Sabtu, 30 Juli 2016

[Cerpen] Rahasia Sebuah Cermin


gambar diambil dari www.pinterest.com

Rahasia sebuah Cermin


“Nyonya! Nyonya! Sedang anda di situ?”

“Hah?” Raras bengong. Ia bingung.

“Aduh Nyonya! Kenapa malah bengong? Cepat ganti bajunya! atau anda akan terlambat.”

“Hah?” Terlambat apa?

Raras benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Mengapa mendadak muncul wanita paruh baya yang sangat cerewet di sekitarnya. Memangnya ada apa? Kenapa?


Wanita itu memanggilnya Nyonya? Ck, Apa gue udah kelihatan tua ya…

Semua makin membuat Raras makin bingung. Seingatnya tadi ia tengah menemani Riana, kakaknya untuk membeli sebuah cermin. Kemarin cermin di kamar Riana pecah karena ulah Riana sendiri yang frustasi pasca bertengkar dengan pacarnya. Sebenarnya Raras enggan pergi tapi iming-imingan akan dibelikan jeans baru membuatnya tak bisa menolak.

Kening Raras berkerut saat pandangannya mengedar ke penjuru ruang. Aneh, gumamnya. Kok beda?

Sungguh ia masih ingat jika tadi sedang berada di sebuah toko cermin. Selama Riana bertanya pada penjual, Raras memilih berkeliling dan melihat-lihat koleksi berbagai bentuk cermin. Ada sebuah cermin unik yang menjadi perhatiannya dan…

“Nyonya!” Wanita tua itu kembali bersuara yang mengejutkan Raras. “Anda kenapa melamun?”

“A—aku…,”

“Astaga!” Wanita tua itu memekik tiba-tiba saat tubuhnya berada tepat di depan Raras. “Anda belum dirias?” tanyanya dengan raut wajah panik sehingga membuat Raras makin bingung.

“Tunggu sebentar, Nyonya! Jangan kemana-mana!” ujarnya lagi sebelum kemudian berbalik pergi.

Ini ada apa sih sebenarnya…

Ya Tuhan, aku dimana?

Perlahan Raras melangkah mendekat ke jendela. Sungguh ia penasaran setengah mati, bagaimana ia bisa tiba-tiba berada di tempat berbeda. Ingatannya masih baik. Dia benar-benar yakin jika tadi sedang di toko menemani Riana.

Tunggu kemana Riana?

Sejurus kemudian mata Riana terbelalak. Ternyata ia berada di sebuah gedung. Entah lantai berapa, tapi yang Raras tahu keramaian jalanan dibawah terlihat kecil. Seketika Raras pun sengaja menampar pipinya sendiri.

Mimpi kali ya gue?

“Aw!” Pekiknya saat merasakan kesakitan. Bukan! Ini bukan mimpi ternyata.

“Ayo cepat-cepat rias Nyonya! Kalau tidak Tuan bisa marah.”

Wanita paruh baya itu kembali muncul. Kali ini tak sendiri. Ada beberapa wanita dibelakangnya. Raras tak sempat menghitung, karena yang ia tahu sedetik kemudian tubuhnya ditarik untuk kemudian dipaksa duduk di sebuah kursi.

“Eh, apa-apa…,”

“Sudah Nyonya! Kita tak punya banyak waktu. Tuan bisa mengamuk menyadari anda belum siap seperti sekarang?” potong wanita itu.

“Tu—an…,”

“Iya. Tuan. Tuan Adelio.”

“A—delio?”

Hah? Siapa lagi sih?

“Iya. Tuan Adelio, suami anda Nyonya.”

“SU—AMI!!”

Detik selanjutnya yang Raras tahu, kegelapan mulai menghampiri dirinya. Samar telinganya mendengar pekikan sebelum benar-benar jatuh.

Ya Tuhan, kembalikan aku…

***

“Ras! Raras! Bangun, sayang!”

“Sayang, kamu nggak papa kan? Maafin aku.”

Mata Raras mengerjap berulang kali sebelum benar-benar terbuka. Ia kembali terkejut dengan sosok laki-laki di hadapannya. Kecemasan terlihat begitu kentara di raut wajahnya.

Siapa?

“Ya Tuhan, syukurlah kamu sudah bangun, Sayang.”

Hah?

Raras kembali bingung. Kenapa lelaki ini memanggilnya sayang?

“Si—apa?”

Kening lelaki itu mengerut. “Siapa apa maksud kamu, Yang?”

“Ka—mu siapa?” ulang Raras dengan menggigit bibir bawahnya ragu. Sungguh semuanya makin terlihat tak masuk akal. Kenapa disaat ia bangun, ia masih di tempat yang sama.

Sebenarnya ada apa ini?

“Aku Adelio, Sayang. Suami kamu. Kita menikah dua bulan lalu. Masa kamu lupa?”

“Sua—ami?” Raras melotot tak percaya. Jadi ini yang bernama Adelio yang dikatakan wanita tadi sebagai tunangannya?

Astaga! suami yang benar saja!

Hampir 16 tahun ia hidup, pacar pun tak punya. Bagaimana mendadak bisa punya suami?

“Sayang! Sayang! Kamu kenapa? Kamu ngambek gara-gara aku semalam pulang telat. Serius, Yang aku tuh ada kerja. Nggak macam-macam kok. Benera…,”

“Balikin gue!” potong Raras cepat. “Balikin gue, hiks! Gue pengen pulang.” Katanya lagi seraya meneteskan air mata. Raras tahun yang terjadi di hadapannya bukan mimpi. Semuanya benar-benar nyata. Tak peduli bagaimana ia bisa kemari, yang ia inginkan sekarang pulang.

Pulang ke rumahnya.

“Pulang?”sebelah alis Adelio tertarik. “Kita sudah di rumah, Sayang.”

Raras menggeleng. “Bukan. Bukan di sini rumah gue. Gue pengen Mama, Papa. Kak Riana, hiks.”

“Sayang…,”

“Tuan! Dokter Lian sudah tiba.”

Raras mendongak dan mendapati seorang laki-laki muda berjas rapi tampak masuk diikuti seorang dokter cantik di belakangnya. Sedetik kemudian Adelio terlihat berdiri dan menyapa si dokter. Tak lama dokter tersebut memeriksa Raras. Sejujurnya Raras tak nyaman, karena ia merasa dirinya baik-baik saja tetapi karena tubuh dan pikirannya terlalu lelah dengan situasi yang tengah terjadi, ia pun memilih diam dan menurut.

“Bagaimana?” tanya Adelio pada dokter. Raras memilih membuang muka. Ia tak peduli apapun yang dikatakan dokter. Toh, ia baik-baik saja.

“Tidak apa-apa, Tuan. Nyonya hanya kelelahan.”

“Kandungannya?”

Raras terbelalak saat mendengar kata-kata Adelio. Kandungan? Siapa?

“Kandungan Nyonya tak ada masalah. Semuanya baik-baik saja. Tapi nanti akan saya resepkan beberapa vitamin untuk…,”

Raras tak lagi mendengar kalimat sang dokter. Di benaknya berkecamuk kejadian demi kejadian yang mendadak terjadi. Dari dirinya yang tiba-tiba berada di sebuah ruangan, bertemu wanita tua, fakta memiliki suami dan sekarang…

Hamil?

Mamaaaaaaaa, tolong Raras!

“Sayang,” Raras terlonjak kaget ketika tangan Adelio menyentuh tangannya tiba-tiba. Adelio sendiri mengernyit karena sikapnya.

“Kamu kena…,”

“Ini tanggal berapa?” tanya Raras cepat. Sebuah pemikiran mendadak terlintas di kepala Raras. Sedikit mustahil sebenarnya.

“4 Juli.” Jawab Adelio dengan kerutan yang makin dalam.

“Tahun?”

“2030.”

“WHATT!” Raras terpekik kaget. “Mus—tahil!”

Nggak mungkin! Aneh!

Bagaimana bisa ia berada di tahun ini? Empat belas tahun kemudian?

Jadi ini masa depan?

“Sayang, ada apa sih memangnya?” Entah sejak kapan tangan Raras sudah berada dalam genggaman Adelio. Lelaki itu bahkan sudah berada di sisi tempat tidur dan melingkarkan tangannya pada bahu Raras.

“Kamu beneran marah ya soal semalam?”

Raras diam membisu. Ia biarkan Adelio merengkuh tubuhnya dalam pelukan. Seharusnya ia menolak, tapi entah mengapa ia merasa hangat dan nyaman.

“Aku nggak bohong semalam aku benar-benar kerja. Lagian tadi kan aku niatnya mau ganti dinner yang batal kemarin. Eh, kamunya malah pingsan.”

“Dinn—ner?”

“Iya.” Kepala Adelio mengangguk. “Aku tahu kamu pasti marah soal makan malam yang batal semalam kan? Tapi aku nggak bohong soal klien yang harus kutemui semalam.” Jelas Adelio kemudian.

“Please ya, Yang. Jangan mikir aneh-aneh lagi ya! Kamu kan tahu sayangnya aku cuma sama kamu. Ngedapetin kamu aja berat, masa disia-siain sih,” sambungnya yang kemudian membuat Raras mendongak.

“Memang kita ketemu kapan?” tanya Raras. Sedari tadi ia memilih bungkam sembari berpikir. Jika sekarang memang benar masa depan, jadi Adelio lah suaminya kelak.

“Kamu lupa? Dua tahun lalu. Jerman.”

Raras terbeliak. “Jer—man?”

Satu dari seratus mimpi yang tertulis di dinding tepat di atas meja belajarnya adalah keinginannya untuk berkunjung ke Jerman. Dan itu akan tercapai?

“Iya. Jerman. Kamu kan ambil S2 di sana, Yang. Masa kamu lupa?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Adelio, Raras menggeliat melepaskan diri. Ia menuju jendela untuk melihat keadaan sekeliling. Hari sudah malam ternyata. “Ini dimana? Lantai berapa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya. Memandang kehidupan malam kota dari ketinggian ternyata menarik.

“Kamu hari ini ngapain aja sih? kenapa banyak yang lupa. Tentu saja kita berada di penthouse,”

“Lantai?”

“30.”

Raras ternganga dan membalikkan tubuhnya. Ya Tuhan sekaya apa dia di masa depan?

“Ka—kamu kerja…,”

“Ini cincin kenapa ada di sini?” pertanyaan Raras terpotong dengan kalimat Adelio. Raras mendapati Adelio mengambil cincin yang berada di atas nakas sebelah ranjang. Tak lama laki-laki itu bangkit dan menghampiri Raras.

“Emang benar sempit ya?”

“Hah?” Raras bengong.

“Kamu bilang kemarin sempit makanya kamu lepas gitu,”

Raras diam. Matanya kini menatap cincin yang ada di tangan Adelio lalu mengambil dan memasangkannya di jari manisnya. Pas. Nggak sempit.

“Nah sempit kok. Ini pas.”

“Terus kenapa dilepas?” selidik Adelio.

Bahu Raras mengedik. Ia tak menjawab hanya memandangi cincin yang berada di tangannya. Indah, bisiknya dalam hati.

“Tuan!”

Sebuah ketukan di pintu membuat keduanya kompak menoleh. Adelio menarik napas sebelum kemudian mencium kening Raras tiba-tiba. “Aku harus pergi sebentar ya, Yang. Nanti aku kembali. Nanti aku suruh Bibi menyiapkan makan malam.”

Sepeninggal Adelio, Raras memegang dadanya. Sungguh, ia merasa ritme jantungnya berdegup terlalu cepat. Tak normal seperti biasanya.

Ck, kenapa aku ini?

Stop, Ras! Stop! Lebih baik pikirkan cara pulang?

Biar bagaimanapun ini bukan duniamu…

Sesaat Raras mondar-mandir. Ia berpikir bagaimana ia bisa kembali ke waktu yang sesungguhnya. Sekalipun di waktu ini, ia hidup mewah di sebuah penthouse dengan suami yang cukup kaya, tetap saja lebih baik baginya tinggal bersama keluarganya. Rasanya pun tidak seru, karena ia ingin menikmati setiap proses yang terjadi dalam kehidupannya.

Cermin!

Senyum Raras merekah. Ia ingat jika semua berawal dari cermin unik di toko yang menarik perhatiannya. Cermin seukuran tubuhnya tapi memiliki ukiran-ukiran yang indah di tepinya. Sesaat kemudian, Raras celingukan. Dicarinya cermin berbentuk serupa di seluruh area kamar. Bahkan ia sampai masuk ke kamar mandi. Tapi nihil.

Tak ada cermin serupa.

Raras nyaris putus asa sebelum ia teringat jika ruangan yang kini ia tempati berbeda dengan ruangan sebelumnya. Ruangan tadi kan tak ada ranjang, gumamnya kemudian.

“Permisi, Nyonya!”

Raras berbalik. Wanita tua yang tadi…

“Makan malam sud…”

“DIMANA?” Potong Raras. Wanita paruh baya itu mengernyit bingung.

“Dimana tadi saya pingsan?”

“Oh.” Mulutnya membulat. “Nyonya pingsan di ruangan sebelah. Maafka…”

Raras bergegas keluar kamar. Dihiraukan ucapan wanita itu. Saat ia keluar kamar, ia menemukan sebuah pintu yang ia yakini pintu dari ruangan yang dia cari. Sesaat setelah masuk, Raras pun mengunci kamar. Lagi-lagi diabaikan panggilan dan ketukan wanita tua itu.

Bibir Raras mengembang saat menemukan cermin yang dimaksud. Cermin yang sama persis dilihatnya saat di toko. Ah, ia harus segera pergi. Mengingat waktu disini sudah berganti malam, bukan tak mungkin Riana sekarang mencari dan mencemaskannya.

Raras mendekat. Ditatapnya lekat-lekat cermin tersebut. Sama sepertinya yang dilakukannya di toko tadi. Dalam hati ia berharap, ia akan segera pu…

“RARAS!”

Raras tersentak. Tubuhnya berbalik. Riana berdiri tak jauh darinya dengan kerutan di kening. “Ngapain disitu? Ayo pulang! Cerminnya udah dapat kok. Besok pagi diantar.”

Hah!

“Eh malah bengong nih bocah,” dengus Riana. “Ayo ah, keburu sore nih! Bisa diomelin Mama kita.”

“Ka—kak Ria—Riana?” Ucap Raras terbata.

Riana mendelik. “Iyalah. Gue Riana. Emang lo kira siapa? Buruan pulang yuk ah!”Tak sabar Riana menarik lengan Raras. Raras yang masih bingung hanya menurut. Sesaat sebelum pergi, kepalanya berputar. Benar, ia berada di toko cermin lagi.

“Gue mimpi apa, ya?” gumamnya sambil mencubit lengannya dan…

“Aw!”

“Lo ngapain sih?” gerutu Riana di sebelahnya.

Raras nyengir. “Nggak. Nggak papa.” Pasti tadi Cuma mimpi. Khayalan!

“Eh, tunggu!” Langkah Riana terhenti tepat ketika mereka sudah keluar toko. Ia mengernyit menatap lekat-lekat Raras. “Lo kapan ganti baju, Ras?”

Hah?

Raras pun segera melihat penampilannya. Benar saja ia kini mengenakan sebuah dress. Tadi waktu berangkat ia memilih memakai jeans yang dipadu dengan kaos lengan panjang.

“Lo tadi sempat ke toko sebelah ya?” tanya Riana lagi penuh curiga.

Raras menggeleng. sedetik kemudian ia ternganga saat mengingat kilas balik kejadian yang dialaminya beberapa saat lalu. Dirinya sepertinya tak menyadari jika sudah berganti baju.

“Nah itu di jari lo ada cincin darimana, Ras?”

Mata Raras makin melebar. Dipandanginya jari tangannya.

Ya Tuhan, jadi tadi itu….

***

Lampung, Penghujung Juli 2016

*diikutkan pada event komunitas sahabat menulis








3 komentar: