Senin, 24 Oktober 2016

Tentang Hujan



"Kamu ini ya, jadi anak kok bandel amat. Dibilang jangan hujan-hujanan nanti sakit, masih aja ngeyel. Nih lihat hasilnya! Panas toh badannya,"

Gema memilih bungkam. Ibu kalau sudah mengomel, pantang dibantah. Toh, pada kenyataannya memang benar. Dirinya sakit pasca hujan- hujanan kemarin. Sejak pagi, suhu badannya meninggi, kepalanya pun terasa berat. Sungguh, kondisi tubuh seperti ini tak pernah disukainya. Apalagi perutnya juga terasa mual. Makanan yang masuk ke dalam mulutnya, hanya butuh waktu beberapa menit untuk dimuntahkan kembali.

Ah, benar-benar keadaan yang tak mengenakan.


"Besok diulang lagi, biar ngerasain sakit lagi ya!"

Bibir Gema mengerucut. Ibu ngeselin lah, gerutunya dalam hati. Sudah sakit, diomelin pula! Kan nggak enak...

"Dengerin kalau orang tua ngomong. Jangan masuk kuping kanan keluar kuping kiri! Terus itu bibir, nggak usah manyun-manyun. Kan kamu juga yang salah."

Gema membuang napas gusar. Ck, ibu ini...

"Ngerti Gema?"

"Iya, Bu. Iya."

"Ya sudah sekarang istirahat. Tid..,"

Belum sempat ibu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar tetesan air dari atas genting. Hujan kembali datang. Sontak Ibu pun panik. Ia segera keluar kamar sambil berteriak memanggil Gina, kakak Gema.

"Ginaaa! Hujan, Gin! Jemuran!"

Gema terkekeh sesaat, namun tak lama pandangannya mengarah ke jendela. Saat ini musim penghujan, jadi hujan memang nyaris turun di setiap hari. Hal yang begitu disenanginya yang memang sangat menyukai hujan. Hujan itu indah. Rasanya luar biasa tiap kali melihat tetesan air yang jatuh dari langit. Makanya sayang, jika dilewatkan.

"GEMA! GEMA!"

"GEMAAAA!"

"GEMA, MAIN YUK!"

"GEM...,"

"Nggak ada main-main hari ini. Gemanya lagi sakit!

"Yaaaaahhh....,"

"Kalian juga lebih baik pulang! jangan main melulu! Sana pulang! Kalau sakit juga kan kalian yang ngerasa nggak enak."

Gema hanya bisa mendesah mendengar obrolan teman-temannya dan Ibunya. Ah, sakit itu memang menyebalkan.
***


"Gem, nggak balik loh?" Gema menoleh. "Keburu hujan loh!"
Senyum Gema mengembang, bibirnya menipis membentuk senyuman. "Duluan aja. Gue masih ada kerjaan nih."

Bagas, rekan kerja Gema berdecak. "Ck, lo ini! Kerjaan bisa besok-besok. Tapi ya udah lah terserah lo. Gue duluan ya."

Gema hanya mengangguk. Tak lama sepeninggal Bagas, Gema melihat tetesan air hujan dari balik jendela kantornya. Hujan telah tiba. Segera ia pun beranjak dan menghampiri sisi jendela kaca.

Indah dan...


Segar

Senyum Gema terkembang. Mau dulu mau sekarang, hujan masih menjadi kesukaannya.  Hujan juga menjadi sebagian kenangan yang mengingatkan dirinya akan mendiang sang ibu.

Ibu...  aku sekarang nggak main-main dibawah hujan lagi kok....


=end=

3 komentar:

  1. Ih aku banget iniii... kemaren ngomel2 sama anak2 gegara main hujan, akhire sakit beneran...

    BalasHapus
  2. Hhmm.. Jadi inget, dulu kalo ujan-ujanan suka diomelin ibu, tapi sesekali dibolehin juga ujan-ujanan :)

    BalasHapus