Selasa, 23 Februari 2016

[Cerpen] Jangan GR


Gambar diambil dari www.silhouettesfree.com



Jangan GR. Gede Rasa. Over Pede. Karena ini bisa membuatmu kehilangan persahabatan. Ya persahabatan.
“Tuh kan Sin gue bilang apa? Dia tuh suka sama gue. Dari tadi ngeliatin gue mulu.”

Aku mengernyit lalu mengarahkan pandangan lurus. Mencari objek dia yang dimasuk Mariana, sahabatku. Sesaat kemudian aku mendengus saat menemukan dia.

“Yakin amat sih lo dia suka sama lo?”

Mariana tersenyum lebar. Ia berkata dengan nada bangga setengah mati, “Yakinlah. Bukti- buktinya udah jelas.”

Alisku bertaut, “Bukti?”

“Nih ya, dia tuh sering curi- curi pandang ke gue. Terus suka senyum- senyum ke gue. Pernah kan dia nganter gue pulang. Dia nggak keberatan tuh juga gue ajak jalan kemarin. Jadi kurang jelas apa coba?“

Aku manggut- manggut mengiyakan. Marcell itu -lelaki yang disukai Mariana- meski sedikit pendiam dia masuk kategori cowok pupuler sekolah. Ketua klub futsal, cocok sih sama Mariana, yang juga menjabat klub tari sekolah. Sama- sama cakep, sama- sama populer.

Pasangan serasi.

“Jadi gue putuskan untuk menembaknya?”

“Mati dong!” Selorohku yang disambut delikan Mariana.

“Ish lo ini serius dikit ngapa! Malah bercanda.”

Aku tertawa, “Ya udah jadi gue mesti bantu apa?” kataku akhirnya mengalah. Senyum Mariana pun kembali terulas,

“Well, rencana gue itu…,”

***

Ini konyol. Entah darimana Mariana dapat ide sekonyol ini. Menjadikan lapangan futsal sekolah sebagai tempat pernyataan cinta. Aku yang kebagian sial, memohon-mohon pada penjaga sekolah untuk meminjamkan kunci gedung olahraga sebentar. Tidak hanya memohon tapi juga merelakan uang jajan semingguku untuk menyogok pak tua itu. Ditambah aku harus memasang spanduk yang bertuliskan aku sayang kamu, Marcell. Ck, menggelikan sekaligus menyebalkan.

Mariana memang gila! Tunggu saja saja sampai dia harus mengganti semua uangku.

Double dengan pajak jadiannya.

Sebuah suara menyentakkan kesadaranku. Mariana masuk bersama Marcell. Aku bersiap di tempatku untuk mengabadikan momen yang special, menurut Mariana.

Ck, kalau bukan sahabat gue aja nggak akan gue mau, gerutuku dalam hati.

“Ini apa- apaan sih, An?” Kening Marcell mengerut bingung. Matanya menatap spanduk yang sudah terpasang rapi. Tanganku bergerak memperbesar layar kamera yang kupegang, mendapatkan wajah Marcell sepenuhnya. Sesekali berpindah ke Mariana.

Cih, senyum malu- malu itu! Amit- amit dah,

“Itu perasaanku, Cell sama kamu. Aku bawa kamu ke sini buat bilang aku sayang sama kamu.”

Nih cewek emang nggak ada malunya. Bertahun- tahun bersahabat dengannya aku tau persis sikapnya. Berani, percaya diri dan blak- blakan.

“Terus?”

Aku melongo. Kok terus? Ini Marcell yang dodol apa gue sih yang salah dengar. Tempatku memang agak tersembunyi dari pandangan mereka tapi juga tidak terlalu jauh. Sepinya ruangan jelas membuatku mendengar apapun yang mereka katakan.

“Terus kamu jadi pacar aku,”

Aku mendengus geli. Mariana tak terpengaruh. Benar- benar percaya diri yang sangat tinggi!

“Tapi aku nggak suka kamu.”

Whatt! Aku melotot saking terkejutnya. Mariana juga. Ia terbelalak tak percaya. “Ta—tapi…,”

Bibirnya bergetar. Kalau sudah begini aku tak sabar muncul dari persembunyianku. Tak peduli rekaman yang harus kubuat. Mariana itu sahabat karibku, melihatnya menangis tentu mendidihkan isi kepalaku.

“Kalau lo nggak suka ngapain PHP?” Kemunculanku jelas mengagetkan Marcell. “Lo cowok kan? bukan banci. Ngapain lirik- lirik, senyum-senyum, suka ngasih perhatian kalau nggak suka. Rese lo ya! ”

Marcell terdiam. Aku menarik tangan Mariana, “Yuk An, cowok begini mah harusnya lo lempar ke laut biar dimakan hiu hidup- hidup. Tukang PHP!”

Mariana menurut. Sepertinya dia masih cukup shock dengan penolakan Marcell. Aku membawanya keluar, namun tiba- tiba kata- kata Marcell menghentikan kami.

“Tunggu!” Aku dan Mariana berbalik. “A—aku bukan PHPin Mariana.”

“Lalu?” Tanyaku tak sabar.

“Aku nggak senyum- senyum ke Mariana. Aku juga nggak ngasih perhatian ke dia, aku cuma mau baik sama dia aja. ”

Mataku melebar. Sesaat kupandangi wajah Marcell untuk mencari kebohongan tapi sorotnya yang tajam menyakinkanku kalau dia jujur. Aku menghela napas berat, ini sih judulnya sahabat aku yang ke-Gran akut. Parah.

Tapi…,

“Lagian aku sukanya sama kamu, Sin.”

Hah?

***

Jangan GR. Gede Rasa. Over Pede. Karena ini bisa membuatmu kehilangan persahabatan. Ya persahabatan.
“Pulang, Yang!”

Kuanggukkan kepala lalu mengulas senyum lebar, “Yuk!” kataku sembari naik ke atas motor Marcell. Kulingkarkan tanganku pada pinggangnya. Memeluknya erat. Dicintai cowok keren dan populer, siapa takut?



=end=

Lampung, Februari 2016
Posted in Kompasiana


1 komentar: