Rabu, 12 November 2014

Mendadak Tunangan (7)


Sebelumnya : 6


Mendadak Tunangan (7)

“Kita sebenarnya mau kemana sih?”
Pertanyaan ini sudah kesekian kalinya aku tanyakan kepada lelaki yang duduk di sebelahku. Ia hanya tersenyum menolehku sesaat, lalu memfokuskan kembali pandangannya ke jalan.
“Kal,” sungutku kesal.
Raskal. Yah, hari ini tetangga Anin ini sukses membuatku mengikutinya. Salah tepatnya menculikku. Awalnya ia menelponku, memintaku menemuinya di depan rumah Anin. Dan tak butuh lama ketika aku keluar rumah, ia mendorongku masuk ke mobilnya. Dan hampir setengah jam berlalu, kami masih belum tiba di tempat tujuan.
“Santai Lin, nanti juga sampai kok!”
Aku mendengus gusar. Sepertinya diam lebih baik. Sejenak kulirik Raskal yang serius di balik kemudi. Kupikir ia memang mempunyai daya pesona yang besar. Hanya mengenakan kaos berwarna biru tua polos dan jeans hitam, ia terlihat menawan. Bila Raskal terlihat menawan dan jantan, sedangkan Akash terlihat tampan dan tidak membosankan.
Akash?
Mendadak aku teringat kata- katanya kemarin. Hormati pertunangan kami! Huff, harusnya dia juga menghormatinya bukan? Jadi selama ini siapa yang tidak hormat?
“Udah sampai, Lin,”
Aku tersentak. Raskal memicingkan matanya menatapku.
“Ayo turun,” ajaknya lagi. Kuanggukkan kepala lalu mengikutnya turun dari mobil.
Kupikir Raskal akan mengajakku ke pantai, seperti waktu itu. Namun ternyata ia mengajakku ke salah satu area wisata outdoor. Pepohonan hijau tinggi menjulang mengitari di sekeliling area. Sejuk dan segar.
“Gue pikir lo ngajak gue ke pantai lagi,”
Raskal mencibir, “Kamu pikir disini nggak asyik gitu!”
Sebelah alisku terangkat, “Kalau gitu buktiin disini asyik,”
Raskal tersenyum lebar, “Ok Lady, aku janji bikin kamu nggak nyesel!”
Kuacungkan jempol kananku, “Sip.”
Raskal menepati janjinya. Ia membawaku berkeliling kawasan wisata. Melihat beberapa binatang- binatang yang dipelihara di area. Menikmati beberapa kegiatan memacu adrenalin seperti flying fox. Aku menjerit senang saat mencobanya. Hingga akhirnya tak terasa waktu sudah menjelang sore, membuatku dan Raskal harus pulang.
“Seru kan?”
Saat ini aku dan Raskal sedang menikmati santap siang yang tertunda. Yah karena asyik bermain, kami melupakan makan siang.
Kuanggukkan kepala menjawab pertanyaan Raskal. Mulutku masih mengunyah gurame bakar yang benar- benar sangat lezat menyentuh lidah.
“Laper, Non!”
Aku mendelik. Uh, ia menggodaku.
“Enak banget, Kal!” kataku kemudian setelah menelan makanan.
Raskal tersenyum, “Ya ya ya! Sudah lanjutkan makannya,” ujarnya seraya menyesap orange juicenya.
= Mendadak Tunangan =

 “Lo harus ngomong sama Raskal?”
Aku mendengus gusar. Lagi- lagi Raskal?
Kuputar bola mata jengah, “Udah deh, La. Entar juga gue bilang?”
“KAPAN?”
“Nggak usah pake teriak bisa?” Balasku tak kalah sewot. Sejujurnya aku tersinggung dengannya. Sudah dua hari mendiamkanku, kini malah berteriak. Bukan Lula, sahabatku.
“Gue nggak suka punya sahabat yang plin- plan. Nggak bisa jaga komitmen,”
“E…Lo…,”
“Lo sadar nggak sih seharian pergi sama cowok lain padahal tunangan lo jauh- jauh datang tapi lo cuekin. Walaupun lo nggak suka ditunangin tapi lo nggak juga harus ngebiarin Akash kayak anak ilang disini,”
Aku tercekat kaget saat mendengar kata- kata Lula. Lula mengingatkanku dengan kata- katanya yang tajam, namun benar. Aku melupakan fakta sejak kedatangannya kemarin Akash justru masih berdiam diri di rumah. Dan kemarin aku malah menghabiskan waktu seharian dengan Raskal.
“Udah deh kalian ini kenapa ribut aja sih,” Anin yang baru tiba berusaha menengahi kami. Aku membuang muka. Tak enak hati juga ribut di rumah orang.
“Gue balik besok, Nin!”
Kontak aku terbelalak. Kaget. Kurasa Anin juga sama terkejutnya dengan ucapan Lula.
“Ya La, kan masih seminggu lagi katanya lo disini,” tawar Anin. Aku memilih diam mendengarkan.
“Sorry Nin, gue ada urusan,” Aku yakin alasan Lula dibuat- buat. Justru kurasa aku penyebabnya.
“Ya Lula mah,” Anin masih merajuk.
Lula tersenyum tipis, “Maaf deh Nin, next time gue kesini lagi,” lalu Lula memandangku, “Sorry Lin, gue balik duluan!”
Aku melongo. Bukan- bukan karena kalimatnya yang terkesan datar dan dingin tapi lebih ke sikapnya yang langsung berbalik pergi meninggalkanku tanpa menunggu aku berbicara. Ya Tuhan, Lula benar- benar marah!
Kutatap Anin. Ia hanya mengangkat bahunya. Argh, bagaimana ini!
= Mendadak Tunangan =

Langit malam ini sangat indah. Beberapa bintang terlihat terang. Namun tak seperti hatiku. Gundah tak tentu. Semua gara- gara kata- kata Lula.  Rencana kepulangannya yang mendadak, diluar jadwal yang sudah kami susun mau tak mau membuatku gelisah. Aku yakin pasti Lula marah karena kebersamaanku bersama Raskal seharian kemarin.
Raskal. Mengingat lelaki itu membuatku tersenyum- senyum. Raskal membuatku selalu bahagia dengan segala sikapnya. Ia selalu memberikan yang terbaik untukku. Menjadikanku selalu yang pertama. Gelak tawa selalu mewarnai saat aku bersama dengannya.
Aku terlalu nyaman bersamanya, hingga tak kuasa mengatakan tentang status pertunanganku. Aku terlalu takut bila kukatakan sejujurnya, ia akan membuat jarak diantara kami. Aku takut bila kenyamanan saat bersamanya menjadi berakhir.
“Gue minta maaf,”
Aku terhenyak.  Akash?
Kini ia mengambil posisi di sampingku. Matanya lurus memandang ke depan. Dengan hati- hati dihelanya nafas dalam membuatku mengernyitkan dahi sejenak.
“Untuk?”
“Semua. Gue rasa gue malah banyak bikin lo kesel,”
Aku berdecih, “Sadar?”
“Besok gue balik!”
Hah! Apa katanya?
“Balik?”
Akash mengangguk, “Iya bareng Lula juga,”
Kepalaku mengangguk beberapa kali. Aku memilih diam. Toh keinginannya sendiri untuk pulang.
“Dan pertunangan kita batal,”
Aku terperangah. “Mak…maksudnya?”
“Sudah nggak ada yang harus dibahas kan!” Akash beranjak berdiri, “Kita nggak ada ikatan sekarang! Dan maaf untuk semuanya!”
Akash melangkah meninggalkanku yang masih bengong dan  mencerna ucapannya.
Jadi tunangan dibatalkan? Dan gue bebas!  Tunggu? Mengapa ada sakit di hati ini?
= Mendadak Tunangan =

 “Yah, kok lo sebentar banget disini, Kash?” Protes yang meluncur dari bibir Raskal saat mendapati pagi ini Akash, Lula dan Langga tengah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Sepertinya Anin meminta bantuan Raskal untuk mengantar mereka ke terminal. Lagi- lagi jalur darat menjadi pilihan ketiganya.
Kulirik Akash tersenyum kecut, “He, gue ada urusan lagian kasian Lula balik sendiri!”
“Lah lo nggak kasian sama Olin. Dia juga sendiri!” Kali ini Anin yang berkomentar. Aku meliriknya sinis. Apa- apaan sih dia?
“Kalau Olin tenang aja, Nin. Gue senang hati mengantarnya sampai depan rumah,”
Aku mencibir mendengar perkataan Raskal. Gombal. Aku menatapnya yang ternyata juga sedang menatapku. Lalu bibirnya menyunggingkan senyuman merona seketika.
“Ya udah yuk berangkat! Panas lama- lama disini!”
Mak jleb.
Aku yakin sekali ucapan Lula ditujukan ke diriku. Aku manyun. Jutek amat sih dia? Belum tahu kalau aku sudah bukan tunangan Akash lagi. Tunggu saja hingg kuberitahu yang sesungguhnya!
Ekor mataku menangkap Akash yang tengah menatapku lalu menghela nafas dalam. Membuatku merasa tak nyaman. Namun saat kuarahkan pandangan menatapnya, ia justru membuang muka.
Aku menggigit bibir. Maaf Kash, bisikku lirih.

= Mendadak Tunangan =

Sebelumnya : 8

1 komentar: