Selasa, 22 Desember 2015

[Cerpen] Aluna




Aluna


Cantik, satu kata yang kuungkapkan saat pertama melihat dirinya.  Matanya yang bulat terlihat menggemaskan berpadu dengan hidung mancungnya. Wajahnya yang mulus, nyaris tanpa cela membuatnya sangat menawan. Ia akan terlihat sempurna jika memperlihatkan senyum dengan dua dekik lesung di pipi. Benar- benar mempesona, batinku.
“Sejak kejadian itu, dia seperti itu!”
Sebuah suara sontak menyadarkanku. Aku menoleh dan mendapati seorang perempuan baya berdiri disampingku dengan pandangan lurus ke depan. Kuanggukkan kepala, untuk itu aku berada disini.
 “Bajingan itu dengan tenang melenggang di luar, sedangkan ia...” kalimat itu tak diteruskan karena selanjutnya hanya terdengar isakan tangis.
Dengan cepat kurengkuh bahu tua yang bergetar itu, “Iya Bu, saya mengerti. Sabarlah!”
Dapat kulihat gelengan kepala dari perempuan tua itu, “Tidak, tidak ada yang mengerti. Aluna harus menanggung derita selama ini, namun orang di luar menghinanya. Tidak,ini tidak adil!”
Kuhela nafas panjang, “Memang tak adil untuknya,” gumamku pelan. Nyaris tanpa suara.

***
Aluna, nama gadis cantik itu. Tak hanya memiliki wajah rupawan, namun juga memiliki kelembutan hati. Gadis ceria dan menyenangkan. Tetapi itu dulu. Semuanya berubah dalam sekejap. Aluna yang sekarang jauh berbeda 1800.
“Saya menyesal meninggalkannya malam itu, Mbak. Saya tidak tahu kalau ternyata Tuan tega melakukan terhadap non Luna, “ Bi Inah, perempuan baya yang sedari tadi disampingku memulai ceritanya. 
Aku menarik nafas panjang setelah mendengar cerita Bi Inah. Kesedihan menggelayutiku.
“Alangkah malangnya nasibmu, Lun.” Bisikku lirih seraya mengamati Aluna yang duduk mematung di samping jendela kamarnya. Gadis cantik itu terus memandang lurus ke depan. Kosong. Pucat. Ia benar- benar mengalami depresi. Tubuh kurusnya semakin mempertegas tekanan hidup yang dialaminya. Hanya raganya lah yang membuktikan ia masih bernafas hingga saat ini.
“Lelaki itu harus dihukum, Mbak!” Ujar Bi Inah dengan keras. Aku mengerti kemarahan melingkupi perempuan paruh baya ini. Perempuan yang menghabiskan sebagian besar umurnya untuk membesarkan gadis itu. Bi Inah tahu benar bagaimana perubahan besar pada sikap Aluna.
Kupandangi lagi gadis itu. Masih tak bergeming dari kursinya. Masih tatapan yang sama. Jauh dan tak tergapai.
Aku menghela nafas panjang. Gadis ini benar- benar menderita.

***
“Kamu yakin, De?”
Aku mengangguk mantap, “Yakin, Bu!” Jawabku pada Ibu Ranti, atasanku yang kulihat sedikit ragu.
“Tapi ini…,” Bu Ranti ragu, aku tahu itu. Tanpa perlu ditanya aku tahu maksudnya.
“Saya tahu, Bu. Tetapi atas nama keadilan dan kebenaran lelaki itu wajib dihukum. Tak peduli orang penting sekalipun,” ucapku, “Walaupun sejujurnya hukuman pidana masih tidak adil,”
“Saya sendiri tak dapat membayangkan beban hidup yang ditanggung Aluna, Bu!”
“Ya, saya mengerti,” kata Bu Ranti kemudian, “Tetapi kamu harus berhati- hati. Ini berurusan dengan orang berpengaruh,”
Kuanggukkan kepala, “Iya, saya mengerti. Terima kasih, Bu!”
***
“Lun, kumohon! Jangan biarkan dirimu menderita sendirian. Kamu harus membuat lelaki itu juga menderita,”
Ini kesekian kalinya aku berbicara dengan Aluna. Tidak mudah memang. Aluna benar- benar mengalami depresi akut karena kejadian itu. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Dengan bantuan beberapa sahabat, aku terus berupaya untuk membuat Aluna bangkit. Kami terus berusaha memotivasi semangat hidup gadis itu. Ia masih terlalu muda, jalannya masih panjang. Masih banyak mimpi yang harus ia raih.
Perlahan Aluna menunjukkan perubahan. Ia mulai dapat diajak berkomunikasi. Sedikit mulai sedikit ia berani mengungkapkan tragedi malam itu. Tragedi yang mengguncang hidupnya.

***
Ada gerakan kecil di ranjangnya. Aluna menyadari itu. Namun matanya masih terpejam. Ah, mungkin saja Bi Inah yang memang biasa menemani tidurnya, pikirnya.
Tapi tunggu dulu!
Mengapa dirasakannya sebuah tangan meraba- raba tubuhnya. Meremas- remas dadanya dan tangan lain mulai meraba area pahanya. Ini…
Aluna terbelalak saat mendapati tubuh mungilnya dihimpit beban berat. Ia semakin tak percaya saat melihat sosok yang menindihnya.
Aluna ingin berteriak, namun tangan besar itu berhasil membungkamnya. Kedua kakinya pun ditekan oleh tubuh besar itu. Tubuh kecilnya tak cukup kuat untuk melepaskan diri.
Aluna panik, ia yakin akan terjadi sesuatu. Sesuatu yang merusak dirinya. Dengan berlinang air mata, Ia menatap sosok itu, “Jangan, jangan lakukan itu!” ia berteriak namun suaranya tertahan. 
Sreeettt,
Tidakkkkkkkk, teriaknya lagi.
Terlambat,
Karena pada akhirnya kesakitannya yang menghampiri tubuhnya.

***
“Jadi gimana, Lun? Kamu siap?” Tanyaku memastikan. Sungguh, aku menyadari ini bukan hal mudah baginya, melaporkan penjahat itu sama saja membuka aibnya sendiri.
Aluna menatapku, “Mbak De, ini mungkin memang berat. Tapi seperti yang mbak bilang lelaki itu harus merasakan penderitaan yang sama denganku,”
Kuanggukkan kepala, “Harus, Lun. Tapi setelah ini kamu harus siap dengan konsekuensinya,” Kuhela nafas sesaat, “Tetapi yakinlah aku akan terus disampingmu! Kamu nggak sendiri!”
Aluna tersenyum, “Terima kasih, Mbak De!” Ujarnya tulus.
“Ehm, mbak De…,” Aluna memandangku ragu, membuatku mengernyitkan dahi,
“Kenapa, Lun? Sepertinya ada sesuatu yang mau kamu tanyakan?”
“Ehm iya, Mbak,” Sahutnya, “Kenapa mbak De mau bantu susah payah membantuku?”
“Karena aku nggak ingin kamu bernasib seperti adikku. Bunuh diri karena menjadi korban,” Jawabku jujur.
Aluna ternganga mendengarnya, “ Ma…maaf mbak De,”
Kuhela nafas panjang, “Kalian memang menjadi korban tetapi kalian juga masih berhak untuk hidup dan memiliki impian,”
“Dan aku ingin melindungi kaumku,”Lanjutku kemudian dengan yakin.

***


Berita hari ini
Dikabarkan YS, Seorang anggota DPR dilaporkan ke polisi karena tindak pelecehan seksual yang dilakukannya terhadap Al beberapa waktu lalu. Al yang merupakan putrid tiri korban sempat mengalami depresi panjang, dan kali ini ia kembali dengan membawa banyak bukti dan saksi yang akan menyeret sang ayah ke penjara. Hingga detik ini YS belum bisa dihubungi.
Ini bukan akhir, tetapi awal perjuangan dimulai, bisikku pelan.

***

Penengahan, 24 Oktober 2014

3 komentar:

  1. kebangeten bapak kayak gitu itu...
    harusnya jangan cuma dijatuhi hukuman pidana, sekalian juga dikasih hukuman sosial.
    ditato aja jidatnya... dikasih tulisan "pemerkosa"... gitu...

    BalasHapus