kini wanita itupun pun masih eksis di dunia hiburan.

Kedua, Elroy anak seorang artis terkenal. Gendis juga baru tahu jika ayah pemuda itu juga pengusaha yang cukup sukses, tetapi mengapa Elroy lebih memilih tinggal di kosan sederhana yang tak jauh dari kampus. Bukankah dengan kekayaan kedua orang tuanya, laki- laki itu bisa tinggal di apartemen elit atau kosan mewah sekalipun. Hal yang tentu saja membuat Gendis bingung.

Dan semua sedikit terjawab ketika gossip itu menyebar. Broken home? Apalagi.

Laki- laki dingin dan kasar itu tengah menyimpan luka. Dan entah mengapa dirinya merasa bersalah, niat ingin memanfaatkan kedekatan dengan laki- laki itu justru ia menemukan Elroy sangat membutuhkan perhatian.

Dan baru beberapa jam yang lalu, pemuda itu meninggalkan rumahnya. Menyisakan banyak pertanyaan di kepala Gendis. Entah angin apa yang membawa Elroy tiba- tiba berhenti di depan gerbang rumahnya. Meski sedikit terkejut, namun Gendis memilih diam. Tak mengungkit hal yang membuat pemuda itu mematung di depan rumahnya. Dan ketika Elroy sedikit membuka masalahnya, dirinya pun segera menawarkan untuk menjadi pendengar yang baik.

Hal yang detik selanjutnya teramat disesalinya.

Lancang! Sok peduli!

Seharusnya ia tadi memilih diam, membiarkan Elroy sendiri yang bercerita. Bukan menyuruh Elroy membagi masalah dengannya.

Siapa dia?

Gendis tersenyum kecut. Ia merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia dapat menahan ucapannya. Seharusnya ia tak terburu- buru untuk meraih tangan Elroy. Ia lupa, Elroy memiliki sifat dingin dan tak peduli. Sulit bagi orang- orang sepertinya untuk dapat langsung mempercayai orang lain, bahkan orang yang belum lama dikenalnya.

Dan Gendis makin menyesal karena Elroy lebih memilih berpamitan pulang. Tak berkata apapun. Bahkan untuk sekedar menoleh ke belakang. Laki- laki itu pergi dengan meninggalkan perasaan bersalah di hati Gendis.

Gue harus minta maaf! Harus!

Sebelumnya Disini




-TBC-
Ps. Maaf...Maaf, berantakan  jadwal tayangnya ya! lagi ada bbrapa urusan. Maaaf....

Lampung, Sept 2015








4 komentar: