Jumat, 25 Desember 2015

[Cerpen] JANDA


JANDA

"Kamu yakin, Nduk?"

Aku mengangguk perlahan. Tak berani menatap wajah kecewa simbok. Mataku memanas, hatiku perih, jiwaku menangis. Membuat kecewa dan sedih simbok adalah hal yang paling kuhindari. Anak mana yang ingin mengecewakan hati orang tuanya, anak mana yang ingin disebut anak durhaka. Sungguh akan kulakukan apapun asal takk membuat simbok sedih, satu- satunya orang tuaku yang masih ada.

"Ndak bisa dipikirin lagi, Nduk?" tawar simbok halus.

Aku makin menunduk. Lidahku kelu. Tak dapat berucap. Aku sadar simbok belum bisa menerima keputusanku. Aku tahu hal ini sangat sulit, tetapi apa aku harus mempertahankan hal yang sia- sia. Yang hanya akan menyakitkan hati dan kelak membuatku menyesal seumur hidup. Tidak, aku menggeleng mantap.

Kuraih tangan kasar simbok. Tangan yang bertahun- tahun telah membesarkanku dan kakak- kakakku sepeninggal ayah, tangan yang bekerja keras setiap hari untuk kelangsungan hidup anak-anaknya. Tangan ini pula yang berusaha keras mengerjakan apa saja yang halal asal kami bisa makan. Kuusap lembut jemarinya,

"Mbok, Lastri tahu Mbok kecewa," ucapku pelan sambil menghela nafas, "Semua sudah Lastri sudah pikiran matang- matang, Mbok."

Simbok mengangguk- angguk. "Ya sudah, mbok hanya ingin kamu bahagia,'' ujarnya pelan namun nada kecewa masih dapat kurasakan. Maafkan anakmu, Mbok.

***

Namaku Lastri. Umurku 23 tahun. Gelar janda segera akan kusandang mengingat keputusanku sudah bulat. Pria yang menikahiku dua tahun lalu berselingkuh. Yap, dua tahun hanya dua tahun, waktu yang singkat bukan? Cih, tak sudi rasanya mengingat lelaki itu. Lelaki yang pada akhirnya menyisakan duka dalam hidupku.

Beberapa bulan terakhir ini, ia terlihat bahagia sepulang kantor. Binar dimatanya terlihat jelas. Senyumpun selalu tersungging di wajahnya. Awalnya aku hanya mengira ia mendapat proyek besar dari kantornya hingga sorot bahagia terukir jelas di wajahnya. Namun kusadari ada yang berbeda dari dirinya. Mungkin inilah yang dikatakan naluri wanita. Kamu dapat mencium "sesuatu" yang sedang terjadi pada suamimu. Sesuatu yang tak beres.

Maka pelan- pelan aku mulai menyelidiki suamiku sendiri. Aku mulai mengecek handphonenya, namun tak kutemukan SMS/telepon yang mencurigakan. Bajunya pun selalu bersih, tak ada noda lipstik yang tertempel seperti di sinetron- sinetron yang ku tonton. Maka perlahan kecurigaanku pun memudar, apalagi ditambah kehamilanku yang semakin membesar.

Badai prahara pun datang. Serapat- rapatnya bangkai ditutup akhirnya tercium juga. Selang sebulan setelah kelahiran anakku, aku harus menerima pahitnya dikhianati. Hari itu aku ingat sakitnya hatiku saat melihatnya bergumul erat dengan perempuan sialan itu di ranjangku. Aku yang hampir sebulan tinggal di desa karena kelahiran anakku, sengaja memilih kembali kerumah tanpa pemberitahuan bermaksud memberikan kejutan manis pada suamiku ternyata mendapat kejutan jauh lebih luar biasa. Mataku nanar menatap perselingkuhan yang terjadi di depan mata dan ia lelaki yang masih berstatus suamiku hanya dapat terbelalak tak menyangka akhir perselingkuhannya ketahuan juga.

Jangan bayangkan setelah perselingkuhan ia akan mengiba maaf padaku, tidak terjadi hal itu. Justru tingkahnya makin menjadi. Dengan tanpa bersalah, perempuan itu sering dibawanya kerumah. Tangannya kerap memukul jika aku menegur sikapnya. Sudah ta berharga lagi aku sebagai istri di matanya. Panas telingaku mendengar gunjingan para tetangga dan kenalan mengenai kelakuan suamiku dan wanita sialan itu. Aku hanya bisa diam, menangis dalam sepi, mencoba bertahan demi anakku.

"Bersabarlah, Nduk. Ingat anakmu butuh seorang ayah," ucap Simbokku saat kukeluhkan sikap suamiku.

"Mbok," ujarku lirih.

"Nduk, kamu pikirkan nasib anakmu kedepan. Ia perlu makan, baju yang bagus, sekolah. Semua bisa dia dapat dari ayahnya saja, Nduk,"

Aku terisak. Sungguh aku tak kuat menghadapi perilaku suamiku sendiri. Sakit, malu, dan tak berharga yang kurasakan. Tak hanya tertekan secara hati namun juga fisikku mulai rapuh. Tubuhku mulai penuh lebam dan biru akibat pukulan dan tendangannya. Haruskah aku terus bertahan seumur hidup?

Kuakui hidupku mulai terangkat saat menikahinya. Ia merupakan salah seorang anak dari kepala desa. Wajahku yang manis menurut orang- orang kampung membuatnya terpikat padaku. Bak gayung bersambut, aku pun sebenarnya diam- diam menyukainya saat duduk di sekolah menengah. Ia memiliki wajah rupawan juga sikap yang melindungi. Namun aku tahu diri, siapalah aku yang hanya seorang anak buruh tani dengan ia yang anak kepala desa dan memiliki sawah dimana- mana. Maka kukikis perasaan itu, apalagi kudengar ia melanjutkan sekolah ke kota. Ah, makin jauh saja kami. Bagai pungguk merindukan bulan diriku ini.

Beberapa tahun berlalu, ia pun kembali untuk mengunjungi orang tuanya. Penampilan khas orang kota dan ditunjang wajah yang memang tampan sejak kecil membuatnya langsung diidolakan seluruh gadis kampung. Semua memimpikan menjadi pasangannya tentunya. Pun tak terkecuali aku, yang memang menyukainya sedari dulu. Lagi- lagi aku diingatkan untuk sadar diri, siapa aku siapa dia. Toh siapa menjamin jika ia tidak memiliki kekasih cantik jelita di kota. Namun ternyata takdir berkata lain.

***

"Kamu Lastri kan?"

Aku ternganga tak percaya saat sosok pemuda impian gadis satu kampung berdiri di hadapanku tepat saat aku melangkah keluar masjid, sehabis mengajar di TPA.

"Lastri...," panggilnya kemudian. Aku terhenyak, masih tak percaya lelaki itu berdiri di depanku, dan mengenal namaku. Catat, ia mengenalku.

"I...i...ya,'' sahutku cepat. Aku dapat merasakan tubuhku mendadak lemas dan jantungku bekerja lebih cepat.

"Masih mengingatku kan?"

"Haahhh!" Refleks ucapan tak sengaja terlontar dari mulutku. Ah, apa yang ditanyakannya. Mengingatnya. Siapa yang tak mengingat sosok lelaki tampan sepertimu,

Ia tersenyum. Senyum paling manis sedunia, menurutku. Ah, mendadak hatiku menghangat hanya melihatnya tersenyum saja. Ya Tuhan...

"Kamu itu lucu ya dari dulu sampai sekarang,'' katanya masih dengan senyum termanisnya, "Menggemaskan,"

Lucu, menggemaskan dia bilang, batinku. Dari dulu sampai sekarang? Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam.

"Hei...Lastri," panggilnya menarik kesadaranku. "Kamu melamun terus?"

"Iya...eh.. nggak eh itu," Ya Tuhan, aku gugup. Sangat gugup.

Ia terkekeh geli. "Kamu itu ya!" ujarnya kemudian. "Sudahlah, ayo pulang!"

"Pulang?" tanyaku tak mengerti.

la mengangguk, "Iya, pulang. Memangnya kamu mau kemana lagi?"

Aku menggeleng. Masih tak dapat kupahami. Ia lelaki yang hadir dalam mimpiku, yang entah bagaimana caranya mendadak muncul di hadapanku, mengenal namaku dan mengajakku pulang. Masih tak kupahami apa yang terjadi,

"Lastri, ahh... kamu melamun lagi,"

Aku terdiam. Menghembuskan nafas perlahan. Bagaimana aku tak melamun, jika kejadian ini saja serasa mimpi.

Ia menarik tanganku, " Baiklah, aku tahu kamu masih bingung. Semua akan kujelaskan di rumahmu."

Yang aku tahu, perasaanku berbunga- bunga kemudian. Sangat bahagia. Siapa menyangka ia mengatakan menyukaiku. Terpikat dengan kecantikan alami yang kumiliki. Ya Tuhan, ia mengatakan aku cantik. Aku yang cuma anak seorang buruh tani. Dan mimpiku pun jadi nyata. Sebulan setelah pertemuan kami ia dan keluarganya melamarku. Tepat sehari setelah pernikahan, ia membawaku ke kota. Ah, siapa kira hidup awalnya indah tak bertahan lama, dan kini keputusan cerai yang kupilih.

Kuakui aku salah karena terpikat wajahnya yang rupawan serta derajat keluarganya yang sangan terpandang di kampungku. Sifat dan perilakunya tak ada yang tahu karena ia lama tinggal di kota. Siapa mengira wajahnya yang tampan justru digunakan memikat perempuan- perempuan dalam pelukannya. Aku menyesal, namun apalah arti penyesalan saat ini lebih kupikirkan hidupku selanjutnya.

***

"Maafkan kami, Nduk." Ucapan bersalah kudengar dari seorang lelaki baya di hadapanku. Sedangkan perempuan di sebelahnya hanya dapat terisak.

Lelaki itu, mantan kepala desa yang dihormati dan disegani di kampungku datang untuk meminta maaf. Keduanya, mantan oh salah tepatnya calon mantan mertuaku khusus datang untuk bertemu denganku hari ini.

"Kami meminta maaf, Nduk atas semua kesalahan anak kami. Kami selaku orang tua malu, sangat malu."

Aku mengangguk- anggukkan kepala. Tak dapat berucap apapun. Aku tak tega melihat keadaan kedua mertuaku saat ini. Aku yakin mereka pun teramat kecewa dengan sang putra, ah sudahlah ini memang sudah takdirku.

"Pak, Bu..." Kataku pelan. "Aku yang meminta maaf jika selama ini tak menjadi menantu yang baik, maaf pula jika akhirnya aku memutuskan untuk bercerai,"

Lelaki baya itu mengangguk, "Kami mengerti, Nduk. Kamu masih muda. Hidupmu harus bahagia. Biarkan suamimu mendapat kehancurannya sendiri. Kami sangat malu padamu, Nduk."

Aku menghela nafas perlahan. Tak pernah kusangka kedatangan keduanya hari ini. Hingga ucapan maaf yang terlontar dari keduanya. Meminta maaf atas segala kelakuan sang anak. Aku yakin keduanya juga menyembunyikan kesedihan yang teamat sangat. Sorot mata kecewa jelas terlihat dari keduanya. Ah, sungguh tak tega melihatnya.

Aku percaya ada hikmah di balik semua peristiwa. Keputusan yang kuambil memang menyakitkan. Aku di usia yang sangat muda harus menyandang gelar janda. Gelar yang sebenarnya pantang di keluargaku. Itulah mengapa Simbok sangat kecewa. Namun hidupku tak ingin berakhir hanya dengan kesia- siaan. Aku masih muda, jalanku masih panjang. Aku tak ingin terkungkung menjadi perempuan bodoh yang terus tersakiti. Hidup mungkin akan sulit kulalui selanjutnya, perempuan muda dengan seorang anak. Tetapi kuyakin Tuhan tak pernah tidur, kelak bahagia kan kuraih.



Bandung, 15 April 2014

5 komentar:

  1. Agen Slot Terpercaya
    Agen Situs Terpercaya


    Buruan Gabung Bersama Kami di 88CSN

    Dapatkan:
    BONUS SETIAP HARI 5%
    BONUS NEW MEMBER 180%
    BONUS MEMBER POKER 20%
    BONUS HAPPY HOUR 25%
    dan banyak lagi bonus lain nya.
    Info Lebih Lanjut Bisa Hub kami Di :
    WA : 081358840484
    BBM : 88CSNMANTAP
    Facebook : 88CSN
    www.wes88.com

    BalasHapus