Sabtu, 17 September 2016

[Cerpen] Hujan di Sekolah

gambar diambil dari www.pixabay.com



“Ya ampun kapan berhenti sih nih hujan?”

Saski mendesah sembari menatap ke luar jendela. Sudah setengah jam berlalu dan hujan masih belum menunjukkan akan reda. Kalau gini gimana gue pulangnya?

“Loh, masih ada orang toh di sini?”

Saski menoleh dan menemukan Pak Adi, sang pejaga sekolah berjalan masuk ke kelasnya. Saski pun berdiri seketika. “Udah mau dikunci ya, Pak?”

Pak Adi mengangguk. “Iya, Mbak. “ jawabnya. “Kok Mbaknya masih belum pulang?”

“Hujan geh, Pak. Gimana mau pulang juga,”

“Ndak bawa payung toh?”

Saski menggeleng. “Besok-besok bawa payung ya, Mbak. Ini September. Musim penghujan.”

Mendengar ucapan Pak Adi, Saski hanya mengangguk. Dalam hati menggerutu, cuma ngomong, huh bukannya bantu!

“Kalau gitu ada pay…,”

“Gimana Mbak, udah siang ini. Saya harus kunci kelasnya.”

Saski mendengus. “Ya udah lah, Pak. Kunci aja! Saya tunggu di depan kalau gitu,” katanya lagi. Tak lama Saski pun melangkah meninggalkan kelas. Namun baru sampai depan pintu, sebuah teriakan berulang terdengar. Langkahnya pun terhenti.

“PAK ADI! PAK! PAK ADI!”

“Eh, Mas Ardian! Ada apa toh Mas panggil-panggil Bapak?”

Saski mengenali sosok pemuda yang berteriak-teriak memanggil Pak Adi. Ardian Basupati, ketua osis yang belum lama ini terpilih. Laki-laki yang nyaris diidolakan seluruh kaum hawa di sekolahnya. Pintar, tajir dan berprestasi. Benar-benar profil sempurna!

“Ini Pak saya mau pinjam payung. Ada?”

“Oh ada, Mas. Ada! Yuk saya ambilkan.”

Tanpa sadar bibir Saski mengerucut. Orang kaya selalu mendapat perlakuan berbeda, huh!

Tadi saja ia diusir-usir, giliran Ardian mendapat perlakuan begitu dihormati. Ah, memang nasib. Siapa dirinya juga. Kalau berbanding dengan Ardian ya ibarat langit dan bumi.

“Kenapa dengan lo? Bete?”

Hah?

“Ada yang salah sama gue?”

Sial! Umpat Saski dalam hati. Ia kira tadi Ardian ikut pergi bersama Pak Adi.

“Nggak, nggak papa.” Jawa Saski sembari melanjutkan berjalan. Diabaikannya tatapan penasaran Ardian. Bodo lah, nggak kenal ini!

Saski memang mengenali sosok Ardian, tapi hubungan keduanya tak akrab. Jangankan akrab, Ardian tahu dirinya saja Saski sangsi. Meskipun satu angkatan, Saski bukanlah pribadi yang dikenal banyak orang. Sifatnya cenderung tertutup dan pendiam. Ia lebih memilih mengurung diri di perpustakaan daripada bercengkerama dengan teman-temannya.

“Nggak ada apa-apa gimana? Orang gue lihat muka lo kesel gitu?”

Saski berdecak dalam hati. Ardian menyejajari langkahnya. Buat apa sih orang ini mengikutinya, gerutu Saski dalam hati.

“Kok lo diam aja sih?”

Cerewet!

“Gue lagi nanya loh!”

Berisik!

“Nama lo siapa sih?”

Tuh kan benar! Mana mungkin Ardian mengetahui dirinya.

“Lo nggak bisu kan?”

Saski menarik napas panjang. Langkahnya kembali berhenti. “Lo ngapain sih ngikutin gue?” tanyanya kesal.

“Penasaran. “ Ardian nyengir.

“Penasaran kenapa juga sih?”

“Sikap bete lo.”

Saski mendesis. “Nggak ada urusan juga sama lo.”

“Ada lah. Orang kelihatan betenya. Kan tadi ada gue di sana.”

Saski mendelik. Laki-laki ini ternyata aslinya menyebalkan!

“Oke! Gue kesel karena diperlakuin beda. Lo orang kaya pasti nggak pernah ngerasain apa yang gue rasa. Ngerti?”

Ardian diam seketika. Saski melengos lalu kembali melangkah. Untung sekolah sepi. Tak bisa dibayangkan jika banyak orang melihat. Bisa-bisa ia dibully fans Ardian.

“Mas! Mas ini payungnya!”

Pak Adi muncul tergopoh-gopoh. Lagi-lagi Saski mencibir. Ardian itu anak seorang pengusaha sukses yang kabarnya banyak memberi bantuan pada sekolah. Jadi bisa dimaklumi jika perlakuannya memang sedikit istimewa.

Sudahlah, lupakan! Gumam Saski dalam hati. Ia menengadahkan kepala. Hujan masih juga turun. Belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Ah, bagaimana ini?

Apa memaksakan diri saja ya? Tapi bisa basah kuyup dong!

Tidak ada jalur angkutan menuju rumah Saski. Ia pun tak memiliki kendaraan pribadi. Perlu waktu sekitar 30 menit mencapai sekolah dengan berjalan kaki.

“Rumah lo dimana? Gue anter!”

Saski bengong. Ardian sudah kembali ada di sampingnya.

“Apa…,”

“Gue suka lo,”

“Hah?”

Ardian tersenyum simpul. “Iya. Suka.” Kepala Ardian mengangguk. “Jarang-jarang ada cewek ngomong blak-blakan kayak lo. Selama ini semua kan palsu. Baik depan gue ada maunya aja.”

Ck, ngomong apa sih dia?

“Gimana?”

“Apaan sih?”

“Ck, lo ini disukain cowok cakep malah bingung.”

Saski melongo untuk beberapa saat sebelum kemudian tawanya meledak. Sepertinya Ardian tidak begitu menyebalkan!

***

Lampung, September 2016

Diikutkan pada Event RTC di Kompasiana


1 komentar: