Sabtu, 21 Mei 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (16)



Enam Belas

sebelumnya di sini

“Bagaimana cantik kan?”

Mirah ternganga. Dia sungguh kehabisan kata- kata. Kalung yang baru saja dikenakan Dae Ho di lehernya memang sangat indah. Bentuknya sederhana tapi bandul berbentuk bulat, berwarna merah di tengahnya terasa cocok di leher putihnya.

“I—ni?”

“Untuk istri saya yang cantik,” Dae Ho mencium pipi Mirah. Diawal Mirah sempat terkejut, tetapi tak lama senyum mengembang di bibirnya. Sungguh, perlakuan Dae Ho sangat romantis. Setelah seharian mereka habiskan dengan jalan- jalan ke pantai, kemudian makan malam berdua, sekarang Dae Ho memberinya hadiah yang bahkan Faisal pun tak pernah melakukannya.

Ah, sayang dirinya hanya istri kontrak.

Kenyataan itu kembali menghempas Mirah. Hatinya terasa tersayat sesaat. Ya, pada akhirnya semua perlakuan Dae Ho membuatnya jatuh cinta. Lelaki lembut ini tak butuh waktu lama untuk menjungkirbalikkan perasaan Mirah.

Dering telepon tiba- tiba menarik kesadaran Mirah. Ringtone khusus yang ia kenali. Detak jantung Mirah pun berdegup seketika.

Kampung! Emak…

“Ya, Mal…,”

“Yuk, Rania kecelakaan…”

RA—NIA?

Tubuh Mirah menegang seketika. Ra—nia, anakku.

“Ja—jangan bohong, La?” Mirah menggigil. Ia tak bisa begitu saja percaya pada Kumala. Kumala terkadang suka jahil. Ada saja tingkah gadis muda itu saat masih kecil untuk menjahili kakak- kakaknya.

“Ya ampun, Yuk! Ngapain Mala bohong. Tapi dengerin dulu Mala sampe selesai cerita!” decak suara di seberang. “Rania kecelakaan. Dia keserempet motor. Tapi lukanya nggak papa. Udah ditangani dokter. Cuma dia jadi manja. Pengen Ayuk kesini.”

Sejenak Mirah dapat menghembuskan nafas lega. Mendengar Rania baik- baik saja sudah cukup mengurangi ketegangannya. Meski begitu, permintaan Rania tentu tak mudah ia kabulkan, mengingat keberadaan dae Ho serta tanggung jawabnya pada pekerjaan.

“Ayuk usahain pulang, Mal. Cuma bilang sama Rania sabar. Ayuk kan harus izin dulu di tempat kerja. Nggak enak karena Ayuk baru masuk kerja.”

“Iya, Yuk. Maaf ya Mala baru kasih tahunya.”

“Iya. Tolong jagain Rania ya, Mal.”

Sesak selalu datang menghampiri Mirah jika mengingat keadaan anaknya. Keadaan mereka yang berjauhan membuatnya tak bisa memantau perkembangan sang putri. Apalagi kini ditambah keadaan Rania yang sakit.

Maafin Ibu, Ran!

“Kamu mau pulang ke kampung?” bisikan Dae Ho di telinganya membuat Mirah sadar akan keberadaan lelaki itu yang masih di sampingnya. Dae Ho pasti mendengar semua pembicaraannya dengan Kumala.

Kepala Mirah mengangguk menjawab pertanyaan Dae Ho. Tentu saja siapa yang tak ingin kembali, jika mendapati keadaan seperti saat ini. “Iya, tapi aku harus berbicara dengan atasanku dulu, Oppa.”

“Dia pasti mengerti.”

Sedetik kemudian Mirah terhenyak. Dae Ho menariknya dalam pelukan. Tak lama laki- laki itu membawanya ke atas ranjang. Setelah merebahkan tubuh Mirah, Dae Ho berputar dan ikut berbaring. Dan laki- laki itu kembali memeluknya.

Mirah tergugu. Bukan hanya menangis karena Rania. Perhatian Dae Ho membuatnya bahagia. Dulu setiap kali ada masalah, Mirah hanya bisa menyimpannya sendiri. Bahkan saat menikah dengan Faisal pun. Faisal teramat sibuk bekerja, dan Mirah tak ingin menambah beban pikiran. Faisal pun tak pernah memeluknya selembut ini. Laki- laki itu terlalu lelah sepulang kerja.

Kehangatan yang menelusup dalam hati Mirah perlahan menguar. Tak lama ia merasa kantuk menyerang, dan sebelum dirinya jatuh dalam mimpi. Mirah sempat menggumam,

“Terima kasih, Oppa.”

***



“Ya udah kalau gitu kamu pulang aja. Urusan di sini bisa kok untuk sementara aku handle.”

Kanaya jelas wanita baik. Pagi saat Mirah mengabari kondisi Rania, wanita itu tak berkeberatan ia meminta izin pulang kampung untuk beberapa hari ke depan.

“Aku minta izin hari jumat aja kok, Mbak. kan sabtu minggu libur jadi…,”

“No. No! Kamu bisa pulang hari ini. Take your time! Anak kamu butuh kamu, Mir.” Kanaya menggelengkan kepalanya.

“Ta—tapi Mbak kan sibuk untuk peragaan busana. Aku nggak masalah Mbak pulang cuma tiga hari,” Mirah tak enak hati. Ia baru saja bekerja, masa iya sudah izin lama- lama.

Kening Kanaya mengerut sejenak. “Kamu udah berapa lama di Jakarta?”

“Eh?”

“Udah pernah pulang?”

Mirah menggeleng lemah. Kanaya tersenyum. “Nah itu berarti anak kamu lagi butuh kamu, Mir. Dia kangen.”

“Ta—tapi, Mbak…,” sungguh Mirah masih tak enak hati.

“Aku juga punya anak. Jadi aku tahu apa yang kamu rasain. Lagian aku rasa guru- guru di sini nggak masalah. Untuk sementara mereka bisa lah menghandle pekerjaan kamu.”

Mirah terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya ragu. Benarkah ini tak masalah?

“It’s Ok. Kamu pulang, terus berangkat pulang deh hari ini. Jadi nanti malam kamu sudah sampai di kampung.”

“I—iya, iya, Mbak.”

“Ya udah sana, kemasi barang- barang kamu, Mir! Atau apa perlu aku antar.”

Hah?

Mirah cepat- cepat menggeleng. “Nggak- nggak usah, Mbak. aku bisa pulang sendiri kok.”

“Beneran?”

Mirah mengangguk. “Eh, kamu pulang dengan suami kamu kan, Mir?”

Sontak Mirah terbelalak. Pulang dengan Dae Ho? Tentu saja tidak!

“I—iya, Mbak. Maaf Mbak kalau gitu aku permisi.” Mirah segera berpamitan. Ia menghindari semakin banyaknya kebohongan jika mengatakan tentang suami. Dan sesaat setelah keluar dari pagar sekolah, Mirah mengirimkan pesan kepada Dae Ho.

Oppa, bisakah aku pulang kampung hari ini?

***



Bandara Radin Intan cukup ramai saat Mirah melangkah turun dari pesawat. Keberuntungan seakan tengah berpihak padanya. Setelah kebaikan Kayana yang menyuruhnya segera pulang, Dae Ho pun bertindak lebih cepat. Ia menyiapkan tiket pesawat untuk Mirah, bahkan lelaki itu meluangkan waktu untuk mengantar Mirah ke bandara.

Sesaat Mirah celingukan. Pulang ke kampung halaman dengan menggunakan angkutan transportasi massal, jelas bukan pilihan yang tepat untuknya. Selain harus menuju terminal yang jaraknya lumayan dari bandara, kebiasaan bus yang suka mengetem tentu akan memperlama waktu tempuhnya. Sedangkan ia sudah sangat ingin tiba di rumah. Beruntung Mirah masih menyimpan nomor temannya yang berprofesi sebagai supir travel.

“MIRAH!”

Senyum Mirah mengembang saat melihat sosok lelaki bertubuh besar yang sudah lama ia kenal. Daud, teman sekolahnya saat SMK.

“Wih, sukses ya lo sekarang. Naeknya pesawat.”

Mirah hanya tersenyum menanggapi gurauan Daud. “Masih nunggu penumpang lagi?” tanya Mirah.

Daud menggeleng. “Nyari di jalan aja yuk! Gue tahu lo pulang karena anak lo kan?”

Kening Mirah mengerut. Daud dan dirinya tinggal tidak dalam kampung yang sama. Jadi bagaimana laki- laki itu mengetahui keadaan Rania.

“Kok lo tahu?”

“Kebetulan sekarang kan bini gue tinggal di rumah emaknya. Udah dekat- dekat mau lahiran, Mir. Jadi gue lebih tenang dia dekat sama orang tuanya.”

Mirah manggut- manggut. Istri Daud memang gadis yang satu kampung dengannya. Dua tahun lalu saat diundang ke pernikahan tetangganya, Mirah tak menduga jika mempelai pria adalah Daud, temannya saat sekolah. Sejak lulus, Mirah memang tak pernah berhubungan dengan Daud. Selain karena rumah mereka yang berjauhan, Daud pun tak cukup akrab dengan dirinya. Tetapi karena pernikahan itu, hubungan pertemanan mereka kembali. Bahkan Daud termasuk langganannya saat berjualan di pasar dulu.

“Jadi lo kalau balik ke rumah mertua dong?”

“Yoi! Ya udah yuk, keburu sore nanti.”

Mirah mengangguk mengiyakan. Ia baru saja hendak melangkah ketika matanya menemukan sosok laki- laki yang berdiri tak jauh darinya. Laki- laki itu tampak terkejut menatap Mirah.

“Mi—mirah?”

Seketika tubuh Mirah membeku. Dari sekian banyak tempat yanga ada di Lampung, mengapa justru di tempat ini mereka dipertemukan kembali.

Ah, laki- laki ini…

“Ba—Bang Faisal.”

***

Lampung, Mei 2016

5 komentar: