Minggu, 19 Juni 2016

Kembang Desa Pulau Panggung (19)



sebelumnya di sini

Mirah terbelalak saat mendapati Faisal berdiri di depan rumahnya. Sungguh, ia tak menyangka mantan suaminya bisa berkunjung ke rumahnya tanpa pemberitahuan lebih dulu. Padahal seingat Mirah mereka sempat bertukar nomor saat di bandara.

“B—bang Faisal,”

“Mir,”

“Kenapa kemari, Bang?”


“A—aku…,” Kalimat Faisal terhenti. Mirah mengernyit bingung namun tak lama ia tersadar jika masih membiarkan Faisal berdiri di depan pintu rumahnya.

“Masuk dulu, Bang.” Tawarnya yang disambut anggukan Faisal. Beruntung hari masih pagi. Semua orang sudah pergi termasuk Ibunya yang kembali ke rumah Wak Ros untuk membantu membereskan sisa pesta. Hanya dirinya dan…

Rania.

Sejurus kemudian Mirah mengigit bibir bawahnya. Entah bagaimana jika Faisal tahu ada Rania di dalam rumah. Tetapi yang lebih Mirah khawatirkan adalah reaksi Rania sendiri. Tiga tahun sudah putrinya tak pernah bertemu ayah kandungnya. Rania pernah bertanya dan Mirah hanya mengatakan ayah Rania sedang pergi jauh.

“Mau minum apa, Bang? Kopi atau Teh?”

Faisal menggeleng. “Nggak usah repot-repot, Mir.”

Mirah pun mengangguk. Tak lama ditatapnya mantan suaminya lekat-lekat. “Jadi abang kemari untuk apa? Emak bilang beberapa bulan lalu Abang juga kemari kan?”

Faisal terdiam sejenak. Tak lama kepalanya mengangguk. “A—aku pengen ketemu Rania, Mir.”

Ruangan senyap seketika.

“Untuk apa?” Mirah tak kuasa menahan hasratnya untuk bertanya. Nyaris tiga tahun menghilang dan kini tiba-tiba muncul kembali.

Apa sih sebenarnya yang ada di pikiran Bang Faisal?

“A—aku…,”

Ucapan Faisal lagi-lagi terhenti. Namun Mirah dengan sabar menunggu. Ia sama sekali tak berminat menghalangi pertemuan ayah dan anak. Mirah justru tak ingin hubungan Faisal dan Rania terputus. Selamanya Faisal adalah ayah Rania, pun sebaliknya. Hubungan keduanya takkan bisa dipisahkan. Tetapi Mirah perlu tahu alasan Faisal meninggalkan Rania. Ia dan Faisal memang sepakat bercerai, tapi seharusnya itu tak membuat Faisal melupakan Rania.

“Aku min—ta maaf, Mir.” Faisal tertunduk. “Aku tahu aku salah telah menyakiti kalian. A—ku bukan ayah yang baik…”

Mirah masih memilih diam.

“Tapi Demi Tuhan, Mir aku tak pernah melupakan Rania. Aku selalu berusaha untuk kemari, tetapi keuanganku selama ini tak mencukupi.”

“Dan sekarang?”

Faisal menghela napas panjang. “Enam bulan lalu aku bertemu dengan Pak Adhi. Ia menawariku pekerjaan sebagai supirnya yang siap kemanapun beliau pergi. Termasuk meninjau kebun sawitnya yang ada di Lampung. Dan kesempatan ini kugunakan untuk kemari beberapa bulan lalu.”

Mirah manggut-manggut mendengar penjelasan Faisal. Tapi entah mengapa rasanya masih kurang. Tapi apa?

“Ibuuu…!”

Mirah spontan menoleh. Rania muncul dari balik pintu kamar. Sesaat tubuh Mirah menegang. Sungguh, ia sedikit khawatir dengan reaksi Rania saat melihat Faisal. Apakah gadis kecilnya masih mengingat jelas sang ayah.

“Ra—nia,” meski lirih Mirah masih mendengar ucapan Faisal. Spontan ia menoleh dan menemukan mata Faisal yang berkaca-kaca. Sedetik kemudian Mirah merasa hatinya tercubit. Lagi-lagi fakta ikatan ayah dan anak diantara keduanya tak bisa terbantahkan.

“Ada tamu ya, Bu?”

Mirah kembali menoleh. Dilihatnya Rania masih berdiri tepat di depan pintu. Selama ini Mirah memang mengajarkan pada Rania untuk menghormati tamu. Siapapun yang datang, jika tidak berurusan dengan Rania atau Rania tidak dipanggil, gadis itu dilarang untuk muncul. Tidak boleh mengganggu urusan orang dewasa. Jadi wajar jika Rania kini bergeming di depan pintu.

Mirah dilemma seketika. Menyuruh Rania masuk kembali, jelas tak mungkin. Melihat ekspresi wajah Faisal yang begitu mendamba putrinya membuat Mirah terenyuh. Tapi Mirah juga diingatkan akan kondisi Rania sendiri. Bisakan Rania menerima? Lalu apa yang harus dikatakannya?

“Sebentar, Bang!”

Mirah beranjak dari kursi. Diraihnya tangan Rania lalu dibawanya masuk ke kamar. Ia menarik napas panjang sembari memantapkan diri jika keputusan yang diambilnya tepat.

“Ran, ibu boleh tanya?”

Kedua alis Rania bertaut. “Tanya apa?”

“Rania pernah tanya soal ayah kan?”

Rania menganggukkan kepalanya. “Rania kangen ayah?”

Bahu Rania terangkat. “Rania lebih kangen Ibu,”

Nafas Mirah tercekat seketika. Ia merasa dadanya terasa sesak. Polos sekali gadis kecilnya! Polos yang menyesakkan.

Cepat-cepat Mirah tersadar. Bukan saatnya memikirkan dirinya. Ada seseorang yang menunggunya di depan ruang tamu saat ini.

“Ran, ibu serius nanya. Kalau Ayah datang kemari Rania suka nggak?”

Sejenak hening.

Mirah membiarkan Rania untuk berpikir. Meski masih anak-anak, Rania tetap harus dimintai pendapatnya. Apalagi ini terkait dengan kehidupan Rania sendiri. Mirah tak mau egois. Dia bisa apa juga jika Rania tak ingin bertemu dengan Faisal.

“Itu yang di depan ayah Rania ya, Bu?”

Mata Mirah membulat tak percaya. Tak mengira jika Rania bisa mengaitkan dengan sendirinya. Meski Rania anak cerdas, tetap saja Mirah kaget.

“Ra—nia.”

Sedemikian cepatnya waktu berlalu ternyata.

***

“Emak nggak tahu ya, Mir dimana itu isi otak kamu membiarkan Faisal menemui Rania? Kamu nggak ingat dia sudah menceraikan kamu dan meninggalkan kalian berdua, hah!”

Mirah diam. Emak naik pitam saat mengetahui kedatangan Bang Faisal. Rania meski takut-takut tetap menemui ayahnya. Canggung memang, tapi Mirah memberi waktu keduanya untuk lebih mengenal. Sayangnya hal itu tertangkap oleh pandangan Emak yang pulang kembali ke rumah.

Dan tak butuh waktu lama bagi Faisal diusir dari rumah.

“Mak, tapi Bang Faisal tetap ayah Rania…,”

“Ayah mana yang tega meninggalkan anaknya, hah?”

“Kondisi Bang Faisal tidak memungkinkan saat itu untuk kemari,”

“Kamu itu naïf, Mirah!”

Mirah kembali menutup mulut. Kemarahan Emak membuatnya tak habis pikir, dimana letak kesalahannya mempertemukan antara Rania dan ayahnya. Rania adalah anaknya, jadi masih tanggung jawab penuh dirinya dan Faisal sebagai ayahnya. Toh, Rania sendiri juga yang mau menemui ayahnya. Tak ada paksaan dari Mirah. Meski suasana canggung, Mirah dapat melihat binar bahagia di wajah Rania saat bersama Faisal. Rania tetaplah Rania. Seorang anak yang mendamba akan kehadiran seorang ayah. Sama seperti anak lain. Terlepas apapun masalah yang terjadi pada kedua orang tuanya. Ikatan darah takkan terputus selamanya.

“Dia ngajak kamu rujuk?”

Hah?

Mirah bengong. Pikiran darimana itu Emak, bisiknya dalam hati.

“Jangan pernah mau! Sampai matipun Emak takkan mengizinkan!”

Telak.

Mirah meringis. Ia menelan ludah susah payah. Ternyata rasa dendam dan sakit hati masih terpatri dalam hati Emak. Wajarlah ia marah. Perceraian itu aib, dan orang tua mana tak sakit hati anaknya harus mengalami perceraian.

Ah, Mak maafkan Mirah!

“Nggak Mak, Mirah nggak akan rujuk sama Abang. Mirah hanya tak ingin hubungan Rania terputus dengan ayahnya.” ujar Mirah lirih.

“Emak pegang janjimu itu!” Sahut Emak sembari bangkit dari kursi dan meninggalkan Mirah yang terpekur di ruang tamu. Dihelanya napas panjang sembari memijit kedua pelipisnya. Pusing sekali rasanya hari ini. Baru tiga hari di rumah, tak ada sekalipun ketenangan yang Mirah rasakan. Ingin rasanya ia segera angkat kaki dari rumah sekaligus membawa Rania.

Tapi mungkinkah, mengingat ia tak hidup sendiri di Jakarta.

Argh…

***

“Kamu baik, Mira?”

Mirah tersenyum senang. Rasa kesal dan lelah karena kejadian hari ini menguap sudah. Suara lembut Dae Ho di seberang penyebabnya. Sejujurnya hatinya melonjak bahagia saat melihat nama lelaki itu terpampang di layar ponselnya.

Ya Tuhan, Aku merindukannya.

“Baik. Oppa?”

“Sendiri itu rasanya tidak enak, Mira.”

Ada perasaan hangat yang menelusup di hati Mirah. Lelaki itu jelas telah merindukannya. Lagi-lagi harapan tumbuh di hati Mirah. Bisakah ia selamanya bersama Dae Ho.

“Aku belum bisa kembali, Oppa.”

“Jangan! Jangan kamu berpikir saya menyuruhmu segera kembali. Nikmati saja waktumu, Mira.”

Mirah mengangguk. Namun detik selanjutnya ia tersadar jika Dae Ho tak ada di hadapannya. Bagaimana lelaki itu bisa melihat anggukan kepalanya.

“Iya, Oppa.”

“Bagus! Jadi saya telpon karena saya tak ingin kamu berpikir macam-macam. Jadi lebih baik kamu cerita lain saja,”

Dahi Mirah berkerut mendengar susunan kalimat kacau yang Dae Ho ucapkan. Senyum geli muncul di bibirnya. “Cerita apa, Oppa?”

“Apapun. Desa kamu misalnya? Bagaimana di sana?”

“Sama seperti desa umumnya, Oppa. Tak ada yang special. Di sini…,”

Mirah bercerita dengan semangat. Perasaannya memang berubah seketika. Setiap berbicara dan mendengar suara suaminya, dipastikan moodnya membaik seketika. Ah, Mirah benar-benar sudah jatuh dalam pesona lelaki korea itu.

Ingin rasanya cepat-cepat kembali, Oppa…

Tbc










2 komentar: