Jumat, 17 Juni 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (18)


 sebelumnya di sini


“Katanya kamu di Jakarta sekarang, Mir. Kerja apa?”

“Gajinya gede nggak? Kalau gede, ajak-ajak anak bibi dong!”

“Eh, Mir kamu di sana udah punya pacar belum?”

“Iya Mirah nih kapan nyusul? Jangan sendiri aja!”

“Ayahnya Rania masih di Jakarta ya, Mir. Ketemuan nggak sama mantan?”

“Tapi ngomong-ngomong dulu kamu kenapa cerai sih?”

Mirah memijit kedua pelipisnya. Inilah yang paling ia hindari setiap bertemu dengan sanak keluarga besarnya. Terlalu banyak pertanyaan, tetapi berujung pada hal sama.

Kapan kamu nikah?

Ck, dikira nikah buat mereka gampang apa ya. Ia seorang janda. Telah mengalami gagalnya berumah tangga, jadi kalaupun menikah lagi harus dipikir matang-matang.

Eh. menikah lagi?

Mirah tersenyum kecut. Bukankah memang sudah dijalaninya? Ia kan sekarang seorang istri. Istri Lee Dae Ho, warga negara asing yang sedang bekerja di Indonesia.

Meskipun cuma kontrak tetap seorang istri kan?

“Yuk Mir!”

Mirah menoleh. Arvina, adiknya menghampirinya. “HP mu mana? Kumala telepon. Rania ngerengek di rumah, minta kamu pulang,”

Senyum Mirah melebar kemudian. Akhirnya ada juga alasannya untuk segera pulang. Ia sudah jengah sedari tadi. Segera ia pun berdiri dari kursi lalu berpamitan dengan beberapa saudara yang duduk dekat dengannya.

“Emak di dalam,” ucap Arvina saat menyadari kepala Mirah celingukan. “Sudah Ayuk pulang saja. Nanti aku yang bilang sama Emak. Kasihan juga Rania,”

“Pamit sama Uwak aja, Yuk!” lanjut Arvina sambil menunjuk ke arah pelaminan di mana kedua mempelai -yang salah satunya adalah sepupunya- dan kedua orangtua mereka.

Mirah manggut-manggut membenarkan. Ia pun akhirnya memutuskan segera pergi, sebelum kemudian menghampiri Uwak dan sepupunya di pelaminan. Ah, akhirnya pergi juga…

“IBUUUUUU!”

Mirah mengernyit karena teriakan Rania saat ia tiba di rumah. Gadis kecil itu menerjang dan memeluknya erat-erat. Wajah terlihat sembab. Refleks Mirah menoleh dan mengarahkan tatapan tajam ke Kumala.

“Rania kira Ayuk balik ke Jakarta nggak bilang-bilang. Makanya dari tadi nangis-nangis nggak jelas gitu.” Jelas Kumala. “Manja, huh!” Cibirnya kemudian ke arah Rania yang berbuah pekikan gadis cilik itu.

“Bikcikkkkkkk jahatttttt!”

“Rania!” tegur Mirah. “Cup-cup, Sayang! Ibu di sini kok. Ibu nggak kemana-mana,” katanya sembari membawa Rania ke kursi yang berada di ruang tamu.

Tangis Rania tak lama berhenti, namun sesekali ia masih seunggukan dalam pelukan Mirah. Mirah menggeleng, selama ini ia tak pernah mendapati Rania bersikap seperti ini. Anaknya tumbuh menjadi gadis yang mandiri. Maka meski berat, Mirah tak khawatir Rania tinggal bersama ibunya. Tetapi sepertinya yang terjadi justru tak seperti yang harapannya. Padahal ia tadi hanya pergi beberapa jam. Memang ketika ia pergi, Rania sedang tertidur.

“Tadi pagi Ibu bilang kan mau tempat Nek Ros abis Bikcik pulang,”

Rania tak menjawab namun kepalanya mengangguk perlahan.

“Terus kenapa Rania nggak percaya? Kan kasihan bikcik juga. Masa anak Ibu jadi cengeng gini.”

Rania bungkam. Ia tak berkata apapun. Kening Mirah mengerut dibuatnya. Batinnya bertanya-tanya apa yang terjadi dengan anaknya. Perlahan ia mendongak dan menatap Kumala yang duduk di kursi seberang. Adiknya hanya menggeleng dengan bahu mengedik. Jelas ia pun tak tahu apapun.

Mirah pun hanya bisa menghela nafas panjang, entah apa yang telah terjadi dengan anaknya? Apa karena ia kini bekerja di Jakarta sehingga Rania menjadi cengeng dan manja seperti sekarang. Bahkan untuk bergerak saja, Mirah kesulitan. Rania benar- benar tak ingin lepas dari libunya.

“Ibu capek, Ran. Ibu ngantuk. Kita ke kamar ya!”

Rania bergeming. Mirah makin heran dibuatnya. Apa sih yang terjadi dengan anak ini?

“Ibu beneran ngantuk loh, Ran. Capek. Kan baru nyampe semalam. Kurang bobo lagi. Masa Rania nggak kasihan sama Ibu?” ujar Mirah kembali membujuk. Sejujurnya ia memang lelah. Istirahatnya masih kurang, semalam ia tidur larut karena mengobrol dengan Kumala. Tepatnya menanyakan semua hal yang terjadi selama dirinya pergi.

Mirah menghirup nafas dalam-dalam lalu mendesah panjang. “Rania udah makin gede kan? Berat, Nak kalo masih harus Ibu gendong.”

Tak lama Rania pun melepaskan diri. Ia berdiri lalu menarik lengan Mirah menuju kamar. Mirah pun menggeleng geli. Butuh sedikit lebih sabar, huh!

“Ya udah tidur, yuk!”

Keduanya kini sudah berbaring di atas ranjang. Mirah sejujurnya masih diliputi rasa penasaran. Tetapi ia harus dapat menahan diri. Rania sepertinya belum mau berbicara.

Sesaat hening.

“Ibu, jangan pergi lagi ya,”

Mirah tersentak. Matanya yang perlahan terpejam pun terbuka seketika. Kepalanya menunduk sedikit untuk menatap gadis kecilnya.

“Rania tadi mimpi Ibu pergi naik pesawat, tinggalin Rania sendirian.” Katanya sambil terisak. “Rania udah panggil-panggil. Udah teriak-teriak. Tapi Ibu tetap pergi.”

Nafas Mirah tercekat seketika. Dadanya terasa sesak. Hanya sebuah mimpi tapi mampu membuat Rania tertekan.

“Itukan cuma mimpi, Ran.” Mirah mencoba mengulas senyum. “Rania kan tahu Ibu pergi ke Jakarta cari uang buat sekolah Rania. Nanti kalau uangnya udah ke kumpul banyak, kita juga tinggal bersama lagi, Ran.”

Rania menggeleng. “Rania eng—nggak, hiks usah sekolah aja, hiks biar i—bu nggak per—gi.”

“Rania, kok ngomong gitu sih, Nak?” Mirah membuang napas pendek. “Sekolah itu penting loh. Rania kan bilang mau jadi dokter. Mana ada dokter nggak sekolah.”

Rania diam. Kepala Mirah menggeleng. Perlahan ditatapnya Rania lalu diusapnya kedua pipi anak perempuannya.

“Udah gede, nggak boleh cengeng ah anak Ibu,” ujar Mirah menenangkan. “Tidur aja ya! Jangan dipikirin lagi. Ibu nggak kemana-mana kok.” Ucapnya lagi sambil memeluk tubuh Rania. Sesaat matanya terpejam.

Maafkan Ibu, Ran…

***



“Sejak ada kamu, Rania kolokan banget ya, Mir.”

Mirah mengangguk mengiyakan ucapan Ibunya. Sudah dua hari ia berada di kampung, dan memang Rania tak pernah mau lepas darinya. Selalu saja menempel padanya.

“Namanya anak-anak, Mak.”

Darmini menggeleng lalu mencibir. “Biasanya nggak gitu juga, Mir. Terus kamu kapan mau kembali ke Jakarta. Itu bos kamu nggak nanyain? Kan kamu baru kerja. Salah-salah dipecat lagi. Gimana mau kekumpul uang kalau gitu.”

Mirah meringis. Meskipun dipecat, ia masih istri Dae Ho kok? Jadi untuk masalah uang, Mirah tak ambil pusing.

“Nanti, Mak. Tunggu Rania membaik.” Sahutnya lirih.

“Jangan lama-lama. Bisa makin susah nanti kamu juga. Oh ya...,” ucapan Darmini terhenti. Mirah menatap Ibunya bingung. Ibunya terlihat sedikit kikuk dan gelisah.

“Kenapa, Mak?”

“Itu...,” Darmini menghela napas sejenak. “Bulan lalu mantan suami kamu kemari,”

Mata Mirah membulat saking terkejutnya. “Ba—bang Faisal?”

Darmini mengangguk perlahan. “Iya. Cuma dia nggak sempat ketemu Rania. Anak kamu itu kebetulan lagi dibawa Kumala minep ke Pringsewu. Tempat Rasnah.” Ujarnya dengan menyebutkan nama adik bungsunya.

Mirah terdiam. Sejujurnya ia tak menduga jika Faisal sampai kemari. Ia memang terkejut dengan pertemuan dengan mantan suaminya di bandara kemarin. Ia memang sempat bingung dengan keberadaan Faisal di daerahnya, seingatnya setelah mereka berpisah Faisal pindah ke Surabaya.

Jadi buat apa ia kemari? Bahkan sampai mengunjungi desanya.

“Dia nanya Rania. Ibu bilang Rania ikut kamu kerja di Jakarta,” jelas Darmini lagi.

Mirah hanya mengangguk perlahan. Sungguh ia masih diliputi kebingungan. Untuk apa lelaki itu muncul kemari. Lebih dari tiga tahun tak peduli dan kini kembali. Terjadi sesuatukah?

“Mirah!”

“Eh!”

“Kok malah bengong kamu,”

Mirah tersenyum kecut. “Nggak usah dipikirin. Laki-laki nggak tanggung jawab, huh!” rutuk Darmini kemudian.

“Jangan dikasih hati laki-laki kayak gitu!”

Keluarga Mirah terutama orang tuanya sangat terpukul dengan perceraian yang terjadi saat itu. Dalam keluarga mereka, pernikahan adalah hubungan yang sakral yang harus dijaga selamanya. Aib jika terjadi perceraian. Dan karena hal itulah Ayahnya sampai stress hingga berakibat kondisinya fisiknya yang menurun.

“Tapi dia tetap ayah Rania, Bu.” Ujar Mirah diplomatis.

“Huh, kamu itu terlalu baik, Mir!” sindir Darmini sambil berlalu dari meja makan. Mirah meringis. Sampai kapanpun Rania adalah darah daging Faisal. Fakta yang tak terbantahkan. Dan selamanya hubungan tersebut takkan terputus.

Tiba-tiba dering ponsel menarik kesadaran Mirah. Matanya terbelalak saat melihat ID Caller si penelpon. Bergegas Mirah pun mengangkat panggilan tersebut.

“Mira!” Sapa suara di seberang telepon yang seketika membuat jantung Mirah berdegup sedemikian cepat.

“O—oppa,” jawab Mirah terbata. Nyaris dua hari di kampung, Mirah memang tak pernah menghubungi Dae Ho. Hanya sekali saat ia tiba di rumah, selanjutnya dia tak pernah mengabari suaminya. Keberadaan Rania di sekitarnya menghalangi keinginannya. Lagipula Dae Ho juga tak pernah menghubunginya lebih dahulu, membuat Mirah sedikit rendah diri.

Siapa lah aku…

“I miss you, Mira!”

Mirah memang tidak fasih dalam bahasa Inggris, tetapi tiga kata yang diucapkan Dae Ho sangat bisa ia mengerti. Mendadak perasaan hangat pun melingkupinya. Ada geliat rasa berbeda yang kembali muncul di hatinya. Rasanya bahagia.

Aku juga kangen, Oppa….

selanjutnya di sini



1 komentar: