Jumat, 18 November 2016

Sayembara Askar (9)



sebelumnya di sini
Sejak mendapati keberadaan Agni di pesta, pandangan Askar tak pernah lepas. Ia bahkan tak pernah jauh dari Agni. Selalu di sampingnya, membuat gadis itu beberapa kali menghela napas gusar. Askar bukan tak tahu Agni terganggu, tapi…
Demi Tuhan, Agni malam ini begitu cantik.
Agni yang sekarang begitu jauh berbeda dengan Agni yang dikenalnya tiga tahun lalu.
Dulu –bagi Askar- Agni hanyalah sosok gadis manja yang baru saja menyelesaikan sekolah, lalu bekerja di perusahaan milik keluarganya. Gadis yang beruntung, karena tak perlu bersusah payah mencari kerja.
Tapi sekarang…
Dalam pandangan Askar, Agni menjelma menjadi sosok yang berbeda. Bukan lagi gadis manja, tetapi wanita dewasa yang punya pesona menawan. Askar bukan tak melihat beberapa pemuda terang-terangan memandang Agni, meskipun Agni sendiri terlihat cuek dan masa bodoh.
Ah gadis ini…
“Ni, pulang yuk!”
Askar terkesiap. Ia menoleh dan menemukan sosok wanita baya sudah bergabung diantara dirinya dan Agni.
“Mama udah selesai?”
Askar mengenali sosok paruh baya tersebut, meskipun sudah lama tak bertemu. Sejenak dikembangkan senyuman lalu menyapa wanita yang ia ketahui sebagai Ibu Agni sekaligus teman mamanya.
“Malam, Tante!”
“Malam, loh kamu Askar kan? Anaknya Pak Bram,”
Askar mengangguk, senyumnya makin melebar. “Iya, Tante. Saya Askar.”
Agni mendengus melihat sikap hormat yang ditunjukkan Askar pada Ibunya. Sok manis, huh!
Agni memilih mengabaikan obrolan antara Askar dan Ibunya. Basa-basi nggak penting!
“Ma, Agni tunggu di depan,”
“Loh, kok gi…,”
“Yuk, Kar! Gue duluan!” pamit Agni mengabaikan tatapan heran Ibu juga wajah bingung Askar.
Peduli amat dibilang nggak sopan, bisik Agni dalam hati seraya melengang meninggalkan tempat acara. Agni bukan tak sadar jika Askar sejak tadi berada di dekatnya, ia tahu persis jika lelaki itu mulai menaruh perhatian padanya. Namun, mengingat pengalamannya bertahun lalu, Agni enggan sakit hati. Askar seorang player. Mungkin bagi lelaki itu, malam ini dirinya begitu menarik, tetapi Agni berani bertaruh jika dalam pesta tadi ada wanita yang lebih cantik dan seksi, Askar tentu takkan mendekatinya.
Ah, selamanya playboy tetaplah playboy.
***
“Kamu semalam jutek amat sih, Ni?”
“Hmm,” Agni yang tengah menyelesaikan sarapan mendongak menatap Mama yang melangkah mendekati meja makan.  
“Bete banget ya diajak ke party Tante Sofia?” tanya Mama lagi.
Agni menggeleng. “Nggak. Biasa aja,”
“Terus kenapa manyun sepanjang malam? Kayak anak kecil deh kamu,”
Bahu Agni terangkat. Ia tak menjawab. Mana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya pada Ibunya kalau ia kesal karena keberadaan Askar.
Gerr… laki-laki itu!
Mengingat semalam, Agni mendengus. Mengapa harus bertemu dia sih? Merusak mood saja.
“Askar ya namanya?”
“Eh,”
“Anaknya Pak Bram itu, namanya  Askar kan?”
Sial! Dibahas lagi sama Mama.
“Kamu ada masalah sama dia?”
“Hah?”
“Sesuatu terjadi diantara kalian?”
 Mama kepo, huh!
Agni mendengus, bahunya mengedik. Ia memilih menyesap jus jeruk yang telah berada di atas meja makan.
“Nggak boleh gitu loh, Ni sama orang. Itu namanya nggak sopan, main ngeloyor aja! Kamu kan bukan anak kecil, masa kayak gitu harus Mama omongin sih!”
Kedua bola mata Agni berputar. Ah, topic apa sih pagi ini?
“Bukannya kalian dulu dekat kan?”
Justru itu… ah, sudahlah…
“Mama ini pagi-pagi ngomongin apa sih? Nggak penting ah ngomongin orang,” protes Agni kemudian. “Udah ah, mending Agni siap-siap.” Katanya seraya berdiri.
“Eh, anak ini! Orang tua lagi bicara main tinggal-tinggal aja.”
Agni mendesah. Langkahnya tertahan. “Ya lagian Mama juga pagi-pagi ngomongin orang,”
“Ya nggak gitu, Mama kan penasaran. Mama tahu kamu nggak suka pesta, tapi nggak sampai segitunya juga. Semalam tuh kamu kentara banget betenya, Ni.” Jelas Mama yang tak begitu didengarkan Agni.
Sungguh, Askar bukan topic yang baik di pagi hari.
“Ma, udah ya! Agni siap-siap dulu.” ujar Agni mengalihkan pembicaraan.
 Mama menoleh, “Jadi berangkat jam berapa memangnya?”
“Nanti jam 10,”
“Diantar Pak Min?” Kepala Agni terangguk.
“Teman-teman kamu?”
“Janjian ketemu di bandara.” Jawab Agni sambil melangkah menuju kamarnya. Tetapi baru beberapa langkah, panggilan Mama menahannya.
“Ni!”
Agni berbalik, “Iya, Ma…,”
“Ngomong-ngomong Askar itu calon potensial untuk dijadikan imam lo,”
Agni mendelik, tak lama ia berdecak gusar. Ck, dia lagi!
***
Askar tersenyum lebar saat mobil yang dikendarainya berhenti di stasiun televisi milik kakak sepupunya. Masih dengan senyum yang tak lepas di wajah, lelaki itu turun dari kendaraan dan melangkah pasti memasuki gedung. Tak lama ia sudah berada di ruang pimpinan.
“Ada apaan lo kemari?” tanya Azka curiga. “Nggak bilang-bilang lagi,”
Askar hanya tersenyum tipis, diliriknya jam di pergelangan tangan sebelum kemudian bibirnya kembali menyunggingkan senyuman.
Kerutan di dahi Azka bertambah, ia tahu ada sesuatu yang aneh dengan sikap Askar. Tak biasanya lelaki itu mau mengunjungi kantornya, dan seingatnya Askar sedang menghindari ajang pencarian jodoh yang akan ditayangkan di televisi miliknya.
Jadi, sedikit aneh dan…
Azka membuang napas pendek. Ia menepuk dahinya perlahan. Bertahun-tahun tumbuh bersama, seharusnya ia sudah bisa menduga maksud kedatangan Askar yang tiba-tiba. Tak hanya itu, seharusnya ia pun sudah dapat menyimpulkan tujuan laki-laki itu dari senyum serta sikap yang sedikit berbeda.
“Jangan karyawan gue ngapa sih, Kar? Berabe kalau sampai patah hati, resign yang ada.” Ucap Azka yang beroleh kekehan Askar.
“Lo ini, Mas negative thinking aja,”
“Loh emang gitu kan kenyataannya. Lo bisanya bikin patah hati banyak cewek. Serius dikitlah kalau berhubungan sama wanita, Kar. Ingat umur! Bukan main-main lagi. Masa iya lo seumu…,”
Tangan Askar terangkat untuk menghentikan ucapan Azka. “Lo lama kelamaan kayak Mama tahu, Mas!” protesnya gusar.
Azka terbahak. Ia baru menyadari jika dirinya terlalu banyak bicara. “Sorry! Sorry! Bukan maksud gue kayak gitu. Tapi sebagai saudara yang baik, gue nggak pengen lo nyesel.”
“Nyesel?” kening Askar berlipat. “Nggak lah, Mas. Masa muda itu harus dinikmati. Toh, mereka juga nggak rugi-rugi amat. Apa yang mereka mau, juga gue kasih.”
Kali ini kepala Azka menggeleng. “Terserah lo lah, tapi gue ingatin nggak semua cewek suka materi.”
Bahu Askar mengedik. “Ngomong-ngomong, jam segini karyawan lo udah boleh makan siang belum?”
Azka melirik jam di atas meja kerjanya. Pukul 11.40. Tak lama kepalanya mengangguk. “Bisa, asal tuh cewek nggak sibuk.” Jawabnya asal.
“Nggak lah,”
Azka mencibir. “Sok tahu lo!”
“Tahulah!” Askar menyeringai, membuat Azka makin penasaran. Siapa memangnya gadisnya yang tengah didekati Askar?
“Nggak usah segitunya ngeliat gue, Mas.” Ujar Askar seraya bangkit dari sofa. “Semalam juga lo ketemu orangnya kok,”
Dahi Azka mengerut, “Semala… ck sial! Lo ngedeketin Agni?” serunya ketika tersadar. “Gila lo cewek baik-baik tuh!”
Askar tergelak. “Tenang aja kali ini gue serius, Mas.”
“Udah berapa kali lo bilang kayak gitu sama gue, Dude!” sungut Azka. “Dan hasilnya, nol besar.”
Tawa Askar makin kencang. “Kan salah mereka juga, Mas yang terlalu posesif sama gue. Lo tahu gue nggak suka cewek-cewek terlalu posesif. Membatasi gerak gue.”
Azka menggeleng. “Terserah apa lo kata. Tapi awas lo buat dia resign dari kerjaan!” Ancam Azka kemudian. “Eh, tapi omong-omong lo sia-sia kemari,”
“Maksud lo, Mas?”
“Agni nggak ada. Baru tadi pagi dia berangkat ke Thailand. Gue kirim dia untuk ngeliput KTT ASEAN,”
Sedetik kemudian terdengar umpatan dari bibir Askar. “Sial lo, Mas! Ngapa lo nggak bilang dari tadi?”
Azka terbahak. “Lah, gue aja mana tahu lo datang kemari buat Agni.”
Shit!” Askar kembali mengumpat.
Sial! Sial! Sial!
***
“Akhirnya sampai juga,"
Home sweet home!”
Agni hanya tersenyum tipis mendengar celoteh beberapa rekannya saat mereka menginjakkan kaki di bandara. Hampir seminggu sudah dirinya dan team berada di negeri gajah putih untuk meliput KTT Asean yang diadakan di negeri tersebut. Sungguh, ini pengalaman menarik bagi Agni. Selain memang pertama kali baginya, siapa sangka ia bisa bertatap muka langsung dengan pemimpin-pemimpin negara lain bahkan beberapa diantaranya berhasil ia wawancarai.
“Eh, Ni balik sama siapa?”
Eh!
Agni sedikit terhenyak. Tak lama kepalanya celingukan. Mama sudah bilang jika Pak Min akan menjemputnya. “Gu—gue balik sam… Pak Min!” seru Agni saat matanya menemukan sosok laki baya yang telah bertahun-tahun bekerja di keluarganya.
“Udah dijemput gue,” katanya seraya menatap rekan-rekannya. “Gue duluan ya!”
Pak Min yang sudah berada di dekat Agni segera bergegas menarik koper Agni. Tak lama keduanya sudah berada di dalam mobil.
“Gimana rumah, Pak?”
“Gimana apanya toh, Mbak. Ya gitu-gitu aja!”
Agni terkikik. “Ya kali ada yang berubah Pak!”
Pak Min tergelak. “Mbak Agni ini bisa aja.”
Agni tersenyum. Pandangannya tersapu ke jalanan. Lampu merah di persimpangan jalan menyala, membuat laju mobilnya pun terhenti. Agni baru saja akan melanjutkan obrolan dengan Pak Min,  ketika matanya membaca iklan di papan reklame besar yang berada di sisi kiri jalan. Sedetik kemudian ia mendengus.
Jadi begitu…
***
Suara gelak tawa dari dalam rumah yang tertankap indera pendengaran Tantra membuatnya mengeryitkan dahi. Itu suara Gerry dan…
Bergegas Tantra memasuki rumah. Ia sedikit familier dengan suara tersebut.
Hey, Bro! Udah balik lo?”sapa Gerry sesaat setelah Tantra masuk dan mengucap salam.
Tantra hanya mengangguk. Matanya menangkap sosok Salsa di dalam rumah.
“Hai, Tra!”
“Hai,”
Dahi Tantra sedikit mengerut. Salsa? Gerry?
“Nggak usah mikir aneh-aneh lo, bro. Salsa kesini nganter makanan tuh! Lagian ada yang mau dia tanyain ke lo,” ungkap Gerry yang menyadari keheranan di wajah Tantra.
Mulut Tantra membulat. Senyumnya pun seketika merekah. Dihampiri keduanya yang duduk di sofa ruang tamu.
“Mau tanya apaan?”
Salsa tersenyum. Tak lama ia meraih selembar kertas dari atas meja dan menunjukkannya pada Tantra.
“Ini!” katanya. “Teman-teman pengen aku ikutan. Tapi aku sangsi. Takutnya fiktif. Nah ada Adinata grup sebagai sponsor utama. Kamu kerja di Adinata kan?”
Eh?
Tantra terbeliak. Ia tahu persis kertas yang berada di tangan Salsa.
“Lo cantik dan menarik, jadi ikutan aja, Sa!” celetuk Gerry yang bersambut dengusan Tantra.
“Gimana, Tra?”
“Eh, i—tu…,” Tantra menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Mungkinkah ia memberitahu yang sebenarnya. Kontes kecantikan yang diadakan hanyalah kamuflase dari ajang pencarian jodoh yang digagas Pak Bram.
“Udah ikutan aja! Lagian lo bilang dulu lo sempat jadi model kan? Kesempatan, Sa! Jangan sia-siain kecantikan lo,”
“Eh, gitu ya!”
Tantra dapat melihat wajah Salsa yang bersemu merah. Seketika ia menatap tajam Gerry. Ck, perayu ulung!
 “Apa perlu gue antar, Sa?”
Gerrr…. Gerry!!
***
selanjutnya di sini
Lampung, November 2016


2 komentar: