Minggu, 16 November 2014

Mendadak Tunangan (8)


Sebelumnya : 7

Mendadak Tunangan (8)

Kepalaku terasa berat. Seperti ada beban yang diletakkan diatasnya. Pikiranku dipenuhi oleh masalah yang terjadi akhir- akhir ini. Semua berawal dari pertunangannya dengan Akash yang jelas- jelas bukan kemauannya. Lalu liburannya ke rumah Anin, bertemu dengan Raskal serta kemarahan Lula dan terakhir Akash yang memutuskan pertunangan kami. Dia sendiri yang akan langsung mengatakan pada kedua orang tua kami.
Benakku memikirkan ekspresi kekecewaan kedua orang tua terutama mama. Kurasa mama akan sangat kecewa atau justru malah mengomel tak keruan! Namun satu hal yang kuyakini kekecewaan keduanya karena sikapku selama ini pada Akash.
Argh, Aku mendesah frustasi.
“Nih minum!”
Aku menoleh dan melihat Anin tengah mengulurkan sebuah mug putih polos didepanku. Aku melirik sejenak lalu meraihnya. Hmm… coklat!
“Dingin- dingin enaknya yang anget,” celetuk Anin seraya mendaratkan pantatnya di sofa yang kududuki. Tangannya juga menggenggam sebuah mug. Sesekali ia terlihat menyesap minuman itu.
Thanks,” Ucapku sembari ikut menyesap minuman. Hangat!
Anin hanya menganggukkan kepala dan selanjutnya keheningan melingkupi kami. Kurasa Anin ingin menanyakan sesuatu namun ia menahan hasrat ingin tahunya. Ia berusaha memahami kondisiku sepertinya.
“Maaf,” Suaraku lirih.
Anin berhenti menyesap minumannya lalu menatapku, “Semua gara- gara  gue kan?”
“Olin,” Anin meletakkan cangkir mugnya di meja yang berada di depan kami lalu mengusap- usap lembut bahuku.
Mendadak mataku memanas, “Apa yang gue lakuin salah, Nin? Apa gue nggak boleh bahagia?”
Sebutir air mata lolos di pipiku. Sepertinya aku benar- benar tertekan dengan keadaan saat ini. Salahkah jika aku ingin bahagia?
“Its Ok, Lin. Gue ngerti!” Ucap Anin seraya menenangkan, “Lo harus tenang,”
Aku menggeleng, “Gue nggak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di Jakarta, Nin? Akash memang mutusin pertunangan. Gue nggak kebayang orang tua gue sekarang? Terutama nyokap.”
“Sabar Lin. Semua masalah pasti selesai!”
Aku menarik nafas panjang, “Sepertinya gue harus balik. Kalaupun Akash mau mutusin pertunangan gue harus ada disana,”
Anin menatapku, “Lo yakin mau balik?”
Kuanggukkan kepala mantap, “Harus, Nin. Gue nggak bisa biarin Akash nyelesein sendiri!”
“Raskal?”
Aku terdiam sesaat. Raskal? Apa yang harus kulakukan padanya?
“Lo suka sama dia?” tanya Anin lagi.
“Gue nggak tahu, Nin. Tapi yang gue tahu gue nyaman sama dia.” Jawabku jujur.
“Kalau gitu sebelum pergi lo harus ngomong sejujurnya sama dia. Apapun resikonya!”
Apapun resikonya? Huff, sepertinya aku harus siap bila akhirnya Raskal kecewanya denganku.
“Ehm…,” Anin menatapku ragu. Seperti ada yang ingin dikatakannya.
“Kenapa, Nin?”
Anin melirikku takut- takut, “Ehm,” Ia terhenti lagi lalu menghela napas panjang, “Gue mau lo tahu yang sebenarnya walaupun sebenarnya gue udah janji nggak akan bilang,”
“Soal?” sebelah alisku terangkat,
“Akash,”
Aku terdiam.
“Sebenarnya Akash sayang sama lo, Lin!”
Nafasku tercekat. Akash sayang aku?
“Akash sayang sama lo udah lama. Asal lo tahu selama ini cewek- cewek itu juga yang nembak Akash duluan, dia nggak enak nolak. Lagian lo juga nggak peduli dengannya. Makanya pas nyokapnya nawarin pertunangan sama lo, dia senang banget. Mungkin ini jalannya dia bisa nunjukkin sayangnya sama lo, tapi lo nya jutek banget sama dia,”
Aku menatap Anin tak percaya. Jadi selama ini…
“Pas kemarin dia lihat lo jalan sama Raskal dan bahagia banget, baru dia sadar kalau lo emang nggak suka sama dia. Makanya dia mundur,”
Lagi- lagi air mataku jatuh.  Spontan aku menutup mulut dengan tangan kananku. Tak menyangka mendengar penuturan Anin, berarti aku menyakiti Akash.
“E…lo tahu darimana?”
Anin menghela nafas, “Dari Akash sendiri. Dia cerita banyak sama kita,”
“Kita?”
“Gue sama Lula,”
Seketika aku menyadari sikap Lula yang semakin kesal dengan sikapku. Ternyata ia sudah mengetahui semuanya. Wajar saja ia berada dipihak Akash, karena Akash sudah mengatakan semuanya.
“Sorry Lin,”
Aku menggeleng. Seharusnya aku mengucapkan terima kasih pada Anin karena ia telah mengatakan yang sebenarnya. Sesuatu yang selama ini tertutup.
“Gue justru makasih sama lo, Nin,” Kataku tulus dan meraihnya dalam pelukan. Sepertinya kembali ke Jakarta adalah keputusan terbaik. Bagaimanapun semuanya harus diselesaikan.
= Mendadak Tunangan =

 “Jadi selama ini kamu itu sama Akash tunangan?”
Kepalaku tertunduk dan mengangguk. Entah bagaimana ekspresi yang ditunjukkan Raskal setelah kuceritakan tentang semuanya.
“Maaf,” ucapku lirih.
Raskal menghela nafas dalam, “Dan sekarang batal?” tanyanya.
Aku mengangguk lagi, “Sebelum kembali ke Jakarta, Akash bilang begitu!”
“Kalau begitu kamu bebas dong sekarang?”
Aku mengedikkan bahu, “Ya begitulah,”
“Berarti aku bebas deketin kamu dong!” Aku melongo. Raskal bukan marah karena ketidakterusteranganku beberapa waktu lalu justru kini senyum seringai tersungging di bibirnya. Dan apa yang di bilangnya tadi, dia bisa bebas deketin gue? Emang kapan gue terkurung?
“Kamu nggak masalah kan kalo aku ngedeketin kamu kan?
“Eh itu, nggak eh…!” Damn, kenapa gue gugup. Kuhela nafas dalam, “Lo nggak marah karena gue nggak jujur dari awal,”
“Marah?” Sebelah alisnya terangkat, “Buat apa? Toh sekarang kamu single, Sayang?”
“Oh,” Mulutku membulat.
“Sekarang aku mau kamu jujur!”
Keningku berkerut menatap Raskal. “Jujur?”
Tiba tiba kurasakan kedua tanganku diraihnya. Dikecupnya sesaat, membuatku membelalakkan mata.
“Aku sayang kamu, Olin.”
Aku menelan ludah. Pernyataan cinta lagi?
“Aku pernah bilangkan aku suka sama kamu dari pertama kali kita ketemu?” kuanggukkan kepala, “Will be my girlfriend?”
Mataku membulat sempurna. Baru beberapa menit berlalu aku menceritakan kebenarannya kini ia memintaku menjadi kekasihnya. Oh My God,
Ia kini menatapku dengan senyum tersungging. Tatapannya yang teduh dan lembut membuat hatiku menghangat. Kurasa pipiku berubah warna.
Aku menarik nafas panjang. Perlahan melepaskan genggaman. Aku tahu Raskal terkejut dengan tindakanku.
“Gue rasa gue perlu menyelesaikan semua masalah di Jakarta, Kal. Gue nggak mau kalau semua belum jelas,”
Raskal mengangguk, “Aku ngerti,”
“Dan…,”
“Dan apa?” tanya Raskal tak sabar.
“Lo yakin dengan gue. Karena selanjutnya kita bakal berjarak. Lo disini gue tetap di Jakarta.”
“Nggak masalah kalau kita LDRan,”
Aku mengernyit, “Serius?”
“Iya, nanti setelah lulus gue bakal pindah ke Jakarta. Gue cari kerja disana dan kita pasti sering ketemu,”
Aku tersenyum tipis, “Thanks,”
Ia mengacak rambutku pelan, “Its Ok!”
“Tapi gue rasa semua harus dipertimbangkan baik- baik, Kal. Gue sendiri harus mastiin perasaan gue sebenarnya,”
Raskal tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, “Aku akan selalu nunggu,”
Kugelengkan kepala lalu menangkupkan kedua tanganku di pipinya, “Jangan Kal, jangan nunggu gue! Biarkan semuanya mengalir. Gue nggak mau ngejalanin karena terpaksa.”
Raskal mengangguk dan menghembuskan nafasnya pelan, “Baiklah, terserah kamu! Yang penting kamu tahu aku sayang kamu.”
Aku tersenyum dan mengurai kedua tangan dari pipinya, “Thanks, Kal!” pandanganku beralih ke depan. Kurasa ini keputusan terbaik. Untuk saat ini menerima pernyataan cinta Raskal, bukan hal yang harus kulakukan. Tidak harus terburu- buru. Aku harus menyelesaikan kekacauan yang kubuat, pertunangan yang dibatalkan serta luka Akash.
Akash?
Mengingatnya justru membuatku didera perasaan bersalah. Aku menyakitinya. Ketidakterusterangannya membuatku melukainya. Aku tak pernah menyangka ia menyayangiku sejak dulu. Andai saja Anin tak menceritakan semuanya. Namun disisi lain aku boleh berbangga akan sikapnya, melepaskan orang yang dicintainya untuk bahagia dengan lelaki lain.
Kuhirup nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Raskal, Akash. Keduanya mempunyai cara berbeda untuk mencintaiku.
-end-

Epilog

 Lima tahun kemudian
Kenapa lama sih ya?” Aku menggerutu kesal saat melihat sosok laki- laki di depanku.
Sosok itu nyengir. Kurasa ia sedikit merasa bersalah. Sedikit ya? Karena selanjutnya yang kulihat tampangnya tak merasa bersalah.
Uh, aku manyun.
“Udah ah, jangan manyun! Jelek!”
Aku semakin mencibir, “Jelek- jelek juga kamu cinta kan!”
Lelaki itu tertawa lebar lalu mengulum sebuah senyuman. Tangannya mengacak rambutku, “Itu tau!”
Seketika amarahku menguap. Kekesalanku karena menunggunya yang terlalu lama pun pupus sudah. Entah mengapa aku justru tertawa melihat ekspresi wajahnya. Sungguh aku tahu, sorot matanya memperlihatkan rasa sayang dan cinta  yang sedemikian besar.
Thanks God, untuk kehadirannya dalam hidupku. Terima kasih untuk rasa cinta yang demikian besar.
Tiba- tiba kurasakan sebuah benda melingkar di jari manisku. Aku tertegun sejenak. Ini…
“Will you marry me?”
Mulutku terbuka seketika. Aku kaget. Sama sekali tak menyangka hal ini akan terjadi. Baru beberapa bulan ia kembali lagi ke hidupku. Mengejar cintaku hingga melakukan apapun untukku. Membuatku akhirnya luluh akan sikap dan perhatiannya. Tapi hubungan ini baru berjalan beberapa bulan.
“I…ni…,”
Bibirku kelu. Otakku mendadak blank.
“Aku pernah melakukan kesalahan dengan meninggalkanmu lima tahun lalu. Sekarang aku mau menebus semuanya, Lin. Aku ingin bahagiain kamu. Selamanya.”
Sebutir air mata lolos jatuh ke pipiku. Aku tahu ia mengatakan dari hatinya yang paling dalam. Lima tahun kami harus berjauhan. Menanggung sakit yang sama- sama terasa.
“Ka…mu se…serius?”
“Kamu lihat aku bercanda?”
Aku terkekeh sesaat. Sempat- sempatnya disaat begini ia melontarkan candaan. Tapi aku juga yang salah menanyakan hal yang sudah tak perlu ditanya. Mana ada orang melamar tidak serius bukan?
Masa depan jaminannya.
Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “I do.”
Dia tersenyum lebar lalu mengecup jemariku. Direngkuhnya diriku dalam tubuh tegap miliknya. “Thank you, Sayang. Kamu buat aku bahagia.”
Aku mengangguk. “Aku juga bahagia.”
“Kupastikan nyonya Akash akan berbahagia seumur hidupnya. “
Aku tersenyum tipis. Aku yakin ia akan menepati janjinya, karena seumur hidupnya hanya aku yang dicintainya. Meski lima tahun lalu kesalahpahaman terjadi diantara kami hingga harus memisahkan kami, toh pada akhirnya waktu jualah yang menyatukan kami kembali.
Mau kuceritakan?
Tapi itu panjang sekali. Biarlah hari ini kunikmati terlebih dahulu kebahagian kami. Nyonya Akash? Not bad.

*** 


Terima kasih telah berkunjung blog saya

2 komentar: